Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
96. Kebahagiaan


__ADS_3

"Kenapa, Lennon?" kata Stepen. Ia memandang Lennon dengan heran. Wajah bocah itu seperti tengah berpikir keras akan sesuatu.


"Aku tidak yakin kau sedang memikirkan ide, Lennon," kata Taro. "Paling juga memikirkan hari apa Kakek Kuncoro datang lagi."


Lapen tertawa. "Sudah, Lennon, kau tidak cocok memasang wajah serius begitu."


Lennon mengangkat tangan kanannya, menunjuk ke langit. "Kalian meremehkan aku, Lapen, Taro. Benar, aku sedang memikirkan ide, dan sekarang aku mendapatkannya."


Stepen mengernyitkan wajahnya, ia agak ragu melihat lagak Lennon. "Apa idemu, Lennon?" tanyanya.


"Buku, Paman. Aku pernah membaca buku tentang menanam gandum alami dengan Paman Nimo. Nama pengarangnya pakai bahasa Jepang. Masabu kalau tidak salah," jawab Lennon.


"Oh iya!" Stepen berseru lalu bangkit. "Kalian tunggu di sini, aku akan meminjam buku itu pada Nimo." Ia menoleh pada Lennon. "Bukan Masabu, Lennon, tapi Masanobu. Masanobu Fukuoka." Stepen melangkah ke motornya.


"Tumben kau hebat," ujar Taro dan Lapen bersamaan pada Lennon.


Lennon menyibak rambutnya dan berkata, "Selama ini aku sengaja menyembunyikan kehebatanku dari kalian."


Lapen dan Taro tertawa. "Awas kau, Lennon," kata Lapen. Ia dan Taro kemudian berdiri, tapi Lennon sudah dulu lari. Mereka bertiga pun kejar-kejaran di kebun.


***


Stepen tiba di rumah Prapto. Ia memarkir motor matic-nya di halaman lalu melangkah ke kebun. Di jembatan kecil yang menghubungkan kawasan pagar dan halaman rumah Prapto, Stepen berhenti, melihat parit jernih yang tampak ikan-ikan hias di dalamnya. "Desain rumah yang sangat asri," gumamnya.


"Mas Stepen!"


Stepen menoleh ke arah teras. "Prapto. kau tidak ngebun?" Ia melanjutkan langkah ke teras dan duduk setelah dipersilakan oleh Prapto.


Prapto tersenyum. "Ngebun, Mas. Aku ke rumah mengambil kue. Silakan dimakan, Mas, kuenya. Sebentar, ya, aku buatkan kopi dulu, istriku sedang ke rumah Bu Intan dengan Arini."


"Tidak usah, Prapto. Aku hanya sebentar, mau meminjam buku Revolusi Sebatang Jerami." Ia lalu menceritakan tentang Lapen, Taro, dan Lennon yang ingin mempelajari menanam gandum.


"Bagus, Mas," sahut Prapto. "Mereka keren, masih delapan tahun sudah mau menekuni profesi. Nimo di kebun, Mas. Mari, kita ke kebun," ajaknya.

__ADS_1


Di bagian ujung kebun, Nimo tampak sedang mengobrol dengan sapi. Stepen dan Prapto tertawa. "Oi, Nimo, kalian mengobrol tentang apa?" sorak Stepen, tertawa.


Nimo menoleh dan tersenyum. Ia menepuk-nepuk badan sapi lalu menghampiri Stepen dan Prapto. "Mengobrol tentang keindahan alam, Mas. Sapi itu katanya sedih, karena sekarang terlalu banyak manusia yang merusak alam.


"Pola pikir yang salah, cara pandang yang salah, dan alam yang dirusak akan menyebabkan Ibu Bumi marah dan orang-orang yang bersalah itu akan dihukum, kata sapi tersebut."


Stepen tertawa. "Kau mengerti bahasa hewan, Nimo?" tanyanya.


Nimo balas tertawa. "Tidak, Mas, itu kata-kata mertua Mas Stepen." Ia lalu ikut duduk. "Ada apa gerangan, Mas?"


Setelah menceritakan apa yang ia ceritakan pada Prapto tadi, Stepen berkata, "Aku mau meminjam bukumu, Nimo, yang Revolusi Sebatang Jerami karangan Masanobu Fukuoka."


"Ada aku bawa, Mas. Sebentar, letaknya di bangunan lumbung." Nimo pergi ke bangunan lumbung dan tak lama kemudian ia kembali membawa sebuah buku. "Pilihan Lapen dan kedua sahabatnya bagus, Mas. Kami juga ada rencana menanam gandum, nanti kami belajar pada Mas, lalu dijualkan oleh Lapen.


"Tidak sulit mencari pasar untuk roti sekarang, tinggal dibedakan saja nanti dari roti yang kebanyakan agar ada ciri khasnya. Pasti nanti belajarnya pada Pak Krik, ya, Mas? Ayahku pernah bilang bahwa Pak Krik pandai memanggang roti.."


"Benar, Nimo. Tapi dengan belajar pada Pak Krik, berarti roti Lapen dan kedua sahabatnya nanti akan langsung punya ciri khas," kata Stepen sambil mengambil buku yang diulurkan Nimo. "Kalian tahu tidak kalau metode memanggang roti Pak Krik itu beda dari metode membuat roti jaman sekarang?"


Stepen tersenyum. "Bukan, Nimo. Pak Krik memanggang roti di dalam tanah."


Prapto dan Nimo bergumam dengan wajah kaget. "Di tanah, Mas?" tanya Nimo.


"Benar."


"Bagaimana caranya, Mas?" Prapto yang bertanya.


Stepen menyeringai, ia menyulut rokok seolah-olah akan menjelaskan kepada jawaban dari pertanyaan Prapto. Tapi setelah ia menghembuskan asap, Stepen bediri dan tertawa. "Kalian lihat saja nanti. Sekarang aku pulang dulu. Terima kasih buku dan kuenya."


Prapto dan Nimo menggeleng-geleng.


"Tolong kabari kami nanti kalau Lapen dan kedua sahabatnya ke rumah Pak Krik, Mas Stepen," sorak Prapto. Stepen yang sudah sampai di jembatan kecil mengangkat tangan kanannya mengisyaratkan 'okay' tanpa menoleh.


"Ayo, Nimo, kita lanjut berkebun," ajak Prapto.

__ADS_1


Nimo malah tertawa. "Bos lupa lagi, kita 'kan sudah selesai mengurus ternak. Semua tanaman sudah dipanen."


"Oh iya." Prapto juga tertawa. Kemudian katanya, "Ayo, Nimo, main monopoli sambil belajar berinvestasi properti!"


"Yang kalah hukumannya apa, Bos?"


"Mencuci sepeda," jawab Prapto dengan nada dan tatapan yang yakin bahwa ia akan menang.


"Jangan harap Bos akan menang lagi. Ayo!"


***


"Sedang memikirkan apa, Pak? Memikirkan syair?" tanya Bu Rine pada suaminya yang tengah berdiri di depan kolam di kebun mereka.


Pak Rodi tersenyum, menghisap rokok, lalu menghembuskan asapnya. "Tidak, Bu. Aku sedang memikirkan tentang desa kita."


Bu Rine mengernyitkan wajahnya. "Desa kita ada masalah, Pak?"


"Tidak, Bu," jawab Pak Rodi, tersenyum. "Aku hanya merasa amat yakin, semaju apa pun ekonomi desa kita nanti, desa Kejora tetap akan menjadi desa Kejora, bukan kota Kejora. Dan dia nanti akan merasakan betapa indahnya desa ini."


Wajah Bu Rine berubah kaget sekaligus senang. "Dia siapa, Pak? Apa maksud Bapak yang kita bicarakan beberapa hari yang lalu?"


Pak Rodi mengangguk, tersenyum. "Sebentar lagi aku akan ke rumah Pak Kades dan melapor padanya, lalu besoknya aku akan minta temani pada Nak Prapto dan Nimo. Nak Prapto katanya sudah mendapat kabar dari Timo, Bu."


Bu Rine memeluk suaminya, rambutnya diusap dengan penuh kasih oleh Pak Rodi. "Terima kasih, Pak. Kenapa Bapak tidak bilang-bilang?"


Pak Rodi tersenyum. "Sesuatu yang seperti itu tidak bisa dipastikan, Bu. Aku tidak ingin memberi janji dan harapan kosong. Yang jelas, aku selalu ingin kau bahagia, Bu."


Dalam hatinya Bu Rine sangat bersyukur. Desa yang damai, kehidupannya yang walaupun tidak kaya tapi sangat lebih dari cukup; bisa makan sampai kenyang dan membeli keperluan dari hasil kebun, serta yang paling utama baginya adalah suaminya. Dan sekarang, kebahagiaan mereka akan semakin besar.


"Aku berangkat dulu, ya, Bu."


"Iya, Pak, hati-hati di jalan," jawab Bu Rine sambil menghapus linangan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2