
"Kek, aku minta ikan hias Kakek, ya," pinta Lapen Oscario. Ia tengah duduk di bangku panjang yang menghadap ke kolam kakeknya.
Pak Oscar terus memperhatikan permukaan kolamnya yang berwarna keemasan ditimpa cahaya matahari sore. Ia menyulut cangklong lalu bertanya, "Pasti kau mau melepaskannya ke sungai, ya, Lapen?"
Wajah Lapen mengernyit. "Kok, Kakek tahu?" tanyanya. Ia berdiri lalu melangkah ke samping kakeknya yang berdiri di tepi kolam.
Pak Oscar tersenyum. "Ayahmu yang cerita."
"Ikan hias bisa hidup di sungai, kan, Kek?"
"Bisa, Lapen. Kau mau berapa ekor?"
"Tunggu dulu, Kek. Nanti ikan hiasnya akan pergi atau menetap di sungai?" tanya Lapen.
Pak Oscar berpikir sejenak. "Bisa saja mereka pergi, Lapen. Ada kemungkinan mereka nanti akan mencari habitat lain jika mereka merasa kurang nyaman karena diganggu oleh ikan-ikan yang ada di sungai. Tapi coba saja lah dulu."
Lapen mengangguk. "Kalau begitu, aku minta lima ekor, ya, Kek."
"Ayo, kita tangkap!" ajak Pak Oscar.
Lapen berlari ke rumah kakeknya dan tak lama kemudia ia telah muncul membawa ember cat warna putih dan sebuah tangguk. "Ayo, Kek!" Lapen menaruh ember di tepi kolam dan memberikan tangguk pada kakeknya.
Pak Oscar memegang tangguk sambil memperhatikan permukaan kolamnya. Wajahnya tampak serius.
"Kek!" seru Lapen, ketika ia melihat punggung seekor ikan. Pak Oscar langsung mengayunkan tangguknya dengan cepat, namun tangguk itu hanya membawa daun kering ketika diangkat.
Pak Oscar menggelengkan kepalanya lalu kembali memperhatikan permukaan kolam. Ia dan Lapen terus mencoba menangguk ikan secara bergantian, hingga dua puluh menit berlalu tapi mereka tetap tidak mendapatkan apa-apa.
__ADS_1
"Susah sekali, Kek," kata Lapen. Ia kemudian duduk karena lelah. "Ternyata menangguk ikan tak semudah memancing."
"Sudah dapat berapa, Lapen?"
Lapen dan Pak Oscar menoleh ke belakang. Yang bertanya barusan ternyata adalah Bu Inari. Ia tengah melangkah ke tepi kolam membawa dua gelas kopi dan secangkir teh. Bu Inari kemudian ikut duduk. Setelah meletakkan minuman ia melihat ember cat yang tadi dibawa Lapen. Wajahnya mengernyit. "Belum dapat satu pun, Pak?" tanyanya pada Pak Oscar.
Pak Oscar menggeleng. "Belum, Bu. Susah sekali menangkapnya."
"Kenapa tidak dikasih makan dulu, Pak, supaya ikan-ikannya berkumpul dan bisa ditangguk dengan mudah?"
Pak Oscar dan Lapen saling pandang untuk beberapa saat dan kemudian tertawa. Lapen berdiri lalu berlari ke sudut rumah kakeknya untuk mengambil makanan ikan. Setelah ia kembali, Lapen menaburkan makanan ikan ke kolam. Semua ikan hias Pak Oscar tampak muncul ke permukaan.
Tak sampai lima menit, ember ikan Lapen kini telah berisi lima ekor ikan hias. "Terima kasih, Nek," kata Lapen, tertawa, sambil mengangkat ember. "Jika Nenek tidak memberitahu kami, mungkin sampai malam aku dan Kakek tak akan dapat satu pun ikan."
Bu Inari tersenyum. "Habiskan dulu kopimu, Lapen," katanya.
***
Prapto, Tri, dan Nimo menghampiri pria tua yang membawa keranjang buah di depan mereka lalu memperkenalkan diri. Mereka tidak bersalaman, hanya saling menjura sesuai tradisi di India. Pria tua yang wajahnya tampak begitu damai dan bijaksana itu memperkenalkan dirinya sebagai Rahul.
"Mari, kita duduk di teras!" ajak Pak Rahul. Sesampainya di teras, ia lalu memanggil istrinya dan memperkenalkan Prapto, Tri, dan Nimo. Istri Rahul bernama Kajol. Rambutnya disanggul dan pada hidungnya terdapat sebuah anting kecil berbentuk bulat.
Tri sudah menceritakan pada Prapto dan Nimo bahwa Rahul sering didatangi oleh pemuda maupun bapak-bapak yang ingin mempelajari ilmu pertanian alami. Orang-orang yang datang untuk belajar tersebut tidak hanya dari India, ada juga datang jauh-jauh dari luar India. Namun, hampir semua dari yang datang itu pulang tanpa membawa ilmu pertanian apapun.
Cerita Tri tersebut membuat Prapto dan Nimo memilih untuk berhati-hati sebelum mengutarakan pada Pak Rahul bahwa maksud dari kedatangan mereka adalah untuk belajar tentang pertanian alami.
"Jadi, sebelum ke sini kalian ke hutan amazon dulu?" tanya pak Rahul. Di belakangnya, Bu Kajol datang menghidangkan minuman lalu kembali ke rumah.
__ADS_1
"Iya, Pak," jawab Prapto.
Pak Rahul tersenyum. "Mencari terra petra?"
Prapto mengangguk. "Iya, Pak. Aku dan Nimo juga berkebun. Di desa kami, setiap rumah punya kebun dan mereka mengelolanya dengan cara alami."
Pak Rahul mengangguk sambil tersenyum penuh arti. "Sealami apa pertanian dan peternakan di desa kalian, Prapto?"
Prapto menatap Nimo yang juga tampak berpikir keras tentang pertanyaan Pak Rahul barusan. Ia lalu berkata, "Tanpa pestisida, tanpa pupuk kimia, dan juga tanpa kompos, Pak."
"Bagaimana cara kalian menanam bibit?" tanya Pak Rahul lagi.
Prapto merasa heran. Bukankah cara menanam tanaman cuma ada satu, pikirnya. "Dengan membuat lubang di tanah dan menutupnya kembali setelah bibit ditanam, Pak."
Pak Rahul kembali tersenyum penuh arti.
Karena Pak Rahul tidak menanggapi, maka Prapto merasa sekarang lah waktu yang tepat untuk mengutarakan maksud kedatangannya pada Pak Rahul. Namun baru saja Prpato hendak bicara, sebuah mobil off-road berhenti tak jauh dari teras Pak Rahul. Dari mobil tersebut turun seorang pria paruh baya yang tampaknya baru pulang dari kantor.
Pria paruh baya itu kemudian dipersilakan duduk oleh Pak Rahul dan dihidangkan minuman. Ia memperkenalkan diri sebagai Raj, seorang pengusaha pertanian dari salah satu negara bagian India. Setelah mengobrol sebentar, Raj pun mengatakan bahwa maksud kedatangannya adalah untuk belajar ilmu pertanian alami dari Pak Rahul.
"Bisnis pertanianku lumayan maju, Pak, dan berjalan dengan baik. Lalu seorang sahabat datang dan mengatakan padaku bahwa di tempat ini tinggal seorang tua yang memiliki ilmu pertanian langka. Maka dari itu lah aku pergi menemui Pak Rahul," kata Raj.
Pak Rahul mengelus jenggot panjangnya sambil menangguk-angguk. Raut wajahnya tetap tampak damai dan bijaksana. "Maaf, Pak Raj. Bukan aku membencimu, atau tidak menghargai kedatanganmu. Namun, aku tidak bisa memberikannya. Harap Pak Raj tidak membenci aku karena ini." Pak Rahul lalu menangkupkan kedua tangannya.
Raj mengangguk paham. Ia tampak kecewa, namun dari wajahnya bisa dilihat bahwa ia tidak membenci Pak Rahul. Raj ikut mengobrol sebentar dan tak lama kemudian pamit pulang.
Prapto dan Nimo saling berpandangan. Mereka merasa cemas. Cemas jika Pak Rahul menolak untuk mengajari mereka setelah mereka datang jauh-jauh dari Endonesa. Prapto segera tahu bahwa Pak Rahul adalah orang yang tegas dan berprinsip, terlihat dari penolakannya pada Raj barusan.
__ADS_1
Sementara Pak Rahul mengobrol dengan Tri, Prapto mengajak Nimo jalan-jalan keliling kebun Pak Rahul untuk membicarakan sesuatu.