Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
99. Menuju Balai Desa Kejora


__ADS_3

“Silakan duduk, Nak Prapto, Nak Nimo!” ajak Pak Oscar. Mereka baru saja kembali dari balai desa.


Sore itu adalah sore yang mendung dan sejuk di desa Kejora. Mendung yang ringan dan tapaknya tak akan menurunkan hujan sama sekali.


Sejenak Pak Oscar, Prapto, dan Nimo menatap daun-daun pohon yang bergerak lembut ditiup angin. Tak ada yang bicara, mereka hanya memperhatikan. Hingga Bu Inari datang menghidangkan tiga gelas kopi panas.


“Kopinya, Pak,” panggil Bu Inari.


Pak Oscar menoleh, tersenyum. “Terima kasih, Bu,” katanya.


“Bapak, Nak Prapto, dan Nak Nimo memperhatikan apa? Sepertinya serius sekali.”


Pak Oscar tertawa. “Memperhatikan daun-daun ditiup angin sore, Bu. Aku pun yakin mereka berdua juga memperhatikan dedaunan.”


“Betul, Bu,” jawab Prapto dan Nimo hampir bersamaan.


Bu Inari tertawa, kemudian kembali ke rumah.


“Damai sekali daun-daun itu, Pak Kepala Desa,” kata Prapto. Ia menyulut rokok.


“Ya. Amat sejuk melihatnya.” Pak Oscar pun menyulut cangklongnya.


“Bos, minta rokok, ya, rokokku habis.” Nimo kemudian mengambil rokok Prapto dan juga menyulutnya.


Angin sore kembali bertiup. Pak Oscar, Prapto, dan Nimo memejamkan mata mereka. Ada rasa tenteram di setiap embusan angin bagi hati yang bahagia.


“Aku tidak terlalu mendengar percakapan Pak Kades dengan Bos Prapto tadi,” kata Nimo. “Pak kades memesan apa untuk dihadiahkan pada anak-anak di festival besok?”


“Sesuatu yang sederhana saja, Nak Nimo. Aku membelikan mereka miniatur pedati yang membawa padi dan sepeda. Itu untuk anak laki-laki. Untuk anak perempuan, aku membelikan miniatur bunga di taman, dan mainan lain yang disukai anak perempuan,” jawab Pak Oscar.


Nimo mengernyitkan keningnya, menimbang bahwa miniatur-miniatur yang disebutkan Pak Oscar tersebut dibuat dari bahan yang harganya sangat terjangkau; dari kayu yang dipoles atau plastik. “Kenapa sampai lima juta rupiah lebih, Pak Kades?” tanyanya.


“Bahan kayunya lumayan harganya, Nimo. Yang lebih menaikkan harganya, miniatur-miniatur itu dilapisi dengan campuran perak.”


Nimo tersenyum. “Kepala desa Kejora memang hebat, aku bangga.” Nimo meneguk kopinya.

__ADS_1


“Kalau boleh tahu, kenapa Pak Kades mau memberi hadiah senilai lima juta rupiah lebih?” Prapto memperhatikan raut wajah Pak Oscar. Ia ingin melihat bagaimana cara orang tua itu mengungkapkannya.


Pak Oscar menghela napas. “Kalau dipikir-pikir, lima juta rupiah yang aku belikan untuk hadiah itu masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan sumbangan beberapa artis dan youtuber terkenal, Nak Prapto.


“Tapi aku agak curiga dengan mereka dan menurutku nilai dari hadiahku jauh lebih mulia dari mereka. Aku memberi hadiah tanpa diliput oleh media, tanpa harapan subscriber naik.


“Dan aku memberi hadiah pada mereka karena mereka bukan orang yang aku benci. Andai pun aku ini orang paling dermawan, aku tidak akan memberi hadiah atau pun bantuan pada orang yang aku benci.”


Prapto kagum. Raut wajah Pak Oscar pasti. Tanpa kesombongan, hanya ada kemurnian dan ketegasan. Kemurnian berbuat mulia tanpa mengharap imbalan, dan ketegasan dengan prinsip bahwa ia tak akan memaafkan orang yang ia benci.


Nimo tampak tertarik. Ia mengangsur duduk ke depan setelah meneguk kopinya. “Pak Kades punya orang yang Bapak benci?”


Pak Oscar tersenyum. “Tentu saja, Nak Nimo. Ada hal-hal dan orang-orang yang aku benci.”


Nimo mengangguk-angguk.


Sebuah mobil box melaju amat pelan dan hampir lewat di depan pagar rumah Pak Oscar. Sopir mobil box itu menyetir sambil melihat ponsel.


“Mas!” panggil Prapto pada sopir mobil box tersebut sambil melambaikan tangannya. “Masukkan saja ke halaman, Mas!”


Sopir itu tampak tersenyum. Ia memundurkan mobilnya sedikit lalu masuk ke halaman rumah Pak Oscar. Pria paruh baya yang duduk di sebelah sopir turun menuju bagian box, namun sopir itu tetap di bangku kemudi.


Sopir itu tersenyum lalu membuka pintu mobilnya. Senyum yang bisa diartikan jelas oleh Prapto, Pak Oscar, dan juga Nimo. Senyum yang menunjukkan bahwa sang sopir merasa dihormati meskipun ia bukan seseorang yang bergaji besar.


***


“Pinaka, manis, sudah selesai dandannya?” sorak Prapto dari teras. Ia memanggil istrinya sambil menahan senyum.


“Sebentar, Mas,” balas Pinaka.


“Tidak dandan pun kau tetap manis, kok!” sorak Prapto lagi.


“Mas Prapto gombal!”


Prapto tertawa. Ia menyulut rokoknya, lalu memeriksa tas berukuran sedang, berisi peralatan melukis yang akan ia bawa ke festival musim panas di balai desa.

__ADS_1


Pinaka muncul di pintu dan tersenyum pada Prapto. “Ayo, Mas Gombal kita ke balai desa!” ajaknya.


Prapto tertawa. Ia mengangkat tas dan kemudian membonceng Pinaka dengan sepeda ke balai desa.


***


“Semoga kita menang lomba lagi, ya, Lapen, Taro,” kata Lennon sambil memasukkan peralatan melukisnya ke dalam tas.


Seperti biasa, Lennon dan Taro sudah tiba di rumah Lapen pagi-pagi sekali untuk merawat tanaman gandum mereka dan membantu Stepen merawat ternak.


Lapen dan Taro akhirnya juga selesai memasukkan peralatan melukis mereka ke dalam tas masing-masing.


Lapen menghela napas. “Entah lah, Lennon,” katanya. Ia lalu menggelengkan kepala. “Kalau lomba memancing aku bisa jamin kita menang. Tapi kalau soal lomba melukis, kau sendiri tahu bagaimana lukisan kita.”


Terdengar tawa Taro, membuat kedua temannya menoleh. “Aku kemarin sore berjalan-jalan dengan ayahku dan melihat beberapa bapak-bapak desa Kejora melukis di halaman rumah mereka.


“Lukisan mereka bagus-bagus. Paman Prapto dan Paman Nimo juga. Tapi kita tidak boleh gentar, Lapen, Lennon.” Wajah Taro tampak semakin bersemangat. “Kalian sudah dengan kabar, kan, bahwa Kek Oscar akan memberi hadiah pada semua anak-anak desa Kejora?


“Belum lagi beragam makanan enak yang nanti akan kita santap sampai kenyang. Jadi, festival musim panas ini membahagiakan, menang atau tidaknya kita dalam lomba melukis.”


“Tumben dia berkata bijak begini, Lapen?” tanya Lennon tanpa menoleh pada Taro.


Lapen tertawa. “Dia kadang memang bisa diandalkan,” katanya. “Aku sudah tanya pada Kakek apa hadiah yang akan Beliau berikan pada anak-anak desa nanti, tapi Kakek tak mau memberitahu.


“Ayo, berangkat ke festival musim panas dan habiskan semua makanan di sana!” Lapen berdiri, kedua temannya pun mengikuti.


Mereka bertiga mengambil sepeda masing-masing. Raut wajah mereka kini tampak serius dan penuh semangat. Kemudian Lapen mengayuh sepedanya.


“Ayo!” sorak Lennon dan Taro hampir bersamaan.


“Eh, kalian, tunggu!” sorak Lastri. Namun Lapen berserta kedua temannya sudah menghilang dari pandangannya.


Stepen yang sedang makan mendengar sorakan Lastri, ia pergi ke teras membawa piring nasinya. “Kenapa, Lastri?” tanyanya.


“Mereka bertiga belum sarapan, Mas.”

__ADS_1


Stepen tertawa. “Tenang saja, di balai desa akan ada banyak camilan untuk sarapan. Ayo, lanjutkan lagi sarapanmu, setelah itu kita pergi ke balai desa.”


Lastri mengangguk tersenyum. Apa yang dibilang Stepen menenangkan hatinya.


__ADS_2