
"Supaya pembagian bibit sayuran Jepang pada warga itu cepat selesai, kita minta tolong saja pada Lapen, Taro, dan Lennon untuk ikut membagikan bibitnya," kata Nimo.
"Benar juga. Baiklah. Kita pun bisa pergi ke sungai lebih cepat.”
Angin mendung tiba-tiba bertiup. Pohon dan tanaman yang ada di kebun mereka bergerak bagaikan menari. Prapto dan Nimo memperhatikan tarian-tarian pohon dan tanaman itu dengan wajah tersenyum lalu memejamkan mata.
"Jadi begini, Paman ... "
Prapto dan Nimo yang sedang memejamkan mata mereka tiba-tiba kaget mendengar suara Lapen.
"Astaga, Lapen!" seru Nimo. Ia dan Prapto juga melihat kehadiran Taro dan Lennon yang masing-masing berdiri di samping Lapen.
Prapto tertawa. "Jadi begini, apa, Lapen? Kau mau meneruskan penjelasan tentang ikan baru di telepon tadi? Duduklah dulu. Duduklah, Lennon, Taro."
Lapen, Taro, dan Lennon duduk. Lapen lalu melanjutkan penjelasannya tentang beberapa ikan yang kabarnya bermigrasi ke sungai desa Kejora.
"Jadi, kami mau mencoba beberapa umpan baru, Paman,” lanjut Lapen. "Semoga saja kabar itu benar dan ikannya lezat."
Prapto dan Nimo mengangguk-angguk.
"Oh iya, Lapen, Taro, Lennon," kata Nimo. "Kalian bantu kami, ya. Bibit sayuran dari Jepang sudah datang. Kita berlima berpencar membagi-bagikannya ke rumah warga desa. Kalian bawa sepeda, kan? Setelah itu kita baru pergi ke sungai. Tenang saja! Kami akan bawa teh dan singkong rebus nanti."
Lepen dan kedua orang sahabatnya tersenyum. "Baik, Paman. Sepertinya itu adalah tawaran yang menarik," jawab Lapen.
Nimo bangkit dari duduknya lalu membagi bungkus-bungkus bibit ke dalam kantong-kantong plastik. Sementara itu, Prapto menjelaskan pada Lapen dan kedua orang sahabatnya tentang pembagian jalan yang akan mereka lalui masing-masing.
"Nah, ini. Setelah semua bibit selesai dibagikan, kita berkumpul kembali di sini," kata Nimo.
Mereka berlima lalu mengambil sepeda masing-masing dan mulai berpencar menuju arah yang sudah ditentukan oleh Prapto.
***
Pukul setengah empat sore, Prapto, Nimo, Lapen, dan Taro sudah berkumpul kembali di teras rumah Prapto. Lennon yang terakhir datang. Ia tersenyum ketika melihat bekal memancing sudah siap di atas meja. Tanpa turun dari sepedanya, Lennon berkata, "Ayo, Paman!"
"Turun dulu, Lennon," kata Nimo. "Kau katakan dulu ke rumah siapa saja tadi kau antarkan bibitnya, supaya kita tahu jika ada rumah yang terlewat."
Lennon mengibaskan rambut berpotongan The Beatles-nya lalu turun dari sepada menghampiri Nimo. Nimo mengangguk-angguk setiap kali Lennon mengatakan nama-nama warga yang ia berikan bibit sayuran Jepang.
"Baiklah," kata Nimo. "Ayo, berangkat!"
***
__ADS_1
Ikan-ikan sungai tampak melompat sesekali ke atas permukaan air yang keruh karena musim hujan.
Di bawah langit mendung, Prapto, Nimo, Lapen, Taro, dan Lennon berjalan di pinggir sungai sambil membawa joran pancing masing-masing dan bekal memancing mereka.
"Kenapa kau bawa ember, Nimo?" tanya Prapto, yang sejak tadi sudah merasa heran melihat sahabatnya itu membawa ember berwarna biru.
"Untuk tempat ikan, Bos. Ikan-ikan itu nanti memang akan kita makan, tapi tentu kita tidak boleh menyiksanya menjelang mereka disembelih," jawab Nimo.
Prapto mengangguk paham. "Benar juga, Nimo. Aku sering kali merasa sedih melihat ikan-ikan yang mati kehabisan nafas sebelum mereka disembelih."
"Sedih sedih tapi tetap saja Paman biarkan mereka mati kehabisan napas," sahut Lapen, yang kini menghentikan langkahnya.
"Iya, Lapen, aku tidak akan menyiksa ikan lagi sebelum mereka disembelih," kata Prapto dengan nada meminta maaf. "Kenapa kalian berhenti?"
"Di sini sepertinya bagus untuk tempat melempar kail, Paman," jawab Lapen. Ia lalu menoleh pada Taro. "Ayo, Taro, keluarkan umpannya!"
Taro kemudian membuka tas kecil yang ia bawa lalu mengeluarkan beberapa jenis umpan yang terbuat dari buah-buahan dicampur dengan daun-daunan.
"Kita coba yang ini dulu, Paman," kata Lennon. Ia lalu memberikan umpan buatan mereka pada Prapto dan Nimo. "Semoga saja ikan-ikan baru itu suka."
"Dibuat dari apa umpan ini, Lennon?" tanya Nimo, sambil memerhatikan umpan yang baru saja ia taruh di atas selembar daun lebar.
"Gilingan jagung manis yang direbus setengah matang dan daun kacang panjang, Paman," jawab Lennon.
"Iya, Paman." Lapen yang menjawab. Beberapa ikan sungai malah lebih suka jagung yang direbus setengah matang. Ada lagi ikan yang suka singkong goreng tepung, Paman. Banyak lah pokoknya macam-macam umpan untuk memancing di sungai."
Prapto memandang Nimo yang kini tengah tersenyum melihat ke arahnya.
"Benar, kan apa yang aku bilang, Bos? Mereka ini ilmu memancing di sungai-nya sudah tinggi," kata Nimo.
Mereka berlima kemudian melempar kail. Sambil menunggu dapat ikan, Prapto dan Nimo menyulut rokok mereka. Sedangkan Lapaen dan kedua orang sahabatnya memakan singkong rebus.
Sambil merokok, Prapto memperhatikan ke sekeliling sungai dengan wajah tersenyum.
"Aku jamin," kata Taro dengan suara pelan pada kedua sahabatnya. "Di kota tempat dia tinggal dulu, Paman Prapto pasti tak pernah merasakan angin mendung yang sesejuk ini."
Lennon memberi isyarat dengan menempelkan telunjuk di bibirnya. "Mana ada angin begini di kota. Kau lihat, kan, di televisi? Angin di kota besar bercampur dengan asap kendaraan dan asap pabrik. Pasti hawanya juga panas."
Lapen tidak ikut nimbrung bersama sahabatnya. Ia tengah fokus mencari waktu yang pas untuk mengangkat joran, karena umpannya terasa tengah dimakan oleh ikan.
"Dapat!" seru Lapen. Ia lalu menggerakkan joran pancingnya agar ikan yang baru saja ia dapat bisa diambil.
__ADS_1
Prapto dan Nimo menoleh ke arah Lapen.
"Ikan baru, Lapen?" tanya Nimo.
"Iya, Paman. Agak mirip dengan ikan yang biasa kita dapat. Tapi bila diperhatikan, sisiknya lebih kekuningan," jawab Lapen.
Prapto memandang kagum pada Lapen yang begitu paham tentang memancing dan tentang ikan sungai. Prapto lalu menoleh ke arah kailnya yang juga tengah digigit oleh ikan. "Bagaimana cara mengangkat jorannya agar ikannya tidak lepas, Lapen?" sorak Prapto.
"Tarik sedikit dulu, Paman, lalu langsung angkat. Jangan terlalu cepat, dan jangan juga terlalu lambat seperti Paman yang belum juga melamar Tante Pinaka," sahut Lapen.
Taro dan Lennon tertawa kecil, sedangkan Nimo tidak menahan-nahan tawanya, ia tertawa dengan keras.
"Yak, dapat!" seru Prapto. Ia lalu menoleh pada Lapen. "Terlalu lambat seperti apa katamu tadi, Lapen? Lanjutan kata-katamu tidak jelas terdengar karena aku fokus menarik ikan ini."
"Oooh ... Itu, Paman ... Kataku tadi, menariknya jangan terlalu lambat, ikannya bisa lepas," jawab Lapen sambil tersenyum pada kedua sahabatnya dan pada Nimo yang sedang menggeleng-gelengkan kepala.
***
Menjelang pukul lima sore, masing-masing dari mereka telah mendapatkan ikan. Yang dapat ikan paling banyak adalah Lapen dan Lennon. Taro dapat banyak ikan juga, tapi kurang banyak tiga ekor bila dibanding dengan ikan yang didapat oleh Lennon dan Lapen.
Nimo mendapat sepuluh ekor ikan. Sedangkan Prapto, ia tampak tengah merapikan benang pancingnya dengan murung karena hanya mendapat satu ekor ikan.
"Jangan sedih, Paman," kata Lennon menghibur. "Kapan-kapan kita mancing lagi. Lagi pula, nanti 'kan ada festival memancing ikan. Kita pasti akan makan ikan ramai-ramai nanti. Kata ibuku, para wanita desa Kejora nanti akan membawa peralatan memasak ke festival."
Prapto tersenyum pada Lennon. "Terima kasih, Lennon. Kita langsung pulang?" tanyanya.
"Baru jam lima, Bos," sahut Nimo. "Kita bakar ikan dulu. Taro tadi katanya bawa pisau dan bumbu."
Taro melangkah menghampiri Nimo. "Ini, Paman," katanya, sambil mengulurkan kotak bumbu dan pisau.
Dengan terampil, Nimo menyembelih ikan lalu memarutnya. Lapen dan kedua orang sahabatnya pergi ke pintu hutan desa Kejora untuk mencari ranting-ranting kering dan tiga buah batu yang akan digunakan sebagai tungku.
Tak lama kemudian, tempat pembakaran ikan pun selesai dibuat di tempat yang banyak pohonnya agar api tungku tidak padam ditiup angin. Masing-masing mereka mengolesi bumbu lalu membakar ikan.
"Berapa jenis ikan baru yang kita dapat, Lapen?" tanya Nimo.
"Tiga, Paman," jawab Lapen. "Ikan yang aku dapatkan pertama tadi, terus ikan yang didapat oleh Paman Prapto, kemudian yang didapat oleh Taro."
"Masih ada kemungkinan terdapat jenis ikan baru yang lain, Lapen?" tanya Prapto yang tampak tertarik.
"Masih, Paman. Nanti ketika festival memancing akan jelas berapa jumlah semua ikan baru, karena hampir semua bagian sungai desa akan dipakai untuk memancing."
__ADS_1
"Sudah matang!" seru Lennon.
Mereka semua tersenyum. Setelah meniup-niup sebentar, ikan-ikan yang sudah matang itu pun kemudian disantap ....