
Burung pagi bernyanyi bersahutan bagai mengucapkan selamat datang kembali pada matahari yang muncul perlahan di ujung timur. Sinarnya menyusup celah-celah awan, celah-celah pohon, hingga celah-celah rumah warga desa Kejora, termasuk rumah Prapto yang dari cerobong atapnya sedang mengeluarkan asap.
“Mas, sudah pagi. Mas!” Pinaka mengguncang bahu Prapto. Ia membawa sarapan di atas piring yang belum ia hidangkan. “Aku sudah menyiapkan salah satu sarapan kesukaan Mas.”
Prapto bangkit duduk lalu tersenyum. “Terima kasih, Pinaka. Bagusnya aku sarapan dulu atau mandi dulu baru sarapan?”
Pinaka tertawa. “Tak usah mandi, Mas. Tanpa mandi pun Mas tetap tampan.” Ia berdiri, mengambil handuk, dan memberikannya pada Prapto.
Prapto tersenyum lalu pergi ke kamar mandi. Setelah selesai berbenah, ia dan Pinaka sarapan di teras sambil mengobrol.
“Di bawah jembatan kecil itu bagusnya ada ikannya, ya, Pinaka? Aku baru terpikirkan sekarang,” kata Prapto sambil mengunyah roti panggang. Ia melihat jembatan rumahnya yang menghubungkan halaman bagian pagar dengan halaman dekat teras rumah, yang di bawahnya terdapat parit jernih selebar dua setengah meter.
“Iya, Mas, ikan hias tampaknya akan bagus.” Pinaka meneguk teh lalu mengambil roti panggang. “Nanti perlu dikasih makan, Mas, ikan-ikannya?”
“Nantilah aku beli, Pinaka, pas aku ke kota dengan Pak Purnomo. Kalau tidak ada ikan hias yang menarik, aku pindahkan saja ikan hias yang di kolam kebun kita.” Prapto menyulut rokoknya. “Tidak perlu, Pinaka. Di ekosistem parit desa Kejora ini sudah tersedia makanan yang lebih dari cukup untuk ikan-ikan itu nanti. Kau suka ikan hias yang warna apa?”
Pinaka mengangguk-angguk. “Asalkan warna ikannya cerah aku suka, Mas. Kapan Mas ke kota dengan Pak Purnomo?” tanyanya.
“Besok. Kau dan Arini akan menunggu kami di sini atau di rumah Arini?”
“Belum tahu, Mas, aku tanya Arini dulu nanti. Kami juga ada rencana ke rumah Bu Intan besok,” jawab Pinaka.
Dari pagar rumah, tampak Nimo datang dengan motornya membonceng Arini. Ia melewati jembatan kecil dan terus ke halaman memarkir motornya.
Arini langsung menghampiri Pinaka, sementara Nimo menyulut rokok dulu sebelum ikut duduk di teras. “Aku suka sekali melewati jembatan kecilmu itu, Bos,” kata Nimo, tertawa.
Prapto tertawa. “Jembatan dan ayunan itu berperan besar dalam memperindah rumahku, Nimo.” Prapto menoleh pada ayunan dua kursi yang terdapat di halaman rumahnya. Di kerangka ayunan tersebut menjalar pohon-pohon anggur yang ia tanam untuk Pinaka. “Pak Purnomo sudah mempersiapkan lukisan yang akan dijual besok, Nimo?”
“Sudah, Bos. Bos sudah tahu tempat menjualnya?” Nimo menarik bangku di samping Prapto lalu ikut duduk.
“Aku sudah menghubungi temanku, Nimo. Dia akan mengantarkan kita ke tempat menjual lukisan. Yang akan membeli lukisan Pak Purnomo sudah dikirimi foto lukisannya dan dia setuju untuk membeli,” jawab Prapto.
__ADS_1
“Berarti besok yang perlu diperhatikan cuma bahan bakar mobil Pak Oscar saja, Bos, supaya kita tidak mendorong lagi,” kata Nimo, tertawa.
Pinaka dan Arini pergi ke dalam rumah untuk memasak, sedangkan Prapto dan Nimo ke kebun untuk mengurus ternak dan tanaman mereka.
***
“Kau seusia dengan Pak Kades, kan, Pur?” tanya Bu Kinasih pada Pak Purnomo.
Pak Purnomo yang tengah memasukkan lukisan ke dalam tas tersenyum. “Lebih tua Oscar dariku, Kak. Aku panggil nama karena sejak kecil aku kan sudah bersahabat akrab dengan Oscar.”
Bu Kinasih mengangguk-angguk. “Pukul berapa kau akan pulang?”
“Sore atau paling lama malam aku sudah kembali, Kak. Aku pergi dengan mobilnya Oscar.”
“Pak Kades ikut?”
“Tidak, Kak. Katanya dia mau merenovasi rumah ternaknya. Mana keponakanku tadi, Kak?” Pak Purnomo melihat ke sekitar mencari Nimo.
“Ya sudah. Aku pamit, ya, Kak, doakan laris.”
“Pasti, Pur. Hati-hati di jalan,” kata Bu Kinasih.
Ternyata benar, Nimo tengah asyik mengobrol dengan ayahnya dan Prapto. Pak Purnomo pamit pada Pak Dwipangga lalu ia, Nimo, dan juga Prapto berjalan menuju rumah Pak Oscar yang tidak jauh dari sana untuk mengambil mobil.
Sesampainya mereka di rumah Pak Oscar, Pak Purnomo diminta untuk memeriksa mobil Pak Oscar terlebih dahulu. Paman Nimo tersebut langsung menghampiri mobil yang telah diparkir Pak Oscar di halaman. Ketika Prapto dan Nimo hendak ikut ke mobil, Pak Oscar menahan mereka dan mengajak mereka ngobrol di bangku teras.
“Hah? Kau serius Pak Kades?” tanya Prapto, setelah Pak Oscar menerangkan sesuatu pada ia dan Nimo. Nimo yang duduk di samping Prapto pun mengernyitkan dahi tidak percaya.
“Pak Kepala Desa tidak bercanda, kan?” tanya Nimo.
Pak Oscar menggeleng tersenyum. “Apa aku terlihat bercanda? Aku serius, Nak Prapto, Nak Nimo. Purnomo itu sahabat karibku sejak kecil. Kau tahu lah Pamanmu itu orang seperti apa, Nimo. Kalau aku bilang langsung, jelas dia akan menolak, jadi, aku rasa cuma ini caranya. Aku mengandalkan kalian. Aku ke belakang dulu, ya, melanjutkan renovasi.” Pak Oscar menepuk bahu Prapto dan Nimo lalu pergi ke kebunnya.
__ADS_1
“Kenapa harus kita, Bos?” tanya Nimo geleng-geleng kepala.
Prapto balas menggelengkan kepala. “Itu juga yang ingin aku tanyakan padamu, Nimo. Bagaimana?”
Nimo mengernyitkan wajahnya, berpikir, lalu mengambil ponsel. “Coba aku tanya Mas Stepen dulu.” Nimo kemudian mengetik pesan teks untuk Stepen. Tak lama kemudian ponselnya berdering.
“Halo, Mas.”
“Halo, Nimo,” sapa Stepen dari seberang telepon. “Aku sudah kirim beberapa lokasi yang aku dapat dari internet, kalian cek saja nanti ke lokasi-lokasi itu. Oh iya, ada yang dibilang mertuaku pada kalian?”
“Baik, Mas, terima kasih. Ada, Mas,” jawab Nimo. “Mertua Mas membuat kaget pagi-pagi.”
Terdengar tawa Stepen. “Aku juga kaget awalnya, Nimo, tapi Beliau tampaknya memang serius soal itu. Semoga kalian berhasil, ya.”
“Iya, Mas. Nanti kalau di lokasi-lokasi yang Mas kirim tidak ketemu, kami akan tanya-tanya.”
“Okay, Nimo.”
Tepat setelah Stepen mematikan telepon, Pak Purnomo datang ke teras. “Sudah siap. Bensinnya juga cukup. Ayo Prapto, Nimo!” ajaknya.
Prapto dan Nimo berdiri. Mereka saling pandang sebentar lalu melangkah ke mobil.
***
Di perjalanan, Pak Purnomo, Prapto, dan Nimo mengobrol tentang melukis, makanan, dan tentang musik rock.
“Aku suka Soldier of Fortune-nya Deep Purple. Kalian tahu lagu itu?” tanya Pak Purnomo.
“Yang ini bukan, Pak?” Prapto menyambungkan kabel speaker mobil ke ponselnya lalu memutar lagu yang barusan dibilang Pak Purnomo.
“Tepat sekali!” kata Pak Purnomo, tersenyum. Ia langsung mengikuti lagu tersebut sambil mengemudi.
__ADS_1
Prapto dan Nimo memperhatikan betapa Pak Purnomo begitu menghayati lagu tersebut, sambil mereka memikirkan kata-kata Pak Oscar tadi.