Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
57. Cinta, Rindu, dan Caping Bambu


__ADS_3

"Jadi, Bos, Mas Timo akan memantau terus sampai ia bisa dapat foto kedekatan Rini bersama pria lain?"


Prapto tertawa. "Benar, Nimo. Itulah kenapa meskipun kadang Timo menyebalkan, tapi aku selalu membantunya, karena dia selalu mau membantuku.”


“Bos yakin Mas Timo akan mendapatkannya?”


Prapto mengangguk. “Seorang feminis biasanya akan pergi atau makan dengan pria selain suaminya sepulang mereka bekerja, Nimo. Si suami pasti tidak suka, namun dia lemah dan takut ditinggalkan. Meskipun begitu, kalau kita pandai menyulut api, suaminya pasti akan marah dan kesal pada Rini.


"Jadi, kita ancam Rini. Kita akan mengirim apa foto yang dapat oleh Timo pada suaminya, dan kita katakan padanya hasutan seperti apa yang akan kita bilang ke suaminya jika ia tidak mau jujur pada Pinaka.”


“Kalau dia tidak takut bagaimana, Bos?" tanya Timo.


Prapto tersenyum. "Suaminya dulu adalah karyawan yang berpenghasilan sedang saja di perusahaannya Pak Gumiro, Nimo. Gaji Rini lebih besar darinya. Tapi, sejak dia pindah ke perusahaan yang baru, kariernya naik dan gajinya sekarang jauh di atas gaji Rini.


"Aku dulu sering menguping pembicaraan Rini dengan Silvi waktu dia ke rumahku, Nimo. Rini memang lebih berkuasa dalam rumah tangga daripada suaminya, dan ia ingin terus seperti itu. Tapi, katanya, sekarang dia harus hati-hati karena dia butuh uang suaminya untuk membangun rumah atas namanya di Surabaya. Rumah itu hadiah dari suaminya.”


Nimo mengangguk-angguk. "Aku paham, Bos. Meskipun peluang berhasilnya sama dengan peluang gagalnya, hanya cara ini yang kita dapat."


Prapto menyeringai. "Tidak hanya sampai di situ, Nimo. Aku akan tetap menyulut api di pihak suaminya Rini. Aku tidak peduli dia akan bercerai atau tidak, yang jelas aku benci dia karena dia telah mengusik hidupku."


"Kedengarannya kejam, Bos. Kau itu kadang menakutkan. Tapi aku setuju,” kata Nimo.


***


Timo tersenyum dari salah satu meja cafe mengambil foto secara beruntun dengan kamera ponselnya, ketika Rini yang tengah berjalan ke luar cafe terpeleset lalu disambut oleh pria yang berjalan di sampingnya. Pria itu menarik Rini berdiri sambil menatap matanya.


"Mampus kau, Rini! Kalian di foto ini bertatap-tatapan dan berpegangan tangan. Mesra sekali. Kecap asin akan terasa pahit bago Subakti," kata Timo, teerawa. Ia kemudian bangkit dan menuju ke kasir.


Sesampainya di rumah, Timo memilih-milih foto yang ia ambil di cafe tadi lalu mengirim dua buah foto pada Prapto. Pada foto pertama, tampak Rini dan Silvi tertawa dengan dua orang pria di cafe. Di foto yang kedua, Rini berpegangan tangan dengan pria yang sama sambil bertatap-tatapan.


***


Malam ini Nimo menginap di rumah Prapto. Mereka mengirimi Rini dua foto yang didapat dari Timo dan sepenggal kata ancaman dalam bentuk pesan singkat.

__ADS_1


Ini Prapto. Aku bisa saja mengirimnya pada suamimu, namun itu tentu saja tidak membuat seorang Rini takut. Tapi bagaimana jika aku menambahkan bumbu? Aku akan mengatakan pada Subakti bahwa istrinya sangat sering bertemu dengan pria itu. Jika istrinya beralasan, itu hanya karena istrinya takut pembangunan rumah atas namanya di Surabaya dibatalkan. Katakan kebohonganmu pada Pinaka jika kau tak ingin itu terjadi, Rini. Aku akan mengirim nomor Pinaka padamu. Aku beri waktu sampai menjelang sore, atau Subakti akan mencampakkanmu.


"Bagaimana, Nimo? Sudah pas belum?" tanya Prapto.


Nimo mengangguk. "Pas, Bos. Aku rasa nenek sihir itu akan ketakutan."


***


Pinaka berdiri di teras menatapi pintu perpustakaan yang baru saja ia tutup. Ia tidak membicarakan tentang kepulangannya pada siapa pun. Kepada ibu-ibu desa Kejora, Pinaka hanya mengatakan ia pulang sehari. Hanya Prapto yang tahu tentang kepulangannya. Dan Prapto lah yang diharapkan Pinaka mencegah kepulangannya tersebut.


Dalam hatinya, Pinaka sebenarnya yakin bahwa Prapto tidak lah seperti yang dibilang Rini dan Silvi, namun perasaan kecewanya pada Prapto membuat ia memutuskan untuk pergi dari desa Kejora. Dan hingga sekarang, Prapto tak kunjung datang untuk meyakinkannya atau menjelaskan sesuatu. Padahal ia sangat berharap.


Pinaka menghela napas panjang lalu pergi ke motornya. Setetes air mata Pinaka jatuh lalu dihembus angin, menjadi berderai ditimpa cahaya sore yang menyelusup menembus awam mendung.


***


"Sudah sore, Bos. Belum ada juga pesan atau telepon dari nenek sihir itu," kata Nimo.


Prapto kini tengah duduk di teras rumah Nimo.


"Bos, itu ada bunyi notifikasi," kata Nimo.


Prapto mengambil ponselnya. Notifikasi itu berisi screenshot dan pesan teks dari Rini.


Aku sudah mengatakannya pada Pinaka. Ini buktinya. Jangan ganggu rumah tanggaku, Prapto.


Prapto tertawa. "Lihat, Nimo. Dia takut.”


Nimo tertawa. "Dasar. Sudah feminis, matre pula."


Prapto mengambil tangkapan layar pesan Rini lalu mengirimnya bersama foto Rini berpegangan tangan dan tatap-tatapan dengan pria di cafe pada Subakti, dan juga kata-kata penyulut api tentang hadiah rumah di Surabaya.


“Mampuslah. Semoga saja dia bercerai, dan itu akan menjadi perceraian yang disyukuri oleh Subakti,” kata Prapto.

__ADS_1


"Kau harus berjanji padaku, Bos." Nimo menatap Prapto.


"Janji apa, Nimo?"


"Jika kau berhasil membuat Pinaka tidak pergi dari desa Kejora, kau harus menyatakan cintamu padanya."


Prapto tersenyum. "Tentu saja aku berjanji. Aku tidak mau kehilangan dia."


“Bos!” seru Nimo dengan nada kaget.


Prpato menoleh. “Huh?”


“Ini sudah jam perpustakaan tutup, bukan? Pinaka!”


“Astaga! Mana kunci motormu, Nimo!” Prapto segera berlari menuju motor Nimo di halaman rumahnya.


Dari teras, Nimo melempar kunci motornya pada Prapto. “Hati-hati, Bos!”


Prapto melaju.


***


Prapto baru saja sampai di perpustakaan dan tertegun mendapati pintu perpustakaan itu terkunci dengan gembok. Ia menelpon Pinaka, tapi tak ada jawaban. Ia kemudian duduk di tembok teras perpustakaan dan menyulut rokok.


“Pinaka tadi pamit padaku untuk pulang ke rumahnya selama sehari, Nak Prapto. Mungkin Pinaka sakit. Sejak tadi siang dia banyak diam dan terlihat tak bersemangat.”


Prapto menoleh pada suara ibu-ibu yang ia dengar barusan. Di halaman perpuastakaan tampak Bu Intan dan anaknya. “Sudah berapa lama Pinaka berangkat, Bu Intan?”


Bu Intan melihat arlojinya. “Kira-kira sejam yang lalu, Nak Prapto.”


“Terima kasih, Bu Intan. Aku pergi dulu.”


Prapto melompat ke motornya. Tanpa pikir panjang, ia menarik gas motor menuju pintu desa Kejora untuk terus ke Jakarta, dengan masih mengenakan caping bambu yang biasa ia gunakan ketika berkebun.

__ADS_1


Di bawah mendung yang gelap dan diselimuti hawa dingin musim hujan, pria bercaping itu melaju membawa cinta, rindu, dan juga kecemasan dalam hatinya.


__ADS_2