
Pinaka memilih untuk tidak merespon pesan singkat Silvi tersebut, namun ia menyimpan nomer Silvi di ponselnya.
***
Lapen Oscario sedang tiduran di bangku panjang yang ada di kebun ayahnya. Ia baru saja selesai membantu sang ayah menanam tanaman dan sayuran baru, setelah tanaman dan sayur yang sebelumnya dipanen dan dijual ke perusahaan Kejora.
Lapen bangkit duduk, ketika ia melihat ayahnya berjalan menuju bangku panjang tempat ia duduk.
"Mendung, Lapen. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Geser sedikit, Nak. Ayah mau merokok," kata Stepen. Ia kemudian menyulut rokok dan memandangi kebun.
Lapen menggeser duduknya. "Sepertinya iya, Ayah. Semuanya sudah selesai ditanam, Yah?"
"Belum, Lapen. Tapi hanya tinggal melapisi sawah dengan jerami saja lalu ditabur bibit padi. Besok saja. Hari sudah hampir siang."
Lapen menatap langit. "Iya, Ayah. Yah, aku baca artikel di ponsel Ibu, nama kota dan daerah di sana persis sama dengan nama kota dan daerah di negara kita. Kok bisa, Yah?"
"Maksudmu Malaysia atau Indonesia?"
"Indonesia, Ayah. Malaysia kan beda nama kota dan daerahnya," jawab Lapen.
Stepen tertawa. "Benar juga, ya." Ia lalu menghembuskan asap rokok. "Aku juga tidak tahu, Nak. Tapi ketika aku melihatnya di peta, nama kota dan daerah di Indonesia memang sama dengan negara kita. Nama pulaunya pun sama. Hanya bentuk pulau-pulaunya saja yang berberda. Lagi pula, kenapa kita peduli dengan nama kota dan daerah yang sama itu?"
"Benar juga, ya, Yah. Tidak ada untung atau ruginya bagi kita," jawab Lapen, mengangguk.
"Iya, Lapen. Kebanyakan manusia suka memikirkan dan memusingkan hal yang tidak ada untung ruginya bagi mereka. Membuang waktu dan energi. Mereka itu lucu," kata Stepen, tertawa.
***
__ADS_1
Prapto duduk santai di depan bangunan dapur kebunnya. Ia meneguk kopi lalu menyulut rokok. "Akhirnya selesai juga, Nimo. Sudah selesai ditanam 'kan semuanya? Coba kau hitung lagi. Mana tahu aku salah hitung tadi." Ia lalu mengulurkan selembar kertas yang berisi daftar tanaman dan sayuran.
Nimo mengambil kertas tersebut lalu menghitung. "Tomat sudah. Cabe merah, cabe rawit, kentang, mentimun, pepaya, semangka, lobak, selada, ubi, seledri, daun bawang." Nimo berhenti. Ia tampak berpikir. "Kacang panjang sudah' kan, ya, Bos?"
"Sudah, Nimo."
Nimo mengangguk. "Berarti sudah semua, Bos. Oh iya, Bos, tadi malam Pak Oscar ke rumahku. Aku, Beliau, dan Ayah membahas tentang festival memancing yang akan diadakan dalam minggu ini. Sebaiknya kita tanam padi dan bikin kolam sebelum festival memancing itu dimulai."
"Sekarang saja lah, Nimo. Mumpung hari mendung. Jadi, besok kita tinggal menebar bibit padi dan membeli ikan."
"Baik, Bos. Ayo!" ajak Nimo. Ia kemudian berdiri.
Prapto tertawa. "Sepuluh menit lagi lah, Nimo. Kita 'kan baru saja selesai makan."
***
Bagi kebanyakan pria di jaman sekarang, yang setuju dengan paham feminis, mereka sangat mendambakan untuk memperistri wanita seperti Silvi. Cantik bukan kepalang dan bekerja dengan jumlah penghasilan yang tinggi.
Mereka semua, para pria yang telah diperkenalakan pada Silvi itu memiliki jabatan tinggi dan gaji yang besar di kantor masing-masing. Bahkan ada yang berprofesi sebagai seorang dokter. Profesi calon suami yang diinginkan oleh kebanyakan wanita, karena menurut mereka, menikah dengan dokter itu terjamin bahagianya. Betapa takaburnya kebanyakan manusia itu sehingga mereka berani menjamin kebahagiaan berdasarkan profesi, jabatan, dan uang.
Silvi sekarang jadi sering mendapat kiriman bunga mendadak, seperti hari ini. Ia mendapat kiriman bunga yang ke dua puluh dua kali dari seorang petinggi perusahaan.
"Aku tak mengerti apa tujuan mereka mengirim bunga seperti ini. Mereka pikir aku akan suka? Mereka pikir aku akan tersipu lalu menerima cinta mereka? Andai saja Prapto yang mengirim bunga ini," kata Silvi dengan lesu. Ia kemudian melempar bunga yang dari bentuknya berharga mahal itu ke lantai.
"Masih saja kau merindukan pria kuno itu, Sil. Apa sih menariknya dia?" sahut Rini, si feminis garis keras yang masih menempati urutan teratas dalam daftar wanita feminis Endonesa.
"Prapto itu beda, Rini. Dia tidak sama dengan pria-pria yang mengirim bunga itu, yang kalau bunga-bunganya aku kumpulkan mungkin bisa untuk membuka kios bunga."
__ADS_1
"Tapi dia tidak pantas dengan wanita hebat sepertimu, Sil. Dia tidak pantas untuk wanita feminis yang luar biasa seperti kita. Kau harus membuat pria kuno itu menyesal karena menceraikanmu lalu berlutut mengemis cintamu." Rini menggeser duduknya lebih dekat dengan Silvi.
"Sudah kita coba 'kan, Rin? Tapi tak ada yang berhasil. Bahkan Tristan yang seorang CEO saja kalah dari Prapto. Malah perusahaannya mengalami penurunan income akibat serangan bisnis yang dilancarkan oleh Prapto. Prapto itu tetap tenang dan tak terpengaruh dengan usaha kita," kata Silvi, kesal.
"Kita kan sudah merencanakan strategi baru. Jangan pesimis begitu. Ngomong-ngomong, kenapa nomer Pinaka bisa ada di ponselmu? Dia temanmu?"
"Bukan. Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Aku mengambil nomer dia dari ponsel Tristan. Sejak Tristan bilang Pinaka mengkhianati Kuda Terbang Corporation dan pindah ke desa Kejora, aku curiga dia suka pada Prapto. Jadi, aku menyimpan nomornya untuk jaga-jaga jika strategi Tristan gagal. Dan nyatanya memang gagal."
Rini mengangguk. "Kau yakin dia suka pada Prapto. Atau setidaknya, kau yakin Prapto sedang dekat dengan Pinaka itu?"
"Belum bisa aku pastikan, Rin, tapi besar dugaanku iya," jawab Silvi.
"Dia sudah membalas pesan singkatmu?"
"Belum. Sepertinnya dia mengabaikannya."
Rini tampak berpikir sejenak. "Coba telepon dia dan hidupkan speaker panggilan. Kita tanya padanya tentang hubungannya dengan Prapto. Kemudian kita katakan padanya bahwa ada yang perlu ia ketahui tentang Prpato dan tentang alasanmu bercerai dengan Prapto.
"Kalau setelah itu Pinaka bertanya, berarti dia memang sedang berpacaran dengan Prapto, atau setidaknya mereka sedang pedekate."
Silvi mengangguk. "Apa yang akan kita katakan padanya tentang alasanku bercerai dengan Prapto?"
Rini menyeringai. "Katakan padanya kalau kau bercerai dengan Prapto karena Prapto itu sering selingkuh. Aku akan berpura-pura sedih untuk lebih meyakinkan Pinaka."
Silvi mengerutkan keningnya. "Kalau nanti dia tanya ke Prapto bagaimana?"
Rini mengangkat bahu. "Memangnya Prapto bisa beralasan apa untuk meyakinkan Pinaka? Kalau kita bisa membuat Pinaka percaya pada kita, penjelasan Prapto tentu akan dianggapnya bohong. Bahkan penjelasan orang tua Prapto sekalipun akan dianggapnya bohong karena membela anaknya."
__ADS_1
Silvi tersenyum. "Kau cerdas, Rini. Ayo, kita telepon sekarang."