
Prapto menghempaskan badannya ke kursi panjang di ruang tengah rumahnya. "Sial, lain pula capeknya ngebun malam-malam ternyata, Nimo."
Nimo tertawa. Mereka baru saja selesai memasukkan sayuran dan buah yang telah dipanen ke dalam kertas roti. Mereka dibantu oleh Stepen dan dua orang teman yang juga membantu mereka panen.
"Memang, Bos, apalagi kalau hujan. Syukurlah ada dua orang teman kita dan Mas Stepen tadi yang membantu. Jika tidak, mungkin kita tidak akan tidur malam ini, Bos."
Prapto meluruskan duduknya lalu menyulut rokok. "Ngomong-ngomong, Pak Oscar mengatakan Mas Stepen suka ngebun malam-malam itu hanya gurauan atau memang benar, Nimo?"
Nimo meneguk kopinya. Ia menyulut rokok lalu berkata, “Separuhnya gurauan, Bos. Separuhnya lagi benar. Mas Stepen memang suka ke kebunnya malam-malam. Ia memasang lampu taman di kebunnya. Ia suka membaca atau ngobrol dengan Lastri dan Lapen di kebun malam hari.”
“Begitu rupanya. Memasang lampu taman di kebun itu sepertinya gagasan yang keren, Nimo.”
“Tenang, Bos. Nanti kita pasang.” Nimo lalu menoleh pada Prapto. “Bos, kau sudah mengucapkan terima kasih pada Pinaka?”
Prapto kaget. Ia langsung mengambil ponsel di atas aja.
“Halo, Pinaka.”
“Halo, Mas Prapto,” jawab Pinaka dari seberang telepon.
“Aku mengganggu tidurmu?”
“Tidak, Mas. Aku baru mau tidur, baru selesai membaca.”
Prapto tertawa. “Pinaka sudah menjadi kutu buku sekarang rupanya.”
“Ya, begitulah, Mas Prapto,” sahut Pinaka, tertawa.
“Aku meneleponmu karena mau mengatakan kau itu cantik, Pinaka.”
Pinaka tak bersuara untuk beberapa saat lamanya, hanya tawa Nimo yang terdengar.
“Kau sedang tersipu, Pinaka?” sambung Prapto.
“Apa-apaan, sih, Mas, wajahku datar-datar saja, kok. Malam-malam malah menggombal.”
Prapto tertawa. “Aku mau mengucapkan terima kasih untuk Strawberry Field Forever.”
Prapto tersenyum mendengar tawa kahyangan Pinaka di seberang telepon.
“Sama-sama, Mas Prapto. Aku dibantu Lapen dan kedua teman sepaketnya untuk mencari buku itu. Semoga caranya berhasil, ya, Mas Prapto.”
“Semoga, Pinaka. Nah, kau tidurlah. Selamat malam.”
“Selamat malam, Mas.”
Setelah menutup meletakkan ponselnya, Prapto menatap langit-langit rumah. Nimo memperhatikannya sambil mengernyitkan kening.
“Bos!”
Prapto kini senyam senyum.
“Bos!” Nimo setengah berteriak.
__ADS_1
Prapto menoleh. Nimo bertanya, “Kenapa kau menatap langit-langit sambil senyam senyum begitu, Bos?”
“Suara Pinaka indah, Nimo. Tawa khas-nya yang dari kahyangan itu membuatku tak bisa berhenti tersenyum.”
Nimo menggeleng. “Iya, Bos, iya.”
***
Pagi yang ditunggu-tunggu oleh Prapto dan semua warga desa Kejora tiba. Pagi dimana semua hasil ngebun akan dipindahkan ke dalam bangunan penampung, lalu hasil ngebun itu akan dipisahkan sebagian untuk diolah menjadi makanan oleh kaum wanita desa Kejora.
Prapto dan Nimo berdiri memandangi tumpukan kertas-kertas roti yang berisi buah-buahan dan sayuran mereka.
“Kau saja yang membukanya, Bos,” kata Nimo. Suaranya mengandung kecemasan.
Prapto menggeleng. “Tidak. Kau saja, Nimo.”
“Kau saja, Bos.”
“Tanganku susah digerakkan, Nimo,” sahut Prapto, tak kalah cemas.
“Apalagi aku, Bos.”
“Biar kami saja!”
Prapto dan Nimo menoleh mendengar seruan di belakang mereka. Di pintu rumah papan Prapto, Lapen, Taro, dan Lennon berdiri dengan wajah yakin.
“Membuka itu saja Paman berdua tidak berani,” kata Lapen.”
“Oooh, kami sudah punya firasat kalau Paman berdua tidak akan berani membuka kertas roti itu, jadi kami datang untuk membantu,” jawab Lapen.
Prapto dan Nimo saling berpandangan.
“Jangan membual, Lapen. Ayo, cepat buka kertas rotinya!” Pak Oscar muncul sambil memegang pipa cangklong yang berasap.
“Jangan percaya jika Lapen mengawali kata-katanya dengan ‘oooh’, Nak Prapto, Nak Nimo, itu artinya dia sedang mengarang atau bergurau,” kata Pak Oscar. “Datang ke sini adalah ideku, karena aku menduga kalian pasti takut membuka kertas-kertas roti itu.”
Prapto, Nimo, dan Pak Oscar kemudian menghadap ke arah Lapen dan kedua temannya. Ketiga bocah itu kini tengah memegang ujung kertas roti yang ada di hadapan mereka.
“Buka mata kalian,” kata Pak Oscar. “Kalian harus kuat.”
Prapto membuka matanya. Ujung kertas roti mulai ditarik oleh Lapen dan kedua temannya. Sayur dan buah-buahan yang ada di dalam kertas roti mulai tampak sedikit. Keringat dingin turun di dahi Nimo dan Prapto. Sementara Pak Oscar, api cangklongnya padam karena tidak dihisap.
Gerak waktu terasa berjalan lambat di rumah Prapto. Tarikan kertas roti oleh Lapen, Taro, dan Lennon tampak begitu lamban.
Semua bungkus roti sudah terbuka. Lapen, Taro, dan Lennon bangkit lalu berdiri di samping Pak Oscar. Pak Oscar maju ke depan untuk memeriksa. Ia mengambil lobak dan pepaya lalu memeriksa permukaannya. Pak Oscar kemudian mendekatkan hidungnya untuk mencium aroma pepaya dan lobak tersebut.
Prapto menanti pemeriksaan Pak Oscar dengan perasaan cemas. “Bagaimana, Pak Kepala Desa?”
Pak Oscar berdiri dan berbalik. Ia menyulut cangklongnya yang tadi padam.
“Selamat, kita berhasil.” Ada nada haru dalam suara kepala desa Kejora tersebut.
Lapen, Taro, dan Lennon bersorak. Mereka tampak begitu gembira. “Selamat, Paman,” kata Lapen dan kedua orang sahabatnya.
__ADS_1
“Berarti keempat bapak-bapak itu juga berhasil panen,” kata Prapto.
Pak Oscar dan Nimo mengangguk. “Ayo, kita kumpulkan semua buah dan sayur ini ke bangunan penampung!” ajak Pak Oscar.
Mereka kemudian memasukkan buah, sayur, dan hasil ternak ke keranjang dan membawanya ke bangunan penampung dibantu oleh Lapen, Taro dan Lennon.
Di bangunan penampung, dimana para kaum pria berkumpul membawa hasil ngebun mereka, semua orang mengucapkan selamat kepada Prapto, Nimo, Pak Sumakir, dan tiga orang bapak-bapak yang lain. Mereka kemudian memisahkan hasil ngebun yang akan diolah menjadi makanan, yang nanti akan diantar oleh Nimo dan Prapto ke rumah-rumah yang akan dijadikan tempat mengolah makanan.
***
Siang itu, di bawah langit mendung, Lapen, Taro, dan Lennon berlari ke arah balai desa, setelah mereka melihat kepala truk hitam bergaya Amerika di kejauhan.
“Kakek Gumiro datang, Kakek Gumiro datang!” teriak Lapen dan kedua sahabatnya bersamaan.
Wajah warga desa Kejora yang ada di depan balai desa berseri. Siang ini hasil ngebun dan makanan olahan mereka akan terjual.
Pak Gumiro, Nimo, dan seorang pria yang menjinjing tas laptop turun dari truk. Pria yang menjinjing tas Laptop itu menyalami Pak Oscar dan Prapto yang berdiri di samping truk. Ia memperkenalkan diri sebagai karyawan Pak Gumiro. Namanya Tresno, berusia tiga puluh enam tahun.
Tresno kemudian menghampiri meja dan membuka laptopnya. Timo yang melihat Tresno membuka laptop, segera pergi ke bangunan penampung untuk mencatat detail pemuatan yang akan diberikannya nanti pada Tresno. Sementara Pak Gumiro dan Pak Oscar mengobrol sambil memperhatikan pemuatan hasil ngebun ke dalam truk.
“Selamat, Mas,” kata Pinaka pada Prapto. Mereka berkeliling untuk mendata penjualan warga desa Kejora.
“Kau berjasa, Pinaka. Ngomong-ngomong, olahan makanan apa yang kau buat dengan Arini?”
“Kami membuat kue kering dan keripik, Mas. Mas Prapto nanti harus mencobanya, benar-benar enak. Ternyata benar kata Bu Intan, kue dan keripik yang dibuat dari hasil ngebun alami jauh lebih enak dari yang ada di supermarket.”
Prapto tersenyum menatap Pinaka. Wajah wanita itu semakin cantik ketika bercerita dengan ceria. “Apa kau juga ingin punya kebun, Pinaka?”
“Sangat ingin, Mas. Aku juga ingin punya rumah di sini. Tapi sepertinya masih lama, aku akan mengumpulkan uang dulu, setidaknya setengah, setengahnya lagi pasti Ayah mau menambah.”
“Kau bisa punya kebun dan rumah di sini tanpa membelinya, Pinaka.”
“Mas serius? Bagaimana caranya?” tanya Pinaka, penasaran.
“Menikahlah dengan petani desa Kejora, maka kau akan punya kebun dan rumah di sini. Kalau kau mau, aku akan mencalonkanmu padanya.” Prapto menyulut rokoknya.
“Aku tidak mau, Mas,” jawab Pinaka singkat.
Prapto tertawa melihat wajah Pinaka yang tiba-tiba berubah cemberut. Ia tahu Pinaka kesal karena ia tidak mencalonkan dirinya sendiri. “Yakin tidak mau? Namanya Prapto loh.”
“Eh!” Pinaka menghentikan langkahnya. Ia menatap Prapto sejenak, seperti tak percaya apa yang didengarnya barusan.
Wajah Pinaka memerah ketika Prapto tersenyum manis padanya. Ia memalingkan wajahnya cepat-cepat lalu berjalan mendahului Prapto.
***
Pinaka menggulir ponselnya melihat foto-foto yang tadi diambilnya bersama Bu Harni, Bu Intan, Arini, dan wanita desa Kejora yang lain ketika di balai desa. Sebentar-sebentar matanya melirik ke bagian atas layar ponsel, berharap Prapto mengirim pesan singkat atau meneleponnya.
Pinaka tersenyum membayangkan kata-kata dan senyum manis Prapto ketika mereka mengobrol di balai desa tadi siang. Ia lalu meraih kue kering di atas meja. Tapi, belum lagi tangan Pinaka sampai ke toples kue, ia menoleh karena bunyi pesan singkat.
Pinaka menghela napas karena ternyata pesan singkat tersebut bukan dari Prapta. Ia membacanya lalu mengernyitkan kening.
“Ada hal yang harus kau ketahui tentang Prapto, Pinaka. Kau harus tahu kenapa aku dan dia bercerai. By: Silvi”
__ADS_1