
Prapto mengernyitkan wajah. "Ujian terakhir bagaimana maksudnya, Pak Purnomo?"
Pak Purnomo menyulut rokoknya lalu memasang wajah serius. "Kau ‘kan akan menikah dengan Pinaka bulan depan, Prapto. Ajak dia bercerita lalu selipkan cerita tentang kau sedang kekurangan uang untuk menyelesaikan pembangunan rumah. Jika Pinaka menawarkan bantuan tanpa kau minta, berarti dia lolos ujian terakhir.
Artinya, walaupun nanti ekonomimu jatuh seperti ekonomi-nya Oscar dulu, Pinaka tidak akan meninggalkanmu dan cintanya padamu tidak akan berkurang sedikit pun. Mendiang istriku juga orang kota, Prapto, dan aku mengujinya dengan cara itu.”
Prapto berpikir sejenak. Sementara itu, Nimo menatap pamannya dengan pandangan bertanya.
“Kau tidak perlu menguji Arini, Nimo,” kata Pak Purnomo, tertawa. “Wanita di desa Kejora tidak diragukan lagi kesetiaannya dalam keadaan ekonomi yang bagaimanapun. Oh iya, kau kapan menikah? Serentak dengan Prapto?”
“Aku tak meragukan Arini, Paman. Pembangunan rumahku sudah dibantu dia dan orang tuanya,” jawab Nimo. “Itulah yang masih aku pikirkan, Paman. Apa sebaiknya kami menikah serentak saja? Tapi ‘kan jarak rumah Bos Prapto dengan rumahku cukup jauh.”
Pak Purnomo tertawa. “Caranya mudah, Nimo. Kalian ini ‘kan petani, jadi akan lebih cocok bila acara pernikahan kalian diadakan di kebun ini saja, nanti kalian dan istri pakai topi jerami. Lagi pula, acara pernikahan di desa Kejora ‘kan sederhana, cuma makan-makan saja setelah para warga memberikan kado pernikahan.”
“Benar juga, ya, Paman,” sahut Nimo. “Aku setuju, begitu saja. Bagaimana denganmu, Bos?” Tak terdengar jawaban. Pak Purnomo dan Nimo tersenyum melihat Prapto yang masih tampak berpikir sambil menunduk.
Tak lama kemudian Prapto mengangkat kepalanya. “Aku setuju, Pak. Aku akan memberi Pinaka ujian terakhir.”
Pak Purnomo dan Nimo tertawa. Nimo kembali mengulang penjelasan Pak Purnomo. “Bos setuju?” tanyanya.
Prapto tertawa sambil menggaruk kepala. “Aku setuju, Nimo. Begitu akan lebih simpel, lebih meriah, dan lebih ngebun.” Ia lalu berdiri. “Aku pamit dulu, Pak Purnomo, Nimo. “Aku akan memberi ujian terakhir pada Pinaka.”
Pak Purnomo dan Nimo tersenyum sambil menatap punggung Prapto. Ia terus berjalan menuju sepedanya, meraih setangnya, lalu mengayuhnya tanpa menoleh lagi. Yang ada di pikiran Prapto sekarang hanya lah rambut panjang Pinaka dan senyum manis gadis itu.
****
Angin pun bertiup lebih kencang. Dedaunan, ranting pohon, dan bunga-bunga gemerisik. Tiupan angin itu mendinginkan hati Prapto yang deg-degan karena akan menguji Pinaka.
__ADS_1
“Bagaimana, ya cara bilangnya? Kalau aku minta tolong langsung, bukan ujian lagi namanya. Mau balik ke kebun untuk minta saran Pak Purnomo sudah setengah jalan pula.” Prapto bergumam sendiri.
Kalau tentang ide bisnis, Prapto tak akan begitu sulit mencarinya karena ia memang cerdas. Ide bisnis mudah didapat oleh Prapto dengan memutar otak. Tapi ini tentang cinta, ide cinta, dan soal cinta tidak bisa hanya pakai otak, tapi juga harus pakai hati.
"Ya, pakai hati,” gumam Prapto. Ia kemudian menutup matanya ..........
“Prapto!!!”
Suara teriakan barusan membuat Prapto membuka matanya. Lalu tanpa pikir panjang dan dengan wajah panik ia mengerem sepedanya kuat-kuat sambil menurunkan kaki kiri untuk ikut menghentikan laju sepeda.
Sepeda Prapto berhenti dalam keadaan melintang, hanya berjarak dua jengkal dari motor matic di depannya.
“Ma... maaf Mas Stepen,” ucap Prapto.
Stepen mengajak Prapto menepi ke pinggir parit yang membatasi sawah dengan jalan desa. “Kau ketiduran, Prapto?” tanyanya.
Tapi Stepen nampaknya paham. Ia tersenyum dan berkata, “Kalau begitu, apa yang sedang kau pikirkan? Ayo cerita!” Ia menurunkan standar motornya lalu mengajak Prapto duduk di tepi parit. Prapto duduk di samping Stepen. Di depan mereka membentang hamparan kuning dari padi yang bila dilihat dari warnanya paling lama bulan depan akan bisa dipanen.
Setelah menatap sawah sebentar, Stepen memberi isyarat meminta rokok dengan tangannya. Prapto meraih kantong kemejanya, lalu katanya, “Rokokku ketinggalan di kebun, Mas.”
Stepen tertawa. Ia lalu meraih kantong kemeja dan mengulurkan bungkus rokok pada Prapto yang kini menatapnya heran. “Aku kira tadi aku lupa bawa rokok, Prapto. Ternyata ada. Jangan salah sangka, aku tidak pelit, kok.” Stepen kembali tertawa.
Prapto mengangguk setelah Stepen menyulutkan rokoknya. “Terima kasih, Mas,” katanya. Ia lalu menceritakan tentang rencananya memberi Pinaka ujian terakhir. “Jadi aku memejamkan mata tadi untuk mencari ide dengan hati, Mas,” tutup Prapto.
Lagi-lagi Stepen tertawa. Ia menepuk bahu Prpato. “Aku juga sering memejamkan mata karena rindu pada Lastri, Prapto. Aku punya ide untukmu,” kata Stepen.
Wajah Prapto berseri. Ia mendengarkan penuturan Stepen dengan penuh semangat. Setelah Stepen selesai menjalaskan, mereka naik ke kendaraan masing-masing.
__ADS_1
“Terima kasih, Mas Stepen. Terima kasih juga untuk rokoknya,” ucap Prapto.
“Sama-sama, Prapto.” Setelah melempar senyum, Stepen pun berlalu.
Prapto menatap langit sore yang cerah. Ia tersenyum sebentar lalu mengayuh sepedanya. Yang ada di pikirannya hanya Pinaka, tak ada selain Pinaka, hingga sapaan Lapen yang berpapasan dengannya pun tidak dihiraukan oleh Prapto.
Lapen menghentikan sepedanya. "Apa sebaiknya kita ikuti Paman Prapto?" tanyanya pada Taro dan Lennon.
Lennon menggeleng. "Kali ini tidak usah, Lapen. Tampaknya Paman Prapto dan Pinaka akan membicarakan hal yang serius, mereka akan terganggu dengan kehadiran kita."
"Makin lama kalian makin seperti kakek-kakek di desa kita," celutuk Taro. Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi ia mengayuh sepedanya.
***
Seperti biasa, perpustakaan desa Kejora selalu ramai pengunjungnya. Selain karena warga desa Kejora di segala usia memang suka membaca, juga karena buku-buku di perpustakaan desa Kejora selalu ada yang baru. Pak Rodi dan Pak Nirwana lah yang selalu memperbaharuinya. Pada waktu tertentu, kedua orang tua itu akan memesan buku baru.
Prapto memarkirkan sepedanya di bawah pohon besar yang ada di dekat pagar lalu menghampiri Pak Rodi dan Pak Nirwana. "Selamat sore, Pak. Ada buku baru, ya, Pak?" tanya Prapto setelah menyulut rokoknya.
Pak Nirwana mengangguk. "Iya, Nak Prapto. Ada tambahan cerita silat, buku resep masakan, dan buku tentang beternak. Nak Prapto dari mana?"
"Dari kebun, Pak," jawab Prapto dengan wajah malu-malu.
Pak Rodi tersenyum pada Pak Dwipangga lalu melempar senyumnya yang belum usai tersebut pada Prapto. "Ya sudah, silakan ke dalam. Kau mau bicara pada Pinaka, kan?"
Prapto tertawa. "Iya, Pak. Aku masuk dulu, ya, Pak Nirwana, Pak Rodi."
Di mejanya, Pinaka tampak tengah menerangkan isi buku pada seorang anak perempuan. Ia tidak mendengar kedatangan Prapto yang tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapannya. "Eh, Mas Prapto kapan datang?" tanya Pinaka tersenyum. "Sebentar, ya, aku terangkan sedikit lagi pada Kinan baru aku buatkan minum."
__ADS_1
Prapto tersenyum, mengangguk. Ia mengusap rambut Kinan lalu pergi melihat-lihat buku baru.