Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
85. Corak


__ADS_3

“Selamat datang di rumahku,” kata Pak Akum.


Pak Purnomo, Ronal, Prapto, dan Nimo saling pandang bergantian dengan wajah heran, namun mereka tak sempat mengajukan pertanyaan karena Pak Akum segera mengajak masuk ke rumah.


Dari luar terlihat dinding ruangan utama rumah Pak Akum penuh dengan berbagai lukisan. Pak Purnomo masuk paling terakhir dan langkahnya terhenti ketika ia melihat selembar kain yang dipajang di antara dua buah lukisan bertema pedesaan. Dari warna dan bentuknya, Pak Purnomo bisa tahu bahwa kain tersebut pastilah dibuat secara alami. Tapi siapa yang membuatnya? Pak Akum?


‘Jelas bukan Akum,’ kata Pak Purnomo dalam hati. ‘Bentuk dan pilihan warnanya tidak menunjukkan bahwa ini adalah karya seorang pria. Ini buatan seorang wanita. Istri Akum?’


Pak Purnomo tak menjawab pertanyaannya sendiri. Ia menyusul Prapto dan yang lain, yang hampir menghilang ke balik belokan di ruangan tengah. Setelah belokan tersebut, mereka tiba di depan sebuah pintu besar. Pak Akum mengetuk pintu tersebut. Semua yang berdiri di belakang Pak Akum kembali saling berpandangan.


“Pak ... .” Prapto tak melanjutkan ucapannya, karena Pak Akum sudah masuk dan memberi isyarat dengan tangan agar mereka mengikuti. Namun Prapto semakin heran, untuk apa Pak Akum mengetuk pintu jika ia sendiri yang akan membukanya?


Diluar dugaan, ruangan di balik pintu tersebut ternyata luas dan penuh dengan kerangka kayu yang digantung kain-kain. Semua yang masuk ke ruangan itu, kecuali Pak Akum, memutar badan mereka berkali-kali melihat kain-kain dengan pandangan kagum.


“Luar biasa. Sangat indah,” gumam Pak Purnomo sambil terus menyapu kain-kain di ruangan itu dengan pandangannya. Pak Purnomo baru mengalihkan pandangan ketika Ronal menepuk bahunya, mengajak ia mengikuti Pak Akum yang terus ke ujung ruangan.


Di ujung ruangan, yang tadinya terhalang oleh kain-kain, tampak duduk seorang wanita yang rambutnya jatuh tergerai sampai ke punggung. Prapto dan yang lain berhenti sekitar sepuluh langkah dari wanita itu, yang seperti tidak peduli dengan kedatangan orang dan tetap memandangi kain di depannya, yang dari bentuknya belum lama selesai diberi warna.


Pak Akum menghampiri wanita tersebut. “Tiga dari lima orang temanku ini ada perlu denganmu, Rena, tentang hal yang berkaitan dengan keterampilanmu dan desa mereka.”


“Sebentar, Bang,” jawab wanita yang dipanggil Rena tanpa menoleh. “Sudah lebih satu jam aku belum juga menemukan corak gambar yang cocok untuk kain ini.”


“Okay,” kata Pak Akum. Ia mundur beberapa langkah ke belakang lalu memperhatikan.


“Adikmu, Kum?” tanya Pak Purnomo yang baru saja berdiri di samping Pak Akum.


“Iya, Pur. Namanya Rena, usianya empat puluh lima tahun. Sejak bercerai lima tahun yang lalu, ia tinggal denganku dan lebih banyak menghabiskan waktu di ruangan ini.”

__ADS_1


Pak Purnomo mengangguk-angguk. Ia kemudian melangkah ke meja tempat Rena duduk, membuat Pak Akum dan yang lain mengernyitkan dahi mereka.


Rena menoleh ke kiri, menatap Pak Purnomo dengan wajah kesal. Sejenak matamya bertemu dengan tatapan marah Rena. Pak Purnomo mengambil kertas yang ada di atas meja, meraih pena di kantong kemejanya, lalu menggurat di atas kertas tersebut.


Tak lama kemudian Pak Purnomo mengangkat kertas yang barusan diguratnya ke dekat kain yang ada di depannya dan berkata, “Warna merah lembut harus diseimbangkan dengan corak yang menimbulkan sedikit kontras, namun tidak kasar.”


“Eh!” Rena berseru kaget. Raut kesalnya perlahan hilang, berganti dengan senyum lembut berterima kasih. Pandangannya kembali bertemu dengan mata Pak Purnomo. Kini terlihat jelas oleh Pak Purnomo betapa Rena yang sudah berusia paruh baya itu masih cantik, dan kerutan usia pada wajahnya hanya membuat kecantikannya semakin tampak khas.


Pak Purnomo tersenyum. “Jadi, apa kita sudah bisa membicarakan tentang tujuan kedatangan kami?” tanyanya.


Rena balas tersenyum dan bangkit berdiri. Ia meminta Pak Akum untuk membawa Prapto dan yang lain ke ruang tamu sementara ia membuat minum.


Tak lama kemudian Rena tiba di ruang tamu. Ia duduk di samping Pak Akum setelah menghidangkan minuman. Pak Akum lalu memperkenalkan Prapto dan yang lainnya pada Rena.


“Terima kasih atas bantuannya tadi, Mas Purnomo,” kata Rena. “Apa gerangan tujuan Mas Purnomo, Prapto, dan Nimo datang ke sini?”


“Hasil dari keterampilan itu nanti akan dicarikan pasar bisnisnya, Bu Rena. Tapi yang paling penting, dan juga yang menjadi tujuan utama desa Kejora adalah tetap mempertahankan proses pembuatan kain secara manual, untuk mengurangi pencemaran lingkungan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan industri pakaian modern sekarang,” kata Prapto menutup penjelasannya.


“Aku mau saja mengajar di desamu, Prapto. Soal prospek bisnis sebenarnya tidak masalah bagiku, karena aku bisa memasarkan kain buatanku secara mandiri.


“Tapi kalau untuk tinggal di desa kalian rasanya tidak mungkin. Butuh alasan yang lebih kuat dari mengajar untuk memutuskan berpindah tempat tinggal.”


Pak Akum meletekkan gelas kopi yang baru saja diteguknya. “Pikirkanlah dulu, Ren. Bukankah kau pernah bilang kau ingin menyebar luaskan keterampilan yang hampir sudah tidak ada peminatnya ini? Mumpung di desanya Prapto peminatnya banyak, kenapa harus dilewatkan kesempatan ini? Jangan khawatirkan aku dan kakak iparmu, kami akan luangkan waktu untuk mengunjungimu nanti.”


Bu Rena menggeleng pelan. “Tapi, Bang, alasan itu saja tidak cukup bagiku untuk memutuskan berpindah tempat tinggal, sementara kepala desa Kejora itu mengharuskan aku untuk menjadi warga desa jika aku mengajar di sana.”


Suasa hening untuk beberapa saat lamanya. Nimo memberi isyarat pada Prapto agar ia segera menemukan ide sebelum terlambat. Prapto mengambil ponselnya dari meja lalu berdiri. “Sebentar, Bu Rena, Pak Akum, ada telepon dari kepala desaku,” katanya.

__ADS_1


Setelah ia berada di teras Pak Akum, Prapto mengangkat telepon Pak Oscar.


“Halo, Nak Prapto, aku sudah membaca pesanmu,” sapa Pak Oscar dari seberang telepon.


“Begitulah, Pak Kades. Bu Rena itu keras kepala,” jawab Prapto.


“Bagaimana tanggapan Purnomo?”


“Pak Purnomo diam saja, Pak Kades. Aku lihat Pak Purnomo hanya memandangnya ketika Bu Rena bicara lalu mengangguk-angguk. Kenapa rencana ini tidak dibilang saja pada Pak Purnomo dari awal, Pak?”


Terdengar Pak Oscar Tertawa. “Purnomo itu tidak akan suka kalau dijodohkan, Nak Prapto, dan ia juga keras kepala. Kalau ia tahu, bisa-bisa ia lebih memilih untuk tidak menjual lukisan daripada dijodohkan.


“Dia pernah bilang padaku bahwa ia ingin menikah lagi tapi tidak mau lewat jalur perjodohan, makanya aku mencari cara untuk membantunya. Dan cara ini bisa membantu mendapatkan guru membuat kain alami yang akan menetap di desa kita.” Pak Oscar kembali tertawa.


Prapto menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang, Pak Kades?”


“Tenang saja. Kita hanya membantu. Kalau Purnomo tertarik pada Rena, ia pasti akan mengusahakan agar Rena mau jadi warga desa Kejora. Tapi jika Purnomo tidak tertarik, kita tak bisa memaksanya. Kita akan mencari guru lain dan biarkan Purnomo mencari istri sendiri mulai sekarang,” kata Pak Oscar. “Tapi biasanya kalau Purnomo diam sambil memperhatikan, artinya ia sedang mencari akal, Nak Prapto.”


“Baiklah, Pak Kades. Aku akan ke ruang tamu lagi.”


Setelah Pak Oscar menutup telepon, Prapto kembali ke ruang tamu. Suasana ruang tamu itu masih hening ketika ia duduk. Prapto lalu mengambil gelas kopi dan meneguknya.


“Bagaimana kalau begini saja, Dik Rena,” kata Pak Purnomo. “Karena dalam perjumpaan yang singkat ini aku telah membaca kepribadian serta sikapmu melalui mata dan raut wajah, maka aku putuskan bahwa aku akan menikahimu agar kau punya alasan untuk menetap di desa Kejora.”


Kopi yang belum selesai ditelan Prapto akan tersembur jika ia tidak cepat-cepat menutup mulutnya dengan tangan. Sementara Ronal, Nimo, dan Pak Akum membelalak ternganga.


Bu Rena sendiri kaget sembilan ratus ribu bahasa menatap Pak Purnomo. Pipinya memerah karena tersipu. Matanya tak berkedip.

__ADS_1


__ADS_2