
Tristan, sang CEO Cuek suami Silvi tengah mengacak-ngacak rambutnya dengan kedua tangan. Ia baru saja keluar dari rapat, yang membahas laporan dari toko penampung hasil panen desa Kejora di kota Keladi.
Laporan itu datang lantaran hari ini masyarakat desa Kejora menepati kesepakatan mereka. Tak ada satu pun warga desa Kejora yang menginjakkan kaki mereka di toko tersebut.
Orang kepercayaan Kuda Terbang Corporation yang mengelola toko tersebut mengatakan bahwa masyarakat desa Kejora tidak ada satu pun yang menjual hasil ngebun mereka ke toko pada gelombang panen kali ini. Semua warga desa Kejora menjual hasil panen mereka ke pedagang pasar yang letaknya tak jauh dari toko tersebut.
Tristan segera menelepon Pinaka dan memintanya untuk mencari tahu. Tristan juga menginstruksikan Pinaka untuk menaikkan harga beli sedikit bila alasan warga desa Kejora ternyata adalah soal harga.
Pinaka sendiri juga bingung melihat tak ada yang menjual hasil panen ke toko tempat ia menjadi peneliti pangan abal-abal. Ia pun bingung pada instruksi Tristan yang hanya ingin toko penampung menolak hasil panen dari Prapto. Dan yang lebih membuatnya bingung lagi adalah tujuan Tristan dengan instruksinya tersebut.
"Lihat sendiri, 'kan? Malah jadi semrawut begini," kata Pinaka pada dirinya sendiri, "biar lah, yang penting aku sudah dapat uang."
***
Sudah seminggu berlalu sejak seluruh warga desa Kejora sepakat dengan gagasan Prapto. Tak ada warga desa Kejora yang tidak marah pada Kuda Terbang Corporation. Mereka sama sekali tidak keberatan menjual hasil ngebun ke pedagang pasar meskipun harganya lebih murah.
Selain karena mereka percaya pada Pak Oscar dan Prapto, warga desa Kejora memang tidak tergila-gila pada uang. Cukup mengherankan, karena semua warganya memiliki cara pandang yang hebat tanpa terkecuali. Entah bagaimana dulu desa itu terbentuk dan orang bijak seperti apa yang telah mengajarkan mereka tentang makna hidup yang sejati..
Pagi-pagi, setelah Prapto dan Nimo memberi makan ternak, mereka pergi ke rumah Pak Rodi. Prapto dan Nimo lalu meminta tolong pada orang tua untuk memberi makan ternak mereka nanti sore, karena mereka akan berangkat ke Jakarta bersama Pak Oscar untuk menawarkan kerja sama bisnis ke beberapa perusahaan.
***
"Kau yakin, Nak Prapto kita tidak menelepon perusahaan itu dulu untuk membuat jadwal pertemuan?" tanya Pak Oscar ketika mereka sudah hampir masuk kawasan kota.
Prapto mengangguk. "Ya, Pak. Mereka itu pebisnis, Pak Oscar. Jadwal pertemuan bisa saja mereka tunda atau mereka batalkan. Tapi, tawaran yang menarik dan meyakinkan tak akan mau mereka lewatkan," jawab Prapto tersenyum.
"Cara meyakinkannya, Bos?" tanya Nimo sambil menyetir.
__ADS_1
"Kita minta salah seorang karyawannya nanti untuk menyampaikan bahwa kita punya tawaran yang sangat menarik dan tidak akan mau mereka lewatkan."
"Apakah mereka akan percaya begitu saja, Bos?' tanya Nimo lagi.
"Tergantung, Nimo. Tergantung dari cara kita ketika mengatakannya. Apakah cara kita itu terlihat kurang meyakinkan, meyakinkan, atau sangat meyakinkan? Kau lihat saja lah nanti!" kata Prapto dengan percaya diri, "dan ada satu orang yang pasti tak akan menolak kedatangan kita."
***
Bagi seorang pria yang kini sedang berdiri di tepi jendela, hujan pagi terasa jauh lebih sendu dari biasanya. Kota Jakarta yang ramai dan sering macet itu pun tampak begitu kabur dan murung di matanya, karena air hujan terus mengaliri kaca jendela bagian luar.
Pria itu menyulut sebatang rokok lalu menghisapnya dalam-dalam. "Apakah hujan pagi ini sengaja diturunkan agar aku merasa lebih sendu?" ucapnya pada diri sendiri, karena memang tidak ada orang lain di ruangan kerja yang ada di lantai tiga itu.
Pria itu menoleh ketika ia mendengar suara pintu ruangannya diketok. "Masuklah!" katanya.
Seorang wanita yang membawa buku besar, yang barangkali adalah buku agenda pertemuan, masuk ke ruangan lalu menyapa, "Selamat pagi, Pak Timo. Ada tiga orang yang ingin menemui Anda sekaligus, Pak."
"Mereka belum membuat janji bertemu dengan Anda, Pak, tapi salah seorang dari mereka meminta saya untuk mengatakan pada Anda bahwa Pak Timo pasti tidak akan menolak untuk bertemu dengannya. Ia tampak sangat yakin, Pak Timo," jawab Maudy yang rambutnya disanggul itu.
"Siapa nama mereka, Maudy?" tanya Timo heran.
"Oscar, Nimo, dan Parto, Pak," jawab Maudy.
Timo mengernyitkan keningnya. Ia tidak tahu ketiga nama yang disebutkan oleh Maudy barusan. Tapi setelah ia pikir-pikir, Timo kenal dengan nama 'Nimo'. Nimo adalah teman Prapto, yang diperkenalkan oleh Prapto padanya ketika mereka bertemu di acara pernikahan Prapto.
"Parto atau Prapto, Maudy?"
"Prapto, Pak. Maaf, Pak, saya lupa."
__ADS_1
Wajah Timo langsung berseri, membuat Maudy heran melihat perubahan mood Timo yang sangat tiba-tiba. "Minta mereka langsung ke ruangku, Maudy! Dan juga, tolong minta office boy memesan empat porsi nasi goreng dan empat cangkir kopi panas! Oh, iya, salah satu nasi gorengnya telornya dadar, ya, karena Prapto tidak suka mata sapi."
Sekarang Maudy lah yang mengernyitkan keningnya, tapi ia hanya menjawab, "Baik, Pak Timo."
Setelah Maudy keluar dari ruangan Timo, ia menggeleng-geleng sambil berjalan. "Aku heran, sedang murung malah tiba-tiba menjadi ceria sekali. Apakah mental Pak Timo terganggu karena baru saja bercerai?"
Seorang ibu-ibu yang merupakan karyawan di perusahaan itu menghentikan langkahnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Maudy. "Apa katamu, Maudy? Pak Timo sakit mental?"
"Ti ... tidak, Bu, bukan Pak Timo yang ini, tapi Pak Timo adik dari papa saya," jawab Maudy cepat-cepat setelah berhenti karena mendengar pertanyaan ibu-ibu itu.
"Oooh. Nama Pak Timo memang pasaran," katanya. Ibu-ibu itu lalu meneruskan langkahnya.
Tak lama berselang, pintu ruangan Timo pun kembali diketok. Nimo cepat-cepat menghampiri pintu lalu membukanya. Ia langsung memeluk Prapto. "Aku merindukanmu, Prapto. Nomormu tidak aktif. Aku sudah datang ke rumah, tapi ..."
Ucapan Timo terhenti karena ia tidak mau apa yang akan dikatakannya terdengar oleh Nimo dan bapak-bapak yang tidak ia ketahui namanya, yang mungkin akan membuat Prapto marah.
Prapto menepuk-nepuk bahu Timo setelah mereka berpelukan. "Aku tahu. Pasti kau segan meminta nomer ke orang tuaku karena mereka marah-marah ketika membicarakanku, kan?" tanya Prapto tersenyum.
Timo mengangguk. Setelah ia bersalaman dengan Nimo, Timo lalu diperkenalkan Prapto pada Pak Oscar.
"Aku mengganti nomer, Timo, agar orang tuaku dan Silvi tidak bisa menemukanku hingga aku menjadi warga desa Kejora. Kemarin aku meneleponmu, tapi nomermu juga tidak aktif. Apakah kau juga mengganti nomer karena bercerai akibat lemparan bunga di hari pernikahanku itu?" tanya Prapto tertawa.
Wajah Timo mendadak berubah jadi murung, membuat Prapto, Nimo, dan Pak Oscar heran. Seiring dengan itu, office boy datang mengantar tiga cangkir kopi panas dan tiga porsi nasi goreng.
Timo tersenyum murung. "Silakan, Pak Oscar, Nimo, jangan sungkan!"
Timo lalu memandang Prapto yang wajahnya masih bertanya-tanya. "Mari kita santap dulu hidangannya! nanti akan kuceritakan semuanya padamu," kata Timo.
__ADS_1
Prapto mengangguk. Ia lalu tersenyum setelah mengambil piring. "Terima kasih untuk telur dadarnya, Timo," katanya.