
Prapto hendak menyusul Nimo yang telah tiba di depan pagar, namun ia menghentikan langkahnya sebelum tiba di sana. Prapto melihat Nimo ingin menyapa seorang perempuan cantik yang akan lewat di depan rumah pak kepala desa. Rambut perempuan itu dikuncir dan pancaran matanya lembut.
Percakapan mereka bisa terdengar oleh Prapto dari tempat dia berdiri sekarang. Prapto pun menyulut rokok.
"Hai, Arini!" sapa Nimo
Perempuan itu tersenyum. "Hai, Kak Nimo! Kakak kapan pulang?"
Nimo tidak buru-buru menjawab, ia menghembuskan asap rokoknya terlebih dahulu. "Baru tiba tadi sore, Arini. Mau ke mana kau bawa keranjang senja-senja begini? Apa di desa Kejora sekarang sudah ada pasar senja?"
Arini tertawa. Tawanya terdengar merdu dan lembut, tawa yang selalu dirindukan oleh Nimo. Arini lalu menggeleng sambil tersenyum. "Bukan, Kak. Mana ada pasar senja. Aku tadi diminta oleh Ibu untuk mengantar sayur hasil panen kami ke rumah Bibi."
Nimo mengangguk-angguk. "Ooh. Ya sudah, silakan dilanjut perjalanan pulangnya!" kata Nimo tersenyum.
Arini balas tersenyum. Setelah ia mengangguk pada Nimo, Arini melanjutkan langkahnya. Tapi baru saja beberapa langkah, Arini berhenti untuk membalik. Arini lalu melambaikan tangan pada Nimo sebelum berjalan lagi.
Nimo hendak kembali ke teras untuk mengajak bosnya pulang. Tapi ternyata Prapto telah berada di belakangnya. "Ka ... kau mengagetkanku Bos! Seperti hantu saja."
"Aku tadi nguping pembicaraanmu dengan Arini, Nimo," jawab Prapto. "Apakah Arini itu yang ingin kau lamar?"
"Iya, Bos. Manis tidak calon istriku?"
"Lagakmu, Nimo ... Nimo. Kau saja belum melamarnya. Kau yakin lamaranmu nanti akan diterima oleh Arini?"
"Aku sudah bisa membaca dari matanya, Bos," jawab Nimo yakin.
"Ya ... ya, aku tahu Nimo. Aku juga sudah membaca itu tadi. Mari kita pulang! Besok kau sibuk? Aku ingin berkeliling desa sekalian mencari-cari tanah kosong di sini."
Wajah Nimo berseri. "Jadi, Bos sudah memutuskan akan tinggal di sini?"
"Kenapa tidak?"
Mereka pun melangkah pulang sambil bercakap-cakap di bawah merahnya langit senja desa Kejora.
"Nanti kalau tanahnya sudah kita beli, langsung kita tanami, ya Bos! Kita langsung beli hewan ternak juga, supaya modal untuk menikahku dengan Arini cepat terkumpul. Aku sudah membicarakannya dengan Ayah dan Ibu, mereka sangat mendukung rencana kita. Kata Ayah, dia akan memberi kita beberapa induk hewan ternak gratis."
__ADS_1
"Ya ... ya. Ngomong-ngomong, setelah aku melihat kedua orang tuamu, apalagi setelah kita berbincang dengan pak kepala desa yang namanya kebarat-baratan itu, aku jadi ingin menikah, Nimo."
"Syukurlah, Bos. Memang itulah rencanaku mengajak Bos ke sini. Tapi, jangan buru-buru Bos! Sungguh, jangan buru-buru ingin menikah!
Prapto menoleh pada Nimo. "Kenapa?"
"Karena calon istrimu saja belum ada, Bos. Bagaimana caranya kau bisa menikah tanpa calon istri?" Nimo tertawa keras.
"Sialan kau, Nimo!"
***
Prapto membuka matanya pada pukul setengah lima pagi. Ia dibangunkan oleh kokok ayam yang terdengar bersahutan di desa Kejora tanpa henti. Benar saja kata Nimo, bahwa di desanya, Prapto tidak akan membutuhkan alarm lagi. Bagi Prapto, bangun pagi di desa Kejora terasa jauh lebih segar dan jauh lebih sejuk daripada bangun pagi di Jakarta.
Setelah selesai berbenah, Prapto pun keluar kamar untuk duduk di teras sambil merokok. Prapto ingin minum kopi, tapi ia segan memintanya kepada Nimo yang mungkin saja masih tidur. Tapi setibanya Prapto di teras ia kaget. Ternyata Nimo dan ayahnya sudah duduk mengobrol sambil minum kopi dan merokok. "Mari duduk, Nak Prapto!" ajak ayah Nimo.
Prapto duduk. Ia lalu menuangkan kopi dari teko ke dalam cangkir yang telah disediakan untuknya.
"Kata Nimo, Nak Prapto ingin menjadi petani dan peternak, benarkah?" Ayah Nimo menoleh pada Prapto setelah meneguk kopinya.
"Bagaimana kalau nanti Nak Prapto ikut dengan kami ke kebun?"
Prapto mengangguk. "Terima kasih, Pak. Tentu saja."
"Bapak duluan, ya, Nak Prapto. Ngopi dan mengobrol lah dulu dengan Nimo!" kata orang tua itu.
Setelah ayah Prapto pergi, kicau burung pagi mulai terdengar. Prapto lalu melihat ke pohon dimana kicau burung itu berasal. "Di Jakarta kau pernah dengar kicau burung pagi tidak, Nimo?"
"Tak ada, Bos. Kicau klakson mobil yang ada," jawab Nimo tertawa. Mereka pun mengobrol sampai kopi Prapto habis.
***
Prapto terpesona melihat kebun ayah Nimo. Di dekat pintu masuk kebun berderet tiga buah bangunan yang terbuat dari bambu. Bangunan yang pertama adalah bangunan yang berfungsi sebagai dapur.
Dalam bangunan dapur itu ada sebuah meja makan serta beberapa buah kursi, Dalam dapur itu juga ada perlengkapan makan dan perlengkapan memasak. Bangunan di sebalah dapur adalah gudang yang memuat perlengkapan bertani dan beternak. Lalu bangunan yang satu lagi adalah bangunan tempat menyimpan hasil panen.
__ADS_1
Di sepanjang sisi kebun Nimo berjejer berbagai rumah ternak. Mulai dari rumah ayam, rumah sapi, rumah kambing, rumah kelinci, rumah bebek, sampai dengan rumah ikan atau yang biasa disebut kolam.
Dan di belakang rumah-rumah hewan ternak itu terdapat banyak pohon rindang. Tidak semua sayuran dan tanaman yang ada di kebun Nimo itu dipagar, sehingga hewan-hewan ternak itu bisa bahagia karena mereka tidak dikurung.
Prapto masih memikirkan mengapa di gudang peralatan ayah Nimo tadi tidak ada tabung penyemprot hama ataupun botol-botol racun pembasmi hama. 'Nanti saja lah kutanyakan pada Pak ... .' Kalimat Prapto yang ia katakan dalam hati itu terhenti.
Prapto kaget. Ternyata sampai saat ini ia belum menanyakan pada Nimo siapa nama ayah dan ibunya. Prapto segera bertanya pada Nimo yang tengah memasang sepatu bot. "Nimo, nama ayah dan ibumu siapa?"
Nimo tertawa. "Aku sudah menduga kau pasti lupa menanyakannya, Bos. Ayahku namanya Dwipangga dan ibuku namanya Kinasih. Ayo, Bos, kita buka rumah ternak lalu kita beri mereka makan! Di samping masing-masing rumah ternak itu ada kotak kayu yang memuat persediaan makan mereka.
"Tak usah banyak-banyak memberi makannya, Bos! Hewan-hewan ternak Ayah tidak di kurung, kok. Memberi makan pagi dan sore itu hanya sebagai tanda bahwa kita menghargai dan tidak mengabaikan mereka," terang Nimo.
Prapto mengangguk-mengangguk. Ia kemudian pergi ke rumah ayam lalu membuka pintunya. Ayam-ayam itu tidak keluar, malah mereka menatap Prapto dengan wajah bertanya-tanya.
Prapto heran, ia pun balas menatap. Tapi, setelah berpikir sejenak, Prapto akhirnya mundur ke belakang dan ayam-ayam itu pun berlari ke luar. Prapto kemudian mengambil makanan ayam lalu menaburnya ke halaman rumah ayam tersebut.
"Kalian pasti ragu apakah aku ini orang baik atau orang jahat, kan?" Tanya Prapto kepada ayam-ayam yang tengah makan itu. Ia lalu tertawa.
Setelah selesai merawat kebun dan membantu ayah Nimo panen, Prapto diajak duduk ke bangunan dapur oleh Pak Dwipangga. Di dapur itu ibu Nimo yang berwajah manis dan memiliki senyum yang lembut tengah menghidangkan nasi, lauk pauk, serta kopi.
Aroma tumis kangkung, ikan teri cabai merah, serta aroma kentang goreng seketika memenuhi bangunan dapur itu.
"Pak, Bapak makan bersama Nimo dan Nak Prapto saja, ya? Bu Tari sudah menungguku di teras. Dia mengajakku pergi melihat Bu Intan yang sakit. Aku pergi, ya, Pak," kata Bu Kinasih meminta ijin.
Pak Dwipangga mengangguk-angguk. "Nanti aku akan makan lagi untuk menemanimu makan, Bu. Masakan Ibu enak soalnya."
Bu Kinasih tertawa. "Bapak 'kan memang hobi makan." Ada rasa bahagia dalam hati Bu Kinasih mendengar masakannya dibilang enak oleh sang suami.
"Sudah tua masih saja gombal-gombalan," ujar Nimo tertawa. Prapto pun tertawa.
"Makanya menikah! Supaya kau tahu betapa bahagianya rumah tangga itu, Bocah," sahut Pak Dwipangga.
Mereka makan dengan lahap, bahkan Prapto menambah nasi karena hidangan itu terasa lezat baginya, apalagi dimakan di kebun yang sejuk dengan pemandangan yang asri. Setelah mereka semua selesai makan dan menyulut rokok, Prapto lalu menanyakan apa yang sejak tadi belum jadi juga ia tanyakan kepada Pak Dwipangga.
"Pak Dwipangga," kata Prapto setelah meneguk kopinya. "Saya tidak melihat ada semprot hama maupun racun hama di gudang perlengkapan Bapak. Apa Bapak tidak meracun hama?"
__ADS_1
Pak Dwipangga tersenyum. Ia meneguk kopi terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Prapto.