Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
15. Kesimpulan dan Rencana


__ADS_3

Prapto dan Nimo saling berpandangan. Tentu saja mereka heran, karena sebelumnya, ketika mereka menjual hasil panen ke toko yang merupakan anak perusahaan Kuda Terbang itu, tak perlu ada pemeriksaan terhadap hasil panen.


Dari dalam toko terdengar suara langkah kaki yang iramanya teratur. Langkah kaki itu terus berjalan ke luar toko sampai orang yang punya langkah kaki itu kini telah berdiri di hadapan Prapto dan Nimo.


"Selamat siang, Pak Prapto, Pak Nimo. Nama saya Pinaka, saya adalah peneliti pangan yang baru saja bekerja di Kuda Terbang Corporation dan ditugaskan untuk memeriksa setiap hasil panen yang dijual ke toko ini," kata seorang wanita yang suaranya terdengar merdu dan lembut.


Rambut panjang wanita itu dibiarkan tergerai, serasi dengan raut wajahnya yang lembut dan manis. Ditambah pula dengan kulitnya yang sawo matang, sempurnalah sosok Pinaka tersebut sebagai perempuan yang begitu anggun dan memesona.


Nimo dan Prapto menatap wajah Pinaka sejenak sebelum mereka memutuskan di dalam hati masing-masing bahwa wanita itu tidaklah mereka kenali dan tidak pernah mereka lihat sebelumnya di Jakarta.


Firasat Nimo mengatakan bahwa betapa pun cantiknya Pinaka, kilauan mata wanita itu adalah sebuah pertanda bahwa mereka akan mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan.


Begitu pula dengan Prapto, dari kilauan mata Pinaka ia tahu akan ada kabar yang tidak menyenangkan. Maka dari itu, Prapto pun tak ingin berlama-lama.


"Ya, selamat siang. Sampaikanlah apa yang ingin Nona Pinaka sampaikan. Siang sudah hampir habis, kami ingin segera pulang," ucap Prapto. Mata cemerlang Pinaka sedikit membesar karena kaget terhadap respon Prapto.


Awalnya Pinaka menyangka bahwa kedua pria itu akan terkesan dengan kecantikannya ketika ia memperkenalkan diri, lalu kedua pria itu akan menurut saja pada apa yang akan dikatakannya. Karena menurut Pinaka, mana ada pria yang berani membantah kata-kata wanita secantik dirinya?


Seketika Pinaka menjadi canggung untuk mengatakan apa yang telah diinstruksikan oleh Tristan kepadanya. Ia diam sejenak untuk berpikir. Kata-kata yang telah dilatihnya tadi malam harus diganti dengan kata-kata lain karena respon yang ditunjukkan oleh Prapto barusan.


Pinaka berpikir sambil menunduk. Ia tak bisa menatap pancaran mata prapto yang tegas dan sedikit pun tidak menunjukkan tanda-tanda terpesona. Bahkan Prapto bicara terus terang tanpa tedeng aling-aling, seolah tak ada sedikit pun pesona Pinaka yang hinggap di hati Prapto.


"Ma ... maaf, Pak Prapto, Pak Nimo. Dari hasil penelitianku barusan terhadap hasil panen kalian, ternyata hasil panen itu mengandung unsur kimia, yang berarti perusahaan kami tidak bisa mengambilnya untuk di pasarkan, karena perusahaan kami hanya membeli hasil pertanian dan peternakan yang dikelola secara alami."


Nimo berdiri dari duduknya. Wajahnya memancarkan keheranan sekaligus kemarahan.


"Apa katamu, Nona? Tidak ada satu pun hasil panen di desa Kejora yang tidak alami, termasuk hasil panen kami. Jangan mengada-ngada, pasti kau salah periksa!" protes Nimo dengan nada suara tinggi.


Pinaka tak pernah menduga bahwa rencananya akan menjadi seperti sekarang. Kedua pria itu tidak segan-segan memprotesnya, bahkan Nimo berkata dengan nada tinggi. Tidak seperti selama ini dimana tidak ada pria yang berani membantah Pinaka.

__ADS_1


Jangankan untuk membantah, menggeleng pun mereka tidak berani. Mereka berharap bahwa dengan mengiyakan kata-katanya, maka Pinaka akan memberi mereka kesempatan untuk mendapat simpati dan perhatian dari wanita secantik dirinya.


"Kenapa melamun, Nona? Coba kau perlihatkan hasil penelitianmu itu pada kami!" kata Nimo dengan suara yang sengit.


"Baik, tunggu sebentar, saya akan ke dalam untuk mengambilnya," jawab Pinaka.


Pinaka membalik. Ia hendak masuk ke dalam toko dan mengambil hasil tes pangan yang telah ia rubah sebelum dicetak.


Prapto menepuk pelan bahu Nimo. Ia menatap mata sahabatnya itu sejenak lalu mengangguk penuh arti. Nimo menghela napas panjang. Ia tahu bahwa Prapto memintanya untuk tidak mengatakan apa-apa lagi meskipun ia masih ingin marah-marah.


Langkah Pinaka terhenti ketika ia mendengar Prapto berkata, "Tidak perlu, Nona! Tak usah bawa hasil penelitian itu segala! Kami bisa menjual hasil panen di tempat lain."


Pinaka membalik. Ia ingin menjawab kata-kata Prapto barusan. Tapi, ketika ia melihat Prapto mengambil keranjang panen tanpa menoleh padanya sedikit pun, Pinaka mengurungkan niatnya untuk bicara. Ia hanya berdiri sambil melihat kedua sahabat itu pergi dari toko tersebut.


***


"Pak, bubur kacang hijaunya sudah masak. Akan sangat enak dimakan sore-sore mendung begini," kata Bu Rine pada suaminya sambil meletakkan bubur kacang hijau di atas meja.


Bu Rine tersenyum. "Masakanku kan selalu enak, Pak. Aku juga melebihkannya untuk dihadiahkan pada tetangga kita yang berkebun bersama Nimo anaknya Bu Kisanih, Pak. Tolong antarkan, ya, Pak," pinta Bu Rine.


Pak Rodi tertawa. "Syukurlah, Bu, Prapto dan Nimo yang jomblo itu pasti akan sangat senang aku bawakan bubur kacang hijau. Sebentar, ya, aku selesaikan dulu membaca ini," jawab Pak Rodi. Ia lalu kembali melihat ke layar ponsel.


"Bapak baca apa? Serius sekali nampaknya," tanya Bu Rine.


"Ini, Bu, sebuah syair tentang cinta dari penulis yang tulisannya tak laku. Dia mengupload karya-karyanya di instagram. Aku suka syair-syairnya dan telah menjadi followernya sejak setahun yang lalu. Mau aku bacakan? Syair ini cocok sekali dengan perasaanku padamu, Bu."


"Bapak gombal! Tapi, aku ingin dengar syairnya, pak," jawab Bu Rine sambil tersipu.


Pak Rodi lalu membacakan syair dari penulis yang tulisannya tidak laku-laku tersebut.

__ADS_1


Di tengah gelapnya malam dan di bawah terangnya lampu kamarku, angin sejuk tetap saja masuk dari celah-celah jendela


Aku tidak tahu penjelasan tertulis tentang cinta, aku pun tidak bisa menjabarkannya melalui kata-kata


Apabila kau bertanya, "Seumpama apa cintamu padaku itu?" Aku tak bisa menjawabnya


Karena menurutku cinta tak bisa digambarkan dan diumpamakan dengan apapun, apalagi hanya dengan kata-kata


Aku hanya bisa merasakan cinta itu, yang membuat setiap kata-kata, sikap, serta tindakanku padamu menjadi penuh cinta


Dari itu, kau sudah bisa tahu, bukan, betapa aku ini mencintaimu?


Arfiz Y


"Syair yang maknanya sungguh dalam, Pak. Benar-benar, seperti itulah cinta," kata Bu Rine, "Aku akan memfollow penyair yang tak laku itu, Pak."


"Followlah dia, Bu! Dan like setiap uploadnya, agar penulis langka itu tidak banting stir karena tulisannya terus-terusan tidak laku," jawab Pak Rodi dengan nada sedih.


***


Prapto dan Nimo duduk di bawah langit sore yang mendung. Setelah menjual hasil tani dan ternak mereka ke pedagang pasar, tentunya dengan harga yang lebih murah, mereka langsung pulang ke kebun dengan perasaan jengkel dan pikiran yang bertanya-tanya


Sebelum memulai obrolan, Prapto mengajak Nimo menyantap kacang hijau pemberian Pak Rodi terlebih dahulu.


"Kalau saja tadi Bos tidak memintaku berhenti, dan kalau saja peneliti pangan sialan itu adalah seorang pria, uppercut-ku pasti telah menghantam pipinya, Bos," kata Nimo masih dengan nada marah.


"Uppercut itu memukul dagu, Nimo, bukan pipi," jawab Prapto tertawa.


"Yang jelas aku ingin memukulnya, Bos. Apa yang Bos pikirkan tadi? Aku yang cerdas ini tahu bahwa dari cara Bos menatapku tadi, Bos telah memikirkan sesuatu dan tidak asal mengajak pergi dari toko itu."

__ADS_1


Prapto menyulut rokoknya. "Aku telah menarik sebuah kesimpulan dari penolakan hasil panen kita dengan alasan ada unsur kimia itu, Nimo. Dan aku juga telah membuat sebuah rencana."


Nimo menyulut rokoknya. "Ayo katakan, Bos!" pinta Nimo penasaran.


__ADS_2