Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
20. Serius


__ADS_3

Selesai makan, Timo lalu menceritakan tentang perceraiannya kepada Prapto, Nimo, dan juga Pak Oscar. Diawali dari cerita tentang kata-kata Prapto padanya yang membuat ia mulai menyelidiki istrinya, hingga ke cerita Timo meng-uppercut si Mila alias Bintang, selingkuhannya Tini.


Prapto, Nimo, dan Pak Oscar menahan tawa mereka ketika mendengar nama Bintang di kontak ponsel Tini adalah Mila. Apalagi Pak Oscar, ia sampai geleng-geleng melihat cara-cara yang dilakukan Tini untuk berselingkuh.


Timo juga mengatakan bahwa selama ini, sejak ia menikah dengan Tini, ia sudah curiga. Karena sejak selesai cuti, Tini selalu diantar jemput oleh Bintang di hari kerja. Ia pun sering melihat Tini menelepon sambil tertawa-tawa dan senyum-senyum, tapi ketika ia menghampiri Tini, suara Tini langsung pelan dan tak lama kemudian mematikan telepon.


Tini selalu menolak bila Timo ingin mengecek ponselnya. Alasannya, privasi. Satu dari banyak alasan yang digunakan oleh orang yang berselingkuh, baik pria maupun wanita. Belum lagi alasan seperti ada pertemuan kerja di luar kantor, makan malam kantor, acara kantor, dan alasan-alasan lain. Padahal tidak ada kepentingan kantor sama sekali.


Tapi pola pikir kebanyakan manusia modern telah membuat Timo melawan kata hatinya sendiri dan mengabaikan bisikan-bisikan instingnya, sehingga bertahun-tahun Timo menjalani rumah tangganya dan terus-terusan ditipu dan dikhianati oleh Tini.


"Begitulah. Maaf, ya, Pak Oscar, Nimo, aku jadi enak karena bercerita tentang ini pada kalian," kata Timo, "


Pak Oscar mengangguk-angguk. "Tidak apa-apa, Nak Timo. Nanti berkunjunglah ke desa Kejora! Selain untuk bertemu dengan Prapto, Nak Timo silakan sekalian ke rumahku. Kita ngobrol dan minum kopi. Untuk kalian ketahui saja, baru-baru ini hasil survei menunjukkan bahwa angka perceraian meningkat drastis. Petir perceraian menyambar di mana-mana."


"Terima kasih, Pak Oscar," jawab Timo, "ya, Pak Oscar. Ayah sebenarnya sudah sering menasihatiku sebelum menikah dengan si Tini itu. Ayah menyuruhku untuk pikir-pikir benar, tapi aku menghiraukan beliau. Tapi syukurlah, yang penting aku sudah menceraikan wanita seperti itu, dan syukur juga kami belum mempunyai anak."


Timo kemudian menoleh pada Prapto. "Jadi, ada apa gerangan di pagi-pagi hujan begini kau, Nimo, dan Pak Oscar hendak menemuiku, Prapto?"


Prapto lalu menerangkan tentang penawaran kerja sama bisnis dengan desa Kejora pada Timo. Ia juga menceritakan tentang toko di kota Keladi yang biasa menampung hasil ngebun alami desa Kejora, serta cerita tentang hubungan toko itu dengan Kuda Terbang Corporation.

__ADS_1


Wajah Timo tampak bersemangat setelah mendengar penjelasan Prapto. "Aku sangat tertarik sekali. Orang tuaku juga sangat sering membeli hasil ngebun alami. Aku rasa beliau pasti akan tertarik. Sayangnya, ayahku belum datang ke kantor. Biar aku telepon dulu beliau, Pak Oscar," katanya.


Pak Oscar tampak senang. "Silakan, Nak Timo. Ngomong-ngomong, apakah di ruangan ini dilarang merokok?" tanya Pak Oscar sambil mengangkat pipa cangklongnya.


Timo yang hendak meng-klik tombol panggilan untuk memanggil ayahnya, menoleh pada Pak Oscar sambil tersenyum. "Hajar saja, Pak Oscar! Prapto setiap ke sini selalu merokok, kok, dan selalu membuat asbak penuh" katanya.


Prapto tertawa ketika melihat Nimo langsung mengambil rokok lalu menyulutnya. Ia sudah menduga bahwa sedari tadi Nimo ingin merokok, karena ia terus-terusan melihat ke arah pendingin ruangan.


"Halo, Ayah. Prapto bersama temannya dan kepala desa di tempat ia tinggal sekarang punya penawaran bisnis yang sangat menarik untuk kita. Okay, Yah."


Timo tersenyum. "Ayah akan segera ke sini," katanya, "Kuda Terbang Corporation itu CEO-nya si Tristan yang terkenal sebagai COE Cuek itu bukan, Prapto? Aku selalu kesal kalau melihat wajahnya dalam acara-acara yang ada dia di dalamnya."


"Benar," jawab Prapto, "dan kau pasti akan terkejut mendengarnya. Tristan adalah suami Silvi. Aku dikirimi undangan acara pernikahannya."


Prapto mengangguk tersenyum. "Ya, sangat sama. Ada indikasi di balik kecuekannya itu bahwa dia adalah pria bucin yang bisa dikendalikan oleh istrinya."


Ayah Timo adalah pemilik perusahaan yang tidak begitu besar, yang berbisnis di bidang penjualan hasil tani, hasil ternak, dan juga hasil produksi dari pengolahan hasil tani dan ternak. Mereka ngobrol cukup lama hingga pintu ruangan itu dibuka oleh seorang pria tua. Prapto, Nimo, dan juga Pak Oscar berdiri.


"Silakan duduk, Pak Oscar, Nak Prapto, Nak Nimo!" ajak pria tua tersebut yang memperkenalkan diri dengan nama 'Gumiro'.

__ADS_1


Rambut Pak Gumiro sudah putih setengahnya dan melewati telinga. Ia berkumis tebal dan kulitnya sawo matang, sama seperti Prapto. "Kata Timo, Nak Prapto pindah ke sebuah desa, pantas saja tidak pernah berkunjung lagi ke rumah kami. Biasanya 'kan Nak Prapto sering ikut bila Timo pulang ke rumah."


"Begitulah, Pak. Maaf, Pak, saya kemarin itu perginya mendadak, jadi tidak sempat pamit pada Bapak dan Ibu," jawab Prapto.


Pak Gumiro menatap Prapto sejenak. Orang tua itu segera paham bahwa alasan Papto pergi pastilah ada hubungannya dengan perceraian rumah tangganya. Ia lalu mengangguk-angguk.


"Nah, Pak Oscar, Nak Prapto, Nak Nimo, mari kita bahas tentang penawaran kerja sama yang akan kalian sampaikan!" ajak Pak Gumiro.


Tak lama kemudian office boy tadi datang mengantarkan secangkir kopi panas dan langsung pergi setelah membalas ucapan terima kasih dari Pak Gumiro.


"Begini, Pak ..."


Prapto lalu menerangkan apa yang diterangkannya pada Timo tadi kepada Pak Gumiro.


Pak Gumiro mengangguk-angguk sambil tersenyum. "Kuda Terbang Corporation memang sering menggunakan cara seperti itu, Nak Prapto, asal legal di mata hukum," katanya. Ia lalu meneguk kopi.


"Kau cerdas, Nak Prapto, dan dari mendengarnya saja aku sudah jatuh cinta dengan desa Kejora yang dipimpin oleh Pak Oscar itu. Aku sangat tertarik dengan penawaran kerja sama ini. Apakah kau sudah menawarkannya juga kepada perusahaan lain, Nak Prapto?" lanjut Pak Gumiro.


"Rencananya sehabis dari sini, Pak. Aku sengaja ke sini dulu karena rindu dengan Pak Gumiro dan Timo, walaupun Timo itu menyebalkan," jawab Prapto tertawa. Semua yang ada di ruangan itu pun ikut tertawa.

__ADS_1


Pak Gumiro paham. Prapto juga akan menawarkannya pada perusahaan lain pastilah karena perusahaannya kini belum lah tergolong perusahaan besar, yang berarti modalnya pun tidak akan cukup untuk menampung semua hasil ngebun itu sendiri. Dan memang begitulah kenyataannya.


Setelah semuanya selesai meneguk kopi, Pak Gumiro menatap ke arah Prapto, Pak Oscar, dan Nimo dengan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya. Sementara Timo memasang pendengarannya baik-baik, Karena ia tahu, jika ayahnya sudah memasang raut wajah seperti itu, berarti ayahnya sangat serius!


__ADS_2