
"Setelah penjualan pertama nanti, sepertinya akan bagus jika kita membangun kerja sama bisnis dengan beberapa restoran mewah, Pak Gumiro. Kita katakan pada mereka bahwa kita bisa memasok hasil tani dan ternak alami untuk mereka jadikan menu unggulan," kata Prapto.
"Kenapa hanya ke restoran mewah, Prapto?" tanya Timo. "Kenapa restoran yang lain tidak?"
"Harga hasil tani dan ternak alami lebih mahal, Timo. Tentu harga makanan yang mereka jual akan naik pula. Mereka tidak akan mau, karena itu bisa membuat langganan mereka pergi. Sedangkan restoran mewah sebagian besar pengunjungnya adalah orang-orang kaya yang tidak akan begitu mempermasalahkan kenaikan harga.
"Orang kaya tidak akan mempermasalah harga makanan naik, asalkan promosi restoran mewah itu masuk akal bagi mereka. Kunci promosinya adalah kata 'sehat', lalu kata ‘lezat’. Mereka pasti akan tertarik," jawab Prapto, yang dijawab dengan anggukan oleh Timo.
"Pengolahan makanannya tentu tidak boleh menggunakan bumbu yang terbuat dari bahan kimia, Bos. Apa restoran mewah itu akan mau?" Kali ini Nimo yang bertanya.
"Ahli dapur restoran mewah pasti bisa membuat bumbu sendiri tanpa bahan kimia, Nimo. Dan juga, mereka 'kan baru akan memasak jika ada pesanan, jadi, tidak akan jadi masalah bila mereka tidak pakai bahan pengawet."
Nimo mengangguk-angguk.
"Apa mereka tidak akan keberatan untuk banting setir ke restoran alami, Nak Prapto?" tanya Pak Gumiro. "Tentu mereka akan punya banyak pertimbangan."
Prapto mengangguk. "Benar, Pak Gumiro. Untuk itu aku sudah menyiapkan sebuah rencana. Kita akan menyarankan mereka agar mengambil sedikit dulu saja untuk promosi. Dari situ nanti mereka bisa lihat banyak atau tidaknya pengunjung yang mau membeli makanan alami.
"Mereka pebisnis. Harusnya mereka tidak akan takut dengan risiko rugi sedikit demi mengambil peluang. Tapi jika mereka tetap tidak mau, menurutku kita harus mendirikan restoran alami sendiri. Jika restoran kita nanti laris, tentu mereka akan ikut. Apa Pak Gumiro, Pak Oscar, Timo, dan Nimo setuju?"
Pak Oscar, Pak Gumiro, Nimo, dan Timo sama-sama mengangguk setuju.
Pak Gumiro berkata, "Ide bagus, Nak Prapto. Akan dicatat oleh Timo dan nanti akan disisihkan anggarannya. Kapan kita bisa mulai menawarkannya ke restoran-restoran mewah?"
"Besok aku dan Nimo bisa, Pak Gumiro," jawab Prapto. "Kita hanya perlu menawarkan pada satu restoran mewah saja dulu. Jika makanan alami di satu restoran mewah sudah laris, restoran mewah lainnya pasti akan menyusul."
Nimo lalu menoleh pada Pak Oscar. "Pak Kepala Desa, tidak apa-apa 'kan kami bolos gotong royong besok?" tanyanya, tersenyum.
__ADS_1
***
Pagi-pagi sekali, setelah selesai memberi makan ternak, Prapto berbenah. Sambil menunggu Nimo membantu orang tuanya, Prapto berjalan-jalan ke perpustakaan untuk mengobrol dengan Pinaka. Mereka duduk di teras perpustakaan.
"Tadi malam hujan tidak, Mas? Aku tertidur begitu cepat," tanya Pinaka.
Prapto mengangguk. "Hujan, Pinaka, hujan deras." Prapto lalu mengangkat kantong plastik yang ia bawa. "Ini, untukmu."
"Apa ini, Mas?" Pinaka mengambil kantong plastik yang diulurkan oleh Prapto lalu membukanya.
"Susu sapi. Biar kau sehat dan lekas kaya," jawab Prapto, tertawa.
Pinaka tertawa. Ia lalu mengambil dua buah gelas lalu menyalinnya susu sapi tersebut. "Kalau memang susu sapi ini bisa membuat aku kaya, nanti aku akan minta belikan sapi perah ke orang tuaku, Mas," katanya.
"Yang bisa membuat kaya itu hanya susu sapiku, Pinaka, dan tidak akan aku jual."
Prapto berpikir sejenak. Ia lalu melihat tiga orang bocah sedang berjalan-jalan pagi di jalan desa yang ada di depan perpustakaan. Prapto menunjuk ke arah tiga orang bocah tersebut. "Karena mereka," katanya.
Pinaka mengernyitkan keningnya. "Hah? Apa hubungannya, Mas?"
Prapto hanya tertawa kecil. Tiga bocah tadi berhenti lalu melihat ke arah Prapto dan Pinaka.
"Pagi-pagi sudah pacaran saja, Paman," kata salah seorang dari tiga bocah tadi.
"Siapa yang pacaran, Lapen?" sahut Prapto, tertawa. "Itu temanmu yang rambutnya seperti personil The Beatkes tidur sambil berdiri. Pasti tadi kau memaksanya bangun untuk menemanimu jalan-jalan pagi."
Lapen dan Taro menoleh. Mereka kaget. Di samping kanannya, Lennon tertidur sambil berdiri. Lapen dan Taro lalu menepuk bahu Lennon dengan serentak, membuat bocah itu terbangun kaget. Mereka melanjutkan jalan pagi setelah melambaikan tangan pada Prapto dan Pinaka yang tengah tertawa.
__ADS_1
***
Jakarta masih seperti biasa; macet, penuh dengan asap kendaraan, penuh dengan suara klakson dan bunyi mesin, serta asap pabrik. Di trotoar jalan, dalam bis-bis kota, dalam kendaraan pribadi, kebanyakan orang tampak memasang raut wajah yang terburu-buru.
Di kota-kota besar, hal-hal yang seharusnya tidak membuat orang terburu-buru, malah menjadi hal yang harus dikerjakan dengan sangat cepat bagi kebanyakan orang.
Kebanyakan orang itu takut, jika mereka tidak bersicepat, mereka takut akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan bonus, kesempatan untuk mendapat perhatian bos agar dinaikkan gaji, maupun kesempatan untuk naik jabatan.
Demikianlah kebanyakan orang di kota-kota besar. Mereka mengisi keseharian hidup dengan perlombaan. Pikiran mereka disibukkan dengan perlombaan. Lalu muncul kejenuhan, dan tentu saja, akibat dari perlombaan yang menjenuhkan itu adalah semakin menjauhnya kebahagiaan.
Sejak kecil, sejak masuk sekolah dasar, para murid terus diajarkan untuk berlomba, untuk bersicepat. Murid yang tidak mau ikut berlomba akan dicap sebagai pemalas dan menjadi bahan ejekan oleh siswa lainnya, bahkan oleh gurunya. Sedangkan murid yang bersicepat untuk berlomba akan diberikan pujian dan penghargaan di akhir semester.
Padahal, kecerdasan seseorang tidak bisa diukur dengan nilai. Kecerdasan seseorang tidak bisa diukur dari strata pendidikannya. Kecerdasan seseorang hanya dapat diukur dari seberapa bermanfaatnya ilmu yang ia miliki dan seberapa luhur budi pekertinya.
"Kadang aku heran dengan kebanyakan orang kota, Bos," kata Nimo setelah meminum es teh-nya, ketika ia dan Prpato sedang berhenti di sebuah warung yang ada di Jakarta untuk beristirahat. "Kapan mereka akan duduk tenang untuk bersantai? Aku rasa, ketika tidur pun mereka akan masih memikirkan perlombaan."
Prapto tertawa. "Mereka sudah berlomba sejak mereka masuk sekolah dasar, Nimo. Bersyukurlah kau karena di desa Kejora bocah-bocahnya tidak diajarkan untuk berlomba."
"Sekarang aku jadi lebih paham mengapa sesepuh desa Kejora dan kepala desa Kejora yang pertama tidak mau mendirikan sekolah formal di sana," jawab Nimo. Ia kembali meneguk es teh-nya.
Prapto melihat jam di ponselnya. Ia lalu mengajak Nimo untuk meneruskan berkendara menuju restoran mewah yang akan mereka tawari kerja sama bisnis.
***
"Dawn itu aritinya apa, Bos?" tanya Nimo sambil melihat tulisan nama dari restoran mewah yang ada di depan mereka.
"Cahaya kemerah-merahan yang tampak di langit sebelah timur menjelang matahari terbit, Nimo," jawab Prapto.
__ADS_1
Nimo mengangguk. "Ayo, Bos, kita ke dalam!" ajaknya.