Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
87. Kuning Kemerahannya Langit Senja


__ADS_3

“Sungai ini masih sejuk seperti dulu, Oscar,” ujar Pak Purnomo. Ia tersenyum menatapi permukaan sungai yang jernih, yang beriak ditiup angin siang. “Pohon-pohon tempat kita main petak umpet bersama Mas Dwipangga dan yang lain juga masih ada. Waktu itu yang paling tua adalah Mas Nirwana.”


Pak Oscar tersenyum sambil masih memperhatikan cucunya, Taro, dan juga Lennon yang tengah mandi di sungai. Ia kemudian menoleh pada Pak Purnomo dan menyulut cangklong.


Pak Oscar mengangguk, menatap permukaan sungai, lalu berkata, “Sekarang kita sudah tua-tua, ya, Pur. Tapi syukurlah, layaknya pohon-pohon tua ini, kita masih sehat. Di kota-kota besar, kebanyakan yang seusia kita sudah banyak penyakitnya. Begitu di Paris agaknya?”


“Sama saja, Oscar,” jawab Pak Purnomo. Ia lalu menyulut rokok. “Sebelum aku pulang, ada sepasang suami istri yang sama-sama berusia tiga puluh lima tahun meninggal karena komplikasi. Mereka tetanggaku.”


“Faktor makanan, Pur, dan juga stres. Kebanyakan orang kota itu makanannya tidak sehat, pakai pengawet dan campuran bahan kimia lain. Selain karena makanan, juga karena pikiran dan hati mereka yang stres. Persentase tingkat stres manusia modern terus meningkat.”


Pak Purnomo mengangguk-angguk. “Pekerjaan, kegilaan pada uang, dan juga rumah tangga adalah penyebab terbesar dari stres mereka, Oscar. Hal yang tidak akan kita temui di desa Kejora. Desa kita memang luar biasa, aku jadi ingin hidup selamanya.”


“Mereka memang gila, Pur, menurutku.” Pak Oscar menghela napas damai dan tersenyum. “Siapa yang tidak akan tumbuh cintanya pada desa ini? Aku juga jadi ingin hidup selamanya.”


Pak Purnomo mengangguk-angguk. “Ngomong-ngomong, soal cinta, apa menurutmu Rena itu mencintaiku, Oscar?”


Pak Oscar terbatuk-batuk karena tertawa sambil menghembuskan asap. “Mana aku tahu, Purnomo. Aku belum melihat cara dia menatapmu, cara dia bicara padamu, dan juga cara dia bersikap padamu. Kalau aku sudah lihat ketiga hal itu, baru aku bisa memberi jawaban.”


“Awalnya dia kesal padaku, Oscar, karena hal yang aku ceritakan tadi, yang aku menghampirinya ketika ia sedang memikirkan corak kain. Tapi setelah itu ... sikap, cara bicara, dan cara ia menatapku berubah, layaknya Inari padamu, dan layaknya Ningrum padaku.” Pak Purnomo menghela napas panjang, wajahnya tampak sendu. “Aku ingin seperti Mas Nirwana, Oscar.


“Dia tidak menikah lagi setelah Mbak Swasti meninggal. Tapi, kau sendiri dan juga Inari mendengar pesan Ningrum beberapa saat sebelum ia tiada.”


Pak Oscar mengangguk-angguk. Wajahnya pun jadi sendu. “Ya ... Ya, Pur. Ningrum memintamu untuk menikah lagi jika ada wanita yang akan bisa mencintaimu seperti dirinya, karena ia ingin kau memiliki anak yang nanti akan kau perkenalkan padanya melalui makamnya.”


“Aku bisa melihat itu pada Rena, Oscar,” kata Pak Purnomo, lirih.


“Telepon dia sekarang, Pur. Tanya jawabannya.”


“Bukankah terlalu cepat untuk menanyakan jawabannya sekarang, Oscar?”


“Sama sekali tidak, Pur. Secepat kau bisa menilainya, secepat itu pula Rena bisa menilaimu dan memutuskan untuk menumbuhkan cinta padamu,” jawab Pak Oscar.


Pak Purnomo menatap Pak Oscar dengan wajah menanyakan kepastian pada kata-kata kepala desa Kejora tersebut.


Pak Oscar tersenyum. “Rena akan mencintaimu jika ia memutuskan untuk menumbuhkan rasa tertarik, rasa hormat, dan rasa cintanya padamu. Kau tidak tahu tentang itu, huh?”

__ADS_1


Pak Purnomo tertawa. “Aku tahu persis, Oscar. Aku akan menelepon abangnya. Terima kasih atas petuahmu, Pak Kepala Desa.”


“Kenapa abangnya? Kau ingin menikah dengan dia atau abangnya?” goda Pak Oscar.


“Aku tak punya nomer Rena, Oscar,” kata Pak Purnomo, tertawa. Ia kemudian menelepon Pak Akum.


“Halo, Kum!”


“Halo, Purnomo!” Terdengar suara Pak Akum dari seberang telepon. “Mau jual lukisan lagi?”


Pak Purnomo tertawa. Ia tahu Pak Akum hanya berbasa-basi menanyakan lukisan. Pak Akum pasti maklum bahwa ia menelepon untuk menanyakan Rena. “Tidak, Kum, tapi seminggu lagi sepertinya aku akan menjual beberapa lukisan. Aku menelepon untuk menanyakan Rena.”


Tak terdengar suara Pak Akum untuk beberapa saat.


“Halo, Mas!”


Pak Purnomo tertegun. Itu suara Rena, pikirnya. “Halo, Rena. Bagaimana jawabanmu? Penduduk desa sudah demo ke rumah Pak Kades menanyakan kapan akan didatangkan guru membuat kain alami.”


Rena yang tadi dari suaranya terdengar canggung, kini tertawa. “Mas Serius? Aku dengar desa Kejora adalah desa yang damai dan indah, masa’ penduduknya demo?”


“Aku tak bisa bawa kendaraan, Mas. Lagi pula, Bang Akum butuh kendaraan untuk pergi ke galerinya,” kata Bu Rena.


“Aku akan menjemputmu besok. Suruh abangmu libur kerja dulu sehari untuk melihat keindahan desa Kejora,” sahut Pak Purnomo.


Setelah beberapa saat tak ada jawaban, terdengar suara Pak Akum. “Rena malu menjawabnya, Purnomo, tapi ia mengangguk sambil tersenyum malu-malu. Aduh! Aku dicubitnya, Pur.”


Pak Purnomo tertawa. “Maaf, Kum, kedua orang tua kalian masih ada? Aku mau menemui mereka untuk melamar Rena.”


“Jika kedua orang tuaku masih hidup, mereka pasti akan ikut bahagia mendengar kabar ini, Purnomo. Mereka sudah tiada tujuh tahun yang lalu. Kau bisa melamar Rena padaku besok. Aku tunggu,” jawab Pak Akum.


“Baik, Kum. Terima kasih. Aku akan membawa kakak dan sahabat karibku besok.”


“Okay, Purnomo.”


Setelah Pak Purnomo menaruh ponselnya ke kantong kemeja, Pak Oscar mengayunkan tinjunya. Pak Purnomo tersenyum dan juga mengayunkan tinju.

__ADS_1


“Terima kasih, Sahabat,” kata Pak Purnomo setelah tinjunya dan tinju Pak Oscar beradu.


“Tampaknya ada yang akan menikah lagi ini, Taro, Lennon. Kita makan-makan lezat lagi,” kata Lapen. Entah kapan datangnya, ia dan kedua sahabatnya kini sudah berdiri di belakang Pak Purnomo dan Pak Oscar.


Pak Purnomo dan Pak Oscar menoleh ke belakang.


“Sejak kapan kalian di sana?” tanya Pak Oscar.


“Sejak Kek Purnomo merayu dengan mengatakan penduduk desa Kejora demo di rumah kakek,” jawab Lapen. Pak Oscar dan Pak Purnomo tertawa.


“Kapan menikahnya, Kek?” tanya Taro pada Pak Purnomo. “Biar nanti kami carikan ikan sungai.”


“Dua hari lagi. Terima kasih, Nak, tapi tidak usah. Acaranya sederhana saja, kok. Menikah lalu makan-makan, supaya warga desa bisa segera belajar cara membuat pakaian alami,” kata Pak Purnomo.


“Berarti calon istri Kek Purnomo adalah guru membuat kain alami? Anak laki-laki boleh ikut belajar membuat kain alami juga nanti, Kek?” tanya Lennon. Ia, Taro, dan Lapen kemudian ikut duduk.


Pak Purnomo mengangguk. “Tentu saja boleh. Dan keterampilan melukis kalian akan sangat berguna untuk menggampar corak pada kain.”


Lapen, Taro, dan Lennon tampak bersemangat. Pak Oscar dan Pak Purnomo menatap ketiga bocah itu dengan penuh kasih.


“Mari kita pulang!” ajak Pak Oscar.


***


“Mas, bangunlah. Lihat, matahari sorenya indah sekali.” Pinaka mengguncang bahu Prapto yang sedang tidur di pangkuannya, di atas bangku panjang yang terletak di depan kolam kebun.


Prapto membuka matanya, menatap wajah Pinaka. “Kau manis sekali, Pinaka.”


Pipi Pinaka memerah. “Ma ... matahari senjanya indah, Mas,” katanya terbata.


Prapto tersenyum lalu bangkit duduk. “Ayo, ke tepi sungai melihat matahari terbenam!”


Pinaka mengangguk. Mereka kemudian berjalan ke halaman rumah.


“Peluk pinggangku, Pinaka, biar mesra,” kata Prapto dari atas sepeda.

__ADS_1


Pinaka tertawa. Ia naik ke bangku belakang sepeda, duduk menyamping. Mereka lalu bersepeda menuju sungai desa Kejora, di bawah kuning kemerahannya langit senja.


__ADS_2