
Di perpustakaan desa Kejora, Pinaka duduk bertopang dagu di belakang mejanya. Buku yang tadi sedang ia baca masih terbentang, namun pikirannya sudah sampai ke India. 'Kapan, ya, Mas Prapto pulang?' tanyanya dalam hati. Ia lalu mencoba membuat sebuah skenario dimana Prapto bisa saja suka pada perempuan India yang cantik dan manis senyumnya.
'Ah, tidak mungkin,' kata Pinaka lagi. 'Aku yakin Mas Prapto setia. Tapi, bisa saja, kan, Mas Prapto tidak setia lalu tidak pulang lagi?' Pinaka menggelengkan kepalanya cepat-cepat. 'Tidak! Aku percaya pada Mas Prapto.' Pinaka menghela napas. Ia mengambil buku lalu kembali membaca.
"Itu namanya rindu, Pinaka."
Pinaka mengangkat kepalanya. Ia tersenyum lalu menutup buku. Yang bicara barusan adalah Bu Intan, yang kemudian duduk di kursi di depan meja Pinaka.
"Dari tadi aku lihat kau bertopang dagu terus lalu membaca buku. Kemudian bertopang dagu lagi dan membaca buku lagi. Kau rindu Prapto, Pinaka," kata Bu Intan.
Pinaka tersenyum. "Menurut Bu Intan, apa Mas Prapto tidak akan jatuh cinta pada perempuan India? Mereka 'kan cantik-cantik, Bu Intan."
Bu Intan tertawa. "Bagaimana menurutmu?" Bu Intan balik bertanya.
Pinaka berpikir sejenak, lalu berkata dengan nada yang mengandung kecemasan, "Bisa saja, Bu Intan."
Bu Intan menggeleng-geleng. "Bukan begitu caranya mencintai pasanganmu, Pinaka. Percayalah pada Prapto agar kau tidak punya beban dalam mencintainya. Kita memang tidak tahu apa yang Prapto lakukan di sana; apakah dia mendekati wanita lain atau tidak. Tapi, apa menurutmu Prapto adalah pria yang tidak bisa dipercaya? Lalu kenapa kau mau pacaran dengannya?"
Pinaka tertegun mendengar kata-kata Bu Intan. Ia kemudian mengangguk. "Aku yakin Mas Prapto tidak akan mengkhianatiku, Bu Intan," katanya.
Bu Intan tersenyum. "Jangan turuti prasangka burukmu terhadap Prapto. Aku pun menilai Prapto setia padamu. Jika suatu saat dia mengkhianatimu, ya tinggalkan dia, kenapa harus bertahan? Jika sikap dan perkataanmu pada Prapto didasari dengan rasa curiga, itu akan membuat kemesraan kalian menurun, Pinaka."
"Iya, Bu. Terima kasih, Bu Intan," ucap Pinaka, tersenyum. Mereka kemudian bercakap-cakap tentang menu masakan baru temuan Bu Intan.
***
Prapto dan Nimo mengangguk pada Rahul. Sebelum mereka berdiri, Prapto mengedipkan matanya sekilas pada Tri, yang kemudian dijawab oleh Tri dengan kedipan cepat sebanyak dua kali.
__ADS_1
Di belakang rumah papan Pak Rahul terdapat sebuah parit cukup besar yang airnya sangat jernih. Dan tak jauh di seberang parit itu membentang kebun luas milik Pak Rahul yang ditumbuhi banyak jenis tanaman serta bunga. Namun ada yang berbeda dari kebun Pak Rahul jika dibandingkan dengan kebun Prapto dan Nimo, yaitu pengelompokan tanamannya.
Di kebun Prapto, tanaman ditanam berkelompok. Misalkan sepetak tanah untuk tanaman tomat saja, sepetak tanah lain hanya mentimun saja, dan begitu seterusnya. Sedangkan di kebun Pak Rahul, dalam sepetak tanah tumbuh berbagai macam jenis tanaman yang bercampur dengan bunga.
Prapto dan Nimo berdiri di tepi parit sambil menatapi lorong panjang yang dibuat oleh barisan pohon oak. Di jalan lorong itu tampak daun-daun yang memperindah pemandangan lorong. Prapto dan Nimo duduk di atas rumput lalu mencuci muka mereka dengan air parit.
Nimo menyulut rokoknya. "Apa semua pohon oak ini ditanam oleh Pak Rahul, Bos?"
Prapto yang sedang menyulut rokoknya menggeleng. "Tidak, Nimo. Pohon oak usianya bisa seribu tahunan, dan pohon-pohon ini tampaknya berusia paling sedikit enam ratus tahun."
"Selama itu, Bos?" tanya Nimo tak percaya.
Prapto mengangguk. "Iya, Nimo, lihat saja di google." Prapto lalu mengambil sebuh patahan ranting pohon yang ada di sampingnya dan menggunakannya untuk melukis—entah melukis apa—di permukaan air parit. "Melihat Pak Raj ditolak tadi membuatku jadi cemas kita akan ditolak juga, Nimo."
"Aku juga, Bos," sahut Nimo. "Pak Rahul tua itu persis seperti yang dikatakan oleh Pak Ziko. Ia baik sekali, namun aku heran kenapa dia menolak mengajarkan ilmu pertaniannya pada Pak Raj."
"Selain baik, Pak Rahul juga bijaksana, Nimo. Pasti ia punya alasan yang sangat masuk akal, entah alasannya apa. Jadi, menurutmu bagaimana kata-kata yang cocok agar Pak Rahul mau mengajari kita, Nimo?"
"Aku juga berpikir begitu, Nimo. Aku akan berkata terus terang dan tanpa basa-basi padanya." Prapto kemudian berdiri. "Ayo, Nimo!" ajaknya.
Tri dan Pak Rahul masih mengobrol ketika Prapto dan Nimo sudah duduk kembali di teras. Pak Rahul tersenyum mengangguk pada mereka sambil menghisap cangklong.
"Dari cara kalian bersikap dan bicara sejak tadi, aku bisa melihat bahwa kalian ingin mengatakan sesuatu padaku, Prapto, Nimo. Katakanlah," kata Pak Rahul. Tri tersenyum melihat Prapto dan Nimo yang kini saling pandang dengan wajah heran.
Prapto menoleh pada Pak Rahul. Ia kemudian menjelaskan tentang kerja sama bisnis desa Kejora dengan beberapa perusahaan dan bisnis itu kini tengah dilirik oleh beberapa perusahaan lain, sehingga jika desa Kejora ingin mengembangkan sayap bisnisnya, maka jumlah hasil panen harus ditingkatkan. Maka dari itulah, mereka datang jauh-jauh ke hutan amazon dan ke India.
Pak Rahul mengangguk-angguk. "Lalu, jika nanti ada beberapa perusahaan lagi yang ingin bekerja sama bisnis dengan desa Kejora, tentu kalian akhirnya harus menambah lahan? Kenapa kalian tidak mulai menambah lahan saja dari sekarang, Prapto?" tanyanya.
__ADS_1
"Untuk sekarang, kepala desa kami belum memutuskan akan menambah lahan, Pak. Beliau berpendapat selama lahan yang ada masih bisa ditingkatkan, maka kami tidak akan menambah lahan, sebagai wujud betapa petani desa Kejora begitu mendalami dan mencintai pertanian dan peternakan," jawab Prapto.
Prapto melihat sekilas senyum di wajah Pak Rahul. Senyum yang menurutnya adalah senyum setuju, tapi hanya sekilas dan itu pun samar. "Jadi, kami meminta Bapak untuk mewariskan ilmu pertanian langka yang Bapak miliki kepada kami."
Pak Rahul menghembuskan asap cangklongnya, lalu berkata, "Maafkan aku, Prapto, Nimo. Aku tahu kalian datang dari tempat yang sangat jauh, lebih jauh dari Raj tadi. Tapi, aku tidak bisa mengajarinya pada kalian." Pak Rahul kemudian menangkupkan kedua tangannya.
Prapto, Nimo, dan Tri menunduk kecewa. Mereka diam cukup lama. Pak Rahul tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia kembali menyulut cangklongnya dan mengalihkan pandangan ke langit senja, yang kini tengah dilewati oleh gerombolan burung pulang ke sarang.
Prapto menepuk bahu Nimo dan Tri. Tepukan yang mengisyaratkan agar mereka menerima penolakan Pak Rahul dengan bijaksana.
Prapto tersenyum pada Pak Rahul dan berkata, "Tidak perlu meminta maaf, Pak Rahul. Sebelum kami ke mari kami sudah diberitahu bahwa kau belum tentu mau mewariskan ilmu pertanian itu pada kami. Dan juga, itu adalah hak Bapak sepenuhnya untuk mewariskannya atau tidak."
"Ya, aku paham, Pak Rahul," sambung Nimo. "Kami pamit dulu, Pak. Terima kasih atas hidangannya," kata Nimo. Ia menangkupkan kedua tangannya.
"Nantilah kalian pulang," kata Pak Rahul, tersenyum. "Istriku jam segini biasanya akan segera selesai memasak. Kita makan dulu. Masakan istriku lezat, dan semua bahan masakannya alami dari kebun kami."
Tri dan Nimo menatap Prapto untuk meminta keputusan, tapi Prapto malah membalas tatapan mereka dengan senyum seringai. "Tidak, kita tidak akan pulang, Pak Tri, Nimo," katanya. Ia lalu menoleh pada Pak Rahul.
"Meskipun Bapak menolak mewariskan ilmu pertanian langka itu pada kami, aku harap Pak Rahul tidak keberatan jika kami mendirikan tenda di dekat rumah Bapak. Kami akan membantu Bapak berkebun untuk melihat cara Pak Rahul bertani dan beternak," kata Prapto.
Pak Rahul tersenyum. "Boleh. Aku akan menyediakan makanan selama kalian tinggal di sini," katanya. Ia lalu menangkupkan tangan dan berkata, "Tapi aku tetap tak akan mewariskan ilmu pertanian apa pun."
Nimo tampak heran dengan keputusan Prapto, tapi tak lama kemudian ia segera paham apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu. "Aku setuju," katanya, tersenyum.
Prapto mengangguk pada Nimo. Ia lalu berkata pada Tri, "Jika Pak Tri tidak bisa menemani kami, Bapak pulang dulu saja. Tapi sebelum itu, aku minta Pak Tri mengantar kami untuk membeli tenda dan perlengkapan yang kami perlukan untuk tinggal di sini."
Tri tersenyum. Ada rasa kagum di hatinya pada Prapto dan Nimo, yang membuat ia ingin membantu perjuangan mereka. Meskipun ia tidak mengerti apa yang direncanakan oleh Prapto, tapi insting Tri mengatakan bahwa ia harus menemani kedua sahabat barunya itu. “Aku akan mengabari istriku dan mengatakan padanya bahwa aku akan menemani kalian," katanya.
__ADS_1
Bu Kajol muncul dari balik pintu. "Makanannya sudah siap, Pak," katanya pada Pak Rahul.
Selesai mereka makan, Prapto, Tri, dan Nimo bermobil menuju kota terdekat.