
"Jadi, kau lahir di Jakarta, Pinaka?"
"Iya, Mas. Mas pernah ke Jakarta?" tanya Pinaka.
Prapto tak langsung menjawab karena saat itu seorang pramusaji perempuan datang untuk menghidangkan pesanan mereka.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada pramusaji tersebut, Prapto lalu menoleh Pinaka. "Aku lahir dan besar di Jakarta, Pinaka. Baru empat bulanan aku tinggal di desa Kejora."
Pinaka mengangguk-angguk sambil menyendok kupat tahu-nya. "Ooh. Jadi, Mas Prapto warga baru di desa Kejora, ya," katanya lalu menyuap.
Untuk beberapa saat lamanya, mereka makan tanpa bicara.
"Ya, aku warga baru. Aku tahu kau memintaku untuk bertemu karena ingin menanyakan mengapa warga desa Kejora tidak mau menjual hasil ngebun mereka ke perusahaan kalian." Setelah mengatakan itu, Prapto menyuap kupat tahunya yang terakhir.
Pinaka yang sedang menelan makanan langsung tersedak mendengar kata-kata Prapto yang tanpa basa-basi terlebih dahulu. Pinaka meraih es teh lalu meminumnya cepat-cepat sambil melihat Prapto yang kini tersenyum geli menatapnya.
"Ti ... tidak, Mas Prapto," jawab Pinaka sambil pura-pura mengaduk kupat tahu-nya.
Prapto lalu memasang wajah serius sambil tetap tersenyum. Ia berkata, "Matamu tidak bisa membohongiku, Nona. Kau pasti ingin menggali informasi dariku. Jangan kaget dulu, nanti kau tersedak lagi," kata Prapto, "aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
Wajah Pinaka jadi sedikit pucat. Ada rasa takut dan juga rasa malu di hatinya. Tapi, lebih dari kedua rasa tersebut, Pinaka merasakan perasaan kagum pada pria yang berani bicara padanya tanpa tedeng aling-aling tersebut, tanpa terintimidasi oleh kecantikannya, yang selama ini sering ia gunakan untuk mengintimidasi para pria ketika berbicara.
"Maaf, Mas Prapto. Boleh saya habiskan dulu kupat tahunya? Saya bisa tersedak lagi kalau Mas Prapto menanyakannya sekarang," pinta Pinaka.
Prapto tertawa. "Habiskanlah dulu! Aku mau keluar merokok dulu sebentar sambil menunggumu selesai makan, Pinaka," katanya.
"Tak usah, Mas, merokok di sini saja! Kipas angin di atas akan membuat asap rokokmu tidak mengenaiku," sahut Pinaka cepat-cepat. Namun kemudian ia menyesal telah berkata demikian, karena kata-katanya itu menunjukkan betapa Pinaka tidak ingin Prapto pergi walau hanya sebentar.
'Sial! Kenapa aku jadi bodoh begini?' kata Pinaka dalam hati.
Prapto menyulut rokoknya. Sambil menunggu Pinaka selesai makan, ia memikirkan pembicaraannya dengan Pak Oscar sebelum berangkat ke kota Keladi tadi.
__ADS_1
***
Setelah memberikan kunci motornya kepada Prapto, Nimo terlebih dahulu menyarankan sahabatnya itu untuk menemui Pak Oscar.
"Aku sarankan kau ke rumah Pak Oscar dulu sebelum ke kota Keladi, Bos."
"Ada apa memangnya dengan Pak Oscar, Nimo?"
"Beliau tidak kenapa-kenapa, Bos. Tapi 'kan Bos akan bertemu dengan wanita cantik. Pak Kepala Desa bisa memberimu saran barang sedikit, agar Pinaka yang mungkin saja sudah tertarik padamu itu menjadi semakin tertarik."
"Ada-ada saja kau, Nimo," sahut Prapto sambil memasang pelindung kepala yang biasa disebut dengan helm.
"Bos, aku serius."
Nimo menatap bos-nya dengan pandangan yang sama sekali tidak menunjukkan gurauan. Prapto langsung paham bahwa sahabatnya itu tidak sedang bercanda. Ia sangat paham dengan Nimo. Lalu katanya, "Baiklah, Nimo. Aku akan ke rumah Pak Oscar dulu. Terima kasih untuk saranmu. Nanti aku belikan rokok."
Sesampainya di rumah Pak Oscar, Prapto yang malu-malu untuk meminta nasihat ternyata tidak perlu susah-susah merangkai kata, karena Pak Oscar yang bijaksana itu langsung paham dengan niat Prapto, ketika ia memperhatikan Prapto mengenakan celana jeans dan kemeja berwarna gelap.
"Jangan konyol, Nak Prapto!" sahut Pak Oscar, "Jangan langsung menuduh begitu! Bagaimana kalau ternyata Pinaka hanya dibayar untuk menolak hasil ngebun kalian? Memang dia salah, tapi sekarang dia bukanlah pacar atau istrimu. kecuali jika Pinaka itu pacar atau istrimu, dan dia berbuat demikian, baru kau harus menendangnya.
"Memang, Pinaka itu salah jika dia mau dibayar untuk menipu. Tapi, jika kau tertarik padanya dan kau bisa membuat dia tertarik padamu, menghormatimu, lalu mencintaimu, maka dia akan menjadi wanita yang baik untukmu. Dia akan menjadi wanita sejati. Kenapa? Karena dia tidak ingin kau membencinya dan mencampakkannya," terang Pak Oscar.
"Tapi, dia sepertinya seorang feminis, Pak Kepala Desa," ucap Prapto.
Pak Oscar kembali mengangkat tangannya yang memegang pipa cangklong.
"Jika kau suka pada seorang wanita, meskipun dia seorang feminis yang sudah menjadi feminis selama lima puluh tahun, kau bisa membuatnya menjadi wanita sejati, Nak Prapto. Karena cintanya padamu, dia akan menjadi wanita sejati dan indikasi feminis di dalam dirinya akan lenyap sama sekali.
"Jika dia sudah cinta padamu, dia akan melakukan apa yang membuatmu nyaman dengannya. Dia akan belajar memasak untukmu, dia akan perhatian, dia akan menjadi penuh kasih padamu, dan lain sebagainya. Dan yang lebih penting, dia bahagia melakukan hal-hal yang membuatmu nyaman tersebut.
Prapto mengangguk-angguk dengan wajah bersemangat. "Tolong ajarkan padaku, Pak, bagaimana caranya agar wanita yang aku dekati menjadi tertarik dan hormat padaku, lalu mencintaiku," pintanya.
__ADS_1
Pak Oscar tersenyum. "Begini caranya. Kau ..."
***
"Mas! Mas Papto!"
Ucapan Pak Oscar yang sedang dibayangkan oleh Prapto terhenti karena suara Pinaka yang memanggil-manggilnya.
"Ya, Pinaka?"
"Makananku sudah habis, Mas. Terima kasih sudah menunggu. Mari kita bicara lagi!"
Prapto mengangguk. "Aku tidak akan mengatakan kenapa warga desa Kejora tidak mau menjual hasil panen pada kalian. Meskipun aku katakan, kata-kataku tidak akan ada pengaruhnya. Warga desa Kejora itu tidak akan mau merubah pendirian mereka meski ditawari dengan kenaikan harga, bahkan dengan mobil sekalipun.
"Aku tahu, Pinaka, hasil ngebun-ku tidak mengandung bahan kimia sedikit pun, kenapa kau mengatakan hasil ngebunku mengandung bahan kimia?"
Pinaka yang cantik dan cerdas kehabisan akal. Ia tampak bingung memikirkan jawaban. Ia merasa bahwa pria yang bernama Prapto itu tidak akan bisa diajak berkompromi atau pun dibujuk dengan uang, seperti rencana Pinaka sebelumnya.
Pinaka menyerah. Ia bahkan belum mengajukan tawaran tapi Prapto seolah sudah tahu apa yang ia rencanakan. Perasaan tertarik dan perasaan hormat pada Prapto yang semakin tumbuh di hati Pinaka membuat gadis itu membatin, 'Persetan dengan Tristan. Persetan dengan uang.'
"Maaf, Mas Prapto. Aku ..."
Pinaka lalu dengan lancar menceritakan bahwa ia dibayar oleh Tristan untuk menolak hasil ngebun Prapto. Pinaka pun dengan jujur mengatakan bahwa ia tidak tahu kenapa Tristan memintanya untuk menolak hasil ngebun tersebut.
Pinaka kembali menyesali ucapannya. Katanya dalam hati, 'Duh, aku kok jadi bodoh begini? Aduh, Pinaka!'
Prapto mengangguk-angguk. Ia kemudian menyulut sebatang rokok lagi lalu tersenyum pada Pinaka.
Pinaka tersipu karena senyum Prapto tampak semakin manis baginya. Jantung Pinaka semakin berdebar. Ia lalu menunduk.
“Aku paham, Pinaka, dan itu sesuai dengan dugaanku,” kata Prapto, “sekarang, aku punya ancaman dan penawaran untukmu.”
__ADS_1