
Di depan pagar rumah Pinaka, berhenti sebuah mobil sedan berwarna merah. Kemudian sepasang suami istri berusia paruh baya turun dari sedan tersebut. Mereka berdua berperawakan sedang. Yang pria bersetelan jas abu-abu, berambut pendek, dan memakai kacamata. Yang wanita berambut sepunggung, mengenakan baju kebaya hijau, dan membawa tas jinjing.
Sepasang suami istri itu melihat ke sekeliling terlebih dahulu sebelum menoleh ke teras Pinaka. Mereka tersenyum dari jauh lalu melangkah menghampiri Pinaka dan Arini.
Pinaka dan Arini saling pandang dengan wajah bertanya.
“Kau kenal mereka, Arini?” tanya Pinaka.
Arini menyipitkan matanya melihat sepasang suami istri tersebut yang sudah sampai di jembatan kecil, lalu menggeleng. “Tidak, Pinaka.”
“Permisi. Perkenalkan, saya adalah Aron, dan ini adalah istri saya, Irin. Kami datang ke desa ini mencari Bu Rena. Apakah ini rumah suami Bu Rena?” Pria yang bernama Aron tersebut melihat layar ponselnya. “Di google map arahnya ke rumah ini.”
Istrinya yang bernama Irin menyambung, “Aku dan suamiku adalah langganan membeli kain alami buatan Bu Rena. Karena acara pernikahannya digelar dengan sederhana tanpa undangan, jadi aku memutuskan datang setelah acara pernikahannya selesai saja, untuk memberikan kado.
“Dan tampaknya google map kebingungan kalau sudah memasuki wilayah pedesaan.”
Pinaka dan Arini mulai paham. Bu Irin dan suaminya ini tentulah sepasang pengusaha yang perusahaannya bergerak di bidang pakaian atau yang berhubungan dengan kain. Jika mereka hanya pembeli biasa, tidak mungkin mereka mau jauh-jauh datang mengantar kado ke desa Kejora meskipun tidak ada undangan pernikahan.
Pinaka mengambil ponselnya. “Silakan duduk dulu, Bu, Pak. Aku akan menelepon suamiku dan memintanya untuk mengantar Bapak dan Ibu ke rumah Bu Rena.” Pinaka berdiri lalu pergi ke ujung teras.
Sementara Pinaka menelepon, Arini pamit ke dapur untuk membuat minum.
“Sebentar lagi suamiku akan pulang, Bu, Pak,” kata Pinaka setelah duduk kembali.
Arini menghidangkan dua gelas teh panas dan mempersilakan Bu Irin dan Pak Aron untuk minum. Tak lama setelah itu, muncul dua buah sepeda dari pintu pagar. Masing-masing sepeda itu dikendarai oleh Prapto dan Pak Purnomo. Pak Purnomo membonceng Bu Rena dan Prapto membonceng Nimo.
Pinaka menyalami Prapto lalu pergi ke dapur untuk membuat minum bersama Arini, yang barusan juga menyalami Nimo.
“Terima kasih sudah datang jauh-jauh, Bu Irin, Pak Aron,” kata Bu Rena. Ia duduk. “Perkenalkan, ini suamiku, Mas Purnomo.” Mereka bersalaman.
__ADS_1
“Maaf, kami tidak bisa membawa Bapak dan Ibu ke rumah, karena di sana sekarang sedang beres-beres, jadi aku meminjam rumah Prapto dulu,” kata Pak Purnomo, tertawa. “Terima kasih sudah datang jauh-jauh ke desa Kejora.”
“Sebagai pembeli langganan Bu Rena, tidak mungkin kami tidak hadir, Pak Purnomo, setidaknya untuk mengantarkan kado,” sahut Pak Aron, tersenyum.
Pinaka dan Arini menghidangkan minuman tambahan berserta singkong rebus, lalu kembali ke dalam rumah.
Prapto menatap Pak Aron dengan senyum penuh arti. Kecerdasannya segera menangkap bahwa kedatangan sepasang suami istri itu bukan hanya sekadar untuk mengantar kado, tetapi juga membawa kepentingan bisnis. Nimo pun agaknya mengerti, karena ia menyulut rokok sambil tersenyum kecil pada Prapto.
***
"Ayo, Bos, cepat!" kata Nimo, tertawa. Ia terus berlari ke teras rumah Prapto.
"Larimu cepat sekali Nimo, tanah licin, jatuh baru tahu rasa." Prapto akhirnya sampai di teras dan melepas mantel hujannya.
"Bilang saja larimu kalah cepat, Bos, pakai alasan tanah licin segala," sahut Nimo. Ia lalu duduk dan menyulut rokok.
Hujan pagi membuat Prapto dan Nimo menunda kegiatan berkebun mereka. Mereka ke kebun hanya untuk membuka rumah ternak dan memberi makan ternak mereka.
"Pukul empat sore, Bos. Aku juga mau lihat sebentar, sekalian mengantar Arini. Oh iya, Bos, Arini dan Pinaka tadi katanya mau ke mana? Aku tidak terlalu jelas mendengarnya. Mereka ke rumah Bu Intan atau ke rumah Bu Harni?"
“Rumah Bu Intan, Nimo. Kata Pinaka, Bu Intan punya resep makanan baru.” Prapto meneguk kopinya. “Sebentar lagi desa Kejora akan mengadakan festival musim panas, kira-kira akan seperti apa festival musim panas itu, Nimo?”
"Festival musim panas biasanya diadakan di balai desa, Bos, tapi dari tahun ke tahun event utamanya berbeda. Aku tidak bisa menebak, Pak Kepala Desa lah yang akan memutuskannya nanti."
Prapto mengangguk-angguk. Ia menyulut rokok, lalu berkata, “Soal kedatangan Bu Irin dan Pak Aron kemarin, kau juga bisa membacanya, ya, bahwa mereka membawa kepentingan bisnis?”
Nimo tertawa. “Iya, Bos. Makanya aku mengodemu. Syukurlah mereka datang membawa penawaran bisnis pada desa Kejora, jadi kita tidak perlu lagi mencari perusahaan yang mau membeli kain alami. Tapi terpikirkan tentang dua hal, Bos. Yang pertama, Pak Aron dan Bu Irin itu adalah langganan membeli kain buatannya Bibi Rena.
“Selama ini, walaupun mereka rutin membeli, tapi mereka tidak pernah membeli semua kain buatan Bibi. Kenapa baru sekarang mereka mau membeli semuanya? Dan yang kedua, apa Bibi Rena benar-benar seyakin itu untuk menjual kain hasil buatan pertama warga desa Kejora, yang masih dalam tahap belajar?”
__ADS_1
Prapto mengerutkan wajah, berpikir. “Mungkin perusahaan mereka belum lama terjun dalam bisnis kain alami ini, Nimo, jadi mereka membeli kain buatan Bu Rena tidak banyak-banyak dulu. Lagi pula, para pembeli, kan, perlu tahu lebih dulu perbedaan antara kain alami dengan kain yang dibuat dengan campuran bahan kimia, agar mereka tidak keberatan membeli kain alami yang harganya lebih mahal.
“Sekarang setelah pembeli mereka semakin banyak dan pendapatan perusahaan mereka meningkat, barulah mereka mau terjun sepenuhnya dalam bisnis ini. Soal yang kedua, aku rasa bibimu itu yakin dengan keterampilan yang ia miliki dan sudah punya metode cepat untuk mengajar. Aku percaya padanya.”
Nimo mengangguk-angguk. “Masuk akal, Bos. Dan soal Bibi, aku rasa dia memang punya metode mengajar khusus. Lagi pula, kain-kain yang kita lihat waktu di rumah Pak Akum dulu sudah membuktikan betapa terampilnya bibiku itu. Memilih corak yang pas untuk kainnya saja bisa satu jam lebih. Kalau Paman tidak membantu, mungkin sampai malam ia masih memikirkan corak kain.” Nimo tertawa.
Prapto mengangguk. “Karena itulah kain alami buatan Bu Rena beda kualitasnya dari yang lain, Nimo. Bu Rena melakukannya dengan penuh ketekunan dan pemaknaan. Corak gambar, warna, dan bentuk kain yang dibuatnya pasti penuh makna. Layaknya lukisan-lukisan Pak Purnomo, dan layaknya tanaman dan ternak di desa Kejora. Kita berkebun dengan pemaknaan. Itulah yang membedakan kita dari petani lain.”
Nimo mengangguk-angguk.
“Hujannya reda, Nimo, ayo berkebun!” ajak Prapto. Ia lalu berdiri.
“Ayo, Bos.”
“Oh iya, kapan kita panen? Akhir bulan ini Truk Amerika akan datang,” kata Prapto, tersenyum.
“Sepertinya dua minggu lagi, Bos. Tapi coba kita cek dulu nanti.”
Mereka kemudian melangkah ke kebun dengan gembira. Petani harus berkebun dengan perasaan bahagia, agar kebahagiaannya bisa menyebar ke tanaman yang ia tanam. Dan tanaman yang bahagia akan meningkat kualitasnya.
***
Sore itu warga desa Kejora yang ingin belajar membuat kain alami sudah tiba di pendopo besar rumah Pak Oscar. Sebentar lagi Bu Rena dan Pak Purnomo akan memulai pelajaran membuat kain alami, yang hari ini materinya adalah memintal bahan baku menjadi benang.
Nimo dan Prapto baru saja mengantar istri mereka dan kini tengah duduk di teras rumah Pak Oscar.
“Bos, tadi aku lupa menanyakannya padamu. Beda kain alami dengan kain yang dibuat dengan campuran bahan kimia, apa?” tanya Nimo.
“Aku hanya tahu bahwa ada bedanya, Nimo, tapi aku tidak tahu apa perbedaannya,” jawab Prapto, tertawa.
__ADS_1
“Perbedaan antara keduanya cukup besar, Nak Nimo, Nak Prapto, sehingga kain alami lumayan jauh lebih mahal harganya.” Pak Oscar meletakkan tiga gelas kopi yang ia bawa.