Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
6. Tiga Sesepuh


__ADS_3

Prapto dan Nimo saling pandang. Mereka saling bertanya dalam hati, 'Amazon? Brazil?' Mereka menatap semua orang yang ada di teras.


Stepen tertawa. "Kalian pasti sudah paham maksud kami, Prapto, Nimo. Di antara kita semua, hanya kalian lah yang belum beristri."


"Soal tanaman dan ternak kalian, kalian tidak usah cemas, aku akan meminta bantuan pada pria-pria desa Kejora untuk mengurusnya selama kalian pergi," kata Pak Oscar. Ia lalu menghisap cangklongnya.


Pak Reynaldi Hijau ikut tertawa. "Apa lagi yang kalian pikirkan? Kalian tak perlu mengeluarkan biaya, kami yang akan menanggungnya. Benar, kan, Pak gumiro, Pak Hann?" tanyanya, menatap Pak Gumiro dan Pak Handoko yang mengangguk-angguk tersenyum.


"Desa Kejora juga akan ikut menyumbang, Pak Reynald," kata Pak Oscar. "Sejak dulu sekali, sehabis panen, semua kepala keluaga selalu menyumbangkan uang untuk pembangunan desa. Jadi, ini saatnya sumbangan mereka digunakan."


Pak Gumiro, Pak Reynaldi HIjau, dan juga Pak Handoko menoleh pada Pak Oscar. Mereka tampak kaget dengan kata-kata kepala desa itu barusan.


"Desa ini agaknya tak cuma indah dan tenteram, tapi juga sangat maju cara berpikir warganya," ujar Pak Reynaldi Hijau. "Aku jadi terpikirkan bagaimana desa Kejora ini dulu berdiri dan siapa pendirinya. Pastinya Beliau adalah orang yang sangat bijaksana."


Pak Oscar mengangguk-angguk. "Beliau memang orang yang sangat bijaksana, Pak Reynaldi. Beliau berdua seusia dengan mendiang kakekku yang juga merupakan salah satu pendiri desa Kejora."


Semua yang ada di teras itu menatap Pak Oscar, mereka menunggu kepala desa Kejora itu meneruskan ceritanya. Pak Oscar menatap langit yang mendung, lalu menghisap cangklongnya dalam-dalam. Matanya tampak berbinar memancarkan kerinduan dan ia kemudian bercerita.


Ada tiga orang sesepuh yang mendirikan desa Kejora. Mereka datang dari suatu tempat yang ada di Endonesa. Di tempat asal mereka tersebut, penduduknya mencari nafkah dengan bertani dan beternak alami, sama seperti di sini.


Pada waktu, banyak daerah yang menjadi kota. Pohon-pohon ditebang. Dan setelah kota itu berdiri, sungai-sungai jadi kotor karena limbah industri maupun sampah yang dibuang oleh kebanyakan orang. lam mulai dipedulikan. Akibatnya bencana pun mulai bermunculan. Ibu Pertiwi marah.


Tetua di tempat itu kemudian berwasiat kepada tiga orang pendiri desa Kejora ini untuk membawa nilai-nilai luhur dari tempat itu ke tempat baru yang masih kosong. Maka berangkatlah ketiga sesepuh ini mencari daerah yang masih belum penghuninya. Mereka pergi hanya dengan membawa bekal makanan, senjata pemotong kayu, dan alat untuk membangun rumah papan.


Setiap pohon yang mereka tebang dan mereka gunakan untuk kepentingan membangun rumah, mereka perbarui dengan menanam tiga bibit pohon baru yang kini masih ada di hutan dekat sungai desa Kejora. Mereka mendirikan desa dengan tidak merusak ekosistem alam. Karena jika ekosistem rusak, bencana alam akan datang.

__ADS_1


Singkat cerita, sesepuh-sesepuh itu menemukan cinta mereka di desa dan kota terdekat lalu menikah. Dan seiring dengan berjalannya waktu, orang-orang yang berkunjung ke desa Kejora ini lalu tertarik dan ingin menetap. Mereka tinggal di desa Kejora dengan syarat harus setuju dengan peraturan yang dibawa ketiga sesepuh tersebut dari tempat asal mereka.


"Nilai-nilai luhur dan pola pikir itulah yang terus dijaga oleh desa Kejora sampai sekarang." Pak Oscar menutup penjelasannya lalu meneguk kopi.


Semua yang mendengar cerita Pak Oscar tadi mengangguk-angguk, termasuk Nimo dan Stepen, yang entah sudah berapa kali mendengar cerita tersebut tapi masih saja terdengar menarik bagi mereka.


Prapto menyulut rokoknya. Ia nyengir menatap Pak Oscar, Stepen, dan ketiga bapak-bapak lainmya. "Pak, ke Brazilnya jadi?"


Mereka tertawa. Kemudian Pak Gumiro berkata, "Tentu saja jadi, Nak Prapto. Cerita Pak Oscar tadi menarik sekali sehingga kita mengesampingkan Brazil dan terra petra-nya dulu beberapa menit."


"Mas Stepen," panggil Prapto. "Letak sumber terra petra itu di dalam hutan Amazon atau di tepi hutannya? Ngeri juga membayangkannya jika kami harus masuk ke dalam hutan Amazon."


Stepen menyeringai. Seringainya membuat Nimo dan Prapto merasa ngeri.


“Tunggu, Mas Stepen! Di hutan itu ada ular anakonda, piranha, dan hewan buas lainnya, sedangkan kami mau menikah beberapa bulan lagi," kata Nimo, yang ditimpali anggukan oleh Prapto.


Prapto dan Nimo kembali saling pandang. Pak Oscar tertawa. "Kalian kenapa setakut itu? Hutan dan seluruh hewan dan tanaman yang ada di dalamnya tidak akan menyakiti kalian selagi kalian menghargai mereka dan memperlakukan mereka dengan hormat. Lagi pula, kalian ‘kan nanti dipandu oleh pria yang paham tentang hutan Amazon."


Pak Reynaldi Hijau mengangkat tangannya yang memegang rokok. "Nah, aku ada seorang sahabat yang tinggal di Brazil, yang sering mengunjungi hutan Amazon karena pekerjaannya berhubungan dengan flora dan fauna di hutan tersebut. Aku akan menghubunginya nanti, dan jika dia bisa, dia akan kuminta menjemput kalian ke bandara."


"Tunggu apa lagi?" tanya Pak Handoko bersemangat. "Mari rundingkan kapan kedua pria hebat ini akan berangkat! Kalian harus bangga, karena kalian ke hutan Amazon demi kelangsungan pertanian dan peternakan yang sehat bagi orang-orang yang akan membeli hasil kerja sama bisnis kita. Orang-orang jaman sekarang cepat mati, salah satu penyebab terbesarnya adalah karena makanan dan minuman yang mereka konsumsi tidak sehat."


Pak Reynaldi Hijau mengangkat ponselnya. "Sahabatku itu sudah membalas pesan. Katanya, ia bisa membantu Prapto dan Nimo kapan saja asalkan masih dalam bulan ini. Dan aku juga telah menanyakan tiket pesawat. Kalian bisa berangkat besok."


Prapto dan Nimo lagi-lagi saling berpandangan. Mereka berdua kemudian sama-sama mengangguk, seolah telah berbicara lewat batin masing-masing. Prapto berkata, "Kalau begitu, Nimo dan aku izin pulang dulu, Bapak-bapak, Mas Stepen. Nimo akan izin ke orang tuanya dan aku akan menelepon ke rumah."

__ADS_1


Stepen mengangkat jempolnya. “Jangan lupa pamit ke calon istri kalian juga, dan ...” Stepen diam sejenak, lalu menyeringai, "Minta doa mereka."


"Kami tidak takut!" jawab Prapo dan Nimo serentak. Mereka semua kemudian tertawa.


***


Maka keesokan harinya, pada hari terakhir di bulan Oktober, Prapto dan Nimo diantar ke bandara oleh Pak Oscar, Pak Reynaldi, dan Pak Gumiro. Stepen tidak ikut karena hari ini ia akan panen buah-buahan. Sementara Pak Handoko, pengusaha restoran mewah tersebut harus pergi ke taman wisata karena telah berjanji menemani cucunya.


"Aku belum pernah naik pesawat, Bos," kata Nimo pada Prapto, ketika mereka duduk di ruang tunggu bandara.


"Kau takut?" tanya Prapto.


"Sedikit, Bos. Kita kan akan terbang tinggi. Aku takut jatuh."


Prapto menirukan seringai Stepen. "Sudah minta doa 'kan?"


"Ah, kau sama saja dengan Mas Stepen, Bos," sahut Nimo. Tiba-tiba wajahnya mengernyit melihat Prpato. "Bos, kau juga belum pernah naik pesawat?"


Prapto menoleh. "Sudah sekitar delapan kali, Nimo. Kenapa?"


"Itu ada tulisan tidak boleh merokok di ruang tunggu." Nimo menunjuk ke tulisan dilarang merokok yang terdapat di dinding sebelah kiri dari tempat mereka duduk.


Prapto memasukkan kembali rokok dan lighternya ke dalam kantong kemeja. "Itulah yang tidak aku suka dari naik pesawat Nimo," katanya, tertawa.


Prapto kemudian berdiri dan mengangkat kopernya. "Ayo, Nimo! Pesawat kia akan berangkat."

__ADS_1


Nimo mengangguk, lalu bangkit dengan perasaan sedikit takut.


__ADS_2