Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
78. Terpana


__ADS_3

"Mas! Mas!"


Prapto menoleh. Di sampingnya ternyata telah berdiri Pinaka. Ia tersenyum dan meletakkan kembali buku yang barusan ia baca ke dalam rak. "Kau sudah lama berdiri di sana?" tanya Prapto.


Pinaka tersenyum menggeleng. "Belum, Mas, tapi sudah aku panggil dua kali, Mas asyik sekali membaca," jawab Pinaka. "Ada yang mau Mas sampaikan padaku?"


"Ada yang mau aku ceritakan, Pinaka," kata Prapto. Ia lalu melangkah menuju meja perpustakaan diikuti oleh Pinaka. Di meja tersebut sudah tersedia kopi dan singkong rebus. Prapto duduk. Ia melihat ke sekeliling terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada anak-anak yang berada di dekatnya, lalu ia menyulut rokok.


Pinaka kembali berdiri. "Sebentar, Mas, aku lupa buka jendela besar supaya asap rokok Mas tidak berkumpul di perpustakaan," katanya, tertawa.


Setelah Pinaka duduk kembali, Prapto menceritakan tentang kekurangan biaya renovasi rumahnya. "Ada rasa segan untuk meminta bantuan orang tuaku, Pinaka, karena aku sudah punya penghasilan sendiri. Tapi setelah aku pikir-pikir, akhirnya aku putuskan juga untuk menghubungi mereka nanti malam," tutup Prapto. Ia mengambil singkong rebus.


Prapto meneguk kopinya. Ia memperhatikan wajah Pinaka untuk membaca tanda-tanda dari raut wajahnya ketika menanggapi ceritanya barusan, sesuai dengan nasihat Stepen.


"Pakai uangku saja, Mas. Aku ada simpanan yang lebih dari cukup, hasil dari kerja di perpustakaan dan dari menjual makanan olahan ngebun bersama Arini," kata Pinaka.


Prapto jadi terpana untuk beberapa saat. Ia tidak melihat sedikit pun keraguan atau raut keberatan pada wajah Pinaka ketika calon istrinya tersebut menawarkan uangnya. Pinaka mengatakannya dengan wajah yang berseri, dengan suara yang ringan dan penuh kasih. Tapi Prapto masih ingin memastikan. Ia tersenyum.


"Aku baru bisa mengganti uangmu nanti setelah menjual hasil panen, Pinaka, tidak apa-apa, kan?" tanya Prapto.


Wajah Pinaka tiba-tiba cemberut, membuat Prapto mengernyitkan dahinya. Pinaka berkata, "Maaf, Mas kalau aku tampak kesal."


"Kau kesal kenapa?"


"Pertanyaan Mas barusan terkesan seperti aku ini bukan calon istri Mas saja," jawab Pinaka. "Aku kekasihmu, Mas, dan itu berarti tidak ada pinjam meminjam di antara kita. Apa lagi nanti rumahmu itu juga akan menjadi rumahku. Uangku tidak boleh diganti." Pinaka menggeser arah duduknya menjadi hampir memunggungi Prapto.

__ADS_1


Prapto menyeringai. Ia berdiri, menghampiri Pinaka, lalu mencubit kedua pipinya dan menariknya hingga wajah Pinaka tampak tersenyum lebar. "Terima kasih, Pinaka yang manis. Nanti atau besok akan aku jemput uangnya. Sekarang aku pulang dulu, ya. Aku akan membantu Pak Ino supaya rumah kita cepat selesai." Prapto meneguk habis kopinya.


"Tunggu dulu, Mas," kata Pinaka. Ia kemudian berdiri dan pergi ke ruangannya yang merangkap sebagai rumah. Tak lama kemudian Pinaka muncul membawa bungkusan berisi singkong rebus. "Ini, untuk Mas santap sambil merenovasi rumah," kata Pinaka masih dengan wajah yang cemberut. Ia mengantar Prapto sampai ke teras perpustakaan.


Setelah naik ke atas sepedanya, Prapto berkata, "Terima kasih singkong rebusnya, Pinaka. Jangan lama-lama cemberutnya, nanti manismu hilang." Prapto mengayuh sepedanya sambil tertawa.


Di sepanjang jalan pulang, Prapto banyak tersenyum sendiri sambil bernyanyi. Di jalan menjelang sampai ke kebunnya, ia menghentikan sepeda setelah berpapasan dengan sebuah motor matic, karena terdengar suara pengendara motor tersebut memanggil namanya. Ia menoleh ke belakang.


"Agaknya kau berhasil, ya, Prapto, karena kau senyam senyum tanpa memperhatikan aku lewat," tanya Stepen, tertawa.


Prapto tertawa malu-malu. "Berhasil, Mas Stepen, nasihatmu tadi keren sekali."


"Ya sudah, aku lanjut dulu, Prapto. Selamat," kata Stepen. Ia lalu melambaikan tangan pada Prapto.


Pak Ino yang sedang merenovasi atap rumah segera menuruni tangga dan menghampiri Prapto. "Kau tidak apa-apa, Prapto?" tanya Pak Ino dengan nada cemas.


Prapto berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya. Ia lalu tersenyum pada Pak Ino. "Tidak apa-apa, Pak," katanya. Pak Ino mengangguk lalu kembali ke atap rumah.


Dari arah kebun, Nimo datang sambil tertawa. "Pasti kau meliuk lagi masuk pagar dan jatuh lagi, ya, Bos? Hatimu sedang senang agaknya," kata Nimo.


"Berhasil, Nimo," jawab Prapto, tertawa. "Mana Pak Purnomo?"


"Paman sudah pulang, Bos. Kau tidak apa-apa 'kan?"


"Tidak apa-apa, Nimo. Ayo, kita bantu Pak Ino!" ajak Prapto.

__ADS_1


Mereka pun menaiki tangga untuk membantu Pak Ino dan kedua karyawannya.


***


Pagi itu di pendopo rumahnya, Pak Rohan merokok sambil menggulir ponsel dengan teliti. Ia tengah mencari-cari kado pernikahan di sebuah aplikasi belanja online. "Prapto tidak akan suka yang begini, pasti katanya ini norak," gumam Pak Rohan setelah mengeklik sebuah kado yang warnanya ramai dan bentuknya tidak sederhana.


Pak Rohan terus menggulir. "Nah, yang ini Nimo akan suka. Masukkan ke keranjang dulu."


"Apa kata Prapto tadi malam, Pak? Aku ketiduran," kata Bu Veni, tertawa, sambil meletakkan dua cangkir kopi dan satu toples biskuit untuk ia dan suaminya. Bu Veni lalu ikut duduk.


Pak Rohan meniup kopinya, meneguknya, lalu berkata, "Kata Prapto, tradisi acara nikahan di desa Kejora itu sederhana saja, Bu. Karena itu, dan karena ia adalah seorang petani, Prapto akan mengadakan acara pernikahannya di kebun serentak dengan Nimo."


Bu Veni mengangguk-angguk sambil mengunyah biskuit. "Walaupun sederhana, aku yakin acara pernikahan di desa Kejora pasti meriah dan bersahaja, Pak. Aku setuju Prapto dan Nimo menikahnya serentak saja.


"Sejak mereka masih bekerja di perusahaan, Prapto dan Nimo sudah akrab. Setelah Prapto bercerai dan bertengkar dengan kita pun, Nimo tidak ikut-ikut dan tetap rutin menelepon Bapak untuk menanyakan kabar kita. Dia anak yang baik."


Pak Rohan mengangguk. "Benar, Bu. Tidak heran, karena Nimo adalah warga desa Kejora. Aku heran, kenapa bisa ada desa seperti desa Kejora dimana semua warganya tidak ada yang pantas untuk dibenci sedikit pun. Seperti di dongeng saja."


Pak Rohan menghembuskan asap rokoknya. "Aku bersyukur sekali, Bu, kita sudah berdamai dengan anak tunggal kita itu. Prapto adalah anak yang kuat dan hebat."


Bu Veni tersenyum. "Awal aku mendengar Prapto mengundurkan diri dari perusahaan tempat ia bekerja dulu, menjual mobil, lalu membeli tanah di desa Kejora, aku sebenarnya sedih, Pak. Aku merasa hidupnya akan susah di sana dan akan kekurangan uang. Tapi ada rasa yakin di hatiku dan aku akhirnya memilih untuk percaya pada pilihannya.


"Dan benar saja, ketika kita berkunjung ke sana kita melihat langsung suasana desa itu dan betapa ringan dan bahagianya anak kita tinggal di sana." Bu Veni menghapus linangan air matanya. Ia dan suaminya kemudian sama-sama menoleh ke arah pagar karena mereka mendengar suara motor masuk.


Setelah suara motor itu berhenti, tak lama kemudian tampak seorang pria berjalan ke arah pendopo bersama seorang gadis yang rambutnya dikuncir.

__ADS_1


__ADS_2