
"Ada apa, Nimo? Kau kenapa? Berteduh lah dulu," kata Prapto. Ia melangkah ke batas teras dan menatap Nimo dengan wajah heran.
"Di sini saja, Bos. Aku perlu bantuanmu secepatnya, Bos. Mereka sudah lahir."
"Huh? Siapa yang lahir, Nimo?"
"Anak kambing Ayah, Bos. Tapi rumah kambingnya ambruk karena sudah lapuk. Syukurlah anak-anaknya yang baru lahir tidak apa-apa. Aku butuh bantuan untuk memindahkannya ke rumah ternak yang kosong di kebun kita, sampai rumah kambing Ayah diperbaiki, Bos," kata Nimo, tertawa.
Prapto menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau mengagetkan aku saja, Nimo. Sebentar, aku ambil jas hujan dulu.”
“Okay, Bos.”
***
Begitu sampai di rumah Nimo, Prapto langsung mencium bau tai kambing yang ada di teras.
Pak Dwipangga muncul dari dalam rumah bersama istrinya, Bu Kinasih. Mereka berdua membawa lampu petromaks lalu meletakkannya di dekat dua induk kambing dan anak-anak mereka, yang dipindahkan Pak Dwipangga ke teras rumahnya karena rumah kedua induk kambing tersebut ambruk.
“Baunya keren, kan, Nak Prapto?” tanya Pak Dwipangga, tertawa. “Kambing-kambingku numpang menginap dulu di kebun kalian, ya.”
Prapto balas tertawa. “Keren sekali, Pak. Tidak masalah, Pak Dwipangga, kami punya tiga rumah ternak yang masih kosong. Anaknya ada enam, Pak Dwipangga?”
“Iya, Nak Prapto. Sepasang untuk kalian.”
“Terima kasih, Pak Dwipangga,” ucap Prapto. “Biar kami saja yang merawat mereka, Pak, sampai sepasang anak kambing itu bisa berpisah dengan ibunya.”
Pak Dwipangga mengangguk. “Aku juga mau meminta demikian, Nak Prapto. Terim kasih, ya.”
Nimo muncul dari dalam rumah membawa empat buah kotak papan.
“Lapisi dengan plastik, Nimo, supaya kambing-kambing itu tidak kena hujan.”
Prapto tertawa. “Kau tega sekali Nimo.”
“Aku lupa, Yah, Bos,” jawab Nimo. Ia tertawa dan kembali ke dalam rumah.
Setelah kambing-kambing itu selesai dimasukkan ke dalam kotak-kotak papan, Prapto dan Nimo kemudian bolak-balik dari rumah Nimo ke kebun mereka mengantarkan empat buah kotak papan berisi kambing.
“Selesai juga, Bos,” kata Nimo. Ia menyulut rokok lalu duduk di kursi teras rumah Prapto. “Malam ini menginap di rumahku saja, Bos. Ibu memasak mie goreng lezat. Ayah juga memintaku mengajak Bos menginap di rumah.”
__ADS_1
“Okay, Nimo. Aku juga lapar ini. Oh iya, akhir pekan ini aku akan ke Jakarta bersama Pinaka, Nimo. Ke rumah orang tuanya dan ke rumah orang tuaku.”
“Aku sampai lupa bertanya padamu, Bos. Jadi, Bos dan Pinaka akan ke Jakarta menemui orang tua kalian. Berarti Bos sudah menyatakan cinta pada Pinaka?”
Prapto menyulut rokoknya. “Sudah, Nimo. Dia mengangguk sangat manis dan tersenyum dengan sangat dahsyat, lebih dahsyat dari gelombang tujuh samudera.”
Nimo menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kena gelombang satu samudera saja kau pasti tenggelam, Bos, apalagi tujuh. Oh iya, waktu itu aku sudah menyoraki kalau kau membawa caping, tapi Bos tidak dengar.”
Prapto tertawa. “Iya, Nimo. Tapi aku bersyukur membawa caping itu. Waktu itu ‘kan hujan, di pertengahan antara Jakarta dan desa Kejora, aku melihat Pinaka mendorong motorny karena kehabisan bensin. Lalu aku pakaikan caping bambu itu padanya.”
Nimo tertawa. “Kau memang keren, Bos. Ayo, Bos, ke rumah. Aku juga lapar.”
“Ayo, Nimo! Aku kunci pintu dulu.”
***
Timo tertawa membaca pesan singkat yang baru saja ia buka. Pesan itu berisi screenshot chat yang dikirim Prapto pada Subakti.
Nesia menghentikan laju sendok nasi gorengnya. “Mas Timo?”
Timo menatap Nesia. “Iya?”
“Kenapa Mas tiba-tiba tertawa begitu?”
Nesia tersenyum. Ia kemudian mengangguk. “Kapan Mas akan ke desa Kejora lagi?”
“Pas festival memancing nanti. Kau jadi ikut, kan?”
“Jadi, Mas. Tapi aku tidak ikut memancing, ya.”
“Ikut saja, Nesia. Aku akan bawakan joran pancing untukmu nanti. Tapi kalau dapat ikan, ikannya untukku,” kata Timo, tertawa.
Nesia tertawa. “Mas Timo pelit sekali.”
“Tidak, kok. Aku ini dermawan. Nanti aku akan memberimu ikan kalau aku dapat lebih banyak. Bagaimana kalau selesai makan kita ke pantai, Nesia?”
Nesia melihat ponselnya. “Okay, Mas. Masih jam empat juga.”
***
__ADS_1
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Prapto dan Pinaka tiba. Hari akhir pekan dimana mereka akan ke Jakarta menemui kedua orang tua masing-masing untuk mengatakan keinginan mereka menikah.
Mereka mengunjungi rumah Prapto terlebih dahulu. Bu Veni dan Pak Rohan berseri wajahnya mendengar kabar tersebut. Mang Kari dan Bi Asih pun tak kalah gembira. Tanpa diminta Bu Veni, Bi Asih langsung ke dapur untuk mempersiapkan hidangan. Kemudian mereka semua makan dengan lahap di pendopo sambil mengobrol.
Pinaka bisa melihat kebahagiaan kedua orang tua Prapto serta kebahagiaan Bi Asih dan Mang Kari. Ia turut bahagia karena ia merasa sudah menjadi bagian dalam keluarga Prapto. Bu Veni begitu bersemangat menanyai Pinaka dan anaknya tentang rencana pernikahan mereka.
“Nanti saja dibawa piring-piring dan gelasnya, Bi Asih. Kita mengobrol dulu dengan Pinaka,” kata Bu Veni, ketika Bi Asih hendak bangkit untuk membawa piring dan gelas yang ada di pendopo.
“Iya, Bu Veni.” Bi Asih kembali duduk di samping Bu Veni.
Kapan rencananya kalian akan menikah?” tanya Bu Veni.
“Setelah panen padi, Bu” kata Prapto. “Sekitar empat bulanan lagi, setelah Nimo menikah.”
“Nimo juga akan menikah, Prapto?” tanya Pak Rohan.
“Iya, Ayah. Dengan Arini, wanita desa Kejora. Dia bilang dia akan ke sini nanti untuk mengatakannya pada Ayah dan Ibu, serta pada Mang Kari dan Bi Asih.”
Pak Rohan mengangguk-angguk. “Titip salam kami pada orang tuanya Pinaka, ya. Nanti kita atur waktunya untuk berkunjung ke sana.”
“Iya, Ayah.”
Mereka mengobrol sampai siang. Setelah itu, Prapto dan Pinaka pamit pergi ke rumah Pinaka.
***
“Bagaimana penilaian Bapak tentang Prapto?” tanya Bu Esih pada suaminya.
“Menurutku Prapto itu keren, Bu. Dia tidak bersikap palsu untuk membuat kita terkesan,” jawab Pak Ramu.
“Tidak bersikap palsu bagaimana maksud Bapak?”
“Contohnya, dia tidak sok ramah pada kita, dia tidak berpura-pura tidak merokok ketika aku tanya, dan dia enteng saja mengatakan bahwa profesinya adalah petani dan peternak. Dia tidak gengsi, malah dia mengatakannya dengan bangga. Dia juga pria yang cerdas, Bu.”
“Penilaian kita sama, Pak,” kata Bu Esih. “Anak kita sangat mengagumi dan menghormati Prapto. Jelas sekali Pinaka sangat mencintainya.”
Pak Ramu mengangguk-angguk. Ia kemudian menyeringai. “Tapi masih ada hal yang ingin aku lihat dari Prapto, Bu. Aku akan mengujinya. Kalau dia lolos, baru akan aku restui dia menikah dengan putri kita.”
Bu Esih mengernyitkan keningnya. “Hal apa itu, Pak? Dan bagaimana cara Bapak mengujinya?”
__ADS_1
“Hal yang tidak dimiliki oleh kebanyakan pria jaman sekarang, Bu. Hal yang menentukan apakah Prapto itu adalah pria terhormat yang akan bertanggung jawab pada istri dan anaknya nanti atau tidak. Hal yang akan menentukan apakah Prapto bisa memimpin rumah tangganya atau tidak. Dan hal itu juga yang akan menjamin bahwa Prapto bisa menjadi sosok suami dan ayah yang sejati.”
Bu Esih hendak hendak bertanya lagi, tapi ia menoleh karena mendengar suara motor di pintu pagar. “Itu Pinaka dan Prapto datang, Pak.”