
Lapen Oscario menempelkan telapak tangan kirinya ke pohon. Taro dan Lennon berada di belakangnya. Dengan pelan-pelan Lapen mengintip ke balik pohon. Ia melihat seorang pria tua yang duduk menghadap ke sungai dengan wajah yang sulit untuk diungkapkan oleh Lapen. Ada kesan sedih dan juga kesan rindu pada raut wajah orang tua itu.
Dari rambut putihnya yang sepanjang punggung, dari jenggotnya yang juga panjang dan putih, Lapen bisa menebak siapa orang yang tadi memainkan harmonika tersebut.
“Kakek Nirwana!” panggil Lapen.
Pak Nirwana menoleh, lalu tersenyum. “Lapen. Sejak kapan kau di sini? Kau datang sendiri? Mana kedua sahabatmu?”
Dari balik pohon, Taro dan Lennon muncul. “Kek Nirwana,” sapa mereka, serentak. Mereka kemudian ikut duduk dengan Lapen, sama-sama menghadap sungai seperti Pak Nirwana.
“Lagu apa itu tadi, Kek Nirwana? Sendu sekali,” tanya Lennon. Setelah bertanya, ia kembali menoleh memandang riak sungai.
Pak Nirwana mengambil rokok dari kantong kemejanya, menyulutnya, dan menghembuskan asapnya cukup lama. “Time in a Bottle, lagu kesukaan mendiang istriku. Kalian tahu lagu itu?”
Lapen dan Taro menggeleng, hanya Lennon yang tampak sedang berpikir. Pak Nirwana tersenyum memperhatikan Lennon, karena raut wajah anak kecil yang berusia delapan tahun ketika berpikir tampak menggemaskan.
Wajah Lennon berseri. “Ah, aku tahu, Kek. Itu lagunya Jim Croce, kan, Kek? Selain lagu The Beatles, aku dan Ayah juga memutar lagu rock lain, salah satunya Time in a Bottle.” Lennon lalu menatap Pak Nirwana dengan sikap peduli. “Kek Nirwana sedih karena rindu mendiang Nenek, ya?”
Pak Nirwana mengangguk lembut sambil tersenyum. “Ya, Lennon, aku rindu, dan aku sedih karena aku rindu. Namun aku tak bersedih karena kematiannya, karena menyedihkan kematian itu tidak baik.”
“Kenapa tidak boleh, Kek?” tanya Lapen penasaran.
“Kalau kita bersedih karena kematian orang yang kita cintai, itu berarti kita tidak menilai kematian dengan bijak, Lapen. Dan aku rasa, istriku pasti akan sedih juga kalau aku bersedih-sedih karena kematiannya,” terang Pak Nirwana.
Taro yang sejak tadi berpikir keras akhirnya bertanya, “Kek, memangnya bersedih karena rindu itu beda dengan bersedih karena kematian?”
Pak Nirwana yang bijaksana itu kembali tersenyum lembut. “Beda, Taro. Sedih karena rindu itu artinya, meskipun istriku sudah meninggal, aku masih merindukannya, tandanya aku tetap mencintainya meskipun ia sudah tiada.
“Tapi, jika aku sedih karena kematiannya, itu artinya aku takut bahwa aku tidak bisa tetap mencintainya jika ia tidak ada lagi, bukan? Dan jika begitu, tentu bukan cinta namanya. Cinta itu sangat tinggi dan juga sangat dalam, dan akan tetap ada meskipun orang yang dicintai sudah tiada.”
__ADS_1
Lapen, Taro, dan juga Lennon mengangguk-angguk. Mereka memandang langit senja sambil memikirkan kata-kata Pak Nirwana.
Pak Nirwana menyimpan harmonikanya kemeja. Ia lalu bangkit. “Sudah senja, Nak. Mari, kita pulang,” ajaknya.
Lapen dan kedua sahabatnya berdiri. Mereka menyusul Pak Nirwana yang telah lebih dulu melangkah dan berjalan di samping kanannya sambil terus mengajak Pak Nirwana mengobrol.
Rumah Lapen, Pak Nirwana, Lennon, dan Taro searah, jadi mereka masih berjalan bersama ketika melewati pagar rumah Prapto. Lapen yang berjalan paling depan berhenti. “Kek, kok tampaknya ada yang aneh, ya, dengan Paman Prapto dan Tante Pinaka?”
Pak Nirwana, Taro, dan Lennon sama-sama menyipitkan mata mereka memperhatikan Prapto dan Pinaka yang duduk mengobrol di teras.
“Aku tidak melihat ada yang aneh dengan mereka, Lapen,” kata Pak Nirwana.
“Hari sudah senja, Kek, tapi mereka masih duduk di teras. Jika mereka mengobrol sambil menunggu senja turun sepenuhnya, kenapa pintu rumahnya ditutup?” kata Lapen.
Pak Nirwana mengangguk-angguk sambil mengusap jenggot panjangnya. “Benar juga. Ayo, kita hampiri mereka!”
Melihat Pak Nirwana datang bersama Lapen dan kedua sahabatnya, Pinaka dan Prapto berdiri.
Prapto dan Pinaka tersenyum membalas sapaan Pak Nirwana. “Iya, Pak, kunci rumah kami berada di dalam,” jawab Prapto. Ia lalu menceritakan pada Pak Nirwana tentang bagaimana bisa mereka terkunci di rumah mereka sendiri.
Pak Nirwana, dan juga Lapen serta kedua sahabatnya tertawa mendengar cerita Prapto. Prapto dan Pinaka pun ikut tertawa.
“kunci motor kalian ada bulatan untuk gantungan mainan kuncinya, Nak Prapto?” tanya Pak Dwipangga setelah menoleh pada motor yang diparkir di teras.
“Ada, Pak.”
“Coba aku lihat,” kata Pak Nirwana.
Prapto memisahkan kunci motornya dari tempat gantungan kunci dan memberikannya pada Pak Nirwana. Pak Nirwana menarik-narik bulatan gantungan kunci tersebut hingga bentuknya nyaris lurus, lalu memasukkannya ke tempat kunci pintu rumah Prapto.
__ADS_1
“Keterampilan ini dulu aku pelajari dari ayahnya Pak Kades,” kata Pak Nirwana sambil mencoba membuka pintu rumah Prapto. “Tapi sering kali keterampilan ini disalah gunakan untuk mencuri.” Tak lama setelah berkata demikian, pintu rumah Prapto pun terbuka.
“Hebat!” seru Lapen dan kedua sahabatnya secara bersamaan.
Wajah Prapto dan Pinaka berseri. Mereka mengucapkan terima kasih pada Pak Nirwana, dan juga pada Lapen, Taro, dan Lennon.
“Tidak usah, Nak Prapto,” kata Pak Nirwana menolak tawaran minum kopi dari Prapto. “Hari hampir malam. Kami akan pulang dulu.
Pak Nirwana dan ketiga sahabatnya kecilnya pun pamit dan pulang ke rumah masing-masing.
***
Enam hari kemudian, di pendopo rumah Pak Oscar, warga desa Kejora yang belajar membuat kain alami telah menyelesaikan pelajaran mereka, yaitu membuat kain dan menjahitnya dengan desain yang mereka inginkan. Mereka tersenyum senang melihat kain hasil buatan sendiri.
Pak Purnomo dan Bu Rena tersenyum. Ada rasa bahagia di hati mereka melihat apa yang telah mereka ajarkan kepada para warga akan berguna bagi mereka dan juga akan meningkatkan ekonomi mereka.
“Berhasil, Mas. Warga desa Kejora mempelajarinya dengan baik. Aku tidak perlu cemas lagi tentang kualitas kain yang akan kita jual pada perusahaan Bu Irin,” kata Bu Rena.
Pak Purnomo mengangguk. “Ya, selanjutnya kita tinggal mengawasi warga membuat kain alami yang untuk dijual sambil ikut membuatnya juga. Aku senang membuat kain, aku akan ikut membuat dan menjuaknya nanti.”
Bu Rena menatap suaminya. “Terima kasih, ya, Mas sudah membantuku.”
Pak Purnomo tersenyum lalu mengusap rambut Bu Rena dengan penuh cinta kasih. “Ayo, kita rumah Oscar! Aku akan melaporkan hasil pelajaran warga desa Kejora padanya.”
Prapto dan Nimo yang datang menjemput istri mereka, duduk di teras Pak Oscar sambil mengobrol dengan kepala desa Kejora tersebut. Mereka pamit pulang pada Pak Oscar ketika melihat Pinaka dan Arini sudah selesai belajar.
Prapto menghidupkan mesin motor setelah Pinaka naik. “Sudah, Pinaka?”
“Sudah, Mas.”
__ADS_1
Prapto menjalankan motornya.
Di sepanjang perjalanan pulang, Pinaka beberapa kali membuka tas jinjingnya dan melihat ke dalamnya sambil tersenyum. Kain yang ingin ia hadiahkan untuk suaminya telah selesai dibuat, dan ia tidak sabar untuk memberikannya pada Prapto ketika mereka tiba di rumah nanti.