Perceraian yang Indah

Perceraian yang Indah
18. Dari Oscar untuk yang Tercinta


__ADS_3

“Akhirnya selesai!” kata Pak Oscar, “semoga saja Inari suka.”


Pak kepala desa Kejora itu tengah duduk di sebuah bangku panjang yang ada di taman belakang rumahnya. Pak Oscar kemudian menoleh, ketika ia mendengar dering ponsel yang ditaruhnya di atas bangku panjang tempat ia duduk.


“Ya. Ooh, kalian sudah datang. Bapak akan ke rumah.”


Pak Oscar pun bangkit dari duduknya. Ia melihat ke arah kolam sekali lagi dan tersenyum, lalu berbalik melangkah ke rumah.


“Kakek!” sorak seorang bocah berusia tujuh tahun yang berkulit sawo matang. Bocah itu langsung berlari ketika dilihatnya Pak Oscar muncul dari rumah bagian belakang.


“Lapen, ke mana saja kau? Sudah dua minggu kau tidak mengunjungi kakek dan nenek.” Pak Oscar mengendong cucunya lalu membawanya duduk ke sofa, dimana telah duduk Bu Inari, putri semata wayangnya, dan juga menantunya.


Di luar rumah, Prapto dan Nimo yang diminta datang oleh Pak Oscar melalui pesan singkat baru saja meneguk kopi mereka yang dihidangkan oleh Bu Inari.


Prapto mengernyitkan keningnya. Ia berkata pada Nimo dengan nada heran dan suara yang dipelankan, “Nimo. Tadi Bu Inari memperkenalkan putrinya yang bernama Lastri dan menantunya yang namanya juga kebarat-baratan seperti Pak Oscar, yaitu Stepen. Tapi, kok, nama anaknya Lapen? Tidak ada barat-baratnya.”


Nimo tertawa. “Baru mendengar nama depannya saja Bos sudah heran, apalagi kalau Bos tahu nama lengkap bocah itu.”


“Siapa nama lengkapnya?”


“Lapen Oscario, Bos,” jawab Nimo. Ia kembali tertawa.


Prapto menggeleng-geleng. “Lalu, Stepen itu namanya memang pakai huruf ‘p’, atau huruf ‘p’ itu hanya dipelesetkan karena ia tinggal di desa?”


“Memang pakai ‘p’, Bos. Ste-pen. Stepen itu 'kan juga warga desa Kejora, dan ayahnya bersahabat baik dengan bapakku. Kata Bapak, alasan ayahnya si Stepen menggunakan huruf 'p' adalah, supaya nama anaknya yang kebarat-baratan itu memiliki unsur pedesaan di dalamnya,” jawab Nimo yang kini sudah tertawa lagi.


Prapto semakin menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya. Ia kembali menghisap rokok. "Selain desa Kejora itu indah, ternyata warganya sangat unik," ujar Prapto.


Mereka berdua tidak tahu, bahwa nama Lapen adalah perpaduan dari nama kedua orang tuanya. Lastri+Stepen\= Lapen. Mungkin suatu saat, dan pada saat itu Lapen sudah tumbuh besar, ia kan menceritakannya sendiri kepada Prapto dan Nimo.


Di dalam rumah, Lastri tengah menyalin kue buatannya untuk merayakan ulang tahun sang ibu. Wajah Lastri lembut dan manis, seperti wajah ibunya, dan raut wajah mereka pun mirip. Hanya rambut mereka saja yang berbeda. Potongan rambut Lastri pendek sebahu, sedangkan Bu Inari rambutnya panjang sepunggung.


“Lapen, pasanglah Lilinnya!” kata Stepen.


Lapen yang tengah duduk di pangkuan kakeknya langsung turun lalu pergi ke meja untuk memasang dua buah lilin yang berbentuk angka.


“Jangan terbalik, Bocah! Umur nenekmu lima puluh satu tahun, bukan lima belas tahun,” kata Pak Oscar tertawa, karena cucunya tersebut memasang lilin membentuk angka lima belas.


Pak Oscar lalu menoleh pada Bu Inari. “Bu, dua sahabat jomblo itu sudah dibuatkan kopi dan Prapto sudah diperkenalkan pada Stepen dan Lastri?” tanyanya.


“Sudah, Pak.” Bu Lastri kemudian meminta Lapen memanggil Nimo dan Prapto untuk makan kue.


Bocah itu segera berlari ke teras. Setelah Lapen sampai, ia menatap Prapto dan Nimo lekat-lekat selama beberapa saat. Lapen kemudian berkata, “Paman Dua Sahabat Jomblo, ayo, ke dalam! Kita akan makan kue.”


Dengan cepat Lapen kembali berlari ke dalam rumah meninggalkan Prapto dan Nimo yang kini tertegun saling pandang.


“Pasti dia mendengar kakeknya membicarakan kita dengan sebutan itu, Bos,” kata Nimo.


“Siapa lagi kalau bukan kakeknya, Nimo?” jawab Prapto kembali menggelengkan kepalanya, "keluarga Pak Kepala Desa ini sudah membuatku menggelengkan kepala tiga kali sejak tadi."


Setelah Prapto dan Nimo masuk ke dalam rumah, acara perayaan ulang tahun yang sederhana namun penuh kebahagiaan itu pun dimulai. Selain kue, ternyata Lastri dan Stepen juga membawa nasi goreng untuk dimakan bersama-sama.


“Apa keinginanmu di hari ulang tahun ini, Bu?” tanya Pak Oscar pada istrinya.


Bu Inari tersenyum. Senyumnya amat manis dan teduh. “Aku hanya ingin terus bahagia dalam hidup, Pak. Tak ada lagi selain itu,” jawab Bu Inari.


“Ibu tidak ingin kaya raya, punya rumah mewah, atau punya banyak berlian?” tanya Pak Oscar lagi.


Bu Inari menggeleng. Ia masih tersenyum dengan lembut dan teduh. “Aku suka berlian, Pak, tapi, memiliki berlian tidak akan bisa membuatku bahagia. Jadi, jawabanku masih sama, aku hanya ingin hidup bahagia.”


Pak Oscar mengangguk-angguk. Dalam hatinya Pak Oscar sangat bersyukur mempunyai istri seperti Bu Inari yang tahu tentang makna hidup sebenarnya, yaitu 'kebahagiaan'.

__ADS_1


Prapto, Nimo, Stepen, Lastri, dan Lapen, menyerahkan kado ulang tahun mereka kepada Bu Inari. Kado dari Prapto dan Nimo adalah buah duku sebanyak lima kilo yang baru saja mereka panen cepat-cepat tadi pagi setelah mendapatkan pesan singkat dari Pak Oscar.


Kado dari Stepen, Lastri, dan Lapen adalah sebuah bingkai besar. Dalam bingkai itu terdapat lukisan sosok Bu Inari dan Pak Oscar yang sedang duduk sambil tertawa hangat di teras rumah.


Semua mata, bahkan mata Lapen, kini tertuju pada Pak Oscar yang belum memberikan kado kepada sang istri. Lapen kemudian menyipitkan kedua matanya. Katanya, “Mana, Kek? Masa’ tidak ada?”


Pak Oscar tersenyum penuh arti. Ia menghampiri Bu Inari lalu menutup mata istrinya dengan mengikatkan sehelai kain putih.


“Kalian semua ikutlah denganku!” ajak Pak Oscar, “tuntunlah ibumu Lastri!” Pak Kepala Desa itu kemudian berjalan ke belakang rumah.


Sesampainya mereka di taman belakang rumah, semuanya terpana. Wajah mereka berseri kagum melihat ke tepi kolam. Apa yang ada di tepi kolam itu sekarang adalah pemandangan yang amat cantik dan begitu sejuk untuk dilihat. Stepen segera menutup mulut anaknya agar Lapen tidak berseru karena terkesima.


Pak Oscar meminta Lastri untuk terus menuntun Bu Inari ke dekat kolam ikan hias. Prapto, Nimo, Stepen, dan juga Lapen berdiri di dekat bangku panjang yang tak jauh dari kolam.


“Bukalah penutup mata Inari, Lastri!” kata Pak Oscar.


Lastri lalu membuka penutup mata ibunya. Bu Inari menutup mulutnya dengan kedua tangan begitu ia melihat apa yang ada di depannya. Ia menatap Pak Oscar seolah tidak percaya.


Di dekat kolam ikan hias kini terdapat kumpulan beberapa jenis bunga dan beberapa jenis tanaman yang ditanam bersamaan membentuk sebuah lingkungan kecil, yang ukurannya kira-kira 2 meter persegi (2 meter x 2 meter).


Lingkungan kecil tersebut dikitari oleh puluhan kupu-kupu yang cantik dan berwarna-warni. Ada yang terbang dan ada yang hinggap pada bunga atau tanaman.


Warna kupu-kupu itu indah dipandang mata. Ada kupu-kupu yang berwarna oranye dan biru, yang pada ujung-ujung sayapnya sama-sama berwarna hitam. Ada kupu-kupu yang berwarna hijau, putih, ungu, dan banyak lagi warna lain. Tampak juga beberapa jenis kupu-kupu yang mempunyai tiga atau empat buah paduan warna.


"Jadi, Bapak menanyakan tentang kumbang dan kupu-kupu itu untuk ini?" tanya Bu Inari.


"Ya, Bu. Kau sering bilang padaku bahwa kupu-kupu dan kumbang adalah serangga yang sangat cantik. Jadi, beberapa hari ini aku mempelajari dari internet tentang jenis tanaman dan bunga yang disukai oleh kupu-kupu. Mereka akan terus ke sini bila hari tidak hujan, dari pagi sampai menjelang sore," jawab Pak Oscar.


"Terima kasih, Pak. Aku suka sekali. Mulai sekarang aku akan membaca dan menenun di sini. Ah, betapa cantiknya," ujar Bu Inari dengan wajah berseri.


"Berilah nama lingkungan kecil kupu-kupu itu, Bu!" kata Pak Oscar.


"Selamat ulang tahun, Inari," ucap Pak Oscar.


Bu Inari menghampiri Pak Oscar lalu memeluknya. "Terima kasih, Pak Kades," katanya.


"Nimo, inilah yang namanya so sweet, bukan film dan novel-novel cinta yang alay itu," bisik Prapto pada sahabatnya.


Nimo balas berbisik, "Benar, Bos. Aku bangga punya kepala desa seperti Pak Oscar. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari Pak Tua itu, apalagi soal cinta."


Lapen menarik-narik baju ayah dan ibunya. "Kado kita kalah, Yah, Bu," kata Lapen tersenyum.


***


Pukul tujuh malam lewat tiga belas menit, semua warga desa kejora, kecuali yang sakit dan anak-anak, serta ibu-ibu yang perlu menemani anak kecil mereka di rumah, telah berkumpul di balai desa Kejora.


Balai desa Kejora adalah sebuah bangunan yang cukup besar, yang terdapat dua bagian tempat duduk di dalamnya. Bagian tempat duduk sebelah kanan diisi oleh para wanita, sedangkan yang sebelah kiri diisi oleh para pria.


Kedua bagian tempat duduk itu dipisahkan oleh sebuah jalan. Di bagian akhir jalan itu terdapat alat pengeras suara. Pak Oscar dan Prapto berdiri di sana.


Ibu-ibu yang mengenakan kebaya berbisik pada wanita di sampingnya. "Bu Intan, aku dengar pemuda yang datang dari kota itu adalah duda. Iyakah?"


Belum sempat Bu Intan menjawab, ibu-ibu yang duduk di sebelah ibu-ibu berkebaya tadi ikut bertanya, "Masa' sih dia duda, Bu? Masih lajang sepertinya, atau sudah beristri tapi istrinya kerja di kota dan tidak dibawa ke sini. Wanita di kota 'kan banyak yang kerja di kantoran atau di pabrik."


Seorang ibu-ibu lagi segera nimbrung, "Iya, Bu Intan. Sepertinya hanya ada dua kemungkinan. Kalau tidak duda, ya masih lajang."


Ibu-ibu yang mengenakan baju kurung menggeser duduknya ke dekat Bu Intan dan hendak melancarkan kata-kata, tapi Bu Intan segera mengangkat tangannya.


"Kalau kalian ngomong terus bagaimana saya menjawab pertanyaan itu, Ibu-ibu? Namanya Prapto dan dia memang duda. Prapto sendiri yang cerita pada suamiku ketika mereka ngobrol. Case closed! Ayo kita dengarkan apa yang akan dikatakan Pak Kades dan pemuda itu!" tegas Bu Intan agar tidak ada lagi interupsi selanjutnya.


Di depan para hadirin, Prapto diperkenalkan oleh Pak Oscar. Ia juga menyampaikan bahwa Prapto akan membahas sesuatu yang penting dan mengatakan sebuah gagasan untuk kesejahteraan desa kejora.

__ADS_1


"Silakan, Nak Prapto!" kata Pak Oscar.


"Selamat malam, warga desa Kejora. Saya ingin menyampaikan sesuatu tentang penjualan hasil panen desa kita selama ini yang ternyata ..."


Prapto menceritakan hasil pengecekannya bersama Pak Oscar dan Nimo di Surabaya, dimana hasil panen desa Kejora dijual dengan harga sangat tinggi di mall dan supermarket yang merupakan anak perusahaan dari Kuda Terbang Corporation.


Terdengar suara riuh rendah dari rombongan bapak-bapak. Sementara rombongan ibu-ibu kaget dan segera membahasnya dengan ibu-ibu lain.


Prapto melanjutkan, "Tapi, ada kabar baiknya. Kita bisa memberikan mereka hajaran dengan suatu cara. Dan jika cara itu berjalan dengan lancar, bisnis penjualan hasil ternak dan tani alami mereka bisa mati. Namun, untuk menjalankan rencana ini, semua warga desa Kejora harus sepakat terlebih dahulu."


Para warga bergumam. Kembali terdengar suara riuh rendah. Ada yang mengangguk-angguk, ada yang tampak berpikir, dan ada juga yang bertanya pada temannya karena tidak begitu mengerti maksud perkataan Prapto. Setelah hening beberapa saat, para bapak-bapak pun angkat suara.


"Katakanlah gagasanmu, Nak Prapto! Aku yakin semua warga desa Kejora pasti akan sepakat," kata seorang bapak-bapak yang mengenakan topi koboi.


"Betul, Nak Prapto. Kalau gagasanmu itu bagus, kenapa tidak? Lagi pula aku yakin padamu," sambung bapak-bapak yang lain.


"Kami sangat mempercayai Kepala Desa, Nak Prapto. Kepala Desa mempercayaimu, kenapa kami mesti ragu?" Bapak-bapak yang duduk di bangku depan, yang kumis dan jenggot panjangnya sudah putih semua, angkat bicara sambil mengusap-usap jenggotnya.


Para ibu-ibu mengangguk-angguk sambil mengatakan sepakat.


Prapto tersenyum mengangguk. "Terima kasih, Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Aku melakukan ini demi desa Kejora yang aku cintai. Prapto lalu mengatakan rencananya.


"Kita harus berhenti menjual hasil ngebun ke toko penampung yang ada di kota Keladi, karena toko itu adalah bagian dari Kuda Terbang Corporation. Dengan begitu, Kuda Terbang Corporation beserta anak-anak perusahaannya tidak akan bisa menjual hasil ngebun alami lagi, karena hanya desa Kejora-lah yang ngebunnya alami.


"Dan tidak hanya sampai di situ. Jika kita semua sepakat untuk tidak menjual hasil ngebun ke toko itu, maka aku punya gagasan yang aku yakini sangat bagus untuk warga desa Kejora.


"Kita akan melakukan bisnis untuk desa kita sendiri. Artinya, kita yang akan memasarkan hasil panen kita sendiri, dengan harga yang kita rasa pantas dan adil bagi pembeli, melalui kerja sama dengan beberapa perusahaan yang berbisnis di bidang pangan.


"Saya sudah membicarakannya dengan Pak Oscar, dan beliau setuju jika warga desa Kejora juga setuju. Saya, Nimo, dan Pak Oscar nanti akan mendatangi beberapa perusahaan yang berbisnis di bidang pangan, lalu mengajukan kesepakatan bisnis pada mereka. Diperkirakan akan butuh waktu paling lama tiga bulan sampai 'deal'.


"Dan untuk itu, jika kita semua sepakat, setelah membuat 'deal' dengan perusahaan-perusahaan tersebut, mari kita bergotong royong membangun tempat pengumpulan hasil ngebun yang akan dijual. Hasil ngebun itu nanti akan ditimbang dan dicatat nama pemiliknya terlebih dahulu.


"Kita membutuhkan bangunan penampung hasil tersebut agar truk penjemput dari perusahaan bisa mengambilnya pada satu tempat dan prosesnya pun akan berjalan lebih cepat. Kita buat prosesnya tidak rumit agar mereka tidak malas berbisnis dengan desa Kejora.


"Saya juga punya gagasan yang yang berhubungan dengan ibu-ibu. Desa Kejora akan memproduksi olahan hasil ngebun alami yang nanti akan dikemas untuk dijual.


"Semua warga bergotong-royong untuk memasarkannya di media sosial dan juga akan ditawarkan ke perusahaan-perusahaan tadi untuk dijual kembali di lapak bisnis mereka.


"Dengan begitu, para ibu-ibu bisa membantu suami mereka tanpa bekerja di luar rumah. Semuanya bisa dimasak dari rumah, lalu nanti akan di data untuk dijemput oleh pihak perusahaan. Apakah ibu-ibu setuju?


"Sekian, Bapak-bapak, Ibu-ibu."


"Setuju!" para ibu-ibu desa kejora mengangguk setuju. Yang paling keras anggukannya adalah ibu-ibu berkebaya yang duduk di dekat Bu Intan tadi.


Demikianlah gagasan Prapto. Suasana di balai desa itu hening sejenak. Kemudian semua warga berdiri dan bertepuk tangan. Terdengar sorakan-sorakan dari tempat duduk yang dihuni oleh bapak-bapak.


"Aku setuju! Kalau ada yang tidak setuju berarti dia bukanlah warga desa Kejora sejati."


"Aku juga! Mari kita jatuhkan kuda yang sedang terbang itu."


"Tentu saja aku setuju! Selain hajar-menghajar ini pasti akan seru, ini akan sangat menguntungkan warga desa Kejora hingga ke anak cucu mereka."


"Ya, ya. Gagasan yang sangat bagus, Nak Prapto! Kuda penipu itu tidak akan bisa terbang lagi nanti," ujar bapak-bapak yang duduk di depan tadi.


Bapak-bapak yang jenggot panjangnya sudah putih semua seperti sesepuh dunia persilatan yang digambarkan dalam film pendekar. Sesepuh yang bijaksana, yang sakti, yang bisa membunuh lawan hanya dengan mengibaskan lengan bajunya.


Sebuah pertanyaan pun kembali dilontarkan oleh ibu-ibu yang mengenakan kebaya tadi kepada Bu Intan. "Apakah untuk menjadi cerdas seperti Nak Prapto itu seorang pria harus jadi duda dulu, Bu Intan?"


Bu Intan dan ibu-ibu yang lain tertawa. Ibu-ibu yang mengenakan baju kurung, yang tadi tidak jadi bertanya pada Bu Intan, kembali menggeser duduknya untuk ikut nimbrung. "Bukan begitu konsepnya, Bu Harini. Kau ada-ada saja," katanya lalu tertawa.


Bu Harini yang ditertawakan itu pun lantas juga tertawa. "Candaan saja, kok, Ibu-ibu," selorohnya.

__ADS_1


__ADS_2