Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
21. Kesetiaan Nirwana


__ADS_3

Pak Gumiro menyulut rokoknya. "Begini, Pak Oscar, Nak Prapto, Nak Nimo," katanya, "beri aku waktu satu bulan ini untuk mengumpulkan modal, karena aku tak ingin berbagi hasil dengan perusahaan lain dalam bisnis yang sangat menarik dan potensial ini. Pak Oscar, Nak Nimo, dan Nak Prapto setuju?"


Nimo dan Pak Oscar menatap Prapto. Mereka tahu, bahwa dalam hal ini Prapto lah yang lebih mengerti dan terampil. Prapto menimbang sejenak. Pak Gumiro masihlah orang yang menurutnya bisa dipercaya. Perusahaan Pak Gumiro pun tidak pernah mempunyai masalah selama ini. Dan Pak Gumiro pun adalah ayah dari temannya.


"Baiklah, Pak Gumiro. Namun jika lewat satu bulan, aku mohon maaf jika perusahaan Bapak akan bekerja sama dengan perusahaan lain. Karena kalau lebih lama, tentu aku merasa tidak enak pada masyarakat desa Kejora, Pak."


"Ya, Nak Prapto. Bapak sangat paham soal itu."


Semua yang ada di ruangan itu pun tersenyum dan saling bersalaman.


***


Di tengah banyaknya orang yang mengoleksi foto penyanyi pria dan penyanyi wanita dari Korea, aku tetap setia menyimpan dan melihat fotomu saja. Ya, fotomu saja.


Sering kupandangi lama-lama foto itu hingga aku melebur ke dalamnya dan tiba-tiba saja aku sudah berada di tepi dermaga senja hari bersamamu.


Dari dermaga itu kita melihat di kejauhan kapal-kapal yang baru berlayar dan kapal-kapal yang hendak bersauh, serta burung-burung yang terbang pulang ke sarang.


Aku selalu merindukanmu. Dan itulah mengapa aku selalu di sini setiap hari ...


Setelah menulis syair, orang tua yang ketika di balai desa duduk pada barisan bangku depan, yang terlihat seperti sesepuh dunia persilatan itu melepas kacamatanya. Ia lalu berbalik menatap rak-rak yang berisi buku.


Di depan orang tua itu, anak-anak yang kisaran usianya tujuh hingga sepuluh tahun tampak tengah asyik membaca. Ada yang duduk di kursi, ada yang membaca duduk di lantai sambil bersandar, dan ada pula yang berbicara dengan temannya membahas isi buku yang sedang mereka baca.


"Jasamu pada desa Kejora sangat besar, Asih. Dengan gemar membaca, anak-anak ini akan tumbuh menjadi anak yang cerdas nantinya," gumam orang tua itu tersenyum.


Dari luar pintu yang terbuka, seorang bocah masuk dengan setengah berlari. Bocah itu menyapa teman-temannya terlebih dahulu sebelum menghampiri orang tua tadi.


"Kakek Nirwana. Kenapa Kakek senyum-senyum sendiri?" tanya bocah tersebut.


Orang tua yang dipanggil Kakek Nirwana itu tersenyum. "Aku tersenyum karena habis bicara pada mendiang istriku," jawabnya, "tumben kau datang telat, Lapen Oscario?"

__ADS_1


Lapen Oscario naik ke kursi di samping Pak Nirwana. "Aku tadi membantu Ayah panen selada dulu, Kek. Kek, kenapa kau selalu di sini setiap hari?"


"Anak pintar. Stepen dan Lastri pasti bangga padamu. Aku di sini setiap hari karena aku selalu merindukan mendiang istriku setiap waktu. Kami sama-sama gemar membaca, dan pustaka ini aku dirikan atas permintaannya," jawab Pak Nirwana.


Lapen mengangguk-angguk. "Sampaikan terima kasihku pada Nek sih, ya, Kek. Kata kakekku, bacaan yang bagus akan membuatmu bahagia dan bijaksana. Bagaimana maksudnya itu, Kek Nirwana? Dan apa tandanya jika sebuah bacaan itu adalah bacaan yang bagus?"


Pak Nirwana tertawa. "Akan kusampaikan nanti, Lapen. Kakekmu benar. Dengan membaca bacaan yang bagus, kau akan tambah cerdas, dan karena kecerdasanmu bertambah, kau akan menjadi bijaksana, dan orang bijaksana sudah pasti akan bahagia. Bacaan yang bagus itu adalah bacaan yang terdapat banyak makna di dalamnya.


"Dan bacaan yang bagus itu tidak harus buku pelajaran sekolah atau buku kuliah, Lapen. Tak jarang sebuah novel memiliki lebih banyak hal untuk dipelajari daripada buku sekolah atau buku kuliah, serta terdapat banyak sekali makna di dalamnya."


"Meskipun itu novel romansa, Kek?"


"Ya. Meskipun itu novel romansa. Tapi lihat dulu novel romansa yang seperti apa. Kalau novel romansanya novel bucin dan hampir tidak ada makna yang bisa kau ambil di dalamnya, untuk apa menghabiskan waktu? Belum lagi novel-novel romansa sekarang kulihat temanya tak jauh beda. Membosankan," jawab Pak Nirwana.


Lapen mengangguk-angguk paham. Ia lalu turun dari kursi menuju ke rak buku. "Kek, banyak sekali buku baru?"


"Ya. Rodi menyumbangkan uang ke perpustakaan, Lapen. Jadi kubeli buku-buku baru. Bangunan perpustakaan ini juga akan direnovasi agar lebih nyaman untuk membaca. Aku sudah mengatakan pada Ino, sepupunya Rodi yang tukang itu."


***


Sore itu Pinaka duduk di toko penampung hasill ngebun alami di kota Keladi, yang merupakan cabang dari Kuda Terbang Corporation. Wajahnya tampak bosan.


Pinaka tadi telah ke pasar untuk menanyai beberapa orang warga desa Kejora tentang alasan mereka tidak menjual hasil ngebun ke toko. Ia juga menawarkan kenaikan harga beli pada mereka, namun tetap saja, tak ada satu pun dari warga desa Kejora yang mau menjual hasil ngebun ke toko itu.


"Aneh. Apa ini gara-gara pria yang bernama Prapto itu? Tidak mungkin cuma gara-gara Prapto para warga jadi seperti ini. Tapi bagaimana jika ia telah mengajak warga desa Kejora untuk tidak menjual hasil panen ke toko ini? Bisa saja, kan?" tanya Pinaka pada dirinya sendiri.


Gadis cantik itu berguam, "Dia manis, tapi sepertinya dia adalah pria yang berpendirian keras, sama sekali bukan tipe idaman wanita modern. Apalagi tampaknya dia bukanlah orang kaya. Kenapa Pak Tristan begitu ingin menjatuhkannya?"


Pinaka lalu mengacak-ngacak rambutnya sendiri. "Kenapa aku malah memikirkan si Prapto itu? Yang penting aku sudah digaji oleh Pak Tristan dan aku harus melapor padanya.


***

__ADS_1


Tristan duduk di sofa dengan wajah yang sangat kusut karena ia baru saja bicara dengan Silvi yang kini sudah pergi ke kamar dengan wajah ngambek. Ia telah menjelaskan pada Silvi betapa pikirannya sedang semrawut karena warga desa Kejora tidak mau menjual hasil panen mereka pada toko milik Kuda terbang, dan kemungkinan itu karena Prapto.


Namun istrinya itu tidak peduli dan tidak menggubris sama sekali tentang kesemrawutan pikiran Tristan.


Silvi malah bilang, "Tidak mungkin itu sebabnya. Masa' cuma gara-gara Prapto semua warga jadi tidak mau menjual hasil panen mereka ke toko milik Kuda Terbang Corporation? Tapi aku tidak peduli, yang penting hasil ngebun Prapto tidak boleh dibeli, titik! Jika ternyata kau diam-diam menerima hasil panennya, aku akan pulang ke rumah Ayah dan Ibu.


Tristan tidak membantah. Wajah kesalnya pun baru berani ia nampakkan setelah Silvi pergi ke kamar. Tristan sang CEO Cuek itu tidak bisa hidup tanpa Silvi, bukan?


Dering ponsel membuat Tristan menoleh ke arah meja yang ada di depan sofa. Setelah melihat yang menelepon adalah Pinaka, ia mengangkatnya.


"Ya. Kabar apa yang kau dapatkan, Pinaka?"


"Aku sudah menanyai beberapa warga, Pak, dan aku juga sudah menawarkan kenaikan harga. Tapi para warga itu tetap saja tidak mau."


Tristan mengepal tinjunya. "Kira-kira apa penyebabnya?"


"Ada kemungkinan kecil bahwa Prapto lah yang mengajak para warga itu untuk tidak menjual hasil panen ke toko, Pak. Selain itu rasanya tidak ada alasan lain, karena hanya perusahaan Kuda Terbang yang berbisnis hasil ngebun alami ini."


"Di toko itu ada buku telepon yang isinya nomer telepon setiap warga yang ada menjual hasil ngebun mereka ke toko. Kau carilah nomer Prapto lalu kau telepon dia untuk mencari informasi. Pandai-pandaimu lah bagaimana cara ngomongnya, Pinaka. Jika berhasil, akan ada tambahan uang masuk ke rekeningmu."


Tanpa menunggu jawaban Tristan menutup panggilan. Dengan perasaan masih kesal karena pembicaraan dengan istrinya tadi, Tristan melempar ponsel ke sofa yang ada di sebelahnya. Namun lemparannya kurang bagus dan ponselnya membentur sanding sofa lalau jatuh ke lantai.


"Sial!" umpatnya.


***


Prapto tiba di rumah malam hari. Di perjalanan mereka sempat mendorong mobil Pak Oscar sebentar karena mobil tua yang amper bahan bakarnya tidak berfungsi itu kehabisan bensin.


Prapto lega karena ia hanya tinggal menunggu kabar dari Pak Gumiro selama sebulan ini. Dan selama sebulan itu Prapto ingin memperhatikan kebunnya atau mencari ide baru untuk kegiatan ngebunnya tersebut.


Tiba-tiba ponsel Prapto berdering. Ia mengernyitkan kening ketika nomer yang meneleponnya bukanlah nomer yang ada di buku kontak. Prapto mengangkatnya.

__ADS_1


__ADS_2