Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
8. Penawaran


__ADS_3

Suasana di kebun itu tetap saja sejuk meskipun hari sudah siang dan matahari hanya sedikit terhalang oleh awan. Prapto, Pak Dwipangga, dan Nimo berbincang sambil sesekali melihat hewan-hewan ternak yang berkeliaran. Tidak hanya hewan ternak ayah Nimo saja, hewan lain yang bukan ternak pun juga ikut bermain dan mencari makan di kebun itu.


Burung gereja tampak sedang mengobrol dengan ayam, kupu-kupu seperti berbincang dengan kelinci, dan suara bebek itu agaknya adalah suara tawa, karena di depannya seekor tupai tengah berdiri sambil berkacak pinggang seolah sedang menceritakan hal yang lucu.


"Aku memang tidak membeli semprot hama dan racun hama, Nak Prapto. Aku bahkan tidak menggunakan pupuk kimia," jawab Pak Dwipangga setelah menyulut rokoknya.


"Kenapa, Pak? Apakah buah dan sayur yang Bapak tanam tidak dicuri oleh serangga atau hewan lain? Dan kalau tidak menggunakan pupuk kimia, apa hasil panen Bapak tidak berkurang?" tanya Prapto heran.


Pak Dwipangga menggeleng-geleng sambil tersenyum. "Aku tidak merasa bahwa mereka telah mencuri buah-buahan dan sayuranku, Nak Prapto. Surat kepemilikan tanah ini aku beli agar manusia lain tidak memakai tanahku tanpa ijin. Kepemilikan tanah tidak berlaku pada hewan, kecuali kalau tanah ini aku beli langsung kepada Tuhan.


"Hewan-hewan itu tidak memakan semuanya, kok, Nak Prapto. Jika hewan-hewan yang disebut hama itu aku bunuh, bukankah itu namanya jahat? Selama aku berkebun, tak pernah mereka memakan habis seluruh isi kebunku," tutur Pak Dwipangga.


Pak Dwipangga menatap Prapto. "Soal kenapa aku tidak menggunakan pupuk kimia, bahkan kompos pun tidak, itu panjang penjelasannya, Nak Prapto. Bapak minta dulu rokokmu sebatang, ya. Rokok Bapak habis, rokok Nimo pun juga."


Prapto memberikan rokoknya kepada Pak Dwipangga lalu menyulutkannya.


Setelah menghembuskan asap, orang tua itu kembali melanjutkan penjelasannya. "Racun hama dan pupuk kimia bisa membuat tingkat kesuburan tanah jadi menurun, serta bisa membuat mikro organisme (makhluk hidup yang kecil-kecil) yang hidup di dalam tanah mati. Bukankah itu juga jahat namanya apabila tanah yang memberi kita makanan ini kita rusak?


"Dan ternyata cara yang digunakan para petani dan peternak di desa Kejora ini lebih menguntungkan, Nak Prapto. Aku lihat di yutub ada penelitian yang menjelaskan bahwa keberadaan mikro organisme itu sangat berperan dalam membuat tanaman menjadi subur.


"Hasil panen pun rasanya jauh lebih enak. Kau saja tadi makan sangat lahap sampai tambah," kata Pak Dwipangga tertawa.


Prapto mengangguk-angguk. "Terima kasih, Pak, atas pencerahannya. Aku akan menerapkannya nanti di kebunku," katanya. "Sulit untuk dijelaskan, Pak, tapi hidangan tadi sungguh lezat. Lebih lezat dari restoran mahal yang sering aku kunjungi."


"Dan juga sehat," sambung Pak Dwipangga.


***

__ADS_1


Berdasarkan keterangan dari ayah Nimo, tak begitu jauh dari rumah mereka terdapat sebuah lahan kosong yang kabarnya dijual oleh sang pemiliknya.


Pemilik lahan itu adalah seorang pria tua yang tidak memiliki anak, yang biasa dipanggil Pak Rodi oleh warga desa. Maka dari itu, ketika hari menjelang sore, Prapto dan Nimo pun pergi menuju rumah Pak Rodi dengan mengendarai sepeda.


Di sepanjang perjalanan mereka, Prapto memperhatikan aktivitas masyarakat di desa Kejora sambil tetap mengayuh sepeda. Ada yang sedang mencuci kendaraan, ada yang tengah asyik berbincang bersama temannya, ada ibu-ibu yang terdengar sedang bergosip tentang berita terbaru di Endonesa, dan lain sebagainya.


Yang paling menarik perhatian Prapto adalah para bocah yang tampak asyik sekali bermain bersama orang tua mereka. Pemandangan seperti itu jarang sekali, jika tidak mustahil, terlihat di kota. Apalagi di kota besar seperti Jakarta. 'Aku benar-benar ingin menetap di desa ini,' ucap Prapto dalam hati.


***


Prapto dan Nimo menghentikan sepeda mereka di halaman sebuah rumah yang cukup besar. Nimo lalu mengajak Prapto ke teras rumah tersebut. "Selamat sore, Pak Rodi! Ini saya, Nimo, anaknya Pak Dwipangga."


Tak lama setelah Nimo memanggil, pintu rumah yang berwarna putih itu pun terbuka. Dari balik pintu tampak seorang pria yang berusia lima puluh delapan tahun. Rambut orang tua itu sudah putih semua, begitu juga dengan jenggot panjangnya.


Menurut Prapto, orang tua itu sekilas tampak seperti salah seorang sesepuh dunia persilatan yang ada pada film-film pendekar.


Tak lama setelah Prapto dan Nimo menyulut rokok mereka, Pak Rodi pun kembali ke teras dan ikut duduk. "Kapan kau pulang, Nimo?" tanya Pak Rodi.


"Kemarin, Pak."


"Balik lagi ke Jakarta?"


"Tidak, Pak Rodi. Aku ingin menetap di desa bersama sahabatku ini untuk menjadi petani dan peternak. Karena itu juga lah kami mengunjungi Pak Rodi sore ini," jawab Nimo.


Pak Rodi mengangguk-angguk. "Baguslah ... baguslah. Kenapa harus pergi ke kota jika di desa Kejora ini terdapat banyak sumber mata pencaharian?


Istri Pak Rodi muncul menghidangkan tiga cangkir kopi. Nimo dan Prapto lalu menyalami wanita berusia lima puluh lima tahun itu.

__ADS_1


"Ini istriku, namanya Rine. Benar 'kan, Bu, namamu Rine?" goda Pak Rodi.


"Bapak punya berapa istri sampai lupa dengan namaku?" Bu Rine balas menggoda.


"Sekarang masih satu, tapi tidak tahu nanti." Pak Rodi tertawa.


"Awas saja kalau berani!" jawab Bu Rine.


Prapto dan Nimo ikut tertawa melihat pasangan tua itu bercanda. Setelah Bu Rine kembali ke dalam rumah, Prapto menjelaskan kepada Pak Rodi tentang keinginannya untuk membeli lahan.


Pak Rodi menyulut cerutunya. "Iya, benar. Lahan yang di samping rumahku ini aku jual, Nak Prapto. Kami tidak memiliki anak, dan kami pun sudah tua. Maka dari itu, aku dan Rine memutuskan untuk menjual tanah. Nak Prapto membeli lahan untuk dipakai berkebun saja atau untuk menetap sekalian?" tanya Pak Rodi.


"Aku sekalian ingin menetap, Pak. Berapa harganya, Pak Rodi?"


"Delapan puluh juta, Nak Prapto."


Prapto berpikir sejenak. Seluruh jumlah uangnya bersama Nimo sekarang adalah lima puluh juta. Berarti uang Prapto dan Nimo kurang tiga puluh juta lagi. Nimo pun tampak berpikir keras.


Prapto lalu memikirkan mobil sedan hitamnya. Ia menimbang-nimbang apakah ia memang memerlukan mobil itu? Apakah mobil itu nanti akan berguna setelah ia mulai bertani dan beternak? Akhirnya sampailah Prapto pada keputusan bahwa yang penting baginya sekarang adalah lahan untuk mencari nafkah dan membangun rumah.


"Pak Rodi," panggil Prapto. "Aku punya sebuah mobil sedan hitam yang kalau dijual bisa laku empat puluh jutaan. Bagaimana kalau kami serahkan kepada Bapak uang empat puluh juta ditambah dengan sedan itu?"


Nimo menatap Prapto seolah menanyakan apakah bosnya sudah yakin dengan keputusan itu. Prapto yang paham dengan maksud pandangan Nimo mengangguk pasti. Maka, jika Pak Rodi setuju dengan penawaran Prapto, mereka akan punya uang sepuluh juta lagi sebagai modal untuk mulai bertani dan beternak.


Prapto dan Nimo sudah sepakat bahwa mereka akan membeli separuh ternak yang sudah bisa menghasilkan uang, dan separuh lagi yang masih kecil, agar mereka bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dari hasil ternak tersebut.


Pak Rodi tampak berpikir. Ia meneguk kopinya lalu menimbang-nimbang.

__ADS_1


__ADS_2