Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
50. Hujan akan Turun


__ADS_3

Prapto melanjutkan membantu panen padi Pak Dwipangga sambil terus memikirkan tentang hal apa yang mungkin akan ditanyakan oleh kedua orang tua Pinaka padanya.


Padi Pak Dwipangga selesai dipanen pada sekitar pukul empat sore. Pengirikan padinya akan dilakukan besok. Setelah panen padi akhirnya selesai, Prapto membantu membawa padi ke bangunan tempat menyimpan hasil panen.


***


Sore itu, awan mendung yang berarak di langit hampir hitam warnanya, lebih dari kelabu. Hawa udara pun terasa begitu dingin, pertanda bahwa hujan pasti akan turun. Prapto mengayuh sepedanya dengan cepat agar tidak kehujanan sebelum tiba di rumah.


Di sepanjang perjalanan pulang, Prapto melihat beberapa warga desa Kejora tengah membangkit jemuran buah pinang dan biji buah kakao mereka. Ada juga beberapa warga yang menjemur kulit manis dan biji kardamunggu. Lalu beberapa warga lagi yang tampak menggeser letak kendaraan mereka agar tidak terkena hujan.


Gerimis mulai turun ketika Prapto baru saja memasuki pagar rumahnya. Dan tak lama kemudian hujan pun turun dengan lebat.


“Syukurlah,” gumam Prapto. “Bikin kopi dulu yang jelas. Setelah minum kopi, baru aku pikirkan apa yang akan aku lakukan.”


Prapto lalu melangkah ke dapurnya untuk membuat kopi. Kadang, ucapan Lapen Oscario terasa ada benarnya bagi Prapto. Ia sendiri merasa kasihan pada dirinya yang sering membuat kopi dan memasak makanan sendiri.


Prapto lalu membayangkan, ketika ia baru pulang dari kebun, Pinaka yang baru saja selesai memasak sudah menantinya di teras dengan senyuman manis, yang akan menghilangkan rasa lelahnya setelah mengurus tanaman dan ternak. 'Minum dulu kopinya, Mas!' Begitu suara Pinaka yang dibayangkan oleh Prapto.


***


Pagi-pagi sekali, terdengar bunyi klakson Pinaka ketika Prapto menyisir rambutnya. Ia lalu melangkah ke luar dengan sisir masih melekat di rambut.


"Sebentar lagi, Pinaka. Tunggu, ya," kata Prapto, tersenyum setelah membuka pintu.


Pinaka tertawa kecil memperhatikan sisir yang lekat di rambut Prapto. "Baik, Mas," sahutnya. Prapto hanya tersenyum lalu kembali ke dalam untuk berbenah.


Pinaka turun dari motor. Sambil menatapi papan demi papan, ia merasa heran sekaligus kagum. Heran kenapa seorang manajer perusahaan ternama yang ada di Jakarta rela meninggalkan jabatan dan gajinya yang tinggi untuk hidup sebagai petani dan peternak di desa.


Tapi Pinaka juga kagum. Kagum karena Prapto berani mengambil sebuah keputusan yang bagi kebanyakan orang pasti amat sulit. Dan Prapto begitu bahagia dengan hasil dari keputusan yang diambilnya tersebut.


"Ayo!" ajak Prapto, mengagetkan Pinaka yang sedang larut dalam pikirannya.


Pinaka tersenyum. Ia menatap rumah papan itu sekali lagi lalu memberikan kunci motor pada Prapto. Ketika motor Pinaka hendak melewati pintu pagar, Nimo tiba dengan sepedanya sambil melempar senyum.


"Hati-hati di jalan, Bos, Pinaka," kata Nimo sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


***


Rumah Pinaka tergolong mewah dan terletak di perumahan elit pula. Semua rumah yang ada di komplek itu tidak ada yang kecil dan tamannya luas-luas.


"Ayo, Mas!" ajak Pinaka, ketika dilihatnya Prapto masih memandangi taman-taman rumah dari pintu pagar.


Prapto mengangguk.


"Yah, Bu," panggil Pinaka dengan suara agak keras, karena ia menduga kedua orang tuanya pasti sedang berada di ruangan TV sekarang. "Ini aku, Pinaka."


Prapto menoleh ketika ia mendengar bunyi pintu dibuka. Pintu tersebut bergerak pelan, lalu sepasang suami istri muncul di baliknya. Mereka menatap Prapto.


Prapto langsung maju dan mengulurkan tangan. "Prapto, Pak, Bu," sapanya.


Orang tua Pinaka pun memperkenalkan diri mereka. Ayah Pinaka bernama Ramu, usianya lima puluh tahun. Ibunya bernama Esih, berusia empat puluh sembilan tahun.


"Mas Prapto termasuk warga baru juga di desa Kejora, Yah, Bu. Sebelumnya ia tinggal dan bekerja di Jakarta," kata Pinaka.


Pak Ramu dan Bu Esih mengangguk tersenyum.


Pinaka menoleh pada Prapto untuk menanyakan pendapatnya.


"Di pendopo saja, Pak. Lebih sejuk," jawab Prapto.


Pak Ramu mengangguk. "Mari!" ajaknya. Ia lalu mendahului Prapto melangkah ke pendopo, sementara Pinaka dan Ibunya pergi ke dalam rumah untuk membuat minum dan menyiapkan camilan.


Di pendopo rumah yang lumayan besar, yang kayunya dicat dengan warna coklat kehitaman, Prapto dan Pak Ramu duduk berhadapan.


"Kau merokok, Nak Prapto?" tanya Pak Ramu, setelah membalas sapaan dari bapak-bapak tetangganya yang lewat.


"Iya, Pak."


"Merokok saja, tak usah sungkan." Pak Ramu lalu mengambil bungkus rokok dari saku kemejanya. Setelah menyulut rokoknya, ia menawarkan pada Prapto.


"Ada, Pak," jawab Prapto, tersenyum. Ia pun mengambil rokok lalu menyulutnya.

__ADS_1


"Pinaka banyak bercerita pada kami tentang desa Kejora, Nak Prapto," kata Pak Ramu. "Katanya, dia merasa bahagia tinggal di desa itu. Dia juga menceritakan tentang bisnis yang baru saja dibangun oleh desa Kejora baru-baru ini. Selamat atas keberhasilan kerja sama bisnis yang kau pelopori."


Prapto mengangguk. "Terima kasih, Pak," sahutnya. Ia tidak menyangka Pinaka juga menceritakan tentang dirinya. "Semuanya berkat usaha semua warga desa Kejora, Pak."


Bu Esih dan Pinaka datang membawa dua gelas kopi panas, dua gelas teh panas, serta sepiring biskuit.


"Silakan, Mas Prapto," kata Pinaka. Ia dan ibunya lalu ikut duduk.


"Dulu kau menjadi manajer di perusahaan mana, Nak Prapto?" tanya Pak Ramu setelah menghembuskan asap rokoknya.


Diawali dari pertanyaan Pak Ramu tersebut, mereka jadi mengobrol cukup lama. Pinaka dan ibunya lebih banyak mendengarkan sambi sesekali menimpali. Mereka membahas banyak hal mulai dari bisnis, politik, hingga tentang pertanian dan peternakan alami yang ada di desa Kejora.


"Seru juga kalau ada ibu-ibu yang seperti Bu Harni itu," kata Bu Esih, setelah Pinaka menceritakan tentang ibu-ibu di desa Kejora. "Dan juga Bu Intan, yang resep masakannya seakan tidak ada habisnya."


"Aku tertarik dengan cerita tentang Pak Kuncoro pedagang keliling itu," imbuh Pak Ramu. "Dan juga dengan nama dari beberapa warga desa Kejora yang kebarat-baratan." Pak Ramu tertawa.


Dari dalam rumah, asisten rumah tangga Pinaka yang berusia empat puluh tahun, yang dipanggil Bi Riri, datang membawakan hidangan makan.


"Kamu sekalian makan, ya, Riri," ajak Bu Esih.


Bi Riri mengangguk lalu ikut bersantap.


***


"Kami pamit dulu, Pak, Bu," kata Prapto. Ia lalu menyalami Pak Ramu, Bu Esih, dan Bi Riri.


Pak ramu menyelipkan uang ke kantong jaket Pinaka. "Kalian hati-hati di jalan, ya."


Prapto dan Pinaka mengangguk. Sore itu mereka kembali pulang ke desa Kejora.


***


"Terima kasih, Mas, sudah menemaniku pulang," kata Pinaka, tersenyum, setelah Prapto turun dari motornya.


Prapto mengangguk. Ia balas tersenyum. "Tidak minum teh dulu sambil ngobrol di teras?" tanyanya.

__ADS_1


Pinaka menggeleng. Ia melihat ke langit. "Di hari lain lah, Mas," jawabnya. "Hujan akan turun." Pinaka lalu melambaikan tangannya sambil tersenyum.


__ADS_2