
"Halo! Dengan Bapak Prapto?" Terdengar suara wanita dari seberang telepon.
"Prapto-nya benar, tapi bapak-nya salah. Saya bukan bapak-bapak," jawab Prapto.
Wanita di seberang telepon terdiam sejenak. Lalu katanya, "Maaf. Benar ini dengan Mas Prapto?"
"Nah, seperti itu. Benar. Ada apa gerangan, Mbak?"
"Saya Pinaka yang kemarin itu meneliti hasil tani dan ternak Mas Prapto dan Mas satu lagi yang waktu itu emosi," jawab Pinaka.
"Nama teman saya itu, Nimo. Waktu itu pun aku emosi, Mbak. Terus?"
"Maaf, Mas. Bisa kita ketemu, Mas?" tanya Pinaka lagi.
Prapto mengernyitkan kening. Ia tahu gelagat orang, tapi, Prapto ingin menyelidiki lebih dalam tentang hubungan antara penolakan hasil ngebun mereka dengan Silvi dan Tristan. Ia juga sedikit tertarik dan ingin tahu lebih jauh tentang Pinaka, karena Prapto bisa melihat sesuatu yang tak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata dari pancaran mata gadis itu.
"Boleh. Besok, ya, di rumah makan yang paling dekat dengan tokomu, Pinaka."
Pinaka terdiam sejenak. Selama ini jika dia mengajak seorang pria untuk bertemu membahas hal yang berkaitan bisnis, belum pernah ada yang mengatur tempat pertemuan. Atau jika pun ada, Pinaka pasti tidak setuju. Namun nada suara Prapto dan kesan Pinaka terhadapnya membuat gadis itu tidak ingin membantah.
"Baik, Mas Prapto. Selamat malam."
Pinaka tak mendengar balasan kata-katanya. Ia menunggu sejenak. Setelah lima menit tidak ada jawaban, Pinaka lalu mematikan telepon dengan pikiran bertanya-tanya.
Pinaka tidak tahu bahwa Prapto yang sangat lelah sehabis perjalanan dari Jakarta, ditambah lagi dengan mendorong mobil Pak Oscar sudah tertidur pulas.
***
Pagi itu, Prapto dan Nimo tengah memberi makan ternak mereka. Langit tampak cerah dengan birunya yang bagaikan tanpa batas. Ternak-ternak tampak ceria seperti biasanya dan mereka bersuara sambil sesekali melihat ke arah Prapto dan Nimo.
__ADS_1
"Beberapa hari lagi hujan mungkin akan turun, Bos," kata Nimo, "rumput-rumput akan cepat tinggi dan asupan dari tanah untuk tanaman kita akan terbagi dengan rumput-rumput itu. Itu akan membuat kita agak telat panen."
"Kau seperti dukun saja, Nimo, bisa tahu hujan akan turun," jawab Prapto tertawa sambil menutup pintu rumah ayam.
Nimo tersenyum lalu menggeleng. Katanya, "Itu bukan ramalan, Bos. Aku sudah melihat tanda di langit tadi malam dan tanda dari hewan. Bos tahu, kan, kalau hewan itu bisa melihat kecenderungan alam berdasarkan pergerakan alam itu sendiri? Hewan itu tidak meramal kok, Bos, tapi mereka membaca tanda-tanda alam."
Prapto mengangguk-angguk. "Ya, Nimo. Hewan-hewan itu menurutku lebih hebat dari BMKG dalam membaca tanda-tanda alam. Aku tahu bahwa itu bukan insting mereka, tapi itu adalah kecerdasan dalam mengamati alam. Kita bisa secerdas mereka dalam hal ini, tapi kita tidak mau belajar.
"Orang dulu saja membaca rasi bintang untuk melihat cuaca yang akan datang. Baik itu untuk kepentingan ngebun maupun untuk berlayar. Mereka tidak perlu BMKG. Nah, apa dua tanda yang kau lihat itu?"
Nimo baru saja selesai menyulut rokoknya. "Tadi malam bulan sabit muncul, Bos. Ketika bulan sabit muncul, itu tandanya dalam waktu dekat hujan akan turun. Satu lagi, aku melihat semut-semut lebih rajin mengumpulkan makanan dari biasanya.
"Itu berarti semut-semut itu telah membaca tanda-tanda bahwa dalam waktu dekat akan turun hujan. Jadi, mereka mengumpulkan makanan agar ketika hujan nanti mereka tidak perlu kelaparan karena tidak bisa mencari makan di luar sarang."
Prapto mengangguk-angguk. "Aku baru tahu soal itu, Nimo. Jadi, kita akan banyak bersiang rumput, ya nanti? Tapi kok kebun ayahmu tidak banyak rumputnya?"
"Ayah menanam tanaman penghias, Bos, yang membuat rumput-rumput mati karena mereka tertutup dari sinar matahari oleh tanaman penghias itu. Beliau dari dulu memang suka dengan tanaman penghias.
"Tidak, Bos," jawab Nimo, "karena aku rasa itu hanya karena dia suka saja."
"Kau memperhatikan tidak, Nimo, kalau hasil panen kita tidak seberat hasil panennya bapakmu?"
"Ada, Bos. Aku pun juga heran."
"Setelah kau bilang bapakmu menanam tanaman penghias, aku jadi berpikir mungkin itu ada kaitannya. Ayo, nanti kita tanya ke ayahmu! Aku juga kangen ngobrol dengan Beliau."
"Okay, Bos."
Prapto lalu menyulut rokoknya. "Oh iya, Nimo, aku nanti mau bertemu dengan Pinaka di kota Keladi. Aku pinjam motormu, ya?"
__ADS_1
"Pakailah, Bos. Tapi, Bos bertemu dengannya buat apa? Bos mau meng-uppercut wanita itu?"
Prapto tertawa. "Bukan, Nimo. Dia meneleponku semalam mengajak bertemu, entah untuk apa. Lalu aku ajak dia bertemu di tempat makan yang dekat dengan tokonya. Karena aku pikir bagus juga, nanti aku bisa menelusuri ada apa dibalik penolakan hasil ngebun kita. Aku juga sedikit tertarik dengannya, Nimo," jawabnya.
Nimo tersenyum. "Aku juga penasaran dengan alasan penolakan hasil ngebun kita itu, Bos. Semoga Pinaka itu tertarik padamu, Bos supaya kau tidak sendiri lagi. Aku kadang sedih melihatmu terus hidup sendiri, Bos. Jangan sampai aku sudah menikah dengan Arini, sudah punya anak, tapi kau masih sendiri juga."
"Sialan kau, Nimo!"
Nimo tertawa. "Terus. Apa katanya lagi, Bos?"
"Terus aku ketiduran," jawab Prapto ganti tertawa.
***
Pinaka menunggu Prapto di meja toko tempat ia menjadi peneliti pangan abal-abal. Kadang ia duduk, kadang ia berdiri untuk melihat ke jalan. Pinaka sudah berdandan cantik untuk bertemu dengan Prapto. Pinaka sengaja berbenar sejak pagi karena tadi malam ia lupa menanyakan jam bertemu pada Prapto.
Pinaka lalu berdiri di depan kaca lemari toko untuk melihat penampilannya. "Lama sekali dia. Apa Prapto benar-benar akan datang? Ah, lagi pula apa peduliku. Kenapa aku jadi sering memikirkan pria desa itu? Kalau dia tidak datang 'kan tinggal kubilang saja ke Pak Tristan dia tidak datang," ucap Pinaka pelan pada dirinya sendiri.
"Sudah cantik, Nona Pinaka."
Pinaka langsung berbalik ke arah pintu toko. "Eh! Selamat datang, Pak ... Eh, Mas Prapto," sapanya.
Dengan cepat Prapto memperhatikan rambut sepunggung Pinaka yang digerai, tatapan matanya yang lembut, serta senyumnya yang tampak amat sejuk. Prapto masih melihat jelas di kedua Pinaka bahwa ada yang harus diberitahukan gadis itu kepadanya. Kata-kata memang bisa bohong, tapi mata biasanya selalu memancarkan kejujuran.
Prapto mengangguk. "Ayo! Aku tidak bisa lama-lama karena nanti siang aku ada perlu," ajak Prapto.
Pinaka menghampiri Prapto untuk sama-sama berjalan ke tempat makan yang telah mereka sepakati. Pinaka tidak mengerti, atau lebih tepatnya ia malas untuk memikirkannya, tapi yang jelas baginya Prapto itu berbeda dari pria lain.
Selama ini Pinaka mudah saja menolak jika seorang pria mengajaknya mempercepat pertemuan seperti Prapto tadi, apa lagi dia sudah cukup lama menunggu. Bahkan lebih sering tidak ada yang berani bersikap seperti sikap Prapto kepadanya.
__ADS_1
Pria-pria itu begitu takluk oleh kecantikan Pinaka, mereka begitu takut tidak mendapat perhatian Pinaka bila mereka membantah. Tipe-tipe pria dalam film dan novel romansa yang banyak beredar di pasaran. Pria-pria yang memperlakukan pacar atau istri mereka sebagai ratu, yang tanpa mereka sadari membuat mereka diperlakukan sebagai pelayan.
Mereka telah duduk di sebuah tempat makan yang tidak mewah namun susuan mejanya rapi dan juga bersih. Setelah memesan dua porsi kupat tahu dan dua gelas es teh, mereka pun memulai obrolan.