
Prapto menoleh dengan pandangan bertanya.
Pinaka tersenyum. Senyum yang sangat manis, dengan pancaran mata yang lembut dihiasi oleh rambut panjangnya yang berkibar ditiup angin sungai.
"Rasanya aku akan betah memandangi senyummu ini lebih dari lima jam, Pinaka," kata Prapto. "Apa permintaanmu? Asalkan jangan memintaku untuk menimba air sungai ini sampai habis saja."
Pinaka tertawa tersipu. "Aku suka sekali makan ikan sungai, Mas. Bila Ibu memasak ikan sungai, pasti aku yang paling banyak menghabiskannya. Nanti aku akan minta ajari memasak ikan sungai pada Bu Intan, lalu kita bagi dua masakannya."
"Ah, itu gampang, Pinaka. Nanti kalau aku tak dapat ikan atau hanya dapat sedikit, aku akan meminta ikan pada Nimo dan juga Lapen Oscario beserta kedua sahabatnya," kata Prapto.
Pinaka menggeleng, tersenyum. Prapto menatap Pinaka dengan wajah heran. "Kenapa kau menggeleng," tanya Prapto. "Katanya tadi mau aku beri ikan."
"Aku maunya ikan yang dipancing oleh Mas Prapto."
"Ada-ada saja kau, Pinaka," kata Prapto tertawa.
"Aku serius, Mas. Mas tidak mau?" Pinaka menatap Prapto dengan pandangan yang sendu.
Prapto berpikir sejenak. Ketika memancing dengan Nimo, Lapen, Taro, dan Lennon, ia yang mendapat ikan paling sedikit. Sekarang setidaknya ia harus mendapatkan sepuluh ikan untuk dimasak Pinaka dan dibagi dua dengannya. Prapto senang mendengar Pinaka ingin memasak untuknya, tapi ia juga bingung, bagaimana caranya mendapatkan sepuluh ikan.
Akhirnya Prapto mengangguk meskipun ia masih bingung. "Baiklah, akan aku usahakan."
Wajah Pinaka berseri. "Terima kasih, Mas," katanya.
Terdengar suara Pak Oscar mengatakan bahwa lomba akan segera dimulai. Prapto kemudian pergi ke tepi sungai dan berdiri di samping Nimo. Nimo memberikan umpan yang telah ia siapkan pada Prapto, dan tak lama setelah itu, lomba pun dimulai.
Lomba berjalan sengit. Permukaan sungai yang keruh di musim hujan memang cocok untuk memancing di siang hari. Itu juga lah alasan Pak Oscar menggelar festival memancing pada saat musim hujan, dimana air sungai cenderung akan keruh.
Orang-orang tampak bergantian mengangkat kail pancing. Meskipun banyak yang dapat ikan ketika menarik joran mereka, namun tak sedikit pula yang mendapat potongan kayu. Dan ada juga yang kailnya tersangkut pada batu atau tepian sungai, yang akhirnya harus dipotong dan diganti dengan mata kail baru.
Penonton lomba banyak yang melihat ke arah tepian sungai yang dekat dengan pintu hutan, mereka menyaksikan tiga orang bocah yang sejak tadi paling banyak mendapat ikan. Ketiga bocah itu saling bergantian mengangkat joran pancing mereka sampai-sampai penonton heran siapa di antara mereka yang mendapat ikan paling banyak.
__ADS_1
Ketiga bocah itu tentu saja adalah Lapen Oscario, Taro, dan Lennon. Para penonton takjub dengan keahlian ketiga sahabat itu dalam memancing, namun, bila dilihat dari betapa rajinnya mereka berlatih; bagaimana ketiga bocah itu bolak-balik ke sungai untuk mencoba umpan yang mereka buat, maka tidak heran bila ketiga bocah ini mendapat banyak ikan.
Hari sudah pukul dua sore dan Prapto hanya mendapatkan tiga ekor ikan. Satu jam lagi lomba akan selesai dan ikan-ikan yang didapat oleh peserta akan ditimbang untuk menentukan pemenang. Prapto memandang pelampung pancingnya dengan muram.
"Ada-ada saja permintaan Pinaka, Bos," kata Nimo, tertawa. "Kalau begitu, Bos harus dapat paling sedikit tujuh ikan lagi."
Wajah Prapto makin murung. "Dari pagi saja aku cuma dapat tiga ekor ikan, Nimo. Waktu lomba hanya satu jam lagi." Ia menggaruk-garuk kepalanya meskipun tidak gatal.
Dari tempatnya memancing, Taro melihat Prapto yang tengah menggaruk-garuk kepala dengan wajah murung. Ia menyikut pelan lengan Lapen.
"Apa, Taro?" tanya Lapen tanpa menoleh. Ia fokus memperhatikan pelampung pancingnya.
"Paman Prapto tampaknya sedang pusing itu, Lapen. Dia terus menggaruk kepala dan wajahnya muram," jawab Taro.
Lennon menoleh ke arah Prapto dan Nimo. "Apa ini karena Paman Prapto hanya dapat sedikit ikan?"
"Kau tahu dari mana? Mungkin Paman Prapto ngantuk," sahut Taro.
"Kalau soal dapat ikan sedikit, dia kan bisa minta ikan ke Paman Nimo dan kita. Ini pasti bukan soal ngantuk atau pun soal ikan," kata Lapen. Wajahnya tampak serius.
"Lalu soal apa lagi?" Taro yang bertanya, dan kini ia menoleh karena penasaran dengan jawaban Lapen. Lennon juga menoleh dan memandang Lapen dengan sikap bertanya.
Lapen meletakkan jorannya lalu bangkit berdiri. "Ini soal cinta," katanya tanpa menoleh pada Taro dan Lennon, yang kini saling berpandangan dengan wajah heran.
"Sok tahu kau, Lapen," kata Taro.
Lennon menyambung, "Dari mana kau bisa tahu?"
"Tolong awasi joranku, Taro, Lennon." Lapen kemudian berjalan menghampiri Prapto tanpa menghiraukan kedua temannya yang kembali saling berpandangan. Dalam hatinya Lapen tertawa. Ia hanya asal bicara dan penasaran kenapa Prapto terlihat murung.
Lapen menyapa Nimo terlebih dahulu kemudian ia duduk di belakang Prapto. "Paman kenapa?" tanyanya pada Prapto, sambil melihat ember di samping Prapto yang hanya berisi tiga ekor ikan.
__ADS_1
Prapto menoleh. "Aku tidak apa-apa, Lapen," jawabnya. Ia kembali melihat ke arah pelampung.
Nimo memberi isyarat pada Lapen agar bocah itu mendekat. Ia lalu membisikkan tentang permintaan Pinaka pada Prapto dan Prapto butuh tujuh ekor ikan lagi.
'Ternyata asal bicaraku tadi benar,' pikir Lapen. "Tunggu sebentar, Paman Nimo." Lapen balas berbisik. Ia kemudian pergi ke tempatnya memancing tadi, dan tak lama setelah itu ia kembali menghampiri prapto.
"Pakai umpan ini, Paman Prapto," kata Lapen, tersenyum. "Untuk dapat tujuh ekor ikan dalam satu jam aku rasa bisa, tapi Paman pindah memancing ke sana." Lapen menunjuk ke arah kiri dari tempat Prapto duduk.
Prapto menatap Lapen sejenak, kemudian ia menatap Nimo. Nimo tersenyum, mengangguk. Prapto segera paham bahwa Nimo pasti telah menceritakan tentang permintaan Pinaka dan Lapen kini berniat membantunya. Ia tersenyum dan berkata, "Terima kasih banyak, Nimo, Lapen Oscario."
Waktu berjalan. Sampai pukul tiga kurang tujuh menit, Prapto telah mendapat sepuluh ikan tambahan. Wajahnya sudah tidak murung lagi dan ia melambaikan tangan pada Lapen dan Nimo sambil tertawa.
Ikan-ikan yang didapat oleh peserta lomba pun ditimbang. Yang mendapat ikan paling banyak adalah Lapen Oscario, cucu tunggal Pak Oscar. Lapen berdiri di tengah festival dengan tersenyum haru, rambut sebahunya berkibar ditiup angin sore.
Di samping Lapen berdiri Pak Ino, sepupu Pak Rodi, yang ternyata mendapat ikan lebih banyak dari Lennon dan Taro. Lalu di samping Pak Ino ada Lennon sebagai juara ketiga dan Taro sebagai juara ke empat. Masih ada juara kelima, yaitu seorang pemuda desa Kejora yang menolong Prapto dan Nimo panen malam hari ketika mengalami masalah saluran air.
Pak Oscar berdiri di depan para pemenang lomba. "Awalnya hanya ada tiga hadiah untuk tiga orang pemenang," katanya. Ia lalu menoleh ke tempat Pak Gumiro, Pak Handoko, dan Pak Reynaldi Hijau berdiri. "Tapi ketiga bapak-bapak dermawan ini menyumbangkan hadiah tambahan untuk dua pemenang lagi. Semoga mereka selalu sehat dan bahagia."
Semua peserta lomba kemudian menyumbangkan sejumlah ikan yang mereka dapat. Ikan-ikan itu segera disembelih dengan pisau tajam, diparut, dan diolesi dengan bumbu. Api-api di tungku yang berjejeran lalu dinyalakan. Setelah ikan-ikan itu selesai dipanggang, semua yang hadir di festival bersantap.
Pinaka tersenyum gembira ketika menerima ikan yang diberikan oleh Prapto. "Terima kasih, Mas Prapto," katanya. "Aku akan masak yang lezat."
Prapto tertawa. "Sama-sama, Pinaka. Kapan bisa aku jemput ikannya?"
"Aku saja yang antar, Mas, besok. Aku ingin mengunjungi kebunmu."
Prapto tersenyum. "Kebun kita," katanya.
Pinaka menunduk tersipu. Ia kemudian pamit pada Prapto untuk membantu Bu Intan. Ketika Prapto hendak menghampiri Nimo, Pak Oscar telah tiba di sampingnya.
"Nak Prapto. Tadi aku ngobrol dengan Pak Reynaldi Hijau, Pak Gumiro, dan Pak Hann ketika kami memancing. Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Besok siang mereka akan ke sini. Kau dan Nimo datang, ya, ke rumahku besok siang," kata Pak Oscar.
__ADS_1
"Baik, Pak Kepala Desa," jawab Prapto. Ia ingin menanyakan akan membahas soal apa, tapi Pak Oscar sudah lebih dulu menghampiri Lapen Oscario yang berlari ke arahnya sambil mengangkat amplop hadiah.