
“Bagaimana, Purnomo?” Pak Oscar menoleh pada Pak Purnomo yang baru datang dari halaman balai desa.
“Semua ... .” Pak Purnomo menghentikan kata-katanya, ketika melihat Pak Oscar memberi isyarat dengan mengangkat tangannya yang memegang cangklong.
“Duduk dulu, Pur. Kau tidak capek berdiri terus?” tanya Pak Oscar, tertawa.
Pak Purnomo balas tertawa, lalu ikut duduk di depan teras balai desa. Ia menyulut rokok.
“Tidak, Oscar. Langit sedikit mendung, udara sejuk. Cuaca begini tidak cepat membuat lelah. Semua persiapan lomba sudah selesai, Oscar, tinggal menunggu seluruh warga datang saja untuk memulai lomba. Aku rindu festival desa Kejora,” kata Pak Purnomo.
Pak Oscar menyulut cangklong yang sejak tadi sudah dipegangnya. “Terima kasih, Purnomo.” Kemudian ia mengangguk-angguk. “Sudah setahun, ya, Pur, kau tidak menghadiri festival desa Kejora.”
Pak Purnomo mengangguk. “Iya. Aku ingin sekali ikut festival memancing yang kemarin itu, Oscar. Aku lihat di story WA-mu dan Pak Uto, cucumu dan kedua sahabatnya menang.”
“Iya, Pur. Hampir setiap hari mereka ke sungai untuk mencari tempat memancing yang bagus dan meneliti umpan.”
“Mereka bertiga itu memang keren dan cerdas, Oscar. Aku salut pada mereka ketika aku mendengar mereka ingin menekuni tentang tanaman gandum dan cara membuat roti.” Pak Purnomo tersenyum. “Kau ikut, kan, lomba melukis nanti?”
Wajah Pak Oscar tampak bersemangat. Ia tersenyun. “Tentu saja, Pur. Aku suka melukis,” jawabnya. “Tapi aku masih belum memutuskan akan membuat tema lukisan musim apa.”
Pak Purnomo mengernyitkan wajahnya, berpikir. Pak Oscar memperhatikannya, menunggu sahabat karibnya itu memberi saran.
“Aku lihat kau sudah lumayan mahir dan suka melukis bunga, Oscar. Mungkin lukisan bertema musim semi akan cocok untukmu,” kata Pak Purnomo.
Pak Oscar mengangguk-angguk. “Sepertinya saranmu itu akan aku pakai nanti, Pur,” katanya. “Terima kasih, ya.” Ia meneguk kopinya.
+#-$-$-$
__ADS_1
Pak Purnomo mengangguk tersenyum. Istrinya kemudian datang membawakan kopi, lalu kembali ke tempat ibu-ibu dan kaum wanita memasak.
Para warga masih terus berdatangan di gerbang balai desa. Di halaman yang dilapisi oleh rerumputan kini telah berjejer kanvas, dan di depan masing-masing kanvas telah berdiri peserta lomba yang sudah datang membawa peralatan melukis mereka.
Asap tampak sudah mengepul dari tungku-tungku yang didirikan di samping bangunan balai desa, yang berarti para wanita yang tidak ikut lomba melukis sudah mulai memasak.
Peraturan lomba melukis di festival musim panas ini sederhana. Tema lukisannya tentang empat musim, cat yang digunakan tidak ditentukan jumlahnya, dan lukisan harus murni tanpa melihat contoh di ponsel atau buku.
Gelombang kedatangan warga desa Kejora di balai desa ditutup oleh Lapen dan ketiga sahabatnya. Mereka bertiga langsung memasang kanvas berdampingan dan mengeluarkan perlatan melukis masing-masing.
Prapto mendirikan kanvas di sebelah kiri Taro, dan Nimo di sebelah kanan Lennon, sedangkan Lapen berada di tengah-tengah mereka.
Di seberang Prapto, ternyata para pemilik perusahaan yang bekerja sama bisnis dengan desa Kejora, yaitu Pak Gumiro, Pak Handoko, dan Pak Reynaldi Hijau sudah hadir. Entah mereka pandai melukis atau tidak, tapi di depan mereka masing-masing kini telah berdiri kanvas lukis.
Pak Purnomo yang telah diperkenalkan pada ketiga bapak-bapak pengusaha itu tertegun melihat kanvas Pak Reynaldi dari tempat duduknya. Seluruh bagian kanvasnya telah dilapisi dengan cat hijau.
Pak Oscar telah berdiri di depan para warga. Ia menyulut kembali cangklongnya yang tadi mati, melihat warganya sejenak. Setelah mengucapkan selamat datang kepada ketiga pengusaha yang bekerja sama bisnis dengan desa Kejora, Pak Oscar membuka festival musim panas.
Dengan dibukanya festival, lomba melukis pun dimulai. Pak Oscar langsung menuju ke depan kanvasnya, mengambil kuas, dan membuat tiga warna untuk dipadukan menjadi langit.
Diperlukan setidaknya empat atau lima jenis kuas untuk melukis dengan teknik melukis yang diajarkan oleh Pak Purnomo. Salah satu dari kuas-kuas itu tidak akan diberi cat, karena hanya akan digunakan untuk mencampur dan menghaluskan cat pada kanvas.
Acara festival musim panas berlangsung dengan sampai sore dan ditutup dengan makan-makan. Hidangan-hidang lezat disajikan di meja-meja yang terdapat di berbagai tempat di depan balai desa.
Aroma makanan yang lezat membuat Lapen, Taro, dan Lennon ingin segera melompat ke salah satu meja lalu melahap semuanya.
“Nanti dulu.” Yang bicara ternyata adalah Pak Oscar. Ia berdiri di belakang tiga sahabat yang tengah menatap semua hidangan itu. “Setelah hidangan sudah diletakkan di meja semuanya, kalian boleh melompat ke sana.”
__ADS_1
“Lama tidak, Kek?” tanya Lapen. Setelah itu ia kembali menoleh ke arah hidangan.
“Tidak sampai sepuluh menit lagi,” jawab Pak Oscar. Ia kemudian berlalu, menghampiri Pak Purnomo untuk membicarakan lomba.
Usai makan, para warga memperhatikan lukisan yang telah selesai dibuat, yang berjejer di halaman balai desa.
Pak Purnomo berjalan menyusuri lukisan-lukisan tersebut sambil membawa buku. Ia menilai lalu mencatat nilai yang ia berikan pada lukisan-lukisan tersebut.
Lukisan yang paling terakhir yang dinilai oleh Pak Purnomo adalah lukisan Pak Reynaldi Hijau. Ia tertegun memandangnya. “Pak Reynaldi Hijau menggunakan kanvas yang terlebih dahulu dilapisi cat hijau.
“Hasil lukisannya pun bagus. Kepandaian melukisnya tidak jauh berada di bawahku.” Pak Purnomo kemudian mencatat hasil penilaiannya ke dalam buku.
Pak dan Pak Purnomo melangkah ke tengah halaman balai desa. Pak Oscar kemudian mempersilakan sahabatnya itu untuk mengumumkan pemenang lomba.
Pak Purnomo memperhatikan lukisan-lukisan yang dinilainya, lalu kembali menoleh pada para peserta lomba.
“Ada lima pemenang yang akan mendapatkan lima hadiah juara,” kata Pak Purnomo. “Tapi tetap ada bingkisan hadiah untuk semua peserta lomba, karena lomba ini diadakan bukanlah atas dasar bersaing, melainkan untuk mengisi acara festival desa Kejora.
“Juara pertama lomba melukis sungguh tidak aku duga sebelumnya, yaitu Pak Reynaldi Hijau dengan lukisan pintu hutan di tepi sungai pada musim semi.”
Pak Purnomo melanjutkan pengumuman juara. Juara kedua adalah Prapto dengan Lukisan matahari terbenam di musim gugur. Juara ketiga adalah Nimo, dengan lukisan kebun pada musim semi. Juara keempat adalah Pak Rodi dengan lukisan musim hujan tepi sungai.
Juara kelima adalah Lennon, dengan lukisan kebun gandum musim gugur. Lapen dan Taro mengangkat sahabatnya itu ke tengah halaman diiringi tawa para hadirin.
Selanjutnya, sesudah hadiah lomba diberikan oleh Pak Oscar, kepala desa Kejora itu memberikan hadiah miniatur kepada anak-anak desa Kejora.
Prapto, Pinaka, Arini, dan Nimo tersenyum bahagia melihat keceriaan anak-anak desa menerima hadiah dari Pak Oscar.
__ADS_1