Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
92. Mobil Tua Pak Oscar


__ADS_3

Prapto dan Pinaka tiba di halaman rumah mereka. Pinaka turun dan melangkah ke rumah untuk membuka pintu, sementara Prapto terus memarkir motor ke teras supaya menjelang malam ia tidak perlu jauh-jauh memasukkan motor.


“Mas mau minum kopi?” tanya Pinaka setelah membuka kunci pintu.


“Iya, Pinaka.” Prapto tersenyum. Ia duduk di kursi teras dan menggulir ponsel.


Tak lama Prapto menggulir ponsel, Pinaka datang membawa segelas kopi dan teh hangat, lalu ikut duduk.


Prapto melihat istrinya, mengerutkan wajah, dan bertanya, “Kau lupa menaruh tas, Pinaka?”


Pinaka tersipu. Ia tersenyum, lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya pada Prapto. “Aku membuat ini untuk Mas,” katanya.


Prapto menatap Pinaka sambil mengambil lipatan kain yang diberikannya. Ia mengangkat kain tersebut lalu mengembangkannya.


“Syal,” ucap Prapto.


“Mas suka? Warnanya tidak apa-apa?” tanya Pinaka. Ia deg-degan menunggu jawaban Prapto.


Prapto tersenyum. Ia melipat syal tersebut lalu mengalungkannya ke leher. “Aku suka bentuknya yang simpel dan juga warnanya yang cokelat gelap. Terima kasih, Pinaka.”


Wajah Pinaka berseri. “Benar Mas suka? Tidak sekadar untuk menghiburku, kan?”


Prapto mengangguk. “Aku memang suka, Pinaka.”


“Syukurlah. Aku senang Mas suka. Aku sengaja memilih warna cokelat gelap karena Mas tidak suka warna yang merah. Dan juga, warna ini akan cocok dengan semua baju Mas.” Pinaka kembali memperhatikan syal buatannya.


“Bagaimana pelajaran membuat kain alaminya, Pinaka. Kau suka?” Prapto menyulut rokoknya.


“Suka, Mas. Lain serunya dengan memasak. Produksi kain alami yang selanjutnya akan dijual. Kata Bu Rena, ia masih menunggu permintaan jenis kain dari Bu Irin. Setelah itu, warga nanti akan membuatnya di rumah masing-masing. Bu Rena dan Pak Purnomo lah yang akan berkeliling desa memantau pembuatan kainnya.”


“Keren,” sahut Prapto. “Apa nanti akan ada pembuatan produk selain pkaian, Pinaka?”


Pinaka meletakkan gelas teh yang baru diteguknya. “Ada, Mas. Nanti juga akan membuat dompet, tas, gorden, dan lain sebagainya.”

__ADS_1


Mereka terus mengobrol, bercanda, dan tertawa sampai malam turun dengan tirai gelapnya.


***


Lampu-lampu penerangan sudah dinyalakan di seluruh rumah dan bangunan yang ada di desa Kejora. Begitu juga dengan lampu-lampu jalan. Dan di udara, titik-titik bergerak berkerlap-kelip, yang berasal dari kunang-kunang, menambah indahnya pendar desa Kejora pada malam itu.


Di halaman rumahnya, Pak Oscar tengah berdiri memerhatikan mobil sedan tua yang cat-nya sudah memudar dan kurang mengkilap meskipun sudah ditimpa cahaya bulan.


Bu Kades muncul dari balik pintu menaruh segelas kopi dan teh hangat di meja teras. “Minum dulu, Pak,” katanya. Ia duduk dan memperhatikan suaminya memandangi mobil. “Mobil kita rusak, Pak?”


Pak Oscar menghela napas, menggeleng. “Tidak, Bu. Aku memerhatikan catnya, sudah banyak yang pudar.” Ia lalu berbalik dan melangkah ke teras sambil menyulut cangklong.


Bu Inari tersenyum melihat cangklong suaminya masih belum nyala sampai di teras. “Mana bisa nyala apinya, Pak, kalau disulut sambil jalan begitu. Angin lumayan kencang.”


Pak Oscar duduk. Ia tersenyum tanpa melepas cangklong dari mulutnya dan kembali menyulut. Setelah menghembuskan asap, ia berkata, “Iya, Bu Kades. Coba kau perhatikan mobil kita, Bu. Sudah tua, pudar pula, bukan?”


Bu Inari memperhatikan mobilnya. “Iya, Pak. Tapi mesinnya ‘kan masih sehat, hanya warnanya saja yang pudar.” Ia kembali menoleh pada suaminya. “Apa Bapak ingin membeli mobil baru?”


“Tidak, Bu. Aku hanya ingin mengecat ulang mobil kita ini dengan warna baru, warna kuning muda. Bagaimana menurutmu?”


Pak Oscar mengangguk-angguk. “Tapi sepertinya susah mencari warna itu, Bu. Tadi sudah aku cek di internet, tak ada satu pun yang menjual warna itu. Apa harus diimpor dari luar negeri, ya, Bu?


“Bisa jadi, Pak. Tapi masa’ di Endonesa tidak ada yang menjualnya?”


“Kakek! Nenek!”


Pak Oscar dan Bu Inari menoleh ke pintu pagar mendengar sorakan cucu mereka.


Stepen memarkir motornya. Ia, Lastri, dan Lapen melangkah ke teras menyalami Pak Oscar dan Bu Inari.


“Malam ini aku tidur dengan Kakek dan Nenek, ya,” kata Lapen setelah naik ke pangkuan Pak Oscar.


Pak Oscar dan Bu Inari mengangguk tersenyum. Mereka selalu senang bila anak, menantu, dan cucu mereka datang.

__ADS_1


Stepen kemudian ikut duduk, sedangkan Lastri ke dalam rumah mengambil piring untuk menyalin kue bolu yang ia bawa, sekalian membuatkan minum untuk suaminya.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Nimo dan Arini sudah tiba di rumah Prapto. Mereka berdua mengenakan caping, sama seperti Pinaka dan Prapto yang sudah duduk di teras dengan caping di kepala masing-masing.


“Awannya sedikit mendung, Bos, tampaknya hari ini akan menjadi hari yang sejuk untuk panen,” kata Nimo. Ia dan Arini lalu duduk.


Prapto tersenyum. “Iya, Nimo. Tadi malam Timo meneleponku menanyakan kapan truk Amerika bisa datang menjemput hasil ngebun dan olahan makanan desa Kejora. Aku bilang padanya kira-kira seminggu lagi. Benar, kan?”


“Benar, Bos. Pak Koswara ayahnya Lennon juga belum selesai panen. Dan di jalan ke sini tadi aku lihat beberapa kebun juga belum dipanen.”


Prapto mengangguk-angguk. “Menurutmu panen kita bisa selesai hari ini, Nimo?”


“Bisa, Bos. Kita ‘kan panennya berempat.”


Arini dan Pinaka yang tadi pergi ke dalam untuk membuat empat gelas kopi sudah kembali ke teras. Mereka mengobrol sampai kopi habis lalu memulai panen kebun.


Seperti perkiraan Nimo, mereka selesai panen pukul empat sore. Semua hasil kebun dikumpulkan di bangunan penyimpanan.


Setelah panen, Pinaka dan Arini membuat kain alami bersama di teras. Bu Rena barusan menelepon Pinaka, mengatakan bahwa Bu Irin telah menentukan empat macam olahan kain alami yang dipesan oleh perusahaannya.


Sedangkan Prapto dan Nimo, mereka pergi ke rumah Pak Oscar untuk memberi laporan selesai panen, yang nanti akan dicatat oleh kepala desa Kejora tetsebut.


***


Sesampainya di rumah Pak Oscar, Prapto dan Nimo melihat kepala desa Kejora itu duduk di atas tembok pembatas teras, menghadap ke mobil tuanya sambil menyantap makanan.


“Lapor, Pak Oscar, kebun kami telah selesai dipanen,” sorak Nimo, sambil memarkir sepeda.


“Kenapa tidak makan di meja, Pak Kades?” tanya Prapto.


Pak Oscar yang sedang mengunyah memberi isyarat dengan tangan kanannya untuk mempersilakan Prapto dan Nimo duduk. Ia lalu pindah duduk ke kursi. Setelah selesai mengunyah, Pak Oscar menceritakan tentang warna cat mobil yang tidak ia temukan.

__ADS_1


“Apa cuma di luar negeri ada warna itu, Nak Prapto, Nak Nimo?” Pak Oscar menutup ceritanya dengan pertanyaan.


Prapto tersenyum. “Tidak, Pak Kades. Begini caranya ...”


__ADS_2