Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
75. Memilih Desain Rumah


__ADS_3

Kinan berlari ke halaman rumah dan memeluk Pak Ino. “Dapat kayunya, Yah?” tanyanya dengan tatapan berharap.


Pak Ino mengangguk lalu menggendong putrinya. “Berterima kasih lah pada Paman Prapto, dia yang mendapatkan kayu itu tadi.”


Kinan tersenyum pada Prapto. “Terima kasih, Paman. Ayo, kita makan gorengannya sama-sama.”


Sampai di teras, Kinan pergi ke dalam membantu ibunya membuat kopi, sedang Prapto, Nimo dan Pak Ino duduk dan menyulut rokok.


“Kalau mau menyambil membuat golek kayu, silakan, Pak,” kata Prapto. “Biar Kinan besok bisa main.”


“Nanti malam saja, Prapto. Paling besok siang sudah selesai. Kau dan Nimo mau golek kayu juga? Kayunya pasti berlebih.”


Prapto dan Nimo mengangguk serentak. “Boleh, Pak,” kata Prapto.


“Aku juga mau, Pak. Walaupun tidak untuk dimainkan, untuk dipajang di kamar juga bagus.” Nimo lalu meneguk kopinya.


Pak Ino mengangguk. Kinan muncul membawa empat gelas kopi dan menghidangkannya. “Aku ke dalam dulu, Yah, mau bantu Ibu memasak,” katanya.


Pak Ino mengusap rambut putrinya. Ia mengambil ponsel lalu mengulurkannya pada Prapto. “Pilihlah, semua yang ada di album itu adalah desain rumah untuk pedesaan.”


Prapto dan Nimo memperhatikan. Ada banyak pilihan rumah, dan sesuai dengan kata Pak Ino, rumah-rumah di album itu tampak bernuansa desa sekali.


“Yang ini bagaimana, Bos?” Nimo menunjuk rumah yang atapnya berlapis lumut seperti atap rumah di pedesaan Eropa jaman dulu, dan pada sudut atap terdapat cerobong asap.


“Bagus, Nimo, tapi kurang cocok dengan susunan kebun kita. Rumah ini cocoknya di sudut-sudut hutan.”


Nimo mengangguk. “Benar juga, Bos,” katanya. Ia kembali memperhatikan Prapto menggulir ponsel Pak Ino.


Sementara Prapto dan Nimo masih memilih-milih model rumah, Pak Ino berkata, “Bukannya lebih baik kita memilih desain rumah di kebun kalian saja? Biar nanti aku bisa melihat posisi rumah dan apa saja tambahan yang bagus untuk ditambah.”


Prapto dan Nimo setuju. Mereka meneguk kopi sampai habis lalu bersepeda bertiga ke rumah Prapto.

__ADS_1


Sesampainya mereka di rumah Prapto, Prapto langsung menawarkan kopi. Pak Ino berpikir sejenak. “Tidak apa-apa kita ngopi lagi? Barusan juga sudah ngopi di rumahku,” kata Pak Ino.


“Iya juga, ya. Bagaimana menurutmu, Bos?” tanya Nimo. Ia lalu mengajak Pak Ino duduk di meja depan dapur kebun.


“Begini saja,” kata Prapto. Ia kemudian duduk. “Kopinya tanpa gula saja. Mudah-mudahan sehat.”


Pak Ino tertawa. “Ya sudah, ayo ngopi!”


Hingga Nimo selesai memasak kopi dan menghidangkannya, Prapto masih memilih-milih desain rumah. Dan ketika Nimo hendak bertanya, Prapto berkata, “Ketemu!”


Prapto memperlihatkan desain pilihannya pada Pak Ino dan Nimo; yaitu rumah tembok tanpa teras, berpintu kayu, dan mempunyai tiga jendela. Satu jendela di sebelah kiri pintu, satu jendela di sebelah kanan pintu, dan satu jendela lagi di atas pintu.


Desain rumah yang dipilih Prapto tersebut tidak memiliki teras, melainkan hanya halaman rumput yang di tengah-tengahnya terdapat jalan tanah. Dan diujung jalan tanah itu yang bertemu dengan jalan utama desa, terdapat jembatan kecil untuk melintasi parit. Serta di samping depan rumah ada ayunan yang tiangnya dijalari pohon anggur.


Nimo mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Prapto. “Pasti kau memilih model rumah ini karena ada pohon anggurnya, kan, Bos?”


Prapto tertawa. “Tidak, Nimo. Sejak kecil aku suka desain rumah seperti ini. Aku sering melihatnya di film-film kartun yang dirilis studio Ghibli.”


“Kinan juga suka nonton film kartun Ghibli, Prpato. Aku dan ibunya sering kali ikut nonton,” kata Pak Ino. “Ada yang mau kau tambahkan?”


“Jangan, Prapto.” Pak Ino kemudian menunjuk ke arah pagar rumah Prapto. “Nanti akan aku buat parit di sana dan membuat jembatan kayu di atasnya. Kalian juga semakin mudah mengatur pengairan kebun melalui parit tersebut. Kalau jembatannya dihilangkan, akan mengurangi banyak keindahan dari rumahmu nanti.”


Prapto dan Nimo mengangguk-angguk. Pak Ino mengerutkan wajahnya, berpikir, lalu berkata, “Ada material bangunan yang tidak bisa kita dapatkan di desa Kejora. Kawat untuk jendela dan beberapa bahan untuk membuat cerobong asap.”


“Coba tanya Mas Timo, Mas,” kata Nimo. “Bulan ini ‘kan ada penjualan, jadi kirimkan saja melalui truk penjemput.”


“Oh iya. Sebentar, Pak Ino, aku telepon Timo dulu,” kata Prapto.


***


Sore itu di kota Jakarta langit mendung pekat. Kendaraan roda dua dan para pejalan kaki sudah mulai tampak berkurang. Agaknya mereka takut kehujanan. Tapi apakah yang perlu ditakutkan dari hujan? Bukankah hujan itu sejuk dan suara rintiknya pun terdengar indah?

__ADS_1


“Kau tidak takut demam, Nesia? Kalau tahu akan hujan lebat begini, aku bawa mobil saja tadi,” kata Timo pada Nesia. Mereka tak jadi pulang karena hujan turun dan kini tengah berdiri di depan sebuah restoran.


Nesia tersenyum. “Kalau hujan-hujannya tidak lama, aku rasa aku tidak akan demam, kok, Mas Timo.”


Timo tersenyum lalu mengambil ponselnya. “Halo, Prapto,” sapanya.


Prapto lalu menjelaskan pada Timo bahwa ia ingin Timo membantu membelikan beberapa material bangunan lalu dikirim melalui truk pengangkut.


Setelah Prapto mematikan telepon, Timo tersenyum pada Nesia. “Ayo kita hujan-hujan!” ajaknya. Ia mengambil motor dan mereka pun melaju ke toko bangunan.


***


“Jadi, berapa, Pak, biaya renovasinya?” tanya Prapto.


“Masih sama dengan yang aku sebutkan kemarin, Prapto,” jawab Pak Ino. “Besok aku akan langsung merenovasi rumahmu.”


Keesokan harinya, Pak Ino datang pagi-pagi sekali dan merenovasi rumah Prapto. Prapto dan Nimo menyelesaikan mengurus tanaman dan ternak dulu, sesudah itu mereka ikut membantu Pak Ino.


“Berapa lama kira-kira rumahku akan selesai direnovasi, Pak?” tanya Prapto sambil melihat rumahnya.


“Aku belum memperkirakannya, Prapo, tapi karena ditolong kalian berdua, aku rasa akan selesai cepat. Kau menikah bulan apa?”


“Bulan Februari atau Maret, Pak,” jawab Prapto.


“Menunggu padi dipanen, ya?”


Prapto mengangguk. Ia lalu menoleh karena di pintu kebun terdengar suara orang mengobrol. Ternyata suara obrolan tersebut berasal dari Lapen dan kedua sahabatnya. Mereka menghampiri Pak Ino.


“Ada yang bisa kamu bantu, Kek Ino?” tanya Lapen pada Pak Ino yang sedang mengukur tanah.


Pak Ino mengangkat kepalanya, lalu tersenyum. “Banyak,” katanya.

__ADS_1


Wajah Lapen dan kedua sahabatnya berseri. “Jangan cemas, pasti kami bantu sampai renovasi rumah Paman Prapto selesai, Kek.”


Nimo berdiri hendak pergi ke dapur memasak kopi, namun langkahnya terhenti ketika di pintu kebun berdiri sosok yang rasa-rasanya ia kenali. Sosok itu tersenyum pada Nimo.


__ADS_2