
Pria yang baru datang itu lalu duduk. Tangan kanannya yang mengenakan arloji mahal sengaja diletakkan di atas meja dan bagian kacanya diarahkan pada Prapto. Prapto yang sejak tadi sudah kesal segera memutar otaknya.
Pinaka mengangguk. "Iya, Roy," jawabnya.
"Aku baru saja pulang liburan dari Prancis, Pinaka, makanya aku tidak tahu kalau kau mengundurkan diri," kata Roy dengan nada bangga.
Pinaka kembali mengangguk. Ia lalu melirik Prapto. Pinaka ingin melihat apa tanggapan Prapto karena tidak dihiraukan oleh Roy.
Roy melambaikan tangannya ketika ia melihat seorang pramusaji wanita. "Mba ..."
Ucapan Roy terhenti karena Prapto memanggilnya, "Mas Roy!"
Roy menoleh. Ia mengernyitkan kening karena Prapto menunjuk-nunjuk kepalanya.
"Itu ... Di rambut Mas Roy barusan ada tai cicak jatuh empat biji."
Roy mengangkat tangannya untuk memeriksa, tapi Prapto segera berkata lagi, "Jangan, Mas Roy! Nanti tanganmu kena tai cicak, empat biji pula. Di kamar mandi saja. Di kamar mandi 'kan ada cermin, jadi kau bisa melihat tai cicak itu di cermin dan menyingkirkannya dengan tepat. Kau juga bisa mencuci tangan sehabis memegang tai cicak."
Tanpa menoleh pada Prapto dan Pinaka, Roy bergegas ke kamar mandi dengan wajah malu.
"Serius, Mas, ada tai cicak jatuh di kepala Roy, dan empat biji pula?" tanya Pinaka penasaran.
Prapto tertawa. "Tidak, Pinaka. Aku benci melihatnya, jadi, aku kerjai. Ayo, kita pulang," ajak Prapto.
Pinaka tertawa. Ia mengangguk lalu melangkah di belakang Prapto. Menjelang mereka tiba di kasir, Pinaka bertanya, "Mas Prapto lupa bawa dompet lagi?"
"Lupa pun tak masalah, Pinaka. 'Kan Ibu tadi menyelipkan uang," jawab Prapto tersenyum sambil menepuk kantong jaketnya.
Tak lama setelah Prapto dan Pinaka pergi, Roy kembali ke meja tempat mereka tadi duduk. Wajahnya masam. Ia tidak menemukan sebiji tai cicak pun di rambutnya. "Sial, aku ditipu dua kali!" umpatnya ketika melihat Prapto dan Pinaka sudah tidak ada lagi di sana.
***
__ADS_1
"Dia sudah lama naksir aku, Mas," kata Pinaka dengan suara dikeraskan, agar suaranya dapat didengar oleh Prapto di tengah deru angin dan suara kendaraan.
Prapto tidak langsung menjawab. Ia fokus dulu memotong sebuah truk. Lalu katanya, "Si Roy itu?"
"Iya, Mas. Dia naksir aku sejak pertama kali aku masuk kerja di Kuda Terbang Corporation. Sudah kuberi tanda beberapa kali bahwa aku menolaknya, tapi Roy itu tidak mengerti juga."
"Kalau menolak, kau harus menolaknya dengan tegas, Pinaka. Jika hanya diberi tanda penolakan, dia tidak akan paham, malah dia akan berpikir bahwa kau juga naksir padanya. Tapi menurutku, kau bukannya tidak tahu soal itu, Pinaka. Kau ingin cintamu dikejar-kejar oleh pria dan kau bangga karena itu," sahut Prapto tanpa tedeng aling-aling.
Muka Pinaka memerah. Katanya, "Ya ..." Ia tidak menemukan kata-kata untuk berkilah.
"Ya apa?" tanya Prpato tertawa.
"Tidak tahu, Mas," jawab Pinaka singkat.
"Kau manis, Pinaka, dan kau juga cerdas. Tapi, jika kau bangga dikejar-kejar cintamu oleh pria, atau jika kau ingin dipuji-puji pria, itu membuat kadar kemanisan-mu jauh berkurang," kata Prapto, "karena itu merupakan tanda bahwa kau bukanlah wanita yang setia. Jangan begitu lagi, ya. Itu tidak keren. Itu bukan sifat wanita sejati."
Pinaka tertegun. kata-kata Prapto yang lagi-lagi tanpa tedeng aling-aling telah membuatnya kesal dan malu. "Mas, kenapa kau bicara sangat terus terang begitu? 'Kan bisa sedikit disamarkan maksudmu, agar yang mendengarnya tidak kesal."
"Iya, Mas," sahut Pinaka. Ia mendadak jadi sedih. "Berarti aku sekarang tidak manis di mata Mas Prapto dan Mas Prapto tidak menyukaiku?"
"Apa, Pinaka? Suaramu barusan kurang jelas karena suara mobil."
Pinaka cepat-cepat menutup mulutnya dengan tangan. Wajahnya tersipu. "Tadi aku bertanya, Mas. Apa hari akan hujan lagi? Langit gelap, Mas. Mungkin sebaiknya kita membeli jas hujan plastik dulu."
"Ooh. Tidak akan hujan sebelum malam tiba, Pinaka. Kata Nimo, kalau langit gelap tapi hawa udara tidak dingin, berarti masih lama hujannya."
"Mas, kenapa tadi Mas Prapto dan Om Rohan berpikir bahwa Silvi berperan dalam penggagalan kerja sama antara desa Kejora dengan perusahaan Pak Gumiro?" tanya Pinaka.
"Silvi sepertinya tidak terima karena aku ceraikan, Pinaka. Lalu setelah ia menikah dengan Tristan, ia mengajak suaminya itu menyusun rencana untuk menghambat pertumbuhan ekonomiku. Dan aku yakin, itulah alasan Tristan memintamu menjadi peneliti pangan palsu dan menolak hasil ngebunku, karena permintaan Silvi."
Pinaka kaget. "Jadi, Mas Pratpo duda?" tanyanya.
__ADS_1
Prapto tertawa. Katanya, "Iya, Pinaka. Kenapa? Kau tidak mau menikah dengan duda?"
"Apa-apaan, Kenapa ke sana perginya, Mas!" sahut Pinaka lalu mencubit lengan Prpato.
"Tapi, Mas," lanjut Pinaka, "bisa jadi itu bukan karena Silvi marah padamu."
"Lalu?"
"Bisa saja Silvi melakukan itu karena dia mencintai Mas Prapto. Karena Silvi tidak ingin Mas Prapto menikah dengan wanita lain. Dia berpikir jika tingkat ekonomi Mas rendah, maka tidak akan ada wanita yang mau menikah dengan Mas. Bagi Silvi, jika dia tidak bisa menikah lagi dengan Mas Prapto, maka wanita lain pun tidak boleh menikah denganmu," kata Pinaka serius.
"Seperti dalam sinetron saja, Pinaka," sahut Prapto tertawa. "Tapi kata-katamu itu masuk akal juga."
***
"Dan pada akhirnya, Runai mengerahkan jurus andalannya," kata Pak Kuncoro. Orang tua itu lalu mengambil sebuah pedang kayu yang ia jual. Pedang kayu tersebut kemudian di angkat Pak Kuncoro ke atas bahunya. Lengannya yang memegang pedang ia tarik.
"Jurus Petaka Langit Hitam!" seru Pak Kuncoro. Pedang kayu itu kemudian ditebas-tebaskan Pak Kuncoro dengan cepat.
"Lawannya yang sakti itu tidak dapat mengelak," sambung Pak Kuncoro, "tebasan pedang Runai itu demikian cepatnya sehingga sulit diikuti oleh pandangan mata. Lawannya pun roboh setelah menangkis beberapa kali. Setelah orang jahat itu mati, Runai menikah dengan Anggini dan wilayah itu pun menjadi tenang dan tenteram kembali.
Pak Kuncoro menyudahi ceritanya. Ia lalu melambaikan tangan kepada anak-anak desa Kejora. "Sampai bertemu lagi, Bocah Bocah!"
"Sampai bertemu lagi, Kek Kuncoro," jawab anak-anak serentak sambil melambaikan tangan mereka.
***
Prapto dan Pinaka tiba di desa Kejora pada sore hari. Setelah mengantar Pinaka ke perpustakaan, Prapto diajak Nimo pulang ke rumahnya untuk ikut makan malam.
"Nimo, ini Pak Gumiro mengirim pesan singkat. Katanya, Pinjaman modalnya sudah bisa diambil. Lalu ...."
Kata-kata Prapto terhenti, karena di depan teras tempat mereka merokok dan ngopi, kini berdiri seseorang di antara rintik hujan sambil memegang payung.
__ADS_1