Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
37. Kak Pinaka


__ADS_3

Para warga pria mulai menebang bahan-bahan yang diperlukan. Bahan utama yang mereka cari adalah bambu dan kayu bulat. Bocah laki-laki yang seusia Lapen lebih banyak bermain dari pada mencari bahan. Mereka mengejar kupu-kupu atau mengajak tupai dan hewan kecil lainnya untuk bicara dan bermain.


"Cara memegang gagangnya jangan begitu, Bos," kata Nimo pada Prapto, ketika ia melihat Prapto memegang gagang senjata agak ke atas. "Ke bawah sedikit, Bos. Nanti kalau luka 'kan Pinaka juga yang repot."


Prapto tersenyum ke arah Nimo. Ia membetulkan letak tangannya lalu meneruskan penebangan tanpa menjawab. Tak jauh darinya, Prpato bisa melihat Pak Ino, sepupu Pak Rodi yang dulu membangun rumah papannya, tengah menebang bambu dengan sangat cepat.


"Nimo, aku rasa mesin pemotong kayu kalah oleh Pak Ino itu," katanya setelah menoleh pada Nimo.


Nimo tertawa. "Pak Ino memang lebih cepat dari mesin penebang kayu, Bos.” Nimo lalu menoleh pada Lapen yang hendak melewati tempatnya berdiri. "Lapen, kau ke sini mau gotong royong atau mau bermain?"


"Dua-duamya, Paman. Nanti kami membantu mengangkatnya saja, ya," sahut Lapen sambil terus berlari-lari kecil diikuti oleh Taro, Lennon, dan anak-anak lain seusia mereka. Mereka sedang mengejar kupu-kupu untuk nanti dibahas kupu-kupu mana yang paling indah.


Prapto memperhatikan salah satu teman Lapen. "Nimo, bocah yang potongan rambutnya seperti personil The Beatles itu namanya siapa?"


"Lennon, Bos," jawab Nimo, tertawa. "Ayah Lennon punya semua koleksi album The Bealtes."


"Astaga!" Prapto menggeleng-geleng.


"Lapen, kalau mau main agak jauhan dari sini, nanti kalian kena senjata.” Terdengar suara Pak Oscar ketika Lapen lewat di sampingnya. Orang tua itu sedang berhenti menebang untuk menyulut cangklong.


"Iya, Kek."


***


Hari sudah sore dan sepertinya awan sudah tidak akan lama lagi menampung hujan. Semua bahan yang ditebang telah selesai dikumpulkan dan diikat. Sekarang waktunya untuk membawa bambu dan kayu-kayu, dan bahan lain ke balai desa.


Pak Oscar berdeham. "Mari kita bawa bahan-bahan ini ke balai desa. Setelah itu kita makan, ngopi, dan ngeteh sambil menunggu hujan turun," katanya.


Seperti yang dikatakannya kepada Nimo, Lapen mengajak bocah laki-laki yang seusianya untuk ikut mengangkat bahan-bahan yang telah ditebang. Bapak-bapak dan pria seusia Prapto masing-masing bisa mengangkat hingga dua bilah bambu per orang. Sedangkan Lapen dan teman-temannya butuh tenaga tiga orang bocah untuk mengangkat sebilah bambu.


Bahan-bahan tersebut kemudian diletakkan di depan pintu hutan. Beberapa orang lalu pergi mengambil gerobak pengangkut kayu. Setelah semua bahan semua bahan selesai dinaikkan, mereka melangkah sambil bergantian menarik gerobak.


Prapto dan Nimo menarik gerobak berdua. Ketika mereka melewati tepian sungai yang jernih, Prapto bertanya, "Aku baru tahu ada sungai yang lebih besar dari sungai tempat kita mencuci pakaian, Nimo. Banyak ikannya di sini?" Prapto terus memandangi sungai yang tampak sejuk dengan hamparan rumput dan pohon-pohon di tepinya.


"Aku lupa mengajakmu keliling ke sini, Bos. Sungai tempat kita mencuci itu muaranya ke sungai ini. Banyak, Bos. Bos suka memancing ikan?" Nimo balik bertanya.


"Suka. Aku juga suka makan ikan. Kapan-kapan ayo memancing, Nimo!" ajak Prapto.

__ADS_1


"Okay, Bos. Tapi, memancing di sungai berbeda dengan memancing di kolam, Bos, dan pastinya memancing di sungai lebih seru."


"Aku juga menduga begitu, Nimo. Aku ingin makan ikan sungai, seperti ketika aku berkunjung ke perkebunan Kakek dulu," kata Prapto, tersenyum.


Nimo menggerakkan kepalanya ke arah kiri. Lalu katanya," Bocah-bocah bertiga itu hebat memancing, Bos. Memancing 'kan tiangnya adalah umpan dan tempat melempar kail. Nah, bocah-bocah itu seolah punya insting khusus dalam membuat umpan dan mencari tempat melempar kail. Aku sering memancing dengan mereka."


Prapto menoleh ke arah Nimo menggerakkan kepalanya tadi. Seperti yang ia duga, tiga bocah yang dimaksud oleh Nimo itu adalah Lapen, Taro, dan Lennon. Karena tidak ada bocah lain yang ke mana-mana selalu bertiga di desa Kejora ini selain mereka.


***


Setelah semua kayu dan bambu diturunkan, para warga pria duduk beristirahat. Istri atau anak perempuan mereka menghampiri mengantarkan minum dan camilan. Arini, dengan senyum manis dan rambut dikuncirnya, menghampiri Nimo yang tengah duduk di samping Prapto.


"Ini, Kak Nimo. Minum dan makanlah dulu," kata Arini.


Nimo tersenyum. "Terima kasih, Arini. Kau sendiri sudah makan?" tanyanya.


Arini mengangguk. Nimo lalu menoleh pada Prapto yang tampak sedang melihat-lihat sawah di seberang jalan. Nimo lalu berkata pada Arini, "Arini, jika kau tidak keberatan, tolong ambilkan makanan dan minuman untuk Mas Prapto, ya." Ia lalu berbisik, “Kasihan dia.”


Arini tertawa. "Tadi mau aku bawakan sekalian, Kak, tapi kata Kak Pinaka biar dia saja yang membawakannya untuk Mas Prapto."


Prapto menoleh pada Arini. "Apa katamu tadi, Arini?" tanyanya memastikan.


"Kak Pinaka, huh?" tanya Prapto, tertawa. Arini dan Nimo pun ikut tertawa.


Tak lama setelah itu, Pinaka datang membawakan Prapto makanan dan minuman dengan wajah sedikit malu-malu. "Minum dulu, Mas," katanya. "Camilannya juga dimakan. Aku ikut membantu Bu Intan membuatnya loh."


Setelah minum, Prapto mengambil pastel. "Aku coba dulu, Pinaka. Enak tidak masakanmu," katanya.


Walaupun ia hanya membantu Bu Intan memasak, tapi kata-kata Prapto barusan membuat Pinaka deg-degan. Ia menunggu Prapto selesai mengunyah.


"Lezat, Pinaka," kata Prapto. "Tampaknya kau akan menjadi murid andalan Bu Intan."


Pinaka tertawa. Tawa merdu dari kahyangan yang sangat disukai oleh Prpato. "Tentu saja, Mas. Murid Bu Intan 'kan cuma aku sendiri. Aku ke tempat ibu-ibu dulu, Mas Prapto, Mas Nimo. Bu Harni lagi cerita, ceritanya seru. Ayo, Arini!" ajak Pinaka.


Prapto menoleh pada Nimo. "Nimo, Bu Harni itu kok punya banyak sekali cerita?"


Nimo tertawa. "Mungkin Beliau sering googling berita, Bos. Tapi yang membuat ibu-ibu dan para perempuan desa Kejora semakin tertarik dengan cerita Bu Harni adalah gaya berceritanya yang unik. Itu lihat, Bos. Pinaka dan Arini sangat antusias mendengarkan."

__ADS_1


Prapto tertawa. Ia lalu mengambil ponselnya dari kantong kemeja.


"Halo, Prapto!" sapa Timo dari seberang telepon.


"Ya, Nimo. Kau rindu padaku?"


"Sorry, Bro. Aku sekarang sudah tidak merindukanmu lagi. Sudah ada seseorang yang aku rindukan."


Prapto tertawa. "Paling juga kau mengarang, Timo. Ada apa gerangan kau meneleponku?"


"Ketika kita bertemulah aku ceritakan padamu, Prapto. Sekarang aku mau mengatakan bahwa tadi aku dan Ayah sudah membeli truk."


Nimo melihat wajah Prapto tampak senang.


"Model Amerika atau Eropa?" tanya Prapto.


"Tentu saja Amerika!" seru Timo. "Baiklah, Prapto. Sudah dulu, ya. Nanti aku kirim fotonya ke whatsup-mu."


Prapto membuka whatsup-nya. Ia lalu memperlihatkan foto truk hitam bermodel Amerika tersebut pada Nimo. "Pak Gumiro dan Timo tadi membeli truk yang akan digunakan untuk menjemput hasil ngebun dan makanan hasil olahan desa Kejora, Nimo. Keren tidak menurutmu truknya?"


"Keren, Bos. Aku juga suka warnanya," kata Nimo.


"Sudah mau hujan, Nimo. Ayo, Kita pulang!" ajak Prapto.


Sebelum pulang, Prapto dan Nimo memperlihatkan truk hitam itu terlebih dahulu pada Pak Oscar.


***


Malam harinya Prapto mendapat telepon dari Pak Gumiro. Ayah Nimo itu mengatakan susuan bisnis yang telah dirancangnya dan mengajak Prapto untuk membahasnya bersama.


"Besok siang aku akan ke desa Kejora, Nak Prapto. Kita akan membahasnya dengan Pak Oscar dan Nimo," kata Pak Gumiro.


"Baik, Pak Gumiro. Kedengarannya keren. Aku juga ada beberapa ide untuk kerja sama bisnis kita."


"Okay, Nak Prapto. Aku tidak sabar untuk mendengar ide-mu. Sampai ketemu besok."


Prapto turun dari tempat tidur lalu membuka pintu rumah papannya. Ia menatapi rintik hujan malam yang bisa dilihatnya samar-samar karena cahaya lampu teras. Prapto menyulut rokok. Sudah hampir lima bulan ia di desa Kejora tapi tidak pernah merasa bosan.

__ADS_1


Apa lagi setelah kehadiran Pinaka. Sikap dan pola pikir feminis Pinaka yang sudah berubah membuat Prapto semakin menyukainya. Ia cukup terkesan dengan kemauan Pinaka dalam belajar memasak dan mengantarkan makanan untuknya, hal yang sangat anti dilakukan oleh wanita feminis seperti Silvi, Rini, dan juga Tini.


Prapto ingin menikah, namun ia tahu bahwa misinya belum selesai. Ia ingin melihat berjalannya kerja sama bisnis antara desa Kejora dengan prusahaan Pak Gumiro terlebih dahulu. Nanti, jika penjualan hasil ngebun dan makanan olahan pertama telah dibawa oleh truk hitam Amerika itu, Prpato mungkin akan mulai memikirkan tentang berumah tangga.


__ADS_2