
Maaf, Mas, atas sikapku di perpustakaan tadi sore. Aku bingung, Mas. Aku kemarin ditelepon Silvi dan Rini. Mereka bilang bahwa alasan Mas Prapto dan Silvi bercerai adalah karena Mas Prapto tidak setia. Silvi sampai sering ke psikolog. Mereka mengatakan padaku, agar aku tidak dekat dengan Mas Prapto jika aku tidak ingin sering-sering ke psikolog seperti Silvi.
Prapto menutup ponselnya dan kembali mengambil buku. Ia tahu, dibalas pun Pinaka tak akan begitu mudah mempercayainya. Ia perlu mencari cara.
***
Pagi ini Pinaka kembali mengirim pesan, yang dibaca Prapto sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Akhir pekan ini aku akan pulang, Mas. Dan mungkin aku tidak akan kembali lagi ke Desa Kejora. Kalau Mas mau melaporkan aku ke kantor polisi, laporkan saja. Aku tak peduli di penjara atau tidak. Senang sekali bisa mengenal Mas Prapto.
Prapto menghela napas panjang. Ia kemudian menceritakan isi pesan Pinaka tadi malam dan yang barusan kepada Nimo.
Nimo yang sedang memberi makan ayam menoleh pada Prapto. "Sialan! Masih saja Silvi mencari cara untuk menghancurkanmu, Bos. Membuat aku emosi saja pagi-pagi begini." Nimo lalu menoleh pada ayam jago mereka yang sedang bersuara. "Kau juga emosi, ya?"
Nimo kemudian berbalik. “Sepertinya Pinaka pulang karena dia sangat kecewa padamu, Bos. Dia cinta padamu. Apa lagi yang membuat Pinaka rela masuk penjara jika bukan kecewa karena cinta? Kau tidak bisa membiarkannya pulang, Bos. Kau harus mencari cara. Dari situ kita sudah bisa menilai bahwa Pinaka mencintaimu.”
"Akhir pekan hanya dua hari lagi, Nimo. Jika aku tidak menemukan cara untuk membuat Pinaka percaya padaku sebelum dua hari, aku akan kehilangan dia selamanya. Silvi sialan. Si Rini juga sialan.”
Prapto lalu melangkah ke kolam ikan yang baru selesai mereka buat kemarin di bagian belakang kebun, di sebelah kiri dari bangunan dapur.
"Pinaka jadi termakan omongan mereka pasti karena si Rini feminis garis keras itu pandai berakting. Aku benci sekali dengan dia, Bos. Apa, ya, kata suaminya punya istri seperti itu?”
"Oh iya, suaminya!” kata Prapto. “Aku dapat ide, Nimo.”
"Huh? Aku tidak mengatakan ide, Bos."
"Kemari lah! Akan aku jelaskan," kata Prapto. Ia melangkah ke meja di depan dapur lalu duduk.
"Sebentar, Bos. Aku bikin kopi dulu."
Prapto menyulut rokok. Tak lama kemudian, Nimo datang membawa dua gelas kopi panas.
"Nah, ide bagaimana maksud Bos tadi?" tanya Nimo. Ia pun menyulut rokok.
"Pinaka termakan omongan mereka, kan, karena drama-nya Rini feminis garis keras itu. Berarti Pinaka akan percaya padaku kalau Rini mengakui kebohongannya," terang Prapto.
Nimo mengangguk. "Tapi bagaimana caranya, Bos? Mana mau Rini jujur pada Pinaka. Dia dipihak Silvi dan sepertinya dia sangat membencimu dari dulu."
__ADS_1
“Aku menemukan sebuah cara, Nimo, meskipun belum tentu berhasil. Yang jelas aku tidak mau kehilangan Pinaka. Sebentar, aku telepon Timo dulu.”
Setelah berkata demikian, Prapto mengambil ponselnya.
***
“Sialan. Ada-ada saja permintaan si Prapto ini,” kata Timo, menggelengkan kepala. Ia menutup laptop lalu keluar dari ruangan kerjanya.
“Mau ke mana, Nak Timo? Kau tampak buru-buru.” Pak Salidi menghentikan langkahnya. Ia menatap Timo dengan wajah serius.
Timo tersenyun “Baru saja aku mau ke ruangan Bapak. Aku mau minta nomer telepon pria yang dulu bekerja di perusahaan kita, Pak. Mungkin Pak Salidi masih menyimpan nomernya, karena bos dia dulu adalah Pak Salidi.”
Timo bisa saja meminta nomer pada Pak Salidi melalui pesan singkat, tapi ia tidak mau terkesan kurang hormat. Bagaimanapun, Pak Salidi sudah memiliki cucu.
“Siapa namanya, Nak Timo?” tanya Pak Salidi.
“Subakti, Pak.”
“Subakti yang suka makan gorengan pakai kecap asin itu?”
“Nah, betul, Pak Salidi,” jawab Timo.
Setelah beberapa saat, Pak Salidi mengangkat kepalanya. “Akhirnya ketemu, Nak Timo. Ini. Nama dia di ponselku Subakti Kecap Asin.”
“Meskipun selalu berwajah serius, Pak Salidi ternyata punya humor yang bagus,” kata Timo, tertawa.
Pak Salidi tersenyum. Timo segera mencatat nomer Subakti. Ia mengucapkan terima kasih pada Pak Salidi lalu bergegas menuju ke parkiran.
***
“Ada apa, Pak?” tanya Bu Veni pada suaminya, yang baru saja menutup telepon dari Prapto.
“Prapto minta nomer Rini temannya Silvi, Bu. Ibu punya?”
Bu Veni mengernyitkan keningnya. “Sepertinya ada, Pak. Aku menghapus nomer Silvi tapi lupa menghapus nomer Rini. Prapto tak bilang apa alasannya meminta nomer Rini?”
Pak Rohan menggeleng. “Tidak, Bu. Dia hanya bilang penting saja. Ibu saja yang kirim ke Prapto, ya.”
__ADS_1
“Iya, Pak. Aku tidak suka melihat Rini itu, Pak. Jangan-jangan dia dan Silvi mengusik Prapto.”
Pak Rohan menatap istrinya. Ia sendiri berpikir demikian. “Kita doakan saja Prapto, Bu. Jika dia perlu bantuan, dia pasti mengabari kita.”
Bu Veni tersenyum pada suaminya dan mengangguk.
***
Timo mengendarai mobil menuju kawasan kantor tempat Silvi dan Rini bekerja. Ia mengenakan long coat berwarna hitam dan topi fedora hitam. Mobil sedan yang dikendarai oleh Timo pun berwarna hitam. Dan di sepanjang jalan, Timo berpapasan dengan kendaraan yang sebagian besar berwarna hitam.
Timo kemudian memarkirkan mobil di tepi jalan yang tak jauh dari bangunan kantor Silvi. Ia membuka kaca mobil lalu menyulut rokok.
“Betapa sayangnya aku pada sahabatku itu. Demi Prapto, aku menyamar seperti detektif yang konyol. Tapi kali ini penyamaranku tak akan seceroboh di supermarket waktu itu,” kata Nimo pada dirinya sendiri. Ia kemudian tertawa membayangkan dirinya waktu itu kabur dari Pak Sukardi pengawas mall.
Cukup lama Timo menunggu, hingga akhirya ia melihat dua orang wanita berjalan di parkiran. “Nah, kedua nenek sihir itu sudah muncul. Mampus kalian, Sialan!”
Timo menyalakan mesin mobilnya.
***
“Halo, Prapto,” sapa Timo. Ia baru saja menghentikan mobil tak jauh dari sebuah cafe.
“Bagaimana?” tanya Prapto dari seberang telepon.
“Aku berhasil mengikuti mereka. Tapi mereka masih berdua. Lagi pula, ‘kan tidak pasti mereka akan bertemu dengan pria, Prapto. Misi yang kau berikan ini sedikit tidak jelas sebenarnya.”
Prapto tertawa. “Hingga sekarang, hanya ini rencana yang terpikirkan olehku, Timo. Mereka itu wanita feminis, dan wanita feminis biasanya suka makan-makan atau jalan dengan pria yang bukan suami mereka.”
Timo menyipitkan matanya melihat ke dalam cafe.
“Timo, kau ketiduran?”
“Tidak. Ada dua orang pria yang baru datang dan duduk semeja dengan kedua nenek sihir itu, Prapto. Aku matikan dulu, ya.”
“Okay. Semoga berhasil. Dan memang harus berhasil,” kata Prapto.
“Iya, iya. Jangan meragukan kehebatan detektif Timo.”
__ADS_1
Timo menyalakan mesin mobil lalu memindahkan mobilnya ke tempat yang menurutnya lebih pas.