Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
60. Jawaban Prapto


__ADS_3

Di siang hari yang sedikit mendung pada musim hujan bulan Oktober, daun dan ranting pohon menari indah ditiup angin.


Nimo memeriksa saluran air kebun dan tanaman-tanaman serta ternaknya. Ia memperhatikan keadaan dua induk kambing dan enam anak mereka yang dipindahkannya dengan Prapto tadi malam. Mereka tampak sehat dan tidak stres.


Kemudian Nimo membuka pintu tempat ayam betinanya mengerami dua belas butir telur, yang akan menetaskan dua belas anak ayam lucu-lucu. Tiba-tiba induk ayam yang sedang mengeram tersebut berbunyi keras. Nimo mundur beberapa langkah ke belakang. "Astaga, Induk Ayam! Kau membuatku kaget."


Induk ayam kampung yang berwarna coklat muda itu menatap Nimo. Nimo kembali menghampirinya. "Aku mau memberimu makan, kau malah meneriaki aku. Ini, makan yang banyak." Nimo meletakkan kotak kecil berisi makanan ayam. Ia lalu berbalik.


"Astaga!" seru Nimo lagi, ketika ia melihat tiga sosok bocah telah berdiri di depannya. "Kapan kalian datang?"


Ketiga bocah itu tertawa. "Belum lama, Paman. Sejak Paman ngobrol dengan induk ayam tadi," kata Lapen Oscario sambil menunjuk ke arah induk ayam.


Nimo menutup tempat mengeram ayamnya lalu melangkah menuju meja di depan bangunan dapur. "Ayo, kita duduk di sana!" ajaknya.


Lapen dan dua orang sahabat sepaketnya mengikuti Nimo. "Paman mau kopi?" tanya Lennon, tersenyum.


"Harusnya aku yang menawari kalian, Lennon. 'Kan tuan rumahnya aku. Ya sudah, empat gelas, ya. Kalau di antara kalian ada yang mau teh, teh juga ada."


"Paman Prapto mana, Paman?" tanya Taro setelah ia melihat-lihat ke sekeliling kebun.


"Bos Prapto ke Jakarta bersama Pinaka, Taro."


Taro tersenyum. "Paman Prapto menemui orang tua Tante Pinaka karena mereka akan menikah, Paman?"


Nimo tertawa. "Lagakmu seperti paham saja tentang tata cara menjelang pernikahan, Taro."


Nimo kemudian duduk dan menyulut rokoknya. "Ada apa gerangan kalian datang di siang yang sedikit mendung ini?"


"Kami mau ke sungai, Paman, untuk memancing menggunakan umpan baru. Aku diminta Ayah singgah ke sini dulu untuk mengatakan pada Paman Nimo agar tidak lupa mengajari Ayah membawa motor nanti," jawab Lapen.


"Oh iya! Aku lupa, Lapen. Nanti selesai ngopi aku temui ayahmu," kata Nimo. Ia lalu tampak berpikir. "Tapi, Lapen, kenapa Mas Stepen tidak menelepon aku saja?"

__ADS_1


Lapen tertawa. "Tadi malam Ayah mengotak-atik menu pengaturan ponsel, Paman, lalu ia tidak sengaja memencet menu reset pabrik. Jadi, nomor Paman Nimo terhapus."


Nimo, Lapen, Taro, dan Lennon yang baru datang membawa empat cangkir kopi di atas nampan kayu, tertawa. Mereka melanjutkan ngobrol sambil minum kopi.


***


Di teras rumahnya, Stepen yang berambut sebahu mengelap motor matic barunya sambil bersiul-siul. Ia menoleh ketika mendengar suara langkah kaki dan kemudian tertawa. "Nomormu terhapus, Nimo. Aku salah pencet menu reset pabrik.”


"Iya, Mas, tadi Lapen ada bilang. Wah, Mas Stepen beli motor baru."


Stepen tersenyum. "Kemarin sore datangnya, Nimo. Maaf, ya, merepotkanmu mengajari aku naik motor."


Nimo tersenyum. "Tidak repot, kok, Mas."


"Ngopi dulu, ya?"


"Baru saja aku siap ngopi dengan Lapen, Taro, dan Lennon, Mas."


"Ayo, Mas!"


***


Cuaca di Jakarta, tepatnya di kawasan komplek perumahan Pinaka, siang itu cerah. Prapto, Pinaka, Pak Ramu, dan Bu Esih baru saja selesai menyantap hidangan.


Pak Ramu menyulut rokoknya lalu memandangi Prapto yang kini tengah menyulut rokok. Pak Ramu dan Bu Esih tadi malam telah mengobrol dengan putri mereka melalui telepon. Pinaka mengatakan bahwa hari ini ia dan Prapto akan datang dan Prapto akan menyampaikan keinginannya untuk menikahi Pinaka.


Prapto mengangkat kepalanya sambil menghembuskan asap rokok. Ia tertegun melihat Pak Ramu memperhatikannya.


"Kau sudah yakin dengan keputusanmu untuk menikahi putri kami, Prapto?" tanya Pak Ramu. Ada aura serius yang muncul dari ucapannya.


"Yakin, Pak," jawab Prapto. Aura serius pun juga muncul dari ucapan Prapto.

__ADS_1


"Kau yakin kalian tidak akan kekurangan uang setelah menikah nanti?"


Prapto yang belajar banyak dari Pak Oscar itu berkata dengan mantap, "Aku tidak yakin, Pak."


Pak Ramu mengernyitkan wajahnya. "Kau tidak yakin kalian tidak akan kekurangan uang setelah menikah, lalu kenapa kau ingin menikahi putriku?"


"Tidak punya uang bukan berarti kami akan kelaparan, Pak. Aku punya sawah, buah-buahan, hasil ternak, dan banyak tanaman lain yang tidak akan membuat kami kelaparan dan malah akan makan lezat setiap hari, Pak."


Bu Esih dan Pinaka memandang Prapto kagum. Mereka takjub pada Prapto yang bisa menjawab dengan lancar tanpa terintimidasi. Jawabannya pun bagus dan nada ucapannya meyakinkan. Pak Ramu sendiri diam-diam merasa kagum dan bangga, tapi Pak Ramu tidak mau menampakkannya karena ia masih belum selesai menguji Prapto.


Pak Ramu mengangguk-angguk. Ia menghisap rokoknya sambil terus menatapi Prapto tepat pada matanya. "Bagaimana jika suatu hari nanti terjadi banjir, atau aktivitas alam yang lain, yang membuat kebunmu gagal panen dan semua ternakmu mati? Semoga itu tidak terjadi."


"Aku akan mencari nafkah dengan cara yang lain, Pak sambil kembali membangun kebun. Aku bisa mencari kayu bakar di hutan untuk dijual, aku bisa berdagang, aku bisa belajar keterampilan tertentu seperti meramu obat atau membuat mainan anak-anak lalu dijual, yang jelas, aku janjikan bahwa dapur rumah kami akan tetap berasap dan periuk nasi kami tidak akan pernah kosong."


Bu Esih menatap Pinaka dengan pandangan yang seolah bertanya, 'Bagaimana bisa kau menemukan pria sekeren ini?' Ia kemudian menatap Prapto. Penampilannya tidak mencolok dengan jeans dan kemeja. Kulitnya yang berwarna sawo matang terang pertanda bahwa ia adalah petani yang tekun, yang tak hanya sekadar berjemur di kebun.


Tadi malam Bu Esih juga sudah membahas bersama suaminya tentang Prapto yang cerdas dan inovatif, yang menjadi penggagas kerja sama bisnis antara desa Kejora dengan tiga perusahaan. Menurut Pak Ramu yang juga berprofesi sebagai pebisnis, bisnis desa Kejora tersebut akan semakin sukses ke depannya.


Pinaka pun menatap ibunya dengan pandangan yang seolah berkata, 'Hebat 'kan anak Ibu mencari mantu?' Ia merasa bangga pada Prapto. Seperti kata Bu Intan padanya, suami yang hebat itu adalah suami yang membuatmu bangga sebagai wanitanya.


Pak Ramu yang bersandar ke dinding pendopo, yang berbentuk seperti pagar kayu itu kembali mengangguk-angguk. Prapto tampak menunggu pertanyaan selanjutnya. Ia paham Pak Ramu sekarang tidak sekadar bertanya, tapi calon mertuanya itu sedang mengujinya. Sambil menunggu pertanyaan Pak Ramu selanjutnya, ia meneguk kopinya yang sudah dingin.


"Memang seperti itulah seharusnya seorang suami, Prapto," kata Pak Ramu. "Aku tidak memintamu kaya raya baru kuizinkan menikah dengan Pinaka. Aku hanya butuh menantu yang tidak malas mencari nafkah.


"Sekarang, jika suatu hari Pinaka sakit gigi atau cemburu pada wanita lain yang tiba-tiba mengirim pesan pernyataan cinta ke ponselmu, lalu Pinaka kesal dan mengurangi perhatiannya padamu, apa yang akan kau lakukan? Memarahinya atau membujuknya?"


Pak Ramu tersenyum. Ini adalah pertanyaan terakhir sekaligus pertanyaan pamungkasnya. Dua puluh enam orang temannya yang sudah menikah telah ia tanyai, dan semuanya salah dalam menjawab pertanyaannya yang tampaknya sangat mudah ini.


Bu Esih dan Pinaka kembali saling berpandangan, tapi kali ini mereka sama-sama bingung. Pertanyaan itu tampaknya mudah, tapi mereka sangat paham bahwa Pak Ramu tidak mungkin menanyakan pertanyaan yang mudah untuk menguji pria yang ingin menikahi putrinya. Mereka deg-degan menunggu jawaban Prapto.


Keringat dingin turun di pelipis Prapto. Kecerdasannya membuat ia paham betul bahwa pertanyaan Pak Ramu ini tidaklah mudah meskipun tampak mudah. Ia menghisap rokok sambil memikirkan petuah-petuah Pak Oscar. Prapto mendapati bahwa Pak Oscar tidak pernah membahas tentang hal ini.

__ADS_1


__ADS_2