
Prapto dan Pinaka hendak berdiri menghampiri, namun Pak Rohan mengangkat tangan kanannya untuk memberi isyarat agar Prapto dan Pinaka tetap duduk. Pak Rohan dan Bu Veni lalu berjalan ke pendopo.
Dari depan rumah mereka, yang masih seatap dengan rumah Prapto, Bi Asih dan Mang Kari saling pandang, mereka tersenyum. "Tampaknya, Pak Rohan dan Bu Veni serius bertanya waktu itu, Kang," kata Bi Asih.
"Iya, Asih. Akang sudah tahu dari melihat raut wajah mereka, walaupun mereka tidak bilang. Bu Veni mengambil pensiun dini pastilah ada hubungannya dengan pertanyaan yang ia tanyakan padamu."
"Iya, Kang. Mereka pun sekarang tampak lebih mesra. Dan Bu Veni tidak ada meneriaki Pak Rohan lagi," kata Bi Asih. Mereka lalu menoleh ke pendopo.
Tapi baru saja Mang Kari dan Bi Asih melihat ke pendopo, mereka kini saling berpandangan lagi. "Kang, hampir saja aku lupa membuat minum," kata Bi Asih.
Mereka sama-sama menggeleng sambil tertawa kecil.
Pak Rohan dan Bu Veni telah duduk di pendopo, di depan Prapto dan Pinaka. Mereka tersenyum pada Pinaka. "Prapto, minta rokokmu satu," pinta Pak Rohan. Ia mengambil rokok Prapto lalu menyulutnya.
"Kenalkan, Pinaka, ini ayah dan ibuku," ujar Prapto.
"Pinaka, Om, Tante."
Setelah bersalaman dengan Pinaka, Bu Veni tersenyum, lalu bertanya, "Kamu satu desa dengan Prapto atau kamu orang Jakarta, Nak Pinaka?"
"Aku lahir dan besar di Jakarta, Tante, tapi sekarang aku tinggal dan bekerja di desa tempat Mas Prapto tinggal, desa Kejora."
Bu Veni mengangguk-angguk. "Tadi Tante kira, Nak Pinaka itu wanita karier yang kerja di kantoran," ujar Bu Veni.
"Awalnya iya, Tante, aku kerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Tapi ..." Pinaka tidak melanjutkan kata-katanya. Ia lalu menoleh pada Prapto.
Prapto jadi bingung. Ia menatap Pinaka sejenak. Lalu katanya, "Awalnya iya, Bu, tapi Pinaka ternyata adalah wanita yang suka dengan suasana desa, apalagi desa seperti desa Kejora. Jadi, akhirnya Pinaka menanyakan padaku di mana desa yang sejuk dan tenang untuk ditinggali. Lalu aku rekomendasikan Pinaka ke desa Kejora. Iya, kan, Pinaka?"
Pinaka menatap Prapto sejenak, ia mengangguk ragu. "Iya, Tante, Om," katanya.
Bu Veni dan Pak Rohan saling berpandangan dengan wajah heran, lalu mereka kembali menoleh pada Pinaka. "Ooh begitu. Kami sepertinya juga tertarik untuk tinggal di desa, Nak Pinaka. Tapi menunggu Om Rohan pensiun dulu dari bisnisnya. Tante sendiri sudah pensiun sebulan yang lalu."
Pinaka mengangguk-angguk. Sementara Prapto menatap kedua orang tuanya dengan pandangan bertanya-tanya, yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Pak Rohan dan Bu Veni.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Nak? Ada sehat dan ngebun-mu di desa Kejora ada lancar?" tanya Pak Rohan, yang diiringi anggukan oleh istrinya.
Prapto semakin heran. Biasanya, jika kedua orang tua Prapto bertanya padanya, Ibu-nya lah yang akan bertanya dan ayahnya hanya akan mengangguk-angguk sambil memegang ponsel. Prapto hendak menjawab pertanyaan ayahnya, namun Bi Asih lebih dulu datang untuk menghidangkan minuman.
"Silakan diminum, Non Pinaka," kata Bi Asih menawarkan.
"Terima kasih, Bi," ucap Pinaka.
"Asih, ini Pinaka, pacarnya Prapto," kata Bu Veni.
Prapto dan Pinaka langsung kaget. Mereka serentak menatap Bu Veni. Bu Veni tertawa. Katanya, "Pria dan wanita 'kan tidak bisa berteman. Jadi, aku harus menyebut kalian apa? Suami istrii?" Di sampingnya, Pak Rohan jelas sekali menahan tawa.
"Kenalan, Bu. Sebutannya, kenalan," sahut Prapto.
"Iya ... iya, Ibu bercanda, kok, Prapto. Pinaka kenalannya Prapto, Asih."
Bi Asih tertawa. Setelah bersalaman dengan Pinaka, ia lalu kembali ke bangku panjang tempat suaminya duduk, untuk sama-sama melihat ke pendopo.
Sejak duduk di pendopo tadi, di depan Pinaka, Bu veni dan Pak Rohan sama-sama merasa ingin Pinaka menjadi menantu mereka. Selain wajahnya yang manis dan sinar matanya yang menandakan kecerdasan, yang mereka sukai dari Pinaka adalah cara gadis itu menatap Prapto.
Ada rasa hormat yang terpancar ketika Pinaka memandang Prapto dan ketika ia bicara pada Prapto.
Sementara ibu dan ayahnya ngobrol dengan Pinaka, Prapto memikirkan tentang kedua orang tuanya yang tampak telah berubah drastis. Ibunya mengambil pensiun dini. Ayahnya tampak lebih gagah. Dan juga, cara bicara ibunya pada sang suami pun sekarang sudah sama sekali berbeda.
Prapto sekarang paham setelah ia membaca pesan singkat yang baru saja dikirim oleh Mang Kari. Dalam pesan singkat tersebut, Mang Kari menjelaskan bahwa setelah Prapto pergi, Bu Veni sering bertanya perihal rumah tangga pada Bi Asih, dan Pak Rohan pun sering menanyakan perihal yang sama pada Mang Kari.
Dan tak lama setelah itu, Bu Veni pun pensiun dini. Pahamlah Prapto, bahwa seperti yang dikatakan oleh Pak Oscar, orang tuanya tidak meminta maaf langsung padanya, tetapi mereka meminta maaf dengan cara yang tidak mereka katakan tetapi bisa diketahui oleh Prapto.
Prapto tersenyum. "Ayah," panggilnya. "Ada yang ingin aku ceritakan dan aku tanyakan pada Ayah."
"Katakanlah, Prapto," sahut Pak Rohan. Prapto lalu menceritakan sedikit gambaran tentang desa Kejora.
Ia menceritakan tentang mobilnya yang sudah dijual, tentang rumah barunya, tentang Pinaka menyamar menjadi peneliti pangan lalu menolak hasil panennya, hingga tentang rencana kerja sama desa Kejora dengan perusahaan ayah Timo. Dan yang terakhir, tentang pembatalan pinjaman modal Pak Gumiro.
__ADS_1
Pak Rohan dan Bu Veni mantap anaknya haru. "Kau hebat, Prapto. Kami bangga padamu," kata Pak Rohan. Bu Veni menepuk bahu anaknya.
"Sejak beberapa hari sebelum ibumu pensiun, aku sudah membatalkan kerja sama dengan Subarja dan menantunya yang cuek itu, Prapto. Ya, kami memutuskan untuk tidak lagi gila dalam mengejar uang. Kepergianmu membuat kami lebih mau untuk berubah," terang Pak Rohan.
Pak Rohan meneguk kopinya. Ia melanjutkan, "Tak ada manusia yang tak sadar. Semua manusia sadar bahwa mereka salah, karena mereka punya akal. Hanya saja mereka tidak mau menilai diri mereka salah, lalu mereka membuat berbagai alasan. Tak ada istilah khilaf di dunia ini, tak ada istilah kebetulan, itu semua hanyalah alasan!"
Prapto terkagum tercengang terheran menatap ayahnya. Ada rasa bahagia di hatinya. Prapto juga bahagia melihat ibunya mengangguk sambil menatap hormat pada ayahnya, tidak seperti dulu, dimana ibunya selalu tidak segan-segan membantah perkataan ayahnya, di depan Prapto ataupun di depan banyak orang.
Ingin rasanya Prapto memeluk kedua orang tuanya itu sekarang, tapi ia tidak melakukannya, karena di sana sekarang sedang ada Pinaka yang tak kalah herannya dari Prapto.
Banyak pertanyaan yang melintas di dalam kepala Pinaka. Dan dari sekian banyak pertanyaan itu, hanya satu yang bisa ia tebak jawabannya, yaitu bahwa Prapto pindah ke desa Kejora pastilah karena suatu alasan yang berhubungan dengan ketidak harmonisan-nya dengan kedua orang tuanya.
Namun, pertanyaan yang bisa ia tebak jawabannya itu justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan lagi dalam kepala Pinaka. Kenapa Prapto pergi dari rumah? Apa Masalah Prapto dengan kedua orang tuanya? Dan lain sebagainya.
"Tapi," lanjut Pak Rohan setelah menghembuskan asap rokoknya, "dari ceritamu tadi, aku bisa menarik sebuah kesimpulan, Prapto. Tristan pasti telah melakukan sesuatu agar pinjaman modal Gumiro yang telah disetujui itu jadi dibatalkan.
"Baru-baru ini, aku mendengar bahwa dia punya kerja sama bisnis dengan seorang pimpinan perusahaan, yang keponakannya memiliki posisi tinggi di bank swasta tempat Gumiro meminjam modal tersebut."
"Aku juga menduga bawa ini adalah kerjanya si Tristan, Ayah. Selain atas permintaan Silvi, dia pasti juga melakukannya agar Kuda Terbang Corporation bisa mendapatkan bisnis hasil ternak dan tani alami yang sangat potensial itu. Tapi, aku tidak menyangka dia menggunakan cara seperti itu, karena aku tidak tahu tentang kerja sama bisnis barunya."
Prapto lalu menggaruk-garuk kepalanya.
"Prapto!" Bu Veni langsung menarik tangan anaknya yang sedang menggaruk kepala. "Jangan menggaruk kepala di depan Ibu kalau kepalamu itu tidak gatal!"
Prapto tertawa. "Keren, Bu. Wiro Sableng sering begitu kalau lagi berpikir," sahutnya.
Bu Veni menggeleng-geleng. Ia lalu ikut berpikir untuk menemukan ide. Pinaka pun berpikir, namun yang ia pikirkan adalah, kenapa tadi nama Silvi disebut, dan kenapa Silvi diduga telah meminta Tristan untuk menggagalkan rencana desa Kejora.
Pinaka tahu siapa Silvi, karena ia hadir di acara pernikahannya Tristan, si CEO Cuek. Tapi, Pinaka yang cerdas merasa bahwa peran Silvi dalam menggagalkan rencana desa Kejora cukup besar. Dan Pinaka sangat ingin tahu apa alasan Silvi.
Pinaka lalu memutuskan untuk tidak memikirkan dulu tentang Silvi. Ia kemudian memikirkan apa yang dipikirkan oleh Prapto, Bu Veni, dan Pak Rohan, yaitu bagaimana cara agar pinjaman modal Pak Gumiro disetujui. Tiba-tiba wajah Pinaka berseri. Dia mengangkat kepalanya.
Prapto, Pak Rohan, dan Bu Veni, kini menoleh pada Pinaka yang tampaknya mendapatkan sebuah ide.
__ADS_1