Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
44. Petuah Nimo


__ADS_3

Prapto dan Nimo singgah sebentar di warung untuk makan mi rebus. Setelah itu, mereka kembali melaju di bawah mendung menuju desa Kejora.


***


Pagi seakan bergerak lambat. Kicau burung terdengar lambat. Laju awan di langit pun tampak lambat. Hari ini adalah hari gotong royong ke empat bagi warga desa Kejora. Seperti biasa, pagi-pagi sekali para warga desa Kejora sudah pergi ke kebun mereka untuk mengurus ternak dan tanaman. Dan pada pukul sembilan nanti, mereka akan ke balai desa untuk bergotong royong.


Dalam pagi hari yang waktunya bergerak lambat itu, Prapto mengendarai motor ke Jakarta untuk bertemu dengan pimpinan perusahaan pangan yang akan ditawarkannya kerja sama bisnis. Sesampainya di Jakarta, Prapto singgah terlebih dahulu di rumah Pak Gumiro, lalu pergi ke perusahaan yang ia tuju mengendarai mobil Pak Gumiro.


Timo tidak ikut, karena ia harus memimpin sebuah rapat di perusahaan ayahnya. Begitu pula dengan Nimo, ia mengurus tanaman dan ternak di kebun.


Setelah beberapa menit perjalanan, Prapto dan Pak Gumiro tiba di parkiran sebuah perusahaan pangan yang bernama Indah Hijau. Perusahaan Indah Hijau tampaknya adalah perusahaan yang cukup besar bila dilihat dari bangunannya yang bertingkat empat.


Prapto dan Pak Gumiro mengernyitkan kening, ketika memperhatikan warna bangunan yang ada di hadapan mereka.


"Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh pimpinan perusahaan ini, Nak Prapto," kata Pak Gumiro setelah ia turun dari mobil. "Tapi kenapa bangunan bertingkat empat ini harus dicat warna hijau seluruhnya?"


Prapto tertawa. Sambil melangkah di belakang Pak Gumiro ia menanggapi, "Selain karena menjual sayuran yang kebanyakan berwarna hijau, mungkin karena dalam nama perusahaan ini terdapat kata 'hijau', Pak Gumiro."


"Astaga!" seru Pak Gumiro. "Lihat! Baju karyawannya pun juga berwarna hijau." Pak Gumiro lalu menunjuk ke arah seorang karyawan yang baru saja keluar dari pintu perusahaan membawa beberapa berkas.


Karyawan itu terus melangkah ke parkiran lalu naik ke sebuah mobil sedan yang juga berwarna hijau. Pak Gumiro menoleh pada Prapto yang kini sudah berjalan di sampingnya. Mereka saling pandang lalu sama-sama tertawa.


Setelah bicara pada seorang pria paruh baya yang juga mengenakan seragam hijau, Prapto dan Pak Gumiro kemudian diantar ke sebuah ruangan yang terletak di lantai tiga. Karyawan yang mengantar Pak Gumiro dan Prapto itu pergi setelah ia membukakan pintu ruangan.


"Silakan masuk!" ajak seorang pria berusia lima puluh lima tahun, yang baru saja bangkit dari duduknya untuk menghampiri Pak Gumiro dan Prapto.


Pria itu berbadan tinggi besar, namun wajahnya tampak ramah dan murah senyum. Dari pakaian yang dikenakan dan dari cara pria itu bersikap, jelas bahwa ia adalah pemimpin perusahaan Indah Hijau ini. Dan yang membuat Pak Gumiro dan Prapto menahan tawa mereka adalah, pemimpin perusahaan itu mengenakan jas yang juga berwarna hijau.


Pak Gumiro dan Prapto mengangguk sambil balas tersenyum. Setelah duduk di sofa, mereka pun bersalaman.


"Reynaldi Hijau," kata pimpinan perusahaan tersebut ketika ia menyalami Prapto dan pak Gumiro.


"Hijau itu nama asli atau hanya nama keren-mu, Pak Reynaldi?" tanya Prapto membuka obrolan.


Pak Reynaldi Hijau tertawa. "Itu nama asliku, Prapto, nama keluarga. Mendiang ayahku namanya Sarbini Hijau, dan kakekku, yang merupakan pendiri perusahaan ini bernama Kencono Hijau. Sedangkan Indah itu, adalah penggalan nama nenekku.


Prapto dan Pak Gumiro mengangguk-angguk. Mengertilah mereka sekarang kenapa nama perusahaan ini adalah Indah Hijau.


"Silakan diminum kopinya, Pak Gumiro, Prapto!" kata Pak Reynaldi, setelah seorang office boy selesai menghidangkan minuman. "Jadi, apa yang akan Pak Gumiro dan Prapto tawarkan pada perusahaan Indah Hijau ini?"


Prapto menjelaskan gambaran tentang bagaimana pertanian alami di desa Kejora. Lalu ia menjelaskan bahwa desa Kejora akan menanam varietas sayuran Jepang seperti yang diimpor dan dipasok oleh Pak Reynaldi ke mall-mall dan ke supermarket. Kemudian, Prpato menjelaskan tentang kerja sama bisnis antara desa Kejora dengan perusahaan milik Pak Gumiro dan juga dengan restoran Dawn.


"Jadi, jika Pak Reynaldi setuju untuk bekerja sama bisnis dengan kami, Bapak tidak perlu lagi repot-repot mengimpor sayuran dari Jepang. Pak Reynaldi bisa membelinya dengan harga yang jauh lebih murah pada kami," kata Prapto menutup penjelasannya.


Pak Reynaldi menatap Prapto sejenak. "Kenapa kau dan Pak Gumiro menawarkan penawaran ini pada perusahaan Indah Hijau, Prapto? Bukankah, jika kerja sama ini tidak ditawarkan pada kami, orang-orang akan lebih memilih untuk membeli sayuran Jepang yang kalian jual, karena harganya lebih murah. Atau ada perbedaan dalam segi kualitas sayuran yang akan kalian jual dengan yang kami impor?"


Dialah Reynaldi Hijau. Pria yang telah digembleng sejak kecil oleh ayahnya dalam berbisnis. Ia tidak mudah untuk setuju. Reynaldi Hijau selalu menguji kelayakan mental dari pria yang akan menjalin kerja sama bisnis dengan perusahaannya.

__ADS_1


"Soal kualitas, aku jamin sama, Pak, karena sama-sama alami. Bahkan tidak tertutup kemungkinan bahwa kualitas sayuran Jepang yang ditanam di desa Kejora akan lebih bagus, karena kami tidak menggunakan bahan kimia dalam bertani, kompos saja tidak. Murni alami, sebagaimana layaknya tanaman yang tumbuh di hutan belantara.


"Dan satu lagi. Akan lebih mudah bagi perusahaan Kejora dalam hal pemasaran jika kami bekerja sama dengan perusahaan Indah Hijau. Karena perusahaan Indah Hijau sudah memiliki pasar yang luas, dan menjadi pemasok hampir di semua supermarket dan mall yang ada di kota-kota besar," jawab Prapto.


Pak Reynaldi tersenyum. "Bagaimana kalau aku tidak mau?" tanyanya.


Prapto balas tersenyum. "Tidak masalah jika Pak Reynaldi tidak mau. Kami hanya tinggal mencari pasar sendiri lalu mengembangkannya. Dan tentu saja, kita akan bersaing. Tapi menurutku, Pak Reynaldi tentu tidak akan melewatkan penawaran yang bagus ini. Karena penawaranku sangat potensial dan akan sangat menguntungkan."


Pak Reynaldi tersenyum mengangguk-angguk. Ia lalu berdiri dan mengulurkan tangannya. "Deal! Kapan aku bisa mulai membeli pasokan pada perusahaan Kejora?" tanyanya.


Prapto dan Pak Gumiro tersenyum. Mereka juga berdiri. "Paling lama lima hari lagi bibit ketiga sayuran itu akan tiba dari Jepang, Pak Reynaldi Hijau. Kami akan memasok mentimun seimei ke perusahaan Indah Hijau satu setengah bulan lagi," Kata Pak Gumiro, sambil menjabat tangan Pak Reynaldi. "Untuk dua sayuran lainnya, sebulan setelah itu."


"Pas dengan perkiraan habisnya pasokan impor perusahaan Indah Hijau," jawab Pak Reynaldi.


***


Prapto baru tiba di desa Kejora pada sore hari, karena sepulang dari perusahaan Indah Hijau, ia mengobrol dulu dengan Pak Gumiro dan Timo di rumah mereka.


Kini Prapto dan Nimo sedang duduk bersantai di depan bangunan dapur kebun sambil minum kopi, dan juga sambil melihat-lihat ternak mereka yang bermain dan mencari makan.


"Bagaimana gotong royong tadi, Nimo? Sudah berapa persen pembangunannya?" tanya Prapto, setelah ia menceritakan pada Nimo tentang hasil pertemuannya dengan Pak Reynaldi.


"Lancar, Bos. Sudah enam puluh persen."


Prapto mengangguk. "Aku kadang heran dan merasa lucu, Nimo. Jika dulu aku bekerja sebagai seorang manajer di perusahaan ternama yang ada di Jakarta, yang sering melakukan kegiatan bisnis, sekarang apa nama posisi dan jabatanku yang juga sering melakukan penawaran kerja sama bisnis?"


"Anggap saja kau ini adalah manajer desa Kejora, Bos," jawab Nimo, tertawa.


"Aku pun merasa begitu, Bos. Meski di perusahaan dulu kerjaku menjadi sopir dan pengantar berkas, tapi rasanya sekarang jauh lebih tenang dan tenteram. Padahal, mungkin kegiatan kita di kebun ini jauh lebih banyak daripada ketika kita bekerja di perusahaan."


Prapto mengangguk-angguk. "Setelah semua penawaran bisnis selesai dan disetujui, sekarang kita hanya tinggal menunggu kedua bangunan penampung itu selesai dibangun, Nimo. Lalu, apa lagi tujuan kita nanti?" tanyanya. Prapto lalu menengadah melihat langit mendung,


"Memangnya, hidup ini harus punya tujuan, ya, Bos?" tanya Nimo. Ia tersenyum lalu ikut memandang langit.


Prapto menoleh. Ia melihat wajah Nimo tampak begitu damai. Kedamaian yang rasanya belum pernah menghias wajahnya. Prapto berpikir sejenak tentang pertanyaannya tadi. Ia lalu balik bertanya, "Bukankah hidup tanpa tujuan itu membosankan, Nimo? Bukankah kita harus punya impian agar hidup kita ini jadi bersemangat?"


Nimo masih memandang langit mendung. "Siapa yang bilang, Bos?" tanyanya, membuat Prapto semakin bingung.


"Guru, dosenku, dan konsultan bisnis yang kudatangi dulu, Nimo. Terus para motivator yang memotivasi tentang kesuksesan," jawab Prapto.


Nimo tertawa. "Apa kata mereka, Bos?" tanyanya lagi.


"Kita harus punya tujuan dan impian agar kita bersemangat menjalani hidup ini. Dan kita harus mengejar impian itu sesulit apa pun, agar kita menjadi orang yang sukses dan berhasil dalam hidup," jawab Prapto.


Nimo tertawa. "Yang namanya kena kejar, tentu akan lari, Bos. Ayam saja bila dikejar pasti akan lari, apa lagi impian. Bos yakin kalau tujuan hidup sudah tercapai, Bos tidak akan merasa bosan? Lalu bagaimana? Bos akan mencari tujuan hidup baru? Begitu saja terus? Kalau menurutku, gagasan seperti itu semu, Bos, palsu, dan menjenuhkan."


"Lalu?" tanya Prapto heran. "Kau tidak punya tujuan hidup, Nimo?"

__ADS_1


Nimo menggeleng. Ia lalu menyulut rokok. "Sejak kecil, kami warga desa Kejora tidak pernah diajarkan untuk punya tujuan hidup, Bos. Yang ada hanya prinsip hidup. Impian itu hanya akan menambah keresahan hati dan pikiran. Kami hanya diajarkan cara untuk bahagia dalam hidup.


"Tanpa impian, hidup ini terasa jauh lebih ringan, Bos. Kami hanya perlu menjalani hidup dengan prinsip-prinsip yang luhur, dan tidak pernah susah tidur karena memikirkan impian yang belum terwujud. Jika kami ingin pandai dalam suatu bidang, kami belajar, tapi kami tidak berharap menjadi terkenal dan kaya raya. Kami belajar karena kami suka bidang itu.


"Bukankah tujuan dari terwujudnya impian itu hanya untuk diakui hebat oleh orang-orang lalu menjadi bangga? Lalu sombong. Tuhan benci orang sombong, Bos. Dan tidak semua orang juga yang akan mengakuinya hebat. Yang tidak menyukai sepak bola tentu tidak akan menganggap pemain sepak bola terkenal itu hebat," terang Nimo.


Prapto tertegun. "Apakah hidup tidak akan terasa jenuh tanpa impian, Nimo?" tanyanya.


Nimo kembali tersenyum, kali ini senyumnya lebih damai. "Bagaimana menurutmu Bos, dari apa yang kau lihat, apakah kehidupan warga desa Kejora ini terlihat tidak bersemangat? Justru yang punya impianlah, seperti Bos, yang kini malah kebingungan setelah hal yang kau tuju tercapai, bukan?"


Prapto mengangguk-angguk. Nimo bertanya, "Bos tahu apa yang lucu tentang konsultan bisnis?" tanyanya.


Prapto menggeleng.


"Aku pernah mendengar mendiang Bob Sadino, seorang pengusaha dari negara tetangga, negara Indonesia, berkata kira-kira begini: Konsultan bisnis itu bukan pelaku bisnis, jadi kenapa jika orang mau berbisnis mereka malah bertanya pada konsultan bisnis? Bukankah itu namanya salah tanya?" Nimo tertawa.


Nimo melanjutkan, "Demikian juga dengan guru dan dosen-dosen yang mengajar tentang bisnis di perkuliahan. Walaupun mungkin mereka berbisnis sampingan, tapi fokus utama mereka adalah mengajar untuk digaji. Mereka bukan pebisnis murni. Jika anakku nanti ingin jadi pebisnis, aku akan menyuruhnya ke rumah Pak Gumiro untuk belajar langsung dari Beliau.


"Tidak perlu waktu empat tahun agar mahir dalam bisnis, Bos. Mungkin enam bulan, atau selama setahun belajar pada Pak Gumiro, anakku sudah bisa membuka dan mengelola bisnisnya sendiri."


Prapto sekarang paham. Ia mengangguk. "Setelah mendengar penjelasanmu, aku jadi berpikir, bahwa sistem pendidikan sekarang ini dibuat sedemikian rupa untuk mencari keuntungan. Keuntungan bagi lembaga pendidikan dan pekerja pendidikan. Benar juga katamu, waktu empat tahun untuk mendalami suatu bidang itu terbilang sangat lama."


Mereka lalu meneguk kopi.


***


Pukul lima sore, Prapto berkunjung ke perpustakaan mengendarai sepeda. Ia tiba di perpustakaan berbarengan dengan Lapen, Taro, dan Lennon yang ingin membaca buku.


Taro dan Lennon terus masuk ke perpustakaan, sementara Lapen Oscario diajak oleh Prapto untuk duduk terlebih dahulu di kursi panjang yang ada di teras perpustakaan.


"Ada apa gerangan, Paman Prapto?" tanya Lapen. Ia lalu memakan bakwan yang tadi ia beli ketika berjalan ke perpustakaan.


"Apa impianmu, Lapen?"


"Tidak ada, Paman," jawab Lapen sambil mengunyah bakwan.


"Kenapa tidak ada?"


"Kenapa aku harus punya impian, Paman Prapto?" Lapen balik bertanya. "Bukankah menjalani hidup dengan cara seperti itu menjemukan dan melelahkan? Banyak hal indah yang akan terlewatkan bila hidupku disibukkan oleh mengejar impian.


"Itulah yang diajarkan oleh Kakek Oscar dan Ayah padaku, Paman. Dan aku setuju dengan mereka. Aku hanya ingin hidup bahagia, Paman. Itu saja."


Prapto tertegun. Bocah berusia tujuh tahun jauh lebih bahagia daripada dirinya dan sebagian besar orang yang hidup di kota.


"Ya sudah, terima kasih atas pencerahanmu, Lapen Oscario cucu kepala desa. Tolong panggilkan Tante Pinaka, ya. Bilang Paman Prapto menunggunya di teras," kata Prapto.


Lapen tertawa. Ia lalu menaikkan alisnya. "Saranku, jangan lama-lama pacaran, Paman. Segera lah menikah. Aku kadang kasihan bila membayangkan Paman Prapto di rumah memasak dan bikin kopi sendiri." Setelah berkata demikian, Lapen menggeleng dengan raut wajah sedih.

__ADS_1


"Mau aku gelitik lagi, Lapen?"


"Ampun, Paman," jawab Lapen. Ia langsung berlari masuk ke perpustakaan untuk memanggil Pinaka.


__ADS_2