Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
55. Selamat Sore, Pinaka


__ADS_3

Pinaka baru saja selesai menutup pintu perpustakaan, ketika ponselnya berdering oleh panggilan telepon atas nama Silvi. Ia meletakkan ponsel ke meja dan meneruskan membuat teh. Telepon dari Silvi kembali berdering. Pinaka menghela napas lalu mengambil ponselnya.


"Halo," sapa Pinaka, ragu-ragu.


"Halo, Pinaka. Selamat sore. Ini aku, Silvi."


"Dan aku Rini, teman Silvi sekaligus saksi hidup perceraian Silvi dan Prapto."


Pinaka mengernyitkan kening. Kenapa Silvi harus meneleponnya berdua dengan Rini?


Setelah berbasa-basi sebentar, Rini dan Silvi saling bergantian menceritakan pada Pinaka tentang alasan Silvi dan Prapto bercerai, berdasarkan dengan karangan yang telah mereka rancang.


"Kalian serius? Tidak mungkin Mas Prapto seperti itu. Selama aku tinggal di sini, Mas Prapto tidak seperti yang kalian ceritakan, kok," kata Pinaka.


Terdengar tawa Rini di seberang telepon. "Sebelum Silvi menikah dengan Prapto, Prapto terkesan seperti pria yang paling setia di dunia ini, kok, Pinaka. Tapi setelah mereka menikah, aku yang paling tahu. Betapa seringnya Silvi menangis bercerita padaku tentang Prapto yang tidak setia padanya. Sekarang saja Silvi menangis di sampingku.


"Kami peduli padamu, Pinaka. Kami hanya tidak ingin kau merasakan kesedihan yang sama dengan Silvi. Kau tahu? Sejak menikah dengan Prapto, Silvi jadi sering berkunjung ke psikolog. Jika kau tidak percaya, tidak apa-apa, Pinaka. Tapi aku harap kau mempertimbangkan saran kami. Aku yang tutup telepon, ya, karena Silvi sedang menangis sekarang. Selamat sore."


Pinaka meletakkan ponselnya.


***


Rini dan Silvi tertawa.


"Kau dengar, kan, Sil? Pinaka bertanya, lalu dia bilang kalau dia tidak percaya Prapto itu seperti yang kita ceritakan. Itu tandanya Pinaka banyak percaya pada karangan kita."


"Benar. Rencanamu hebat, Rin," sahut Silvi.


“Tangis palsumu juga hebat.”


***


Prapto membawa gelas kopinya ke teras. Ia duduk dan memandangi halaman rumahnya. Pagi buta yang temaram perlahan terang disinari cahaya matahari, menampakkan wujud pohon serta dedaunannya yang menari pelan disapu angin pagi.


Prapto tersenyum mendengar kicau burung pertama di pagi hari itu. Ia menyulut rokok lalu mengambil harmonika.


"Ceria sekali kau sepertinya, Bos. Pagi-pagi sudah main harmonika," sapa Nimo, yang baru saja memarkirkan sepedanya. "Ada kopi untukku?"


"Ada, Nimo, di panci. Panaskan saja kalau kopinya sudah dingin."


"Terima kasih, Bos," sahut Nimo, tersenyum. Ia kemudian masuk ke rumah.


***


"Akhirnya selesai juga, Bos," kata Nimo. Ia lalu duduk bersandar di kursi depan bangunan dapur kebun.


"Iya, Nimo. Semoga bibit padi itu nanti tumbuh subur. Berapa lama padi akan bisa dipanen?"

__ADS_1


"Empat bulanan, Bos. Kita akan sama panen dengan Ayah nanti."


Prapto tersenyum. "Dan setelah panen kau akan menikah dengan Arini."


"Iya, Bos. Nanti kita undang Mas Timo dan gebetannya yang rambutnya disanggul itu."


"Nesia namanya, Nimo," kata Prapto, tertawa.


"Ngomong-ngomong, Mas Timo, kok, tidak pernah memasang raut wajah sok bijaksananya lagi, ya, Bos?"


Prapto tertawa. "Iya juga, ya, Nimo. Mungkin waktu itu dia bercermin ketika memasang raut wajah sok bijaksananya, lalu ia malu sendiri."


Nimo tertawa. Ia kemudian meneguk kopi.


"Oh iya, Nimo. Sore saja, ya, kita ke rumah Pak Kepala Desa membeli ikan. Aku mau ke perpustakaan dulu ngobrol dengan Pinaka," kata Prapto.


"Iya, Bos, sore saja. Sudah punya rencana kapan akan mengajak Pinaka menikah, Bos?" Nimo meluruskan duduknya.


"Sudah, Nimo. Semalam aku menelepon kedua orang tuaku dan juga Mang Kari membicarakan soal itu. Mereka sama-sama bilang tak usah menunggu lama kalau memang aku sudah merasa cocok dengan Pinaka."


Nimo mengangguk. "Iya, Bos, mereka benar. Apa Bos ke perpustakaan untuk menyatakan cinta pada Pinaka?"


Prapto tertawa. "Ada-ada saja kau, Nimo."


"Ya, kan, tadi malam Bos membahas pernikahan dengan orang tuamu dan Mang Kari."


"Bisa jadi, Nimo. Kalau aku menunggu kita kaya raya dulu, mungkin masih lama dan aku akan lebih sering mendengar kata jomblo dari Pak Oscar dan cucunya," kata Prapto, tertawa.


"Benar, Nimo." Prapto lalu memperhatikan rumah papannya. "Lagi pula, meskipun rumah orang tuaku dan rumah orang tua Pinaka tidak ada di desa Kejora, aku 'kan punya rumah papan yang keren ini. Ya sudah, aku pergi dulu, ya, Nimo. Terima kasih atas saranmu."


"Iya, Bos."


***


Prapto memarkir sepedanya di bawah pohon rindang di halaman perpustakaan. Ia tiba berbarengan dengan Lapen dan kedua sahabat sepaketnya.


"Hai, Paman Prapto!" sapa Lapen dan Taro. Di tengah-tengah mereka berdiri Lennon. Bocah itu tersenyum menganggguk menyapa Prapto.


Prapto tersenyum. "Tumben kalian baru datang ke perpustakaan jam segini?"


"Iya, Paman," jawab Lennon. "Kami tadi mencari kayu yang cocok untuk dijadikan joran pancing."


"Bukannya joran pancing kalian yang kemarin itu masih bagus?" tanya Prapto.


Mereka berjalan sama-sama ke teras perpustakaan.


"Iya, Paman. Tapi kami baca di buku ada joran yang lebih bagus dari yang kami gunakan kemarin," kata Lennon.

__ADS_1


"Kami 'kan kandidat utama yang akan memenangkan festival memancing, Paman. Tentu saja kami harus pakai joran yang bagus," imbuh Lapen.


"Memang ada hadiahnya?" tanya Prapto.


"Ada, Paman. Kata Kakek, tiga orang pemancing yang dapat ikan paling banyak akan mendapatkan hadiah. Tapi ada hadiah juga, kok, untuk pemancing yang tidak menang seperti Paman Prapto dan Paman Nimo nanti," kata Lapen. Bocah itu lalu menggerak-gerakkan alisnya.


"Kau meremehkanku, Lapen Oscario.” Prapto tertawa.


Ketiga sahabat itu juga tertawa. "Ya sudah, Paman," kata Lapen. "Kami masuk dulu, ya. Panggilkan Tante Pinaka, kan?"


Prapto kembali tertawa. "Nah, kau benar."


Tak lama kemudian, Pinaka telah muncul dari balik pintu perpustakaan. Tidak seperti biasanya, dimana ia akan menyapa Prapto ketika melihatnya, kini Pinaka hanya diam.


"Kau kenapa, Pinaka? Lama-lama memasang wajah cemberut begitu manismu bisa hilang nanti."


Pinaka menatap Prapto. "Aku tidak apa-apa, Mas. Aku tidak manis."


"Kau bertengkar dengan ayah dan ibumu?"


Pinaka menggeleng.


"Lalu kenapa wajahmu cemberut seperti itu?"


"Sudah aku bilang, Mas, aku tidak apa-apa," jawab Pinaka. Ia kemudian duduk di tembok teras perpustakaan, di depan Prapto.


Prapto yang tidak mengerti kenapa Pinaka cemberut, memilih untuk diam. Ia menyulut rokok lalu memandangi wajah Pinaka.


Mereka diam dan saling pandang sesekali untuk waktu yang cukup lama, hingga Pinaka kemudian berkata, "Mas Prapto tak usah mengunjungi aku lagi ke perpustakaan."


Prapto menatap Pinaka tepat pada matanya. "Aku tidak suka bicara berliku-liku dan bertele-tele begini, Pinaka. Katakan padaku, ada apa?"


"Tak ada apa-apa, Mas. Aku masuk dulu, Mas," kata Pinaka. Ia kemudian masuk ke perpustakaan.


Prapto mengangkat bahunya. Ia lalu bangkit dan mengayuh sepeda ke rumah Nimo.


***


Sesampainya di rumah Nimo, Prapto dan Nimo langsung pergi ke rumah Pak Oscar. Kepala desa Kejora itu tengah mengurus bunga-bunga dan tanaman yang ada di halaman rumahnya.


"Ayo kita ke kolam," ajak Pak Oscar. "Kalian pilih sendiri saja nanti ikannya. Aku beri bonus."


Nimo dan Prapto memilih ikan yang mereka sukai. Semua ikan berjumlah empat puluh ekor termasuk bonus yang diberikan Pak Oscar. Dua puluh ekor ikan hias dan dua puluh ekor ikan mujair.


Prapto dan Nimo memberikan uang dan berterima kasih pada Pak Oscar. Mereka kemudian bersepeda ke kebun sambil masing-masing membawa ember berisi ikan.


***

__ADS_1


Prapto melangkah ke teras rumahnya sambil membawa kopi panas dan sebuah buku yang beberapa hari lalu ia pinjam di perpustakaan. Ia menyulut rokok lalu memandangi hujan malam sejenak. Kemudian ia membuka buku. Tapi, belum selesai ia membaca paragraf pertama, ponsel Prapto berdentang.


Prapto meraih ponselnya dan melihat menu notifikasi. Tampak sebuah pesan teks dari Pinaka. Setelah membaca pesan teks itu sekilas, Prapto menutup bukunya.


__ADS_2