
“Kira-kira, Pak Oscar dan ketiga bapak-bapak pengusaha itu mau membicarakan tentang apa, Bos? Apa ada kendala dalam kerja sama bisnis?” Nimo bertanya pada Prapto sambil meletakkan dua gelas kopi panas. Mereka baru saja selesai ngebun dan kini tengah duduk di meja yang terdapat di depan bangunan dapur.
Prapto menyulut rokoknya. “Aku rasa tidak ada kendala, Nimo. Tapi, wajah Pak Oscar lumayan serius ketika mengatakannya padaku kemarin. Mungkin ini lebih ke perkembangsn bisnis kita. Kita lihat saja nanti.”
“Iya, Bos. Aku tebak, Pak Reynaldi nanti pasti akan mengenakan setelan hijau lagi,” kata Nimo, tertawa. Ia lalu menyulut rokoknya.
“Tidak diragukan lagi,” kata Prapto. “Sayang kau tidak melihat mobil pribadinya ketika datang ke festival memancing kemarin. Warna mobil pribadinya juga hijau. Dan kata Pak Handoko yang pernah berkunjung ke kediamannya, rumah Pak Reynaldi pun berwarna hijau.”
Nimo tertawa. Mereka lalu sama-sama melihat ke arah pintu kebun karena mendengar suara motor berhenti, yang ternyata adalah Pinaka. Ia membawa rantang makanan.
Prapto tersenyum. “Kenapa kau dari arah balai desa, Pinaka?”
“Aku masak di rumah Bu Intan tadi, Mas,” jawab Pinaka. Ia kemudian meletakkan rantang makanan di atas meja lalu membukanya. Aroma lezat ikan sungai yang digoreng dengan cabe hijau merebak di sekitar meja itu.
“Aromanya lezat sekali,” kata Prapto dan Nimo.
“Arini titip salam, Mas Nimo,” kata Pinaka. “Kami masak bertiga tadi, tapi Arini tidak bisa ikut ke sini karena harus membantu ibunya. Ia juga memasak lebih untuk diantar ke ibu Mas Nimo.”
“Terima kasih, Pinaka,” kata Nimo. Ia lalu pergi ke dapur mengambil periuk nasi dan piring.
***
“Ayah yakin?” tanya Lapen pada ayahnya yang sudah berada di atas motor bersama Lastri. “Aku naik sepeda saja.”
Stepen tertawa. “Yakin lah. Kau tidak percaya pada ayahmu? Ayo naik, kita keliling desa lalu ke rumah kakek!”
Lapen akhirnya naik dengan ragu-ragu.
__ADS_1
Setibanya mereka di rumah Pak Oscar, Stepen dan Lastri terus ke rumah, sedangkan Lapen langsung naik ke pangkuan kakeknya yang tengah mengobrol dengan Pak Reynaldi Hijau.
“Jawara memancing,” sapa Pak Reynaldi pada Lapen.
“Hai, Kakek Hijau.”
“Coba ceritakan padaku, bagaimana caranya kau bisa menjadi nomer satu dalam lomba memancing kemarin?” tanya Pak Reynaldi.
Pak Oscar tersenyum. Lapen kemudian turun dari duduknya, pindah ke kursi di samping Pak Reynaldi, lalu menjelaskan tentang latihan memancing dan cara dia meracik umpan.
***
“Lalu bagaimana, Yah?” tanya Timo pada ayahnya tanpa menoleh, ia fokus mengemudi dan kini tengah mendahului sebuah truk pengangkut buah-buahan”
“Itulah yang akan kita bicarakan nanti, Timo. Kami belum mengatakan setuju atau tidak setuju. Ini peluang besar, Timo,” jawab Pak Gumiro.
“Aku tidak tahu, Timo. Itulah mengapa aku mengajak mereka berdiskusi siang ini. Semoga saja ada jalannya.”
Timo mengangguk-angguk. Mereka kini tiba di halaman rumah Pak Oscar. Di teras tampak Prapto, Nimo, Pak Handoko, Stepen, Pak Reynaldi, dan Pak Oscar yang tengah mengobrol.
“Semuanya sudah datang ternyata,” kata Pak Gumiro, tersenyum. Ia dan Timo menyalami semua yang ada di teras lalu ikut duduk.
Pak Gumiro menyulut rokoknya. “Jadi, ada beberapa perusahaan yang juga beroperasi di bidang pangan mendatangiku. Mereka menyatakan keinginan untuk ikut dalam kerja sama bisnis kita. Ada juga yang datang ke Pak Hann dan Pak Reynaldi menyatakan hal yang sama.
“Yang datang pada Pak Handoko adalah pebisnis restoran mewah yang ingin bekerja sama agar mendapat jalur membeli hasil ngebun desa Kejora dan juga resep eksklusif restoran Pak Handoko. Dan yang datang pada Pak Reynaldi Hijau adalah yang ingin menjual sayuran Jepang.”
Prapto segera paham. Ia menyulut rokok. “Jadi, kita perlu peningkatan jumlah pasokan, Pak Gumiro?”
__ADS_1
Pak Gumiro mengangguk.
“Berarti kita perlu hasil panen yang lebih banyak. Kalau untuk hasil ternak aku rasa mudah untuk ditingkatkan. Tapi, kalau untuk tanaman, tentu kita butuh lahan yang lebih, sementara lahan di desa Kejora ini sudah dipakai semua untuk berkebun,” kata Nimo.
Pak Oscar mengangguk. “Benar, Nak Nimo. Kita perlu meningkatkan hasil panen tanpa menambah lahan. Peluang pengembangan bisnis ini sangat bagus, sayang untuk dilewatkan.”
Semua orang di teras itu berpikir. Semua lahan warga sudah dipakai untuk berkebun. Hutan desa tidak bisa digunakan karena ekosistem akan rusak keseimbangannya dan akan menyebabkan terjadinya bencana alam. Sementara, peluang bisnis tersebut tak mungkin untuk dilewatkan, karena kata Pak Handoko dan Pak Reynaldi, salah satu dari beberapa perusahaan yang datang pada mereka adalah perusahaan luar negeri.
“Terra petra.” Suara Stepen memecah keheningan. Semua orang menoleh pada ayah Lapen tersebut.
“Aku pernah menonton di youtube bahwa terra petra bisa meningkatkan dan bahkan memungkinkan untuk mempercepat panen,” lanjut Stepen.
“Coba jelaskan, Mas,” kata Prapto yang tampak sangat tertarik. “Aku pernah menonton tentang itu tapi hanya sekilas.”
Stepen kemudian menerangkan apa yang telah dipelajarinya tentang terra petra.
Terra preta adalah tanah yang lazim di Cekungan Amazon, yang merupakan hasil inovasi dari petani Amerika Selatan kuno. Mereka menciptakan tanah kaya nutrisi yang juga dikenal dengan ‘tanah gelap.’ Upaya mereka tersebut meninggalkan petunjuk bagi petani modern untuk menciptakan dan mengembangkan ruang kebun dengan tanah yang unggul. Terra preta del indio adalah istilah lengkap untuk tanah gelap yang ditanam oleh orang Indian pra-Kolombia dari 500 hingga 2500 tahun yang lalu ini.
Petani tahu betapa pentingnya tanah yang kaya, sangat subur, dan penuh kandungan nutrisi, tetapi mereka sering mengalami kesulitan untuk mencapainya di tanah yang mereka gunakan. Terra preta dapat mengajari kita banyak hal tentang bagaimana mengelola tanah dan mengembangkan tanah. Jenis ‘bumi hitam Amazon’ ini adalah hasil dari berabad-abad pemeliharaan tanah dan praktik pertanian tradisional. Kualitasnya yang sangat bagus membuktikan bahwa petani Amerika Selatan kuno begitu intuitif dan inovatif.
Terra petra Amazon ditandai dengan warnanya yang coklat kehitaman. Tanah hitam ini sangat subur dan bisa meregenerasi kesuburannya sendiri jauh lebih cepat dari jenis tanah yang lain.
Terra petra mengandung setidaknya tiga kali bahan alami dari area lain di cekungan Amazon dan tingkatnya jauh lebih tinggi dari tanah yang biasa digunakan oleh petani di negara kita. Manfaat terra preta sangat banyak dan kelebihan uniknya adalah, apabila tanah terra petra diletakkan di sebuah lahan, besar kemungkinan mikro organismenya akan beraktivitas dan berkembang menyebarkan kesuburannya ke tanah biasa yang ada di sekitarnya.
Stepen menutup penjelasannya. “Tapi, sekarang banyak terra petra buatan yang dibuat oleh orang Endonesa. Tentu saja, hasilnya tidak akan maksimal. Terra petra yang bagus harus diambil langsung dari Amazon, Brazil, agar mikro organismenya nanti bisa berkembang biak sendiri setelah ditaruh di lahan kita, untuk selanjutnya bisa kita teliti, kita buat, dan kita kembangkan sendiri.”
Semua orang yang mendengar penjelasan Stepen mengangguk-angguk. Dan kini, mereka menoleh penuh arti pada Prapto dan Nimo.
__ADS_1