Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
82. Membuat dan Mewarnai


__ADS_3

Prapto mengayuh sepedanya. Malam barulah turun. Masih terdapat banyak warga yang berjalan-jalan atau yang tengaj melakukan aktivitas malam di teras rumah mereka; bermain bersama anak-anak maupun berbincang sambil minum teh atau kopi.


Prapto menepikan sepedanya tak jauh dari sebuah gerobak yang menjual wedang jahe. Sekitar tujuh orang pria desa Kejora yang semuanya Prapto kenali tampak sedang mengantre menunggu pesanan wedang jahe mereka.


“Pak Gum, wedang jahenya seplastik besar.” Prapto duduk di bangku panjang setelah mengangguk tersenyum pada bapak-bapak yang antre.


“Banyak benar, Prapto?” tanya Pak Gum dengan nada bercanda.


“Buat dibawa ke rumah Pak Oscar, Pak,” jawab Prapto.


“Beres. Tunggu, ya.” Pak Gum berkata tanpa menoleh karena ia sedang membuat wedang jahe.


“Aman, Pak,” kata Prapto. Ia lalu menyulut rokok.


Prapto memperhatikan ketelatenan Pak Gum yang mengenakan penutup kepala khas anak gembala itu. Betapa ia menjalani profesi sebagai pedagang wedang jahenya dengan penuh senyum.


“Berdagang wedang jahe ini tujuan utamanya adalah menjual minuman sehat untuk penduduk desa Kejora, Prapto,” kata Pak Gum, memecah pemikiran Prapto. Ia menyodorkan bungkusan besar berisi wedang jahe pesanan Prapto.


Prapto tersenyum. “Pak Gum juga berkebun, kan?” tanyanya.


“Iya. Makanya aku bilang tujuan utama aku berjualan wedang jahe bukan uang. Aku sudah punya penghasilan yang lebih dari cukup dari kebun.” Pak Gum menyulut rokoknya. “Kau buru-buru ke rumah Pak Kades?”


“Tidak, Pak,” jawab Prapto.


“Kalau begitu, aku buatkan dulu wedang jahe mini untuk teman ngobrol kita sebentar.” Pak Gum berdiri menuju beranda gerobaknya. Tak lama kemudian ia kembali duduk sambil menghidangkan dua gelas kecil wedang jahe. “Silakan, Prapto,” katanya.


Prapto meneguk wedang jahe mini tersebut. Dahinya mengernyit. “Kok rasanya beda, Pak Gum? Lain enaknya.”

__ADS_1


Pak Gum tertawa. “Ini resep wedang jahe baruku, Prapto. Belum aku jual, baru untuk konsumsi rumahku saja.”


“Keren ini, Pak. Aku tunggu tanggal rilisnya.” Prapto kembali meneguk wedang jahe mini, lalu memberikan uang untuk belanjaannya.


Pak Gum mengangguk-angguk. “Tidak usah,” katanya sambil menolak uang yang diulurkan oleh Prapto. “Kalian pasti akan membicarakan hal yang berhubungan dengan inovasi desa kita di rumah Pak Kades. Anggap saja wedang jahe itu bentuk partisipasiku sebagai warga desa yang baik.


“Aku berterima kasih padamu, Prapto. Sejak kehadiranmu di desa Kejora, pendapatan warga meningkat tanpa harus menghilangkan nilai-nilai sejati desa kita.”


“Terima kasih, Pak Gum. Itu karena aku cinta pada desa yang sekarang sudah menjadi rumahku ini, Pak,” jawab Prapto.


Mereka mengobrol selama sekitar lima belas menit, kemudian Prapto pamit ke rumah Pak Oscar. “Terima kasih, Pak Gum,” katanya dan kembali mengayuh sepeda.


***


Prapto memarkirkan sepedanya di halaman rumah Pak Oscar. Di teras tampak telah duduk Pak Oscar, Pak Purnomo, Nimo, dan juga menantu Pak Oscar, Stepen. Prapto menyapa mereka dan ikut duduk. Nimo mengambil bungkusan wedang jahe lalu menuangkannya ke gelas yang sudah dipersiapkan.


“Masih pukul tujuh lewat lima belas menit, Nimo, nanti juga akan habis seiring kita ngobrol. Mana pernah kita ngobrol sebentar dengan Pak Kepala Desa.” Prapto mengangsurkan gelas yang telah diisi Nimo ke Pak Oscar, Pak Purnomo, dan Stepen.


“Pak Gum tidak mau menerima uang ketika aku bayar, Pak. Kata Beliau, ini bentuk partisipasinya sebagai warga desa yang baik,” kata Prapto pada Pak Oscar.


Pak Oscar tertawa. “Semoga dagangannya si Gum semakin laris.” Ia menyulut cangklongnya. “Ada yang ingin aku diskusikan dengan kalian malam ini, yaitu tentang penambahan jenis ikan ke sungai desa kita. Itu yang pertama. Yang kedua tentang keterampilan menjahit.


“Tampaknya minat menjahit di desa kita ini cukup tinggi. Akan berguna bagi warga dan akan meningkatkan pendapatan juga kalau kita bisa menjual bahan hasil jahitan dari desa Kejora. Tapi tetap dengan mempertahankan unsur alami, itu yang akan membuat produksi dari desa Kejora istimewa.”


“Kalau begitu,” kata Stepen. “Berarti juga akan ada pewarnaan pakaian dengan serat tumbuhan alami seperti tumbuhan indigo, Ayah.”


“Ya, Stepen. Pasti banyak kelebihan kain alami ini yang akan membuat orang berminat untuk membelinya. Tapi desa kita butuh seorang guru. Di mana kira-kira ada orang yang benar-benar paham tentang ini? Dan orang itu harus menjadi warga desa Kejora agar ia bisa fokus mengajari warga desa,” jawab Pak Oscar.

__ADS_1


Prapto menyulut rokoknya. “Kalau soal penambahan ikan, itu perkara mudah, Pak Kepala Desa. Kami ada rencana ke kota dengan Pak Purnomo, untuk menjual lukisannya, nanti bisa sekalian aku pesan ikan-ikan itu pada penjual ikan air tawar. Soal ilmu membuat dan mewarnai pakaian dengan cara alami ini yang aku tidak tahu di mana bisa menemukan gurunya.”


“Sepertinya itu ilmu keterampilan tradisional, Bos,” sahut Nimo. “Tapi tidak menutup kemungkinan ada ahlinya yang tinggal di kota. Informasinya bisa dicari nanti.” Ia lalu menoleh pada Pak Oscar. “Tapi kalau diminta untuk menetap di desa kita, rasanya akan agak sulit, Pak. Bagaimana kalau gurunya datang ke desa sekali seminggu saja?”


“Ongkosnya tentu dari kita, Nimo, jika gurunya tidak tinggal di sini. Dan kalau belajar sekali seminggu, tak akan banyak ilmu yang bisa diserap. Aku ingin gurunya tinggal di desa kita supaya warga yang ingin belajar bisa sempurna kepandaiannya. Kecil kemungkinan guru itu akan pelit mengajarkan ilmunya jika ia telah menjadi penduduk desa Kejora,” terang Pak Oscar.


Pak Purnomo meneguk wedang jahenya. “Peluang bisnis kain ini memang sangat potensial. Kain yang dibuat dan sekaligus diwarnai di desa Kejora. Orang-orang kota sekarang berlomba membeli makanan alami, mereka pasti juga akan berbondong-bondong membeli pakaian alami. Di Paris, aku pernah melihat kain alami yang digambarkan oleh Oscar tadi. Memang cantik dan berkarakter. Orang-orang kota akan suka.


“Tapi tentang itu dan tentang pemasarannya nanti saja kita pikirkan. Yang terpenting sekarang adalah menemukan gurunya dan bagaimana caranya agar sang guru mau tinggal di desa kita. Tidak sekadar mau untuk mengajar atau tinggal sebentar, tapi mau tinggal di desa ini dari hatinya, layaknya Prapto dulu.”


Pak Oscar mengangguk. “Benar. Seperti kata Purnomo, guru itu harus mau menetap di desa Kejora dari hatinya, bukan karena uang.” Pak Oscar menghisap cangklongnya. “Masih ada beberapa gagasanku yang lain untuk desa Kejora, tapi untuk sekarang, kita fokus ke yang ini dulu.”


“Nama keterampilan menjahit dan mewarnai pakaian itu apa, Ayah?” tanya Stepen. “Kalau tahu namanya, akan lebih mudah untuk mencari gurunya.”


“Kalau soal nama, mungkin akan merujuk pada ilmu membuat dan mewarnai pakaian di jaman kuno. Benar juga katamu, Stepen. Salah nama bisa berakibat salah mendatangkan guru.” Pak Oscar menoleh pada Prapto. “Kapan kalian akan menemani Purnomo ke kota, Nak Prapto?” tanyanya.


“Dua atau tiga hari lagi, Pak Kepala Desa,” jawab Prapto.


“Nah, kalian punya waktu untuk mencari tahu nama keterampilan membuat dan mewarnai pakaian itu sebelum berangkat ke kota. Aku percayakan pada kalian,” kata Pak Oscar.


Pak Purnomo tertawa setelah menyulut rokoknya. “Oscar ... Oscar. Bilang saja kau malas browsing mencari namanya, pakai bilang mempercayakan segala.”


Semua yang ada di teras tertawa.


“Ya, begitulah,” kata Pak Oscar. Ia menoleh ke meja. “Aku sampai lupa menawarkan singkong gorengnya. Ayo, dimakan! Nanti keburu dingin.”


Mereka pun melanjutkan obrolan.

__ADS_1


__ADS_2