
Pak Oscar menghembuskan asap cangklongnya. "Kenapa sosok wanita sejati seolah sudah tidak ada lagi sekarang? Kenapa banyak biduk rumah tangga yang karam, bahkan ketika biduk itu baru berlayar sebentar saja?
Karena kebanyakan orang sekarang memandang pernikahan itu dengan cara yang salah, Nak Prapto, Nak Nimo. Mereka memang menginginkan kebahagiaan dalam pernikahan, tetapi mereka menjalani pernikahan itu dengan cara yang salah."
Pak Oscar berhenti sejenak. Ia kembali menghisap asap cangklongnya lalu menghembuskannya sambil menatap langit sore.
"Lalu mereka punya anak. Mereka tidak mau tahu bagaimana seharusnya tanggung jawab orang tua kepada anak. Mereka berpikir bahwa apabila mereka mendapatkan uang yang banyak, maka keluarga mereka akan bahagia," terang Pak Oscar.
Pak Kepala Desa itu kemudian menggeleng.
"Orang-orang itu enak saja menitipkan anak mereka di tempat penitipan anak pada pagi hari, lalu pada sore hari mereka akan menjemputnya sambil membawa makanan atau mainan.
"Dengan harapan, sang anak tidak akan protes karena kedua orang tuanya tidak punya waktu untuk bersamanya. Bagi mereka, uang adalah solusi."
Pak Oscar lalu meneguk kopinya. Prapto memikirkan kedua orang tuanya, orang tuanya yang kalah peran dari Mang Kari dan Bi Asih. Prapto juga memikirkan ayah dan anak yang dilihatnya di kedai makan tadi.
Pak Oscar menyulut tembakau cangklongnya yang padam. "Itu baru soal anak," katanya, "sebentar, Bapak ganti dulu tembakau cangklong ini."
Pak Oscar membuka tutup toples kecil di atas meja yang berisi tembakau. Ia membuang tembakau yang ada di cangklong lalu menggantinya dengan tembakau baru. Setelah menyulut cangklongnya, Pak Oscar kembali melantunkan kebijaksanaan kepada Prapto dan Nimo.
"Apa yang terjadi ketika suami dan istri sama-sama bekerja di luar rumah, meskipun mereka belum mempunyai anak? Istri tidak akan bisa lagi memandang suaminya dengan hormat. Dan karena sang istri tidak lagi menghormati suaminya, maka rasa cintanya pun menurun, terus turun, lalu habis.
"Jangan salah, Nak Prapto, Nak Nimo! Rasa hormat itu bukanlah soal uang, sama sekali bukan. Dengar!" Pak Oscar mengangkat tangannya untuk memberi penekanan supaya Prapto dan Nimo lebih memperhatikan perkataannya.
__ADS_1
"Seorang istri merasa paling bahagia apabila ia bisa mengurus suaminya dengan baik. Ketika seorang istri membuatkan kopi atau memasak untuk suaminya, dia akan merasa deg-degan memikirkan kopi atau masakannya tersebut akan enak atau tidak. Walaupun itu adalah kali keseribu ia membuat kopi dan memasak untuk suaminya.
"Dan ketika seorang istri mendengar pujian suami atas kopi dan masakannya, hatinya akan bahagia dan berbunga-bunga. Kenapa? Karena ia ingin selalu membahagiakan suami yang dicintai dan mencintainya, suami yang tidak pernah bosan melihat senyum manisnya." Pak Oscar meneguk kopi.
Prapto merasa tergugah dengan pencerahan yang diberikan oleh Pak Oscar. "Bagaimana cara agar seorang pria bisa menjadi suami yang dihormati, dicintai, dan ditatap dengan tatapan yang penuh kasih oleh istrinya, Pak Kepala Desa?" tanya Prapto.
Pak Oscar menganggukkan kepalanya sekali, kemudian ia menoleh kepada Nimo. Nimo mengangguk. "Pertanyaan saya sama dengan Bos Prapto, Pak," katanya.
Itulah tanda kecerdasan Pak Oscar. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Prapto, tapi ia menoleh dulu kepada Nimo. Sehingga bila Nimo juga punya pertanyaan, maka Pak Oscar akan menggabungkan jawabannya menjadi satu.
Selain supaya hemat waktu, tindakan Pak Oscar tersebut juga berfungsi untuk menghindari pertanyaan berulang yang akan mengurangi nilai dari sebuah pengajaran.
"Seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangganya, Nak Prapto, Nak Nimo. Seorang suami harus tegas dan tidak boleh cengeng! Suami sejati itu bukanlah suami yang digambarkan oleh kebanyakan film dan novel cinta jaman sekarang, dimana sosok suami digambarkan sebagai suami yang lemah.
"Bagaimana istri bisa hormat bila suaminya tukang curhat begitu? Suami seperti itu adalah suami yang malas dan cengeng!" kata Pak Oscar tertawa.
"Sepuluh tahun yang lalu, usaha sembako milikku habis karena dilahap oleh api. Aku tidak menangis. Aku tidak mengeluh kepada istriku. Aku tidak curhat kepadanya tentang betapa sedihnya hatiku melihat usaha yang telah kubangun selama lima tahun dua bulan itu sirna. Saat itu aku peluk istriku yang menangis menatapi puing-puing toko sembako kami.
"Lalu aku katakan padanya, 'Nanti kita bangun toko yang lebih besar, uangku kan banyak, Bu.' Istriku yang sedang menangis itu jadi tertawa, karena ia tahu bahwa semua uang kami ada di laci meja toko dan pasti sudah jadi abu. Ia memelukku semakin erat karena aku tidak menjadi cengeng, malah aku tetap bisa bergurau pada saat seperti itu," cerita Pak Oscar.
Pak Kepala Desa itu melanjutkan, "Setelah kebakaran itu, aku memutuskan untuk lebih fokus dalam beternak dan bertani. Untuk soal makan dari hari ke hari, warga desa Kejora tidak pernah pusing. Semua warga di sini punya sawah, yang walaupun tidak luas, tapi lebih dari cukup untuk makan.
"Sampai tanaman dan hasil ternakku itu bisa dipanen untuk dijual, aku bekerja serabutan untuk dapat membeli kebutuhan dapur kami seperti cabai, bawang, lauk pauk, garam, dan lain sebagainya.
__ADS_1
"Inari tidak pernah mengeluh meskipun saat itu kami hidup pas-pasan. Karena ia mencintai dan menghormatiku. Rumah tangga kami tetap penuh tawa dan bahagia. Begitulah seharusnya seorang suami, Nak Prapto, Nak Nimo."
Prapto dan Nimo terpana. Pak Oscar kemudian melihat ke dalam rumahnya untuk menengok sang istri. Sejak percakapan mereka dimulai tadi, Pak Oscar selalu melihat ke dalam rumah sesekali. Jelas bahwa kepala desa itu sangat mencintai istrinya.
"Aku dan Inari telah menikah tiga puluh tahun lebih, tapi kemesraan kami tidak pernah berkurang, malah terus bertambah seiring waktu. Aku tidak pernah menyakiti perasaannya. Tak pernah kami bertengkar, Nak Prapto, berbicara dengan nada suara yang tinggi saja tidak pernah.
"Kecuali ketika Inari membangunkanku pagi-pagi, nada suaranya pasti keras karena tidurku amat lelap. Kau tanyalah pada Nimo, Nak Prapto, apakah orang tuanya pernah bertengkar? Pasti jawabannya tidak. Di desa Kejora ini, jangankan perceraian, pertengkaran rumah tangga saja tidak ada."
Obrolan panjang itu terhenti ketika Pak Oscar ternyata lupa untuk membuka pintu rumah ayamnya, sementara ayam-ayam itu sudah ingin pulang ke kandang untuk beristirahat.
Sebelum Prapto dan Nimo pulang, Pak Oscar memberikan sebuah nasehat yang sangat bijaksana kepada mereka. "Lihatlah ayam, atau burung, atau binatang lain! Mereka tidak pusing memikirkan soal uang. Pagi-pagi sekali mereka sudah bangun untuk mencari makan, lalu sore hari mereka pulang ke kandang dengan perut kenyang.
"Mereka tidak pernah menumpuk uang seperti kebanyakan manusia. Tapi, mana yang lebih bahagia, mana yang lebih sehat? Ayam atau kah kebanyakan orang-orang yang memuja uang itu?" tanya Pak Oscar.
Prapto dan Nimo tampak ragu-ragu untuk menjawab. Pak Oscar tersenyum. "Tentu saja ayam, burung, atau hewan lain itulah yang lebih bahagia. Maksudku adalah, kebanyakan manusia itu sebenarnya mencari nafkah atau serakah?
"Jika mereka ingin mencari nafkah, maka seharusnya mereka lebih punya banyak waktu bersama keluarga mereka di rumah. Mereka juga seharusnya lebih sehat karena punya waktu untuk beristirahat yang cukup."
Wajah Pak Oscar kemudian tampak kesal. "Mereka itu gila uang! Kalian tanam saja padi yang cukup untuk pasokan makan dari panen ke panen, tanam buah-buahan serta sayur, lalu pelihara beberapa hewan ternak.
"Maka aku jamin kalian tidak akan pernah kelaparan. Kalian akan bahagia, dan pikiran kalian akan tenteram meskipun uang kalian tidak berlimpah."
Prapto dan Nimo kembali terpana menatap Pak Oscar. Bahkan ketika Pak Oscar telah berbalik untuk berjalan ke rumah ayamnya, prapto dan Nimo tetap saja menatap punggung orang tua yang bijaksana itu dengan kagum.
__ADS_1
Prapto mengernyitkan keningnya. Karena tak ada angin dan tak ada hujan, Nimo tiba-tiba saja melangkah dengan sangat cepat ke arah pintu pagar Pak Oscar.