
“Sedang memikirkan apa, Mas?” Pinaka menghampiri Prapto yang tengah duduk memegang buku tanpa dibuka. Wajahnya sedikit mengernyit memikirkan sesuatu.
Prapto tersenyum pada Pinaka setelah istrinya itu meletakkan kopi. Aroma kopi panas yang khas membuat ia menaruh buku dan langsung meniup kopinya. Setelah meneguknya dua kali, Prapto menceritakan apa yang tengah ia pikirkan pada Pinaka.
“Di ending buku itu, pasangan pendekarnya punya anak, Pinaka. Mereka memberi anak itu nama Swasti Ratu. Nama yang bagus. Aku jadi terpikirkan, kalau nanti anak kita lahir, akan diberi nama apa?”
Pinaka tertawa, lalu ikut duduk. “Nanti saja kita pikirkan, Mas. Kita cari nama yang bagus.”
“Iya,” sahut Prapto, tersenyum. “Besok kita ke kota Keladi, ya, Pinaka, membeli mobil.”
“Bukannya teman Mas Timo yang menjual mobil itu di Jakarta, Mas?” tanya Pinaka dengan pandangan heran.
“Timo tadi meneleponku, Pinaka. Katanya, temannya itu menikah dengan perempuan yang tinggal di kota Keladi, lalu diler mobilnya ia pindahkan ke sana.”
“Okay, Mas. Mas tidak ke balai desa? Perusahaan Kejora ‘kan hari ini menjemput hasil panen dan hasil olahan.”
“Oh iya, aku lupa,” kata Prapto kaget, lalu tertawa. “Aku ajak Nimo dulu, Pinaka.” Pinaka mengangguk.
Prapto pergi ke kebunnya untuk memanggil Nimo dan mengajaknya ke balai desa. Arini dan Pinaka tidak ikut, mereka di teras melanjutkan membuat kain alami.
***
Suasana di balai desa Kejora pagi itu ramai, penuh dengan tawa dan obrolan. Pak Uto, ayahnya Arini dan Pak Rodi berdiri di depan pagar kedua bangunan penampung sambil mencatat laporan dari warga desa yang memuat hasil olahan makanan dan hasil ngebun ke dalam truk perusahaan Kejora.
Di seberang jalan, di halaman balai desa, Pak Oscar dan Prapto menemani Pak Gumiro mengobrol. Hari ini Pak Gumiro ikut langsung menjemput hasil panen, karena katanya ia rindu dengan desa Kejora.
“Nak Timo tidak ikut, Pak Gumiro?” tanya Pak Oscar setelah menyulut cangklongnya.
“Tidak, Pak Kades. Timo ‘kan hari ini membantu Pak Rodi mengurus berkas-berkas,” jawab Pak Gumiro, tersenyum.
Pak Oscar menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku lupa, Pak Gum. Sehabis dari sini, Pak Gumiro akan langsung ke Jakarta?”
__ADS_1
“Tadi rencananya iya, Pak Kades, supaya kita bisa seiring ke Jakarta. Tapi di perjalanan tadi Pak Handoko menelepon minta tolong untuk mengantarkan seperempat dari pasokan ke anak cabang restorannya, tidak searah ke Jakarta.”
“Kalau begitu, kami duluan, Pak Gumiro,” sahut Pak Oscar.
Pak Gumiro tersenyum. “Bagaimana perkembangan kain alaminya, Pak Kades? Aku dan istri nanti akan jadi pembeli langganan kain alami desa Kejora.”
“Perkembangannya bagus, Pak Gum. Aku lihat pada laporan Purnomo, sudah banyak warga yang menyelesaikan kain pesanan, meskipun kain-kain itu masih lama akan dijemput oleh perusahaannya Pak Aron. Jadi kata Purnomo, selanjutnya jumlah produksi bisa ditingkatkan.”
“Keren, Pak Kades. Apa nanti akan ada penjualan di desa Kejora juga?” Pak Gumiro mengangguk berterima kasih pada Nimo yang datang menghidangkan empat gelas kopi.
“Ada, Pak Gum. Perusahaan Pak Aron tidak membawa semua kain yang dibelinya, karena katanya, kesannya lebih alami kalo langsung dibeli ke desa Kejora.”
Mereka pun mengobrol sampai pemuatan hasil panen dan makanan olahan dari hasil ngebun selesai pukul sepuluh pagi.
Pak Gumiro kemudian pamit, dengan membawa bingkisan hasil panen kebun yang dihadiahkan oleh bapak-bapak desa Kejora padanya.
Setelah banyak warga yang pulang ke rumah masing-masing, Pak Oscar, Prapto, Nimo, dan Pak Rodi juga pulang ke rumah mereka untuk berbenah dan kemudian berkumpul di rumah Pak Oscar. Seperti yang dibicarakan Pak Oscar dan Pak Gumiro tadi, mereka akan pergi ke Jakarta untuk menemani Pak Rodi.
***
“Jam berapa mereka datang, Timo?” tanya seorang ibu-ibu tua pada Timo. Ia kini berada di teras sebuah panti asuhan di kota Jakarta.
Timo melihat jam jam tangannya, hampir pukul dua belas, lalu mengecek ponsel untuk melihat ada pesan dari Prapto mengenai keterlambatan mereka.
“Tak ada kabar mereka akan datang terlambat, Bu, palingan sebentar lagi mereka akan sampai,” jawab Timo. Ia memperhatikan empat orang gadis kecil yang usianya tak lebih dari delapan tahun tengah bermain congklak tak jauh darinya.
“Orang tua mereka sudah meninggal semua, Bu Rara?” tanya Timo.
Perempuan tua pengawas panti asuhan yang pada rambutnya ada lima tusuk kundai itu menghela napas, melihat keempat gadis kecil tersebut sejenak dengan wajah muram, lalu berkata, “Dua diantara mereka sudah meninggal kedua orang tuanya, Nak Timo.
“Tapi dua lagi, mereka aku temukan pagi-pagi sekali di dalam kardus di teras ini, tak jauh dari tembok tempat kau duduk.”
__ADS_1
Timo menatap dua gadis kecil yang dimaksud oleh Bu Rara itu dengan rasa kasihan, dan ia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Bu Rara selanjutnya.
Bu Rara kembali menghela napas. Cahaya matanya sedih, muram, tapi raut wajahnya mengguratkan kemarahan. “Aku yakin orang tua dari kedua gadis kecil ini masih hidup, karena salah satu pengurus panti asuhan melihatnya pergi sesaat setelah meletakkan kardus.
“Tapi kesulitan ekonomi membuat mereka menjadi orang yang tolol dan akhirnya membuang anak sendiri. Bagiku mereka tidak menitipkan anak, Nak Timo, tapi mereka membuang anak.”
Timo mengangguk-angguk. Persis dengan apa yang ia duga. Ia kemudian menyulut rokok. “Sialan memang, Bu. Orang tua yang sialan dan pemalas.”
Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan memasuki halaman panti asuhan. “Itu mereka, Bu,” kata Timo yang telah berdiri.
Dari mobil sedan tersebut turun Prapto, Pak Rodi, Pak Oscar, dan Nimo. Mereka melangkah ke tetas dan menyalami Bu Rara pemilik panti asuhan.
Bu Rara menatap keempat orang yang baru datang tersebut. Ia melihat pancaran kedamaian di wajah mereka, tak ada kelicikan. Tapi meskipun raut-raut wajah itu damai dan tenteram, Bu Rara juga bisa melihat dengan jelas pancaran ketegasan.
‘Orang desa temannya Timo ini orang baik, bahkan lebih baik dari Rehan. Tapi dari mata dan sikapnya jelas mereka bukan orang baik yang lemah, melainkan orang baik yang akan mengerikan bila marah,’ pikir Bu Rara dalam hati.
Bu Rara mempersilakan semuanya duduk di teras. Tak lama kemudian, seorang ibu-ibu yang usianya tak jauh dari Bu Rara datang menghidangkan kopi.
“Anaknya masih mengemasi pakaiannya, Pak Rodi,” kata Bu Rara. “Ia baru dua bulan di panti asuhan ini. Apa kau ingin menambahkan nama belakangmu pada namanya? Kalau iya, aku akan menguruskannya ke kantor terkait. Itu sudah tanggung jawabku sebagai pemilik panti asuhan.”
Pak Rodi menggeleng. “Tidak perlu, Bu. Aku menghormati kedua orang tuanya yang telah memberinya nama, jadi aku tak akan menambah, mengurangi, maupun mengganti namanya.”
Semua orang lalu menoleh ke pintu panti bangunan panti asuhan tersebut. Seorang ibu-ibu muncul membawa seorang anak perempuan berusia enam tahun.
Bu Rara tersenyum melihat anak tersebut. “Perkenalkan dirimu, Anin,” katanya. Ia lalu memberitahu Anin bahwa yang akan menjadi orang tuanya adalah Pak Rodi.
Anin yang rambut sebahunya digerai dan bermata cemerlang itu menyalami Pak Rodi dan yang lain. “Namaku Aninda.”
Setelah Pak Rodi menanda tangani beberapa kertas, mereka kemudian pamit. Nimo pergi lebih dulu karena ada keperluan bisnis.
“Kenapa, Bos?” tanya Nimo pada Prapto yang menghentikan langkahnya menjelang keluar dari teras.
__ADS_1
“Ada yang salah, Nimo ... .”