
Pinaka heran melihat Lapen berlari ke arah mejanya. Ia lalu berdiri setelah Lapen tiba di depan meja tempat ia duduk. "Ada apa, Lapen?" tanyanya.
"Oooh ... itu ... Itu Tante ..." Lapen menghentikan kata-katanya. Ia lalu berpura-pura mengambil napas.
"Itu apa? Kau tidak apa-apa, kan, Lapen?" tanya Pinaka, agak cemas.
"Itu Paman Prapto memintaku memanggilkan Tante. Dia duduk di teras sekarang," jawab Lapen, tertawa.
Pinaka menggelengkan kepalanya. "Awas kau, nanti aku minta Paman Prapto menggelitikmu."
Lapen hanya tertawa lalu pergi mencari buku yang ingin ia baca.
"Kalau Lapen mengawali kata-katanya dengan 'oooh', itu berarti dia sedang bergurau atau mengarang, Tante," kata Taro pada Pinaka.
"Terima kasih, Taro. Lain kali aku akan memperhatikan awalan kata-katanya. Ya sudah, aku ke teras dulu, ya. Kalian catat dulu jika ada bagian buku yang ingin ditanyakan, nanti akan aku terangkan satu-satu," jawab Pinaka.
Pinaka melangkah ke luar perpustakaan. Ia melihat Prapto tengah duduk di bangku panjang sambil melihat ponsel. "Sebentar, ya, Mas Prapto, aku lupa membuat kopi."
Prapto menoleh. "Tidak usah, Pinaka. Hari sudah hampir senja juga. Duduklah."
"Bukankah tuan rumah yang seharusnya menawarkan duduk?" tanya Pinaka, tersenyum. Ia lalu duduk di sudut bangku panjang.
"Benar juga," sahut Prapto, tertawa. "Bagaimana kegiatanmu di perpustakaan? Membosankan?"
"Tidak, Mas. Aku malah senang dan lebih santai sejak menjadi pustakawan di desa Kejora ini. Bagaimana hasil kerja sama bisnis yang Mas Prapto tawarkan ke restoran mewah dan perusahaan pangan?" tanya Pinaka.
"Pimpinan perusahaan pangan dan restoran mewah itu orangnya lucu, Pinaka. Tapi syukurlah, penawaran kerja sama bisnis itu mereka setujui. Sekarang, warga tinggal menunggu kedua bangunan penampung selesai dibangun saja, lalu mereka bisa menjual hasil ngebun dan makanan hasil olahan.”
"Lucu bagaimana, Mas?" tanya Pinaka, tersenyum.
"Pimpinan restoran mewah itu berkata, 'Nanti aku akan rapat membahas hal ini. Andai para petinggi restoranku tidak setuju, mereka tetap harus setuju, karena aku pemilik tunggal restoran ini.' "
Pinaka tertawa. "Lalu, pimpinan perusahaan pangan itu?"
"Nama perusahaannya Indah Hijau. Warna gedungnya hijau. Seragam karyawannya berwarna hijau. Mobil perusahaannya pun hijau. Bahkan pimpinan perusahaan itu mengenakan setelan jas yang juga berwarna hijau. Dan yang paling lucu, ia bernama Reynaldi Hijau. Ayahnya bernama Sarbini Hijau. Dan kakeknya Kencono Hijau."
Pinaka dan Prapto tertawa.
"Kau berasal dari mana, Pinaka?" tanya Prapto dengan raut wajah serius.
"Dari Jakarta, Mas. Mas Prapto kan sudah tahu."
"Jangan bohong," kata Prapto.
Pinaka menatap Prapto heran. "Aku tidak bohong, Mas."
"Mana ada wanita Jakarta yang semanis dirimu, Pinaka. Kau pasti berasal dari kahyangan, 'kan? Lalu kau menyamar jadi manusia agar tidak ditemukan oleh ratu bidadari."
Pinaka tertawa tersipu. "Ada-ada saja kau, Mas Prapto. Mas bisa gombal juga ternyata."
Prapto tak menjawab, ia hanya tertawa.
"Ngomong-ngomong, Nimo dan Arini tampaknya akan menikah setelah panen padi musim depan, Pinaka," kata Prapto. "Dia sudah mendapat restu dari orang tuanya Arini."
__ADS_1
"Syukurlah, Mas. Mereka memang saling suka. Mas Prapto pernah bilang padaku bahwa Nimo suka pada Arini, dan Arini bercerita padaku bahwa ia menyukai Nimo tapi malu-malu."
Prapto mengangguk. "Nanti, setelah bangunan penampung selesai, kau tidak ingin mencoba mengolah hasil ngebun menjadi makanan lalu menjualnya, Pinaka?"
"Aku mau, Mas. Soal memasak, aku bisa belajar pada Bu Intan atau pada ibu-ibu yang lain nanti. Tapi masalahnya, aku 'kan tidak punya kebun," jawab Pinaka.
"Begini saja, Pinaka," kata Prapto. "Kau dan Arini nanti mengolah hasil ngebun kami saja. Lalu kita bagi hasilnya setelah dijual. Aku dan Nimo sama-sama tidak berminat untuk belajar memasak. Bagaimana?"
Wajah Pinaka berseri. "Okay, Mas. Kalau begitu, setelah perpustakaan tutup, aku akan berkunjung ke rumah Bu Intan untuk belajar masak. Terima kasih, Mas, atas penawarannya. Tapi ..."
"Tapi apa?"
"Tapi, penawaran Mas Prapto kali ini tidak ada ancamannya seperti penawaran yang dulu, kan?"
Prapto tak menjawab. Mereka sama-sama tertawa.
***
"Aku rasa Arini akan setuju, Bos. Nanti akan aku sampaikan padanya," kata Nimo pada Prapto.
Prapto dan Nimo baru saja selesai mengurus tanaman dan ternak mereka dan kini tengah ngopi di depan dapur kebun.
"Baguslah, Nimo," sahut Prapto.
"Kau sudah semakin dekat dengan Pinaka, Bos. Kapan kau akan berkenalan dengan kedua orang tuanya?"
"Aku belum tahu, Nimo. Mungkin nanti aku akan ikut dengan Pinaka ketika ia pulang ke rumahnya di akhir pekan."
Nimo mengangguk. "Aku sudah melihat beberapa artikel tentang ketiga sayuran Jepang yang akan kita tanam itu, Bos."
"Kapan sampai bibitnya, Bos?" tanya Nimo.
"Kata Pak Gumiro, dua atau tiga hari lagi, Nimo." Prapto lalu melihat jam di ponselnya. "Ayo, Nimo, kita ke balai desa!" ajaknya.
***
Di balai desa, Prapto mengobrol dengan Pak Oscar ketika mereka beristirahat untuk minum kopi bersama beberapa bapak-bapak yang lain.
Pak Ino tampak sibuk memasang beberapa kayu untuk bagian atas salah satu bangunan penampung. Kedua bangunan itu ternyata lebih tinggi dari bangunan balai desa. Di belakang bangunan tersebut juga dibangun dapur kecil untuk tempat berbincang dan minum kopi.
"Kata Pak Ino, dua hari lagi kedua bangunan penampung itu akan selesai, Nak Prapto.” Pak Oscar yang berkata.
"Cepat juga, ya, Pak Kepala Desa."
"Karena semua warga desa Kejora mau bergotong royong, Nak Prapto. Syukurlah, semua penawaran bisnis desa Kejorw disetujui. Setelah penjualan pertama nanti, mari kita pikirkan apa lagi yang bisa kita lakukan untuk memperindah dan menambah sejahteranya desa Kejora ini."
"Mungkin yang berhubungan dengan sungai, Pak Oscar," jawab Prapto setengah asal-asalan.
"Benar juga!" seru Pak Oscar. Orang tua itu lalu menyulut cangklongnya.
Prapto kaget. "Huh? Apakah saranku tadi membantu, Pak Oscar?" tanyanya.
"Ya, Nak Prapto. Aku mendapat sebuah ide. Nanti akan kita bahas paling lama setelah penjualan pertama," jawab Pak Oscar.
__ADS_1
Prapto hanya tersenyum heran. Ia tidak menyangka bahwa jawaban yang setengah asal-asalan itu akan disetujui oleh Pak Oscar. Prapto kini jadi penasaran, apa yang direncanakan Pak Oscar tentang sungai?
***
Ternyata pembangunan kedua bangunan penampung desa Kejora, yaitu bangunan untuk menampung hasil ngebun dan makanan olahan berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan. Bahkan Pak Ino sendiri yang memimpin pembangunan tersebut tidak menyangka.
Sore itu, Pak Ino duduk di balai desa sambil memandangi kedua bangunan penampung yang baru saja selesai dibangun. Dari sampingnya, istri Pak Ino datang membawa minuman dan camilan.
"Sudah selesai, Pak?" tanya istri Pak Ino yang rambutnya panjang sebahu, Bu Ani.
"Sudah, Bu. Tinggal mengecat dan memasang pagarnya. Kinan mana, Bu?"
"Itu, Pak, di bawah pohon. Dia bermain bersama Leni dan Anin," jawab Bu Ani.
Pak Ino melihat ke arah pohon yang ditunjuk oleh Bu Ani. Ia lalu tersenyum melihat putrinya bermain membuat rumah-rumahan dari tanah bersama anak perempuan yang lain.
"Menurutmu, Bu, apa warna yang bagus untuk kedua bangunan itu?" tanya Pak Ino.
Bu Ani tampak berpikir sejenak sambil memperhatikan kedua bangunan di seberang jalan. "Jangan disamakan warnanya, Pak. Yang satu dicat warna hijau saja, satu lagi warna merah bata. Atapnya saja yang disamakan, warna hitam."
Pak Ino membayangkan warna kedua bangunan tersebut seperti yang dibilang oleh istrinya. Ia lalu tersenyum. "Selain cantik, ternyata kau hebat, ya, Bu. Warna itu akan sangat cocok dan tampak alami," katanya.
"Bapak Gombal!" kata Bu Ani malu-malu.
"Aku menghampiri Pak Oscar dulu, ya, Bu, untuk mengatakan tentang warna bangunannya. Kau ada lihat di mana Pak Oscar?"
"Iya, Pak. Tadi Pak Oscar tak jauh dari tempat Kinan bermain. Beliau ngobrol dengan Prapto, Nimo, dan Pak Dwipangga."
Pak Ino melangkah sambil membawa gelas kopinya ke tempat yang dibilang oleh istrinya barusan.
"Ino! Ngopi di sini saja, sekalian ada yang mau aku bicarakan."
Pak Ino menoleh. Yang memanggilnya barusan adalah Pak Oscar. "Aku memang mau ke sini, Pak Kepala Desa, ada yang mau aku bicarakan padamu," kata Pak Ino. Ia kemudian ikut duduk setelah menyapa Prapto, Pak Dwipangga, dan Nimo.
Pak Oscar menangguk-angguk. Ia menyulut cangklongnya terlebih dahulu lalu berkata, "Tampaknya besok bangunan penampung akan segera selesai, ya, Ino?"
"Iya, Pak Kepala Desa. Paling lama besok sore sudah selesai." Pak Ino meneguk kopinya lalu menyulut rokok.
"Aku ingin menanyakan perihal warna yang cocok untuk kedua bangunan itu padamu, Ino. Kami tadi telah membicarakannya, tapi tak ada yang menemukan warna apa yang kira-kira akan cocok. Bagaimana menurutmu?" tanya Pak Oscar.
Pak Ino tersenyum. "Aku mencari Pak Kepala Desa juga untuk membahas itu," katanya. "Aku juga sudah memilih warna tadi, tapi tidak ketemu. Lalu aku tanya pada Ani. Dan Ani memiliki pilihan warna yang cocok."
"Warna apa itu, Ino?" tanya Pak Dwipangga.
"Untuk bangunan penampung hasil ngebun, warna hijau yang tidak terlalu terang, Pak Dwipangga. Sedangkan untuk bangunan penampung hasil olahan makanan, warna merah bata. Dan kedua atapnya warna hitam," terang Pak Ino.
Tak ada yang menjawab. Prapto, Nimo, Pak Oscar, dan Pak Dwipangga melihat ke arah kedua bangunan itu sambil membayangkan warna yang disebut oleh Pak Ino barusan. Tak lama kemudian, mereka mengangguk-angguk setuju.
"Cocok!" kata Pak Oscar.
Pak Ino tersenyum. Ia lalu menoleh pada Prapto. "Bagaimana rumahmu, Prapto? Ada masalah pada bangunannya?"
"Aman semua, Pak Ino. Rumah papan yang keren dan kokoh," jawab Prapto, tertawa. Ia lalu menoleh pada Pak Oscar. "Oh iya, Pak Kepala Desa. Aku tadi ngobrol dengan menantu Bapak, Mas Stepen. Kata Mas Stepen, desa Kejora selalu mengadakan festival. Festival apa dan kapan saja diadakannya, Pak?"
__ADS_1
Pak Oscar menghisap cangklongnya.