
Matahari bersinar lembut menyusupi celah-celah kabut di desa Kejora. Daun dan ranting pohon menari ditiup angin pagi. Dan dalam suasana sejuk itu, ternak-ternak di kebun Prapto dan Nimo menyebar ke tempat favorit mereka masing-masing. Ada yang bergerombol, ada juga yang sendiri-sendiri.
Prapto dan Nimo memperhatikan kedua belas anak ayam mereka yang baru menetas beberapa hari lalu. Anak-anak ayam itu selalu dijaga oleh induk mereka. Apabila Prapto dan Nimo mendekat, induk ayam tersebut akan langsung memasang sikap waspada, layaknya seorang ibu yang selalu melindungi anak-anaknya.
“Kau saja, Nimo, nanti aku kena patuk lagi,” kata Prapto sambil memberikan kotak berisi makanan ayam pada Nimo.
“Aku juga takut, Bos. Sudah dua kali aku dipatuknya.” Nimo mendekatkan tangannya pada induk ayam. Induk ayam tersebut langsung membuka sayapnya dan siap mematuk apabila tangan Nimo maju lebih dekat. Nimo menarik tangannya. “Kenapa tidak ditaruh agak jauh saja, Bos?”
“Anak ayam itu lucu-lucu, Nimo. Aku mau melihat mereka dari dekat dan mengambil foto,” kata Prapto, tersenyum.
Nimo menggeleng-geleng. Ia mengulurkan tangan pada Prapto. “Ya sudah, Bos, sini kotak itu.”
Wajah Prapto berseri. Ia memberikan kotak makanan ayam pada Nimo dan mengambil ponselnya.
Nimo memperhatikan induk ayam itu sejenak. Kemudian ia mengulurkan tangan menabur makanan ayam. “Ayo, makan. Mari kita berdamai!” ajak Nimo.
Dua ekor anak ayam maju dan mematuk makanan yang ditabur Nimo. Melihat dua anaknya maju, induk ayam itu pun ikut maju. Nimo hendak berdiri menghindar, namun Prapto berkata, “Jangan, Nimo. Mana tahu induk ayam itu sudah tidak menganggap kita mengganggu anaknya lagi.”
“Kalau aku dipatuk bagaimana, Bos?” tanya Nimo.
“Demi menjinakkan ayam kita, Nimo, dan demi memfoto mereka. Kalau induk ayam itu tidak marah lagi, berarti kita sudah bisa dekat-dekat ke anaknya.”
Nimo tak menjawab. Induk ayam itu semakin dekat, masih dengan sayap yang dikembangkan, ia menatap Nimo. Nimo yang tidak mau kena patuk lagi ingin segera menjauh, namun Prapto membaca gelagatnya. “Jangan kabur, Nimo.”
Nimo memejamkan matanya, tapi tak lama kemudian ia buka lagi. Bila matanya ditutup, tentu ia tak akan bisa menghindar apabila induk ayam tersebut tiba-tiba mematuk wajahnya.
Prapto tertawa. “Berhasil, Nimo. Kau hebat.” Ia kemudian ikut berdiri di samping Nimo dan mengambil foto kebersamaan anak ayam dengan induk mereka. “Akan aku kirim fotonya ke Ayah dan Mang Kari nanti.”
“Aku cemas, Bos,” kata Nimo. Ia lalu mengajak Prapto mengobrol di depan bangunan dapur.
“Hari ini kopinya beda, Bos,” kata Nimo tersenyum, sambil meletakkan dua gelas kopi.
Prapto tersenyum, “Apa bedanya? Sama-sama kopi hitam, Nimo.” Ia meniup kopi sebentar dan meneguknya. Wajah Prapto berubah jadi heran. "Benar, Nimo, lebih enak. Apa merek kopinya beda dari yang biasa?"
"Itulah hebatnya aku, Bos. Merek kopinya sama, kok,” kata Nimo, tertawa.
"Lagakmu, Nimo ... Nimo."
"Gulanya aku ganti dengan gulan aren, Bos, tapi cara masaknya beda. Kopi dan gula aren dimasukkan langsung ke dalam panci."
Prapto mengangguk-angguk. "Kenapa tidak dari dulu kau bikin kopi pakai gula aren, Nimo?" tanyanya.
"Aku baru tahu, Bos, ketika melihat Ibu membuat kopi untuk Ayah. Pantas kopi buatan Ibu rasanya beda."
__ADS_1
"Besok aku akan beli gula aren banyak-banyak," kata Prapto. "Oh iya, Nimo, nanti kau mau ikut aku tidak?"
"Ke mana, Bos? Tidur di sawah berselimutkan jerami?" tanya Nimo, tertawa.
"Sialan." Prapto ikut tertawa. "Ke rumah Pak Ino. Aku mau membicarakan renovasi rumah."
"Boleh, Bos. Habis ngopi, kan?"
"Iya."
Prapto dan Nimo kemudian menyulut rokok, lalu mengobrol tentang desa Kejora dan cinta mereka.
***
Menjelang sore Prapto dan Nimo bersepeda menuju rumah Pak Ino. Mereka sengaja mengambil jalan memutar agar sekalian berkeliling desa. Prapto menghentikan sepedanya di depan gerobak penjual gorengan.
"Kita beli gorengan dulu, Nimo, sekalian buat Pak Ino dan keluarganya," kata Prapto. Setelah memesan, ia memperhatikan salah satu halaman rumah di seberang jalan.
Di halaman rumah itu tampak lima orang anak perempuan tengah bermain masak-masakan. Mereka membuat tungku dari batu, dan kuali dari tempurung kelapa. Dan di dalam kuali itu terdapat berbagai jenis daun dan bunga.
Tak jauh dari anak-anak yang main masak-masakan itu, lima orang anak perempuan lain membuat rumah-rumahan dari tanah. Mereka menggunakan lidi untuk pagar, daun sebagai atap, dan menyapunya dengan sehelai bulu ayam. Penghuni rumah-rumahan itu adalah golek kayu (boneka yang terbuat dari kayu) yang sudah pasti dibeli dari pedagang mainan keliling, yaitu Pak Kuncoro.
Prapto tersenyum. Tak pernah ia menemukan pemandangan seperti ini ketika tinggal di Jakarta. Ia bahagia melihat senyum dan keceriaan anak-anak yang bermain tanpa beban. "Kau dulu main masak-masakan dan rumah-rumahan juga, Nimo?" tanya Prapto tanpa menoleh.
Prapto menoleh pada Nimo. "Seperti apa bedanya?"
Nimo menunjuk ke halaman rumah di samping tempat anak-anak perempuan tadi. "Begitu, Bos," kata Nimo tertawa.
Pada halaman rumah yang ditunjuk oleh Nimo, empat orang anak laki-laki memegang golek kayu yang telah diberi berbagai senjata; ada tombak, pedang, pisau, dan gada. Mereka bicara bergantian memainkan peran dari golek kayu masing-masing, lalu golek kayu tersebut digerakkan sedemikian rupa sehingga terlihat seperti tengah bertarung.
Prapto mengernyitkan wajahnya. "Cara menentukan pemenangnya bagaimana, Nimo?"
"Golek kayu yang kena senjata atau pukulan akan kalah, Nak Prapto. Kaki dan tangan golek kayu dikendalikan, dan golek kayu tidak boleh diangkat untuk menghindar."
Prapto dan Nimo menoleh. Yang menjawab barusan adalah bapak-bapak penjual gorengan. Ia mengulurkan plastik gorengan pada Prapto.
Prapto tersenyum dan memberikan uang. "Begitu, ya, Pak. Aku jadi ingin ikut main golek kayu juga," katanya.
Setelah mengucapkan terima kasih, Prapto dan Nimo meneruskan perjalanan ke rumah Pak Ino.
***
"Mas Ino pergi ke hutan mencari kayu, Nak," kata Bu Ani, istri Pak Ino pada Prapto dan Nimo.
__ADS_1
"Iya, Paman, Ayah mencari kayu untuk membuatkan Kinan golek kayu," sambung Kinan, putri Pak Ino yang berusia delapan tahun.
Prapto tersenyum pada Kinan dan bertanya, "Ayah Kinan sudah lama pergi? Kapan kira-kira pulangnya?"
Kinan memegang dagunya seperti tengah berpikir, tapi tak lama kemudian ia menggeleng. Bu Ani mengusap rambut anaknya. "Dari menjelang siang tadi, Nak Prapto. Mungkin Mas Ino belum menemukan kayu yang cocok."
"Ya sudah, Bu, kami susul saja Pak Ino," kata Prapto. Ia lalu memberikan plastik gorengan pada Kinan, yang diterimanya dengan wajah ceria.
Prapto dan Nimo mengayuh sepeda mereka ke hutan desa Kejora. Belum selesai mereka memarkir sepeda, Pak Ino muncul di pintu hutan dengan wajah sedikit murung.
"Kalian mau memancing ikan?" tanya Pak Ino begitu ia melihat Prapto dan Nimo.
"Tidak, Pak, kami mencari Bapak," jawab Nimo. Ia mengatakan bahwa mereka dari rumah Pak Ino.
Pak Ino mengajak Prapto dan Nimo duduk di tepi sungai. "Begitulah, agak sulit menemukan kayu yang pas untuk golek kayu. Sudah berjam-jam aku mencarinya," kata Pak Ino.
"Kenapa tidak dibeli pada Pak Kuncoro saja, Pak?" tanya Prapto.
"Pak Kuncoro masih seminggu lagi ke desa Kejora, Prapto. Kasihan Kinan, ia ingin segera bermain golek kayu bersama teman-temannya." Pak Ino menyulut rokoknya. "Tunggu, ya, kalau kayunya sudah ketemu baru kita ke rumahku membicarakan renovasi rumah. Apa kalian buru-buru?"
"Tidak, kok, Pak. Kami akan membantu Bapak mencarinya," kata Prapto.
Pak Ino memandang arus sungai yang sedikit keruh karena semalam hujan cukup lebat. "Kinan itu kalau tidak dapat mainan atau makanan yang dia minta, dia tidak akan protes atau marah-marah. Tapi ia akan menangis ketika sendiri di kamar. Aku dan ibunya pernah melihat ia menangis karena ibunya lupa membuat makanan kesukaannya.
Ketika kami tanya kenapa ia menangis sendiri di kamar, katanya, 'Kinan tak mau Ayah dan Ibu ikut sedih.' Aku tidak ingin melihat putriku menangis lagi, Prapto, Nimo.”
“Aku paham perasaanmu, Pak Ino,” kata Prapto. “Seperti apa kayunya, Pak?”
Pak Ino tak menjawab. Ia berdiri lalu mendekat ke tepi sungai. "Kayu yang hanyut itu yang aku cari, Prapto," katanya sambil menunjuk sebuah kayu hanyut yang akan melewati mereka."
"Ayo, Bos, Pak!" seru Nimo, lalu berdiri.
Pak Ino dan Nimo masuk ke dalam sungai mengejar kayu hanyut tersebut, namun kayu itu lewat sebelum Pak Ino sempat meraihnya. Mereka cepat-cepat kembali ke tepian agar bisa berlari mengejar.
"Bos Prapto tadi mana, Pak?" tanya Nimo sambil melihat ke sekeliling, begitu juga dengan Pak Ino.
"Itu dia," kata Pak Ino.
Agak jauh di bawah mereka, tampak Prapto yang sudah memegang kayu dan tengah kembali ke tepian. Ketika Pak Ino dan Nimo masuk ke dalam sungai, Prapto tidak ikut karena menurut perkiraannya kayu tersebut akan lebih dulu lewat. Maka ia berlari ke bawah dan masuk ke sungai setelah cukup jauh mendahului kayu tersebut.
"Hebat juga kau Bos," kata Nimo tertawa.
Prapto menyerahkan kayu tersebut pada Pak Ino. “Kinan tak akan menangis lagi, Pak,” katanya.
__ADS_1
Pak Ino tersenyum haru. “Terima kasih, Prapto. Ayo, kita pulang dan memilih desain rumah yang kau suka. Aku telah menyimpan banyak gambar rumah untukmu.