Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
98. Menjelang Festival Musim Panas


__ADS_3

“Ada apa, Nak Prapto?” tanya Pak Oscar, heran.


Prapto yang tengah melihat ke arah mobil, berbalik. “Aninda kan nanti duduk di samping kemudi. Lau, siapa yang akan duduk di bangku belakang bagian tengah? Bangku itu, ‘kan tidak dipasang,” kata Prapto, tertawa.


“Benar juga,” sahut Pak Oscar. Ia kemudian berpikir.


Tapi belum selesai Pak Oscar berpikir, Nimo mengajukan diri. “Aku saja, Pak Kades.” Ia lalu menoleh pada Bu Rara. “Ada busa pembungkus atau potongan kardus, Bu?”


Bu Rara pergi ke dalam, dan tak lama kemudian kembali membawa busa pembungkus yang biasa digunakan untuk memaket barang elektronik.


Mereka pun pulang ke desa Kejora.


***


Sore itu, Pinaka dan Arini ternyata sudah berada di rumah Bu Rine. Mereka membantu Bu Rine memasak dan menyiapkan kamar untuk Aninda. Bu Rine tampak begitu senang menunggu kedatangan anak angkatnya.


“Terima kasih banyak sudah membantu, Pinaka, Arini,” ucap Bu Rine. Mereka bertiga duduk di teras menunggu kedatangan suami masing-masing.


“Sama-sama, Bu,” kata Pinaka. “Jadi, kedua orang tua Aninda sudah meninggal sejak ia masih berusia dua tahun, Bu Rine?”


Bu Rine mengangguk. “Betul. Meninggal karena wabah penyakit. Kakek nenek, paman, maupun bibi, dan keluarganya yang lain tidak jelas ada di mana. Entah tidak tahu, atau sengaja menghindar.”


“Kasihan, ya, Bu,” sahut Arini. Ia lalu memakan singkong rebus.


“Begitulah, Arini. Semoga saja Aninda suka dengan desa Kejora.” Bu Rine juga mengambil singkong rebus.


Pinaka tersenyum. “Ia pasti suka dengan desa Kejora, Bu,” katanya. “Sebentar lagi akan ada festival musim panas, Aninda pasti akan menyukainya.”


“Ia juga akan suka belanja mainan dan mendengar cerita silat Pak Kuncoro,” imbuh Arini, tersenyum.


Mobil sedan hitam Pak Rodi pun tiba dan memasuki halaman rumahnya. Pak Rodi yang pertama turun bersama Aninda, lalu Pak Oscar. Prapto dan Nimo turun terakhir.


Pak Rodi memperkenalkan Aninda pada ibu angkatnya, pada Pinaka dan juga Arini. Aninda tampaknya bisa menilai ibu angkatnya adalah orang yang baik. Ia mengobrol cukup lama dengan Bu Rine yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan.


Mereka semua kemudian menyantap hidangan.

__ADS_1


***


Sejak Stepen mengajari mereka cara-cara menanam gandum melalui buku Revolusi Sebatang Jerami, setiap hari Lapen dan kedua sahabatnya telah berada di kebun pagi-pagi sekali, bahkan sering datang lebih dulu dari Stepen.


“Bersemangat sekali mereka, Lastri. Jam segini mereka sudah di kebun, datang lebih dulu dari pada kicau burung,” kata Stepen.


Lastri tersenyum. Ia kemudian mengangsurkan piring berisi biskuit dan segelas kopi ke depan suaminya. “Iya, Mas, sering aku perhatikan. Tapi mereka akan menunggu cukup lama untuk menunggu gandum bisa dipanen. Mereka pasti sudah tidak sabar untuk mengolah gandum jadi makanan.”


“Mungkin tak jauh beda masa Panennya dengan padi, Lasri. Tiga, empat, atau lima bulan.” Stepen berpikir sejenak. “Lama. Setelah festival musim panas nanti, aku akan memesan gandum untuk mereka, supaya mereka bisa segera belajar pada Pak Krik.”


Lastri mengangguk tersenyum. “Ide bagus, Mas,” katanya.


Setelah sarapan, Stepen pergi ke kebun. Ia tersenyum melihat Lapen, Taro, dan Lennon tengah main kejar-kejaran. Mereka berhenti berlari begitu melihat kedatangan Stepen dan langsung menghampirinya.


Mereka amat senang dan tampak bersemangat mendengar Stepen mengatakan bahwa setelah festival musim panas mereka akan segera bisa belajar mengolah gandum pada Pak Krik.


***


Prapto dan Pinaka tiba di kota Keladi. Mereka langsung ke diler mobil milik teman Timo. Setelah cukup lama menimbang-nimbang, Prapto akhirnya memilih mobil sedan model lama. Pilihan Prapto tersebut berwarna biru gelap dan dipastikan sehat mesinnya oleh teman Timo.


“Bagaimana, Mas?” tanya Pinaka ketika mereka dalam perjalanan pulang. Mereka ke kota keladi tadi diantar oleh Nimo dan Arini yang sekalian ingin pergi tamasya dengan mobil Pak Uto.


“Iya, Mas. Aku juga berpendapat begitu. Lumayan, ya, Mas diskonnya.”


Prapto tersenyum. “Iya, Pinaka. Setelah festival musim panas nanti, ayo ke Jakarta. Sudah lama kita tidak pulang.”


Pinaka mengangguk. “Baik, Mas. Kapan harinya festival musim panas, Mas?”


“Dua hari lagi, Pinaka. Kemarin aku tanya pada Pak Kades.”


“Apa eventnya, Mas?”


“Kata Pak Oscar, yang berhubungan dengan makanan, dan dua hal baru di desa Kejora, Pinaka.” Prapto menoleh pada istrinya. “Kita makan di sana, bagaimana pendapatmu?”


Pinaka mengiyakan. Prapto menghentikan mobil di parkiran sebuah rumah makan sederhana yang berada di pertengahan antara desa Kejora dan kota Keladi.

__ADS_1


Rumah makan itu tidak ramai pengunjung, mungkin karena masih menjelang siang, dimana orang-orang kantoran masih belum memasuki jam istirahat.


Di depan rumah makan ada spanduk bertuliskan menu andalan rumah makan tersebut, ‘Itiak Lado Hijau’.


Prapto dan Pinaka turun dari mobil. Prapto memilih meja yang berada dekat jendela.


“Itiak lado hijau itu apa, Mas?” tanyanya sambil melihat daftar menu.


“Itiak itu bebek, Pinaka. Jadi, bebek goreng yang ditaburi cabai hijau. Itu bahasa Minang.”


Pinaka mengangguk-angguk. “Aku pesan menu itu saja, Mas. Mas mau makan apa?” Pinaka mencatat pesanannya dan pesanan Prapto.


Pramusaji datang, yaitu wanita paruh baya yang beraksen Minang. “Ditunggu, ya, Mas, Mbak,” katanya.


***


Keesokan harinya, setelah jam berkebun, para warga datang ke balai desa untuk bergotong royong mempersiapkan festival musim panas. Pada setiap festival desa Kejora selalu diadakan lomba, dan pada festival musim panas kali ini akan diadakan lomba melukis.


Selain lomba melukis, para ibu-ibu dan kaum wanita nanti juga akan saling bertukar makanan yang telah mereka masak dari rumah dan akan dimakan di balai desa.


Tema lukisan lomba ditetapkan oleh Pak Purnomo yaitu tentang pemandangan alam empat musim yang akan dipilih satu oleh peserta lomba. Keempat musim tersebut adalah musim panas, musim dingin atau musim salju, musim gugur, dan musim semi.


Pak Oscar dan Prapto duduk di teras balai desa setelah mengangkat beberapa meja dan kuris. Prapto kemudian menelepon Pak Reynaldi Hijau, Pak Gumiro, Timo, dan Pak Handoko untuk mengundang mereka ke festival musim panas yang akan diadakan besok.


“Mereka semua bisa datang, Pak Kades,” kata Prapto setelah menutup telepon.


“Pesananku?” tanya Pak Oscar.


Prapto tersenyum. “Aman, Pak,” katanya. “Aku sudah menelepon tadi, katanya sore nanti akan diantarkan. Berapa uangnya untuk pesanan sebanyak itu, Pak?”


Pak Oscar menunda menyulut cangklongnya, berpikir. “Sekitar lima juta rupiah, Nak Prapto. Semoga saja anak-anak desa Kejora suka dengan hadiahku.”


Prapto agak kaget mendengarnya, tapi yang lebih penting ia bangga punya kepala desa yang tidak pelit dan selalu memikirkan kesejahteraan warganya. “Mereka pasti akan suka, Pak,” kata Prapto.


Nimo datang membawa tiga gelas kopi. “Semua persiapan sudah selesai, Pak Kades.”

__ADS_1


Pak Oscar mengangguk-angguk. “Aku tidak melihat Krik hari ini, apa dia demam?”


“Ada, Pak. Pak Krik tadi langsung pulang setelah gotong royong. Katanya mau mempersiapkan tempat memanggang roti karena setelah festival musim panas ia akan mengajari Lapen, Taro, dan Lennon.” Nimo menyulut rokoknya.


__ADS_2