Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
41. Tiga Sayuran


__ADS_3

Timo membalikkan badannya. "Saya mencari buah-buahan yang banyak seratnya, Pak, tadi lupa," jawabnya.


Pengawas tersebut menatap Timo penuh selidik. "Bapak mencatat apa di ponsel? Dari tadi mencatat terus," tanyanya lagi.


"Ooh. Saya ini penyair, Pak. Saya selalu memegang ponsel agar ide-ide yang saya dapat bisa langsung saya catat. Takutnya hilang." Timo lalu berjalan untuk berpura-pura mencari buah-buahan, namun ia terus diikuti oleh pengawas tadi.


Timo tahu bahwa pengawas itu tidak akan menuduhnya secara langsung dan hanya akan mengikutinya. Tapi ia cukup kesal pada pengawas tersebut.


Timo berbalik. Ia lalu melihat dengan raut wajah kaget ke arah belakang si pengawas. "Awas, Pak, jatuh!" seru Timo sambil menunduk.


Muka sang pengawas kaget. Ia langsung berbalik sambil meletakkan kedua tangan di atas kepala. Namun setelah membuka mata, dia tidak melihat apa-apa. Tidak ada buah-buahan ataupun perlengkapan yang jatuh. Dan ketika ia hendak kembali mengawasi, Timo sudah tidak ada lagi di tempat itu.


"Mampus, kau!" gerutu Timo sambil berjalan menuju mobilnya. "Syukurlah aku sudah selesai mencatat yang penting ketika dia datang."


***


Sesampainya di perusahaan milik ayahnya, Timo langsung memperlihatkan pada Pak Gumiro keterangan yang ia catat di ponsel. Pak Gumiro lalu mencatat ke selembar kertas apa yang dicatat oleh Timo. "Antarkan ke peneliti pangan, Timo. Minta Pak Salidi mencari tahu nama dari varietas tanaman ini serta syarat iklim dan cuaca tempat tanaman ini bisa tumbuh."


Timo mengangguk. Ia segera pergi ke ruangan peneliti pangan.


"Ini Timo, Pak Salidi," kata Timo setelah mengetuk pintu ruangan beberapa kali.


"Masuklah, Nak Timo!"


Di balik meja kerja yang ada dalam ruangan itu, duduk seorang pria tua berusia lima puluh tahun. Ia mengenakan kacamata. Dan dari pena yang ia pegang sambil melihat kertas di atas meja kerja, tampaknya ia baru saja selesai menulis.


"Ada apa, Nak Timo?" tanya orang tua tersebut.


Timo lalu meletakkan kertas yang sudah dicatat oleh ayahnya ke atas meja. "Ayah minta tolong pada Pak Salidi untuk mencari nama dari varietas tanaman yang aku catat ini, serta iklim dan cuaca tempat tanaman itu bisa tumbuh. Ini fotonya, Pak. Asalnya dari Jepang." Nimo mengeluarkan ponselnya.


Pak Salidi yang wajahnya hampir selalu terlihat serius itu membuka laptopnya. Satu persatu yang ada di dalam catatan diketiknya. Setelah melihat layar laptopnya sebentar, Pak Salidi kemudian menekan tombol enter. Dan tak lama kemudian, peneliti pangan itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil tersenyum pada Timo.

__ADS_1


"Bagaimana, Pak?" tanya Timo.


"Ketiganya memang varietas tanaman asli Jepang, Nak Timo," jawab Pak Salidi. "Yang berwarna ungu kehitaman ini namanya Teime. Bisa dipanen setelah lima puluh lima hari ditanam. Yang hijau kebiruan ini adalah Kubis Ishito, bisa dipanen setelah ditanam tujuh puluh lima hari.


"Dan yang warnanya hijau tua, yang permukaannya kulitnya berduri halus ini, namanya Mentimun Saima. Bisa dipanen setelah tiga puluh dua hari ditanam. Kau ada catatan tidak, Nak Timo, tentang iklim, cuaca, dan ketinggian letak desa Kejora?"


"Ada, Pak." Nimo lalu mencari sebuah judul catatan pada ponselnya, yang di dalamnya terdapat jawaban dari pertanyaan Pak Salidi. "Ini, Pak," kata Nimo memberikan ponselnya pada Pak Salidi.


Pak Salidi melihat catatan Nimo dan layar laptopnya bergantian. Ia kemudian tersenyum dan mengangguk. "Cocok dengan iklim, cuaca, dan ketinggian letak desa Kejora," katanya. "Nak Timo, kau ada rokok? Rokokku habis. Tadi aku lupa beli rokok."


Timo tersenyum. Wajahnya berseri. Ia lalu mengulurkan bungkus rokok pada Pak Salidi. "Terima kasih, Pak Salidi. Bapak memang hebat," ucap Timo.


Pak Salidi tersenyum setelah menyulut rokok. "Terima kasih atas pujiannya, Nak Timo. Lagi pula, tidak sulit untuk mencari tahu tentang tanaman ini. Hanya saja, perusahaan pangan yang lain belum dapat ide. Tak banyak pengusaha yang seperti ayahmu, yang selalu bersemangat untuk mencari hal baru yang bisa dijadikan bisnis.


"Katakanlah pada Pak Gumiro, sebaiknya perusahaan Kejora cepat-cepat mengimpor ketiga bibit tanama sayur ini, sebelum perusahaan pangan lain tahu dan mengimpornya lebih dulu."


Timo mengangguk. "Iya, Pak Salidi. Aku ke ruangan ayah dulu."


Pak Gumiro mengangguk-angguk mendengar penuturan Timo, sambil membaca email yang berisi nama varietas sayuran Jepang yang dikirim oleh Pak Salidi barusan. Ia lalu berkata pada Timo, "Besok pagi kita ke desa Kejora, Nak. Kita sampaikan kabar bagus ini pada Pak Oscar, Nak Prapto, dan Nak Nimo."


"Iya, Yah. Prapto juga memiliki hutang penjelasan tentang rencana yang belum ia katakan," sahut Timo.


***


"Hawa udara mau hujan, Bos," kata Nimo pada Prapto. Mereka baru saja selesai makan di sebuah warung makan yang ada di Jakarta.


"Iya, Nimo. Sebaiknya kita segera pulang. Aku penasaran bagaimana hasil penyelidikan Timo," kata Prapto.


"Kenapa tidak kita temui saja Timo atau Pak Gumiro, Bos? Mereka kan di Jakarta juga," tanya Nimo.


"Rencanaku begitu Nimo, sekalian aku ingin mengatakan hasil penawaran kita ke restoran Dawn tadi. Tapi ketika tadi aku mau menelepon, pesan singkat dari Pak Gumiro masuk. Katanya, besok pagi mereka akan ke desa Kejora. Kita bicarakan di rumah Pak Oscar saja besok, Nimo."

__ADS_1


"Okay lah, Bos. Ayo, Bos, kita pulang," ajak Nimo.


***


Prapto dan Nimo tiba pada malam hari di rumah papannya Prapto. Di perjalanan, mereka berhenti beberapa kali untuk berteduh dari hujan yang sangat deras. Karena sudah malam dan di desa Kejora pun turun hujan, Nimo akhirnya mengirim pesan singkat pada ibunya untuk memberi tahu bahwa malam ini ia tidur di rumah Prapto.


Menjelang tidur, mereka mengobrol dan ngopi di teras sambil melihat dan mendengarkan hujan yang syahdu, yang kadang juga terdengar sendu.


"Oh iya, Bos. Apa kau ada mendengar bagaimana kabar Kuda Terbang Corporation sekarang? Mungkin ayah Bos ada cerita," tanya Nimo.


"Ada, Nimo. Aku lupa menceritakannya padamu. Corporation itu masih jalan, hanya saja penghasilan mereka jauh menurun. Mereka kembali berfokus pada bisnis makanan kemasan dan makanan olahan," jawab Prapto. Ia lalu meneguk kopi.


"Syukurlah, Bos. Semoga saja mereka nanti bangkrut. Mampuslah si CEO Cuek itu. Pasti ia bertengkar hebat dengan Silvi karena misinya tidak berhasil, dan malah membuat penghasilan perusahaannya menurun."


"Mereka sudah bercerai, Nimo," sahut Prapto, tertawa. "Ibuku yang bilang waktu menelepon."


"Syukurlah, Bos. Aku senang mendengarnya. Wanita-wanita feminis itu tidak akan pernah punya rumah tangga yang bahagia. Pinaka itu feminis juga atau tidak, Bos?" tanya Nimo, penasaran.


"Iya, Nimo, dia juga seorang feminis. Tapi setelah aku menerapkan apa yang diajarkan oleh Pak Oscar, aku lihat pola pikir Pinaka sudah tidak feminis lagi sekarang. Kemarin kau lihat sendiri dia mau mengantar makanan dan minum padaku. Dia juga cerita bahwa ibu-ibu desa Kejora, terutama Bu Intan, banyak mengajarinya tentang cara menjadi wanita sejati."


Nimo mengangguk-angguk. "Hujan ini kok rasa-rasanya sendu, ya, Bos?" tanyanya.


Prapto tersenyum. "Hujan memang mempunya dua suasana, Nimo. Mungkin kau merasa sendu karena kau takut Arini itu adalah seorang feminis," katanya, Tertawa."


Nimo kaget. "Mana mungkin, Bos!" protesnya. "Wanita di desa Kejora tidak ada yang feminis."


"Lalu kenapa kau merasa sendu?"


"Aku rindu pada Anjani, Bos," jawab Nimo, lirih,


Prapto mengernyitkan keningnya. "Anjani itu siapa, Nimo? Gadis yang kau cinta tapi sudah menikah?"

__ADS_1


__ADS_2