
"Ketiga bocah itu baik sekali, Nimo. Mereka memberi kita ikan cukup banyak. Kau tidak lupa membawanya, kan?" tanya Prapto pada Nimo, sambil menaburkan makanan ayam.
"Ada, Bos. Nanti kita masak. Ibu juga memberikan bumbunya agar kita bisa makan lezat setelah mengurus kebun nanti,” jawab Nimo. "Bos, tolong buka artikel tentang cara penanaman sayuran Jepang ini. Aku ambil dulu bibitnya ke bangunan perlengkapan."
"Iya, Nimo. Sekalian tolong bawakan rokokku di meja depan dapur, ya."
Prapto terus melangkah ke rumah sapi perah lalu membawa sepasang sapi tersebut ke luar. "Kalian semakin gemuk saja," ujar Prapto tersenyum. “Nah, setelah sarapan, bermainlah ke sekeliling kebun!"
Sepasang sapi itu bersuara seolah-olah mereka mengiyakan perkataan Prapto.
"Ini, Bos," kata Nimo, begitu ia tiba di dekat Prapto.
Prapto menyulut rokoknya lalu menggulir ponsel. "Ini, Nimo." Prapto memperlihatkan artikel tentang cara menanam sayuran Jepang yang ada di layar ponselnya pada.
Setelah membacanya sebentar, Nimo mengangguk-angguk. "Ayo, Bos, kita mulai!" ajaknya.
Mereka lalu menanam sayuran Jepang di bagian kebun yang berdekatan dengan dinding pembatas lahan.
Pertanian alami tidak menggunakan metode olah tanah seperti membajak dan mencangkul. Prapto dan Nimo hanya menggali lubang lalu menanam bibit sayuran.
***
"Akhirnya selesai juga, Bos," ujar Nimo, yang baru saja meletakkan dua gelas kopi panas di atas meja.
"Iya, Nimo. Semoga bibit-bibit sayuran Jepang itu akan tumbuh subur nanti."
"Tampaknya nanti sore akan hujan, Bos. Bibit-bibit sayuran itu akan senang. Oh iya, Bos. Ayah besok akan panen padi. Bos mau ikut? Nanti setelah selesai mengirik padi, kita bisa membawa jeraminya untuk ditaburkan di lahan belakang yang akan kita jadikan sawah."
"Aku akan ikut, Nimo. Nanti kita buat pengairan sawahnya sekalian dengan membuat kolam ikan saja, bagaimana?"
"Ide bagus, Bos. Ikannya kita beli ke Pak Kepala Desa saja nanti. Beliau punya banyak ikan hias," kata Nimo.
"Iya, kita beli ke Pak Oscar saja. Ayo, kita goreng ikan yang diberikan tiga sahabat itu, Nimo!" ajak Prapto.
"Ayo, Bos! Aku juga lapar," sahut Nimo.
__ADS_1
***
Pukul setengah tiga sore, Prapto mengayuh sepedanya ke perpustakaan. Selain ingin membaca buku yang berhubungan dengan ikan-ikan sungai, tentu saja, ia ingin melihat wajah manisnya Pinaka.
Prapto masuk ke perpustakaan setelah memarkirkan sepedanya. Di dalam perpustakaan, anak-anak dan ibu-ibu tampak asyik membaca. Prapto melihat-lihat ke sekitar untuk mencari keberadaan Pinaka.
"Mencari buku apa, Mas?" tanya Pinaka, yang baru saja selesai menjelaskan isi buku pada Kinan, anaknya Bu Ani.
Prapto menoleh. "Aku kira kau di ruanganmu tadi, Pinaka. Aku sedang mencari buku tentang ikan-ikan sungai," jawab Prapto, tersenyum.
"Tumben?" sahut Pinaka.
Prapto tersenyum. "Kemarin aku kalah memancing dari Lapen dan kedua sahabatnya.”
"Sebentar, Mas, aku carikan," kata Pinaka. "Duduklah dulu."
Prapto mengambil bangku lalu menggesernya ke depan meja Pinaka. Tak lama setelah itu, Pinaka datang membawa tiga buah buku.
"Coba Mas pilih. Aku ke dapur sebentar," kata Pinaka. Ia lalu masuk ke ruangannya.
"Silakan disantap, Mas." Pinaka meletakkan segelas kopi dan segelas teh serta sepiring kentang goreng yang warnanya kehitaman. "Aku tadi memasak kentang goreng telur kecap, Mas, Bu Harni yang mengajarkan resepnya."
Prapto tersenyum. Ia lalu mengambil kentang goreng tersebut lalu memakannya. "Lezat, Pinaka. Ngomong-ngomong, aku tidak pernah melihat menu ini di Jakarta. Kau pernah lihat?"
"Syukurlah kalau lezat," kata Pinaka. "Tidak, Mas. Rasanya sudah lumayan banyak warung dan restoran di Jakarta yang aku kunjungi, tapi aku tak pernah melihat menu ini. Kata Bu Harni, ini adalah menu ciptaannya sendiri."
Prapto tertawa setelah mengunyah kentang telur kecap. "Ternyata, selain pandai bercerita, Bu Harni hebat memasak juga, ya," sahut Prapto, tertawa.
"Jangan keras-keras, Mas. Bu Harni ada di sini," kata Pinaka dengan suara pelan.
Prapto tertawa sambil mengangguk-angguk. "Minggu besok kau pulang, Pinaka?" tanyanya.
"Iya, Mas. Tapi tak bermalam di rumah. Aku akan pergi pagi lalu balik ke sini sore."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Ayah dan Ibuku besoknya, pagi-pagi sekali akan berangkat ke luar kota untuk menghadiri acara pernikahan teman Ayah," jawab Pinaka.
"Aku ikut, ya. Aku kan berhutang pergi ke rumahmu," kata Prapto. Ia lalu menyuap kentang goreng lagi.
"Okay, Mas. Hutang bagaimana, Mas?" tanya Pinaka heran.
"Waktu kita ke Jakarta waktu itu, kau 'kan tidak pulang, kita pergi ke rumahku. Nah, kali ini aku yang tidak akan pulang dan pergi ke rumahmu," terang Prapto.
Pinaka tertawa. "Mas Prapto ada-ada saja," katanya. "Rencananya aku pulang dua hari lagi, Mas."
"Baiklah, Pinaka. Besok aku juga akan membantu ayah Nimo panen padi dulu."
Pinaka tersenyum manis, ketika ia memperhatikan Prapto mulai membaca buku dengan wajah yang serius.
***
Keesokan harinya, setelah memberi makan ternak mereka, Prapto dan Nimo segera bersepeda ke rumah Pak Dwipangga untuk membantu ayah Nimo itu memanen padi.
Prapto diberikan sebuah sabit bergerigi oleh Pak Dwipangga. Katanya, "Tak usah kuat-kuat menyabitnya, Nak Prapto. Sabit ini sangat tajam. Nanti setelah padi yang kau sabit sudah penuh di tempat kau meletakkannya, langsung saja bawa ke bangunan penyimpan hasil panen. Setelah semuanya selesai, kita akan mengiriknya nanti."
"Baik, Pak Dwipangga," jawab Prapto.
Pak Dwipangga kembali ke sawahnya, dimana Nimo dan Bu Kinasih sudah mulai menyabit padi. Prapto menatapi langit mendung sejenak lalu menyulut rokoknya sebelum melangkah ke sawah.
Cuaca pagi itu sejuk, karena matahari belum tampak sejak pagi. Panen padi Pak Dwipangga sudah berjalan sejauh enam puluh persen ketika hari sudah siang. Mereka kemudian berhenti sebentar untuk menyantap makanan.
Setelah semuanya duduk di atas tikar yang digelar oleh Nimo, dari pintu kebun tampak Arini datang membawa beberapa kotak makanan. Arini kemudian duduk di samping Bu Kinasih setelah menyalaminya dan Pak Dwipangga.
"Ini dari Ibu, Bu Kinasih," kata Arini sambil membuka kotak makanannya.
"Sampaikan terima kasih kami pada Bu Ina dan Pak Uto, ya. Ayo, ikut makan, Arini!" Ajak Bu Kinasih.
Arini mengangguk tersenyum. Setelah tersenyum pada Nimo sekilas, ia lalu ikut makan.
Sambil makan, Prapto membayangkan dirinya nanti juga diajak makan oleh orang tua Pinaka dan ia mungkin akan mengobrol akrab dengan ayah Pinaka yang merupakan seorang pebisnis. Tapi, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di dalam kepala Prapto.
__ADS_1
'Aku akan jawab apa nanti jika orang tua Pinaka bertanya aku ini lajang atau seorang duda?' tanya Prapto pada dirinya sendiri. 'Tapi, rasanya tak mungkin mereka akan menanyakannya langsung padaku, bahkan mungkin mereka tidak terpikirkan untuk bertanya tentang hal itu. Entah lah ... Jika benar aku ditanya, apa susahnya untuk menjawab?'