
“Pak Subakti, ini gorengan pesanan Bapak.”
Subakti menutup laptopnya. “Terima kasih, Pak,” katanya, sambil mengulurkan uang lima puluh ribu pada penjual gorengan di depan kantornya, yang sudah biasa mengantar pesanan Subakti langsung ke ruangan kerja.
“Sebentar, Pak.” penjual gorengan itu meraih kantong kemejanya.
Subakti tersenyum. “Kembaliannya buat Bapak saja. Bagaimana jualannya hari ini, laris seperti biasa, kan?"
Wajah bapak-bapak itu berseri. “Terima kasih banyak, Pak Subakti. Semoga Pak Subakti semakin sukses. Syukurlah, Pak, laris seperti biasa. Hanya tinggal sedikit lagi."
“Wah, syukurlah aku cepat memesannya tadi. Sama-sama, Pak. Sukses juga buat Bapak.”
Penjual gorengan itu mengangguk lalu pergi dari ruang kerja Subakti.
Subakti membuka laci meja kerjanya. Ia mengambil sebotol kecap asin lalu menuangkannya ke atas bakwan yang masih panas.
Ketika bakwan yang masih panas itu hendak digigit oleh Subakti, ponselnya berdering. Subakti meraih ponselnya sambil mengunyah. Ia mengernyitkan kening melihat nomer tak dikenal mengirim dua pesan whatsapp.
Kecap asin yang dimakan Subakti seketika terasa pahit. Ia membuang semua gorengannya ke lantai lalu berdiri dengan mata berapi-api.
***
Subakti pulang ke rumahnya dengan wajah seperti udang rebus, karena membaca pesan dari nomer whatsapp yang tidak ia kenal. Pesan itu berisi foto istrinya, Rini, berpegangan tangan dan bertatap-tatapan dengan seorang pria di cafe.
Bersama pesan itu juga, terdapat kalimat yang mengatakan bahwa istri Subakti akhir-akhir ini berubah baik padanya agar pembangunan hadiah rumah atas nama istrinya tersebut berjalan dengan lancar. Buktinya, Rini bertemu dengan pria lain di cafe.
Pengirim pesan tersebut mengatakan bahwa itu bisa saja adalah pertemuan Rini yang ke sekian kali dengan pria tersebut.
Dan pada sore itu, meletuslah perang di rumah Subakti antara dia dan istrinya. Guci-guci tanah liat yang harganya cukup mahal hancur berkeping-keping.
Pertengkaran itu kemudian berlanjut ke dapur. Piring dibanting ke lantai, gelas terbang ke dinding, dan beberapa perabotan dapur lainnya pecah atau retak dipukul oleh Subakti.
“Tak ada cerita lagi tentang rumah atas namamu di Surabaya! Aku akan membatalkan pengurusan surat tanah atas namamu. Syukurlah rumah itu baru fondasinya saja yang dibangun,” kata Subakti. Ia lalu melempar gelas ke belakang tanpa melihat apa yang terjadi pada gelas itu selanjutnya.
“Kau lebih percaya pada nomor tak dikenal itu daripada istrimu sendiri?” teriak Rini. Seakan tak mau kalah dari Subakti, ia melempar piring.
“Lempar terus, kan yang membeli piring itu uangmu, bukan uangku,” hardik Subakti. “Iya, memang nomor itu tak dikenal, tapi aku kenal wajah wanita yang berpegangan tangan dan bertatap-tatapan dengan pria ini.”
“Itu bukan aku, Subakti. Bukan aku!”
Subakti mengambil gelas di rak piring lalu melemparnya ke belakang, masih tanpa melihat. Ia kemudian mendekatkan layar ponselnya ke wajah Rini. “Siapa ini kalau bukan kau? Ini Silvi. Ini wajahmu. Dan ini foto kalian makan berempat. Sialan!
__ADS_1
“Aku akan menggugat cerai kau, Rini. Malam ini aku akan ke rumah Ibu, besok sore ketika aku kembali ke sini, sebaiknya aku tak melihat wajahmu lagi.”
“Pria itu cuma temanku saja, Subakti,” kata Rini, menangis.
“Sudah berapa kali aku bilang? Pria dan wanita tidak bisa berteman! Selama ini aku terlalu takut kau tinggalkan, tapi benar kata si pengirim pesan itu, aku tidak jelek dan aku punya penghasilan yang lumayan, pasti banyak wanita yang mau denganku.”
Subakti memukul lemari dapur dua kali lalu pergi meninggalkan rumahnya, dan juga lemari yang remuk.
***
Hujan mulai turun saat Prapto telah mencapai pertengahan antara desa Kejora dan Jakarta. Di sepanjang jalan, ia terus memperhatikan motor-motor yang dilewatinya.
Prapto memperlambat laju motornya, ketika melihat seorang wanita yang tengah mendorong motor. Ia mengenali helm yang terletak di atas kaca spion motor. Ia membuka capingnya.
Prapto membuka caping bambunya. “Kau bisa demam kalau hujan-hujanan begini, Pinaka. Mari berteduh di warung depan, sekalian isi bensin di sana.” Ia memakaikan caping bambu di kepala wanita tersebut, yang ternyata memang Pinaka.
Pinaka menoleh. Ia menatap Prapto dengan mata berlinang, lalu mengangguk.
Mereka kemudian berhenti di warung kopi yang sedang tak ada pengunjungnya. Prapto memesan kopi dan teh hangat setelah mengisikan bensin Pinaka.
“Kenapa kau pulang?” tanya Prapto.
“Tidak apa-apa, Mas,” jawab Pinaka. Ia menunduk.
“Entah lah, Mas. Tapi bisa saja mereka benar, kan?”
Prapto tersenyum. “Bukalah ponselmu. Ada pesan penting yang harus kau baca.”
Pinaka menggeleng. “Nanti saja, Mas, ketika aku sudah di rumah.”
“Lihat aku, Pinaka!”
Pinaka mengangkat kepalanya.
“Rumahmu di desa Kejora, bukan di Jakarta,” kata Prapto.
Pinaka hendak menjawab, namun Prapto kembali berkata, “Bukalah ponselmu.”
Pinaka menatap Prapto selama beberapa saat. Ia kemudian membuka ponselnya.
“Kalau Rini menarik pesannya, aku punya bukti screenshot pesannya padamu,” kata Prapto.
__ADS_1
“Masih ada pesannya, Mas,” jawab Pinaka, lirih. “Maafkan aku, Mas Prapto. Aku hanya ...”
“Sudah teduh. Ayo pulang ke desa kita, Pinaka,” potong Prapto, tersenyum.
Pinaka mengangguk. “Mas Prapto mau pakai helm atau pakai caping?”
“Caping. Aku ‘kan petani.” Prapto berdiri memanggil pemilik kedai. Tapi kemudian ia menghampiri Pinaka dan berkata dengan pelan, “Pinaka, aku lupa bawa dompet. Dua puluh delapan ribu dengan bensin.”
Pinaka tertawa. Ia mengambil uang lima puluh ribu lalu memberikannya pada Prapto.
Di bawah langit mendung dan temaramnya hari menjelang malam, pria bercaping itu kembali melaju. Tapi kali ini ia tidak sendiri.
***
Prapto dan Pinaka tiba di perpustakaan pukul delapan malam. Ia mengantar Pinaka sampai ke teras.
“Maafkan a...”
“Aku mencintaimu, Pinaka,” potong Prapto.
“A... apa, Mas?” Pinaka menatap Prapto dengan pancaran mata kaget dan penuh tanya.
“Aku mencintaimu, Pinaka. Ayo ke rumah orang tuamu dan ke rumah orang tuaku akhir pekan nanti untuk membicarakan pernikahan kita.”
“Mas?”
“Ya?”
“Pernyataan cinta dan ajakan menikah seperti apa itu?” tanya Pinaka. “Aku juga belum menjawabnya tapi Mas sudah memutuskan untuk membicarakan pernikahan dengan orang tua kita.”
Prapto tertawa. “Tapi keren, kan? Aku tak suka berdrama seperti di film dan novel-novel cinta yang lebay itu, Pinaka. Ngajak nikah kenapa harus repot dan lebay? Kau mau, kan?”
Pinaka tersenyum dan memutar bola matanya. “Aku butuh waktu beberapa hari untuk menjawabnya, Mas, seperti di film dan di novel-novel cinta,” katanya, tertawa.
Prapto balas tertawa. “Aku pulang dulu, Pinaka. Akhir pekan kita ke Jakarta, ke rumah orang tuamu dan rumah orang tuaku.”
Pinaka mengangguk dengan begitu manisnya.
Pria bercaping itu kembali melaju. Sinar yang memancar dari bunga yang mekar dalam hatinya membuat malam terasa begitu terang bagi Prapto.
***
__ADS_1
Prapto tengah senyam senyum di teras rumahnya, ketika Nimo datang dengan sepedanya mengenakan jas hujan dan membawa senter. Tanpa turun dari sepeda, Nimo bersorak, "Bos! Ayo, cepat!"