
Pak Uto menyulut rokoknya. Ia meneguk kopi lalu menatap lurus pada Nimo dengan pandangan lembut namun tegas. Nimo menunduk. Ia bingung harus berkata dan berbuat apa. Niatnya untuk meneguk kopi pun ia batalkan.
Nimo jadi canggung. Bagaimanapun, Pak Uto adalah ayah dari gadis yang ia sukai.
Prapto pura-pura melihat ke belakang untuk melepaskan tawa tanpa suara. Ia sudah menahan tawa sejak tadi, sejak Nimo salah tingkah, dan sejak ia tahu bahwa Pak Uto sengaja membuat Nimo makin canggung dengan terus melihatnya tanpa mengatakan apa-apa.
Udara mendung menjadi semakin dingin bagi Nimo. Apalagi setelah ia mencoba-coba untuk menduga apa yang akan dikatakan oleh Pak Uto. Banyak dugaan yang bergelut dalam pikiran Nimo, salah satunya adalah dugaan bahwa Pak Uto akan mengutarakan keberatannya tentang kedekatan Nimo dengan Arini.
Meskipun dugaan atas keberatan Pak Uto itu adalah dugaan yang konyol, karena dilihat dari bagaimana bijaksananya Pak Uto ia tak mungkin mengatakannya di depan Prapto, tapi tetap saja bagi Nimo itu mungkin. Bagi Nimo yang sedang jatuh cinta, dugaan seperti itu sangat bisa menjadi amat mungkin. Itulah cinta.
"Aku sengaja meminta Ina untuk mengajak Arini ke dalam, Nak Nimo," kata Pak Uto. Ia lalu menghisap rokoknya. "Ada yang ingin aku katakan pada Nak Nimo tentang kedekatanmu dengan Arini. Tidak apa-apa kalau aku mengatakannya di depan Nak Prapto?"
Nimo ingin memalingkan wajahnya ke belakang lalu berteriak karena ia amat canggung, tapi Nimo menahannya. Nasihat Pak Oscar tentang bagaimana cara bersikap pada orang tua dari gadis yang disukai, membuat Nimo akhirnya mengangguk. "Tidak apa-apa, Pak Uto. Bos Prapto adalah sahabat karibku," jawabnya.
Prapto membetulkan duduknya. Ia pun jadi ikut menduga-duga apa yang akan disampaikan oleh Pak Uto.
"Aku tahu bahwa Nak Nimo punya rasa pada putriku. Dan aku lihat, Arini pun senang jika Nak Nimo berkunjung ke sini. Jadi, bila Nak Nimo serius dengan Arini, katakanlah pada Pak Dwipangga dan Bu Kinasih bahwa kau menyukai Arini.
"Jadi, apa Nak Nimo serius dengan putriku? Jika iya, aku bisa segera memberi tanda di atap teras."
Nimo tertegun. Ia tidak menyangka akan ditanyai dengan terus terang begini. Tapi Nimo tahu, ia tidak boleh lama-lama menjawab, agar ia tidak terkesan ragu tentang keseriusannya sendiri pada Arini. "Aku serius pada Arini, Pak Uto. Sepulang dari sini aku akan memberi tahu Ayah dan Ibu."
Pak Uto tersenyum lalu mengangguk-angguk. "Aku tidak meminta kalian cepat-cepat menikah, kok, Nak Nimo. Aku tahu kau masih punya misi dengan Nak Prapto untuk desa Kejora. Aku hanya menanyakan keseriusan Nak Nimo pada anakku.
"Aku juga tidak menanya berapa uangmu. Aku hanya perlu keseriusanmu dan kualitasmu sebagai calon pemimpin rumah tangga, Nak Nimo. Yang penting kau tidak malas mencari nafkah untuk membuat dapur kalian nanti tetap ngebul. Soal uang .... kau pasti sudah tahu bagaimana pikiran dan sikap warga desa Kejora dalam memandang uang."
Nimo senang sekali. Raut wajahnya jadi gembira. "Terima kasih, Pak Uto," katanya.
Pak Uto kembali mengangguk-angguk.
__ADS_1
***
"Bos, dari mana aku harus mulai ketika mengatakannya pada Ayah dan Ibu nanti?” tanya Nimo.
Prapto dan Nimo kini tengah duduk di teras Nimo sambil menunggu Pak Diwpangga dan Bu Kinasih pulang dari kebun.
"Ya, tinggal dikatakan saja, Nimo. Apa susahnya?"
"Aku malu, Bos. Bos, bantu, ya," pinta Nimo. "Nanti aku belikan rokok."
Prapto tertawa. "Harus kau yang mengatakannya, Nimo."
"Kau membuka obrolannya saja, Bos, nanti selebihnya aku yang akan bicara," tawar Nimo.
"Okay lah. Biar nanti aku yang membuka obrolan pada orang tuamu. Setelah mendapat restu dari Pak Uto, apa kau berencana menikah dalam waktu dekat, Nimo?" tanya Prapto.
"Kapan waktunya belum aku pikirkan, Bos. Setidaknya sampai kerja sama bisnis antara desa Kejora dengan Pak Gumiro sudah mulai jalan, aku belum akan menikah," jawab Nimo. "Tidak apa-apa kalau nanti hanya kau sendiri yang ditertawakan oleh Lapen dengan kata 'jomblo', Bos?"
"Tanda itu biasanya berupa simbol bunga yang dibuat dari ukiran kayu atau dari pita, Bos. Jika ada simbol demikian di atap teras rumah, itu berarti anak wanita di rumah tersebut sudah mempunyai calon suami, supaya tidak ada yang datang untuk melamarnya," terang Nimo.
Prapto mengangguk-angguk. "Itu keren," sahutnya. “Itu ayah dan ibumu pulang, Nimo." Prapto menunjuk ke arah Pak Dwipanggan dan Bu Kinasih yang berjalan sambil mengobrol.
"Sudah lama datang, Nak Prapto?" tanya Pak Dwipangga, tersenyum.
"Belum, Pak Dwipangga. Pak, bisa Bapak dan Ibu duduk dulu? Ada yang mau dikatakan oleh Nimo," kata Prapto tanpa tedeng aling-aling. Nimo menoleh lalu membelalakkan matanya pada Prapto.
Bu Kinasih mendapat firasat. Ia lalu duduk duluan dan menatap Nimo dengan tersenyum. "Kau mau bilang apa, Nak?"
Setelah ayahnya ikut duduk, Nimo menceritakan pembicaraannya dengan Pak Uto tadi. Ia bercerita sambil sesekali menunduk karena malu.
__ADS_1
Bu Kinasih menatap Pak Dwipangga. Mereka tertawa. "Baru beberapa hari yang lalu kami membicarakanmu dengan Arini, Nimo," kata Pak Dwipangga. "Jadi, kau serius apa tidak pada Arini?"
Nimo mengangguk.
"Jawab yang jelas, Nimo. Masa' kau mengangguk-angguk begitu," kata Bu Kinasih.
Prapto tertawa. Nimo lalu berkata, "Aku serius, Yah, Bu. Aku minta restu Ayah dan Ibu."
"Nah, begitu," sahut Pak Dwipangga. "Kapan kau akan melamar Arini? Biar aku sesuaikan harinya dengan panen padi. Aku akan menanam lebih banyak padi untuk keperluan acara pernikahanmu nanti."
Nimo berpikir sejenak. "Setelah kerja sama bisnis dengan Pak Gumiro sudah mulai jalan, Yah."
"Baiklah," kata Pak Dwipangga. Ia lalu menoleh pada Prapto. "Kau kapan, Nak Prapto?"
"Belum tahu, Pak," jawab Prapto, tertawa. Semua yang ada di teras itu ikut tertawa.
***
Sore itu, di Jakarta, Timo dan Pak Gumiro sedang berada di sebuah dealer truk. Mereka akan membeli sebuah truk untuk membawa hasil panen dari desa Kejora ke Jakarta. Di dealer tersebut dijual truk baru dan juga truk second.
Di deretan sebelah kiri adalah truk-truk baru yang kebanyakan bermodel Eropa. Sedangkan di deretan sebelah kanan merupakan deretan truk second bermodel Amerika.
"Mana yang bagus menurutmu, Timo?" tanya Pak Gumiro.
"Aku suka truk model Amerika, Ayah. Yang warna hitam itu," kata Nimo. Ia menunjuk ke sebuah truk model Amerika yang berwarna hitam, yang terletak di deretan paling ujung.
"Kau yakin?"
Nimo mengangguk. "Yakin, Yah."
__ADS_1
"Baiklah." Pak Gumiro lalu melangkah ke meja pembayaran.
Tapi Timo segera mencegah ayahnya, setelah ia melihat sosok yang duduk di meja pembayaran. "Aku saja, Yah. Ayah bagian tanda tangannya saja, nanti," katanya. Timo lalu melangkah mendahului sang ayah.